SCARLETT (Kiss From The Darkness)

SCARLETT (Kiss From The Darkness)
Bab 25



Aku mendorong Damon dengan sekuat tenaga. Ia terguling ke samping. Aku segera bangkit dari tempat tidur dan merapikan bajuku yang sedikit tersingkap gara-gara tangannya.


Aku melangkah keluar dari kamar. Aku berlari menuju ke teras. Saat itu matahari sudah hampir terbenam. Langit sudah mulai menampakkan sinar jingga yang berpadu dengan keunguan. Aku menatap langit di kejauhan. Pikiranku melayang pada Roland.


Aku diam di sana sendirian selama beberapa saat. Air mataku menetes. Berpisah dari Roland seolah mencabut jantungku dari dalam rongga dadaku. Sakitnya begitu menyiksaku.


Aku mendengar suara langkah Damon yang bergerak ke arahku. Aku masih diam dan tidak melihat ke arahnya. Mungkin aku menyakiti perasaannya lagi. Bagaimana mungkin aku bisa melukai dua pria dalam waktu yang bersamaan?


"Scarlett," panggilnya dengan suara lembut.


Aku menoleh ke arahnya. Dia menyembunyikan perasaan kecewanya di balik senyumnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud ... " suaranya tercekat.


"Aku baik-baik saja," ujarku sambil memaksa diriku untuk tersenyum.


Dia melangkah mendekatiku dan berdiri tepat di sampingku. Kami menatap ke langit yang mulai berubah keunguan.


"Kau tahu," ujarnya sambil menoleh ke arahku, "Terkadang tidak apa-apa untuk mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja." Dia mengatakan itu sambil tersenyum.


Aku mengedipkan mataku. Seolah perkataannya menembus jiwaku. Ia melihat bahwa hatiku sedang begitu sakit. Aku selalu berpura-pura kuat selama ini. Kali ini aku membiarkan diriku untuk mengakui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.


Damon mendekap ku. Benar apa yang dia ucapkan, ada kalanya kita tidak perlu terus menerus untuk berpura-pura kuat. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku membiarkan air mataku jatuh membasahi pipiku.


Damon mengangkat wajahku menghadapnya. Ia menghapus air mataku.


"Bagiku kau tetaplah Sang Dewi." Dia mengatakan itu sambil tersenyum.


"Aku tidak pantas menjadi seorang putri." Aku berkata lemah.


Aku mengingat ucapan Victor.


"Bahkan aku tidak mampu menyelamatkan kerajaan yang begitu dicintai oleh ayahku." Kali ini nada suaraku bergetar.


"Itu bukan salahmu." Damon menangkup kedua pipiku dengan kedua tangannya.


Aku menggeleng pelan.


"Aku bahkan tidak mampu membalaskan dendam orang tuaku." Aku berbalik dan kembali menghadap langit yang mulai menggelap.


"Terkadang kita perlu membiarkan masa lalu menghilang di belakang kita." Damon mengatakan hal itu sambil menatap langit.


"Apakah aku pantas untuk hidup di dunia ini?" Aku mengucapkannya dengan getir.


Damon tidak menjawab pertanyaanku. Aku menoleh ke arahnya. Ia memandangi wajahku. Damon menghembuskan nafas perlahan.


"Di manapun kau berada, kau adalah Dewi." ujarnya.


Aku tersenyum melihatnya. Kami berdua kembali terdiam lama. Keheningan itu terasa nyaman.


......................


Malam telah turun. Sinar rembulan menghiasi langit yang berawan. Aku mendengar suara kepakan sayap kelelawar dari luar. Tiba-tiba terdengar suara decitan ban mobil yang berhenti mendadak di depan rumah Damon.


Aku segera berlari keluar. Damon menyusul di belakangku. Aku membelalak melihat pemandangan yang ada di hadapanku.


"Menyerah lah kalian para vampir terkutuk! Atau aku akan membunuh penghianat yang satu ini sekarang juga!"


Aku melihat Roland berdiri dengan tangan diborgol. Di belakangnya berdiri seorang pria bertubuh kekar yang sedang menempelkan pistol ke pelipis Roland. Jantungku seolah hendak melompat keluar melihat pemandangan itu.


Di belakang mereka ada tiga pria lainnya yang memegang pistol yang diarahkan padaku dan Damon. Aku dan Damon berdiri kaku di tempat itu. Mungkin pria yang menempelkan pistol di pelipis Roland adalah pemimpin klan.


Aku menganalisa situasi itu. Ada total empat pemburu vampir di hadapan kami. Aku menatap tepat ke arah mata Roland. Ia menggeleng sedikit ke arahku.


"Aku akan membunuh penghianat ini jika kalian tidak segera menyerahkan diri!" Kali ini si pria kekar berteriak.


Aku mendengar Damon mendesis di sampingku. Aku merasakan emosiku mendidih melihat Roland menjadi tawanan seperti itu. Aku berkonsentrasi pada kekuatan di dalam diriku.


Aku menerjang tepat ke arah si pria kekar yang menahan Roland. Dia terpelanting ke belakang dengan suara gedebuk keras.


Suara tembakan mengiringi gerakan ku berikutnya. Aku mengabaikan suara desingan peluru-peluru itu. Peluru itu pastilah peluru yang terbuat dari perak. Aku bergerak lincah menghindari serangan.


Aku kembali menerjang si pria kekar dan menangkapnya. Aku memiting lengannya ke belakang. Tiba-tiba aku merasakan sengatan panas di perutku. Sial. Dia mengeluarkan belati peraknya dengan gerakan lincah dan mengenai bagian depan perutku. Aku mengernyit merasakan panas dari lukaku.


Aku melihat Damon menghajar para pemburu yang lain. Ada satu yang sudah tergeletak tak bergerak di tanah. Si pria kekar memanfaatkan momen itu dengan membalik serangan terhadapku.


Dia memutar badannya dan mendorongku ke tanah. Aku terkapar dan dia menahan ku dengan kakinya. Dia menggenggam belati dengan kedua tangannya dan hendak mengarahkannya tepat ke jantungku.


"Malam itu kau hampir mati di tanganku," bisiknya.


Ternyata pria inilah yang menyerangku di hutan malam itu. Tak heran ia begitu kuat. Dia adalah pemimpin klan. Kali ini ia mengangkat belatinya tinggi-tinggi dan mengarahkannya ke bawah ke dadaku.


Aku merasakan tubuhnya jatuh ke atasku. Belati itu jatuh terpelanting ke samping tubuhku. Aku melihat Roland berdiri di sana dengan pistol di tangannya. Kali ini Roland menyelamatkan aku kembali.


Roland menarik pria itu dan menyingkirkan tubuhnya dariku. Aku bangkit dan berdiri tepat di hadapannya. Tangan Roland masih terborgol. Aku mengabaikannya dan memeluknya.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk bercinta!" Suara Damon membuat kami menoleh ke arahnya.


Damon terengah-engah dan rambutnya terlihat agak kusut setelah pertarungan tadi. Aku melihat tiga pria terkapar di tanah. Damon merapikan rambutnya dan membersihkan tanah dari bajunya.


Ia berjalan menghampiri kami.


"Sampai kapan kau akan memakai borgol begitu?" Dia mengatakan itu sambil menunjuk ke arah pergelangan tangan Roland.


"Entahlah." Jawab Roland.


"Bagaimana mereka bisa menemukan kami?" Aku bertanya padanya penasaran.


"Robert mengawasi rumahmu semenjak kejadian tadi. Dia segera menghubungi anggota klan pemburu lainnya dan memberitahu mereka tentang aku." Roland menjawabnya sambil memandangiku.


"Jadi brengsek itu membuntuti kami." Damon mencerna situasi itu.


Aku mengangguk mengerti. Aku kembali melihat ke arah borgol Roland.


"Bukankah waktu itu kau bisa melelehkan rantai perak waktu di rumahku?" tanya Roland padaku.


Aku kembali mengingat kejadian ketika Roland mengikat aku dan Erick menggunakan rantai perak di rumahnya. Ya, saat itu aku merasa emosi dan aku tanpa sengaja membuat rantai perak yang membelenggu tangan dan kakiku meleleh.


"Mungkin aku bisa menciptakan api seperti Victor," bisikku.


Roland mengangguk ke arahku.


"Coba saja." Damon menyuruhku untuk melakukannya.


Aku mencoba berkonsentrasi. Aku menatap fokus pada borgol di tangan Roland. Aku mencoba memusatkan kekuatanku untuk menciptakan api. Nihil. Tidak ada yang terjadi.