Say Love

Say Love
Dua puluh tujuh



*Author POV


Semua tamu undangan berdiri menyambut kedatangan pengantin wanita. Tidak bisa dipungkiri sepertinya mereka sedikit terkejut melihat siapa yang menggandeng tangan Nessy menuju altar pernikahan. Namun kebingungan itu menguap begitu saja melihat betapa cantiknya Nessy hari itu mengenakan gaun pengantinnya.


Didepan sana, Kean yang sedang menunggu mempelainya tak hentinya menebar senyum semenjak matanya menangkap sosok Nessy. Berbeda sekali dengan Nessy yang terlihat tegang sepanjang langkahnya menghampiri Kean. Bagaimana bisa ia tidak tegang diantarkan menuju altar pernikahan oleh lelaki yang pernah begitu ia suka sekaligus ia kecewakan hari ini.


"Loh" Jessie terkejut menyadari siapa yang menggandeng tangan Nessy lalu kedatangan Ardit yang merangkul bahunya.


"Biarin mah, biar Wang paham kalo dia udah gak bisa ngarepin Nessy lagi" jawab Ardit berusaha menenangkan Jessie yang tidak suka dengan keputusannya.


Kean kembali merapihkan jasnya saat langkah Nessy semakin dekat dengannya. Menyambut tangan wanita yang sebentar lagi menjadi pendampingnya.


"Jangan sekali kali menyakiti Nessy, atau aku akan merebutnya darimu" entah ancaman atau sekedar peringatan semata dari Wang saat ia menyerahkan tangan Nessy pada Kean.


"Kita liat aja nanti" jawaban ambigu yang membuat rahang Wang mengeras selama beberapa detik.


"Makasih Wang" buru-buru Nessy menengahi karena tak ingin mereka sampai berdebat menjelang ikrar janji sucinya dengan Kean.


"Kembali padaku jika dia menyakitimu" ucap Wang sebelum mengecup kening Nessy penuh perasaan. Pertama dan terakhir kalinya sebelum ia benar-benar tidak bisa melakukannya setelah Kean resmi menikahi Nessy.


"Apa-apaan dia ma!" Protes Ken pada Eva. Bersiap menarik Wang jauh-jauh dari sana.


"Jangan pah, mama yakin dia gak akan mengusik pernikahan Kean sama Nessy setelah ini" Eva menahan lengan Ken dan mengajaknya duduk karena janji suci akan segera diucapkan.


"Duduklah Wang" Kean mengusir Wang secara halus, jelas sekali Wang tak rela melepaskan Nessy untuk dirinya. Dan meski kesal setengah mati Kean tetap berusaha menahan emosinya.


***


"Cium..cium..cium" teriakan dimana-mana. Momen yang paling ditunggu setiap orang saat menghadiri acara pernikahan. Namun tidak dengan Wang yang memilih meninggalkan keramaian yang melukai hatinya. Pergi sejauh yang ia bisa untuk mengubur dalam-dalam perasaan yang tumbuh subur untuk Nessy.


"Say love" pinta Nessy saat Kean mendekatkan wajahnya.


"I will always love you" jawab Kean sebelum memberi kecupan sekilas pada bibir Nessy.


Inilah akhir dari kisah Nessy bersama Kean. Sedikit cerita tentang mereka yang terpaksa menjalani perjodohan karena skandal yang mereka ciptakan. Meski dengan keterpaksaan namun akhirnya rasa cinta itu tumbuh juga seiring berjalannya waktu. Karena seringnya mereka menghabiskan waktu bersama.


Karena terkadang semakin kita menolak maka rasa itu akan semakin melekat. Jangan terlalu membenci seseorang, karena jika Tuhan sudah berkehendak bisa saja ia menjadi jodohmu. Bersikap sewajarnya. Jangan berlebihan.


Dan inilah awal dari kisah mereka yang sesungguhnya. Perjalanan rumah tangga yang mungkin saja tak akan mudah kedepannya.


***


Banyak ucapan selamat yang mereka terima hari itu, selain dari Wang tentunya. Namun tak mengurangi rasa bahagia yang dirasakan oleh Kean dan Nessy.


"Kamu kapan mau nikahin aku Tae, Kean yang baru kenal Nessy aja langsung nikah!" protes yang ketiga kalinya, sudah dimulai sejak mereka belum menghadiri pernikahan sahabatnya.


"Mau Sabtu atau Minggu?" tawar Tae pada Lena.


Wajah antusias Lena muram seketika mendengar lanjutan kalimat Tae "Kalo gak kesiangan" tawanya meledak.


"Eh mau kemana, kita belum nyobain makanan yang lain" teriak Tae yang tak sadar membuat beberapa tamu menoleh kearah mereka. Membuat Lena semakin kesal sekaligus malu dengan tingkah pacarnya.