Say Love

Say Love
Dua puluh dua



Mon maap telat 😁


Adakah yang masih nunggu 😄


Selamat membaca semoga suka 😘


------


"Nes, mama ada rapat kamu gak apa-apa pulang sendiri?" tanya Jessie saat menemani Nessy melakukan pemeriksaan terakhirnya.


"Biasanya juga sendiri kan ma" mengingat beberapa pemeriksaan terakhir juga seperti itu.


Keluar dari area rumah sakit bukannya menunggu bis seperti yang biasa ia lakukan, Nessy terus saja berjalan. Melewati beberapa halte sampai ia memutuskan untuk duduk di bangku taman.


"Capek" keluhnya. Nessy mulai menyandarkan punggungnya pada bangku taman yang tepat berada dibawah pohon rindang. Menikmati angin yang membelai lembut kulitnya. Dan tanpa bisa ia tolak segarnya udara membuat Nessy perlahan mulai merapatkan matanya. Namun tidak seperti apa yang terlihat. Meski ia memejamkan matanya dengan hembusan napas yang teratur. Sebenarnya kesadaran Nessy masih terjaga sepenuhnya. Terjaga karena memori masa lalu yang kembali berputar.


"Maafin Nessy, Oma..Opa" ucapnya lirih.


Kesedihan yang tidak pernah diketahui siapa pun. Kesedihan yang ia simpan rapat-rapat seorang diri. Bahkan Jessie yang begitu dekat dengannya tak pernah tahu rasa sakit yang diderita oleh anaknya itu. Karena setahu Jessie, anaknya itu sudah menerima kepergian Oma dan Opa-nya. Namun siapa sangka kepergian Nindya dan Deny membuatnya hancur didalam.


Air matanya lolos sudah saat Nessy membuka mata. Selain hatinya yang merasakan sakit, kakinya juga sama sakitnya karena sedikit berdarah akibat berjalan terlalu jauh.


"Duh coba ada pangeran yang nolongin" ucap Nessy yang mulai berkhayal layaknya tokoh utama dalam film.


Meski sakit Nessy kembali melanjutkan langkahnya menuju halte terdekat untuk menyetop taksi. Menanti pangeran khayalan yang akan menjemputnya bisa-bisa ia mati kelaparan disana. Mimpi.


Skip.


"Loh kok berhenti disini pak?" bingung kenapa taksi yang ia tumpangi berhenti ditempat yang tidak seharusnya ia datangi.


"Loh, kan tadi nona sendiri yang bilang mau kesini?" merasa benar dengan pendengarannya. Pasalnya kupingnya masih berfungsi normal.


"Cantik-cantik pikun!" gerutu supir taksi saat Nessy sudah menutup pintunya.


"Itu kan Nessy, kok jalannya kayak gitu abis lu apain?!" tuding Mark yang melihat Nessy berjalan pincang.


"Apaan cuma.." Kean tidak jadi melanjutkan ucapannya, bisa heboh kedua temannya itu jika tahu semalam ia memanjat balkon kamar Nessy. Ia tidak tahu saja jika ucapannya yang menggantung membuat keduanya jadi salah paham.


"Gak nyangka gua lu ngelepas keperjakaan sama Nessy" ujar Mark diselingi tawa Thomas yang hampir meledak. Menepuk pundak Kean berulang kali.


"Asal aja kalo ngomong" menoyor kepala Mark dan Thomas bergantian "Sorry ya masih ori gua" ucapnya lalu berjalan menghampiri Nessy yang meringis memandangi kakinya.


"Ckck..masih ori aja dia" Mark bergumam pelan sambil menggelengkan kepalanya.


"Gaya lu kayak pernah aja" Thomas balas mencibir Mark yang berlagak seperti sudah berpengalaman saja.


**


"Ngapain lu disini" sapaan dari Kean yang tidak pernah ramah pada Nessy.


Nessy berdecak sebal "Gak liat tunangan lu sakit begini kakinya" jawaban yang membuat Kean tergelak.


"Yaelah ngarep banget lu" berjongkok untuk melihat luka di kaki Nessy "Nyari gua kalo pas susahnya doang lu, kalo seneng aja sama Wang terus" sindir Kean.


Jleb!


Nessy jadi terdiam. Dan jika dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakan oleh Kean. Karena disaat ia kesulitan orang yang dicarinya selalu Kean bukannya Wang.


"Jadi kalian tunangan?!" suara yang membuat Nessy dan Kean kompak menoleh.




semoga kalian gak bosen ya 😘