
Boleh dong minta like sama votenya..
Jan lupa subscribe yak..
Selamat membaca semoga suka 😘😘😘
-----
"Dari mana saja kau Wang" tegur managernya saat Wang membuka pintu apartemennya. Ini sudah ketiga kalinya Wang pergi diam-diam.
Wang tidak langsung menjawab pertanyaan managernya itu, ia pergi ke dapur terlebih dulu untuk mengambil air minum sebelum Ikut bergabung dengan managernya diruang tamu.
"Maaf hyung, aku tadi makan siang dengan Nessy sebentar" mengakui kesalahannya.
"Jangan terlalu sering bertemu Nessy" tegurnya kemudian.
"Aku selalu berhati-hati Hyung, jangan mengkhawatirkan ku" jawab Wang.
"Jadi benar alasanmu menerima peran dalam film itu karena Nessy" tebak manager nya. Sikapnya yang seperti itu bukannya karena tidak suka pada Nessy. Tapi sebagai manager sekaligus orang yang dekat dengan Wang, ia hanya tak ingin Wang sampai mengabaikan karir yang susah payah ia bangun.
"Jangan menanyakan hal yang kau sendiri sudah mengetahui jawabannya Hyung" ujar Wang.
"Bersiaplah, dua jam lagi akan diadakan reading untuk pendalaman karakter" kembali mengingatkan. Wang tidak mengatakan apapun lagi setelahnya. Ia tak ingin mereka kembali berdebat seperti malam pergantian tahun saat ia hendak menemui Nessy. Lalu sembari bersiap Wang mengirim pesan pada Nessy, menanyakan apa saja yang ia lakukan sejak pulang dari restoran.
**
Setelah acara nonton dadakan. Nessy memilih untuk mengajak mereka mengobrol di Last Cake karena tempatnya yang nyaman.
"Kok Kean-nya gak diajak?" goda Tiara karena tidak menemukan calon tunangan Nessy bersama mereka.
"Kean lagi sibuk tante" karena setahunya memang begitu, lagipula jika Kean sedang tidak sibuk Nessy juga tak ingin mengajaknya pergi.
Cukup lama mereka mengobrol sampai Tiara pamit pulang karena ada sesuatu yang perlu ia urus.
"Oh..sini biar gua yang balesin" Lena melihat siapa pengirimnya, Tae yang sejak tadi diam akhirnya buka suara.
"Bukannya kak Juliana nitip cake ya Nes" mengingatkan Nessy, karena temannya itu memang sedikit pelupa.
"Iyaaa..gua lupa" segera menuju etalase dimana cake tersusun rapi, melihat satu persatu namun tak menemukan apa yang ia cari. Tak lama pelayan menghampirinya, menanyakan cake seperti apa yang sedang Nessy cari.
Pelayan itu tersenyum melihat Nessy, mengambil cake yang disusun tepat didepannya "Kadang suka gitu ya mbak, ada didepan mata tapi gak keliatan" Nessy tertawa. Setelah meminta beberapa cake lainnya ia menyerahkan uang lalu pamit pada kedua temannya untuk pulang.
Jika bukan karena kakak iparnya yang terus menelfonnya, Nessy lebih suka naik bis atau kereta bawah tanah untuk pulang daripada harus naik taksi.
"Kak..Nessy pulang" teriak Nessy dari ruang tamu. Mendengar suara adik iparnya, Juliana bergegas keluar kamar demi cake yang sedari tadi membuatnya ngiler.
Nessy menyerahkan cake yang sudah ia pindahkan ke piring kecil "Mama sama papa belum pulang kak?" menyadari suasana rumah yang sepi.
Sambil mengunyah "Belum, tadi mama bilang mau sekalian ketemu temennya yang punya W.O".
"Kan masih dua bulan lagi acara pertunangan Nessy kak" menurutnya semua orang terlihat bersemangat menyambut pertunangan Nessy dengan Kean. Jauh berbeda dengan dua orang yang akan menjalani acara itu.
Juliana meletakkan piring diatas meja, mengehela napas sebelum mengingatkan adik iparnya itu "Satu bulan lebih satu minggu" koreksi Juliana.
Jika dilihat, hubungan Nessy dengan Juliana lebih terlihat seperti kakak beradik, berbeda sekali jika dibandingkan melihat interaksi nya dengan Arthur. Karena dengan Juliana ia bisa menceritakan apapun, kecuali satu hal yang kini sedang ditutupi oleh Nessy.
"Nes" panggil Juliana.
Nessy diam sejenak sebelum menjawab "Ya kak".
"Jujur sama kakak, kamu ada hubungan apa sama Wang" menebak dengan tepat. Memang dari sekian banyak orang yang berkumpul diacara pergantian tahun baru itu hanya dirinya yang sadar dengan gelagat Nessy dan Wang.
Aku sudah pernah menjumpai wanita yang lebih cantik darimu, tapi aku tak pernah senyaman ini - Wang