
Entah kalian suka atau enggak yang penting selalu bikin kalian seneng 😁😁😁
----
Say
Beberapa hari setelah kejadian dirumah Kean, Nessy jadi banyak berfikir jika ia memang sangat keterlaluan. Ia terlalu tetap dekat dengan Wang sedangkan tak lama lagi ia akan bertunangan.
Ruang make up..
"Kau dimana Nes?" ucap Wang melalui sambungan telefon. Diujung ruangan, Min sedang memandang tidak suka mengetahui Wang masih berhubungan dengan Nessy.
"Fokus Wang, sebentar lagi giliranmu tampil" tentu Nessy mendengar nada ketus dari Min karena suaranya yang keras.
Wang menatap balik Min, memperlihatkan ekspresi tidak suka atas sikap Min "Tunggu aku di taman belakang setelah tampil, ada hal penting yang harus aku katakan" Wang menutup telefon dengan suasana hati yang bahagia.
Terlalu antusias, padahal Wang yang meminta Nessy menunggunya justru datang lebih awal.
"Wang" sapa Nessy yang melihat Wang tengah duduk "Ada hal penting yang harus aku sampaikan" tambah Nessy setelah duduk.
"Tunggu..biar aku mengatakannya dulu. Aku tak ingin terlambat" Wang merubah posisinya berjongkok didepan lutut Nessy. Memperlihatkan kotak berisikan cincin cantik menghadap Nessy.
"Jangan menghadiahiku barang yang berlebihan Wang" tegur Nessy yang menutup kembali kotak tersebut. Hanya perasaan Nessy saja atau bukan, sepertinya wajah Wang berubah serius.
"Aku mencintaimu Nes" ucap Wang yang menatap langsung ke mata Nessy.
Nessy bungkam. Tidak seperti ini kejadian yang sudah ia rencanakan sejak beberapa hari lalu.
"Wang" lembut Nessy memanggilnya "Aku tidak bisa" jawab Nessy membantu Wang untuk bangkit.
"Kenapa Nes, kupikir kita mempunyai perasaan yang sama" ujar Wang mengerutkan dahinya.
"Tiga hari lagi aku akan menikah" ya seperti itu keputusan yang sudah diambil oleh Nessy.
"Apa ini semacam prank?" Tawa getir dari Wang. Mengusap kasar rambutnya dan mengerang frustasi.
"Dengan siapa Nes katakan" mencengkeram kedua lengan Nessy. Sepertinya Wang tidak sadar sudah menyakiti Nessy.
"Lepaskan Wang, kau kasar" mendorong dada Wang sekuat tenaga. Malam ini Nessy seperti melihat sosok lain dalam diri Wang yang tak pernah ia perlihatkan. Rasa asing menatap orang yang kini menendang pot sebagai pelampiasannya.
"Aku akan pergi" mungkin Wang terlalu syok sampai tidak menahan kepergian Nessy.
Langkah Nessy yang pelan berubah cepat sampai akhirnya berlari menghampiri mobil Kean yang sudah menunggunya didepan gedung.
"Maaf Wang" air mata penyesalan.
****
"Turun kalo lu emang gak bisa lepasin dia Nes, biar gua yang jelasin sama semuanya" Nessy menatap bingung tanpa bisa menghentikan laju air matanya.
"Gak mau!" teriak Nessy saat itu. Ia tahu Kean sedang berusaha menahan amarahnya. Namun Nessy tidak mau diturunkan ditengah jalan seperti ini.
"Jangan khawatir, gua gak akan bocorin hubungan lu sama Wang" ketusnya. Masih menatap lurus ke depan.
"Kenapa lu gak ngerti sih Kean! Kenapa lu gak pernah ngerti!!" Memukul lengan Kean sekuat yang ia bisa.
"Jangan munafik Nes, gua gak buta!" Sengitnya.
"Emang susah kalo punya mata kayak curut, liatnya kesamping terus!" dada Nessy naik turun menahan emosi yang selama ini ia tahan.
"Mau lu apa sih?!" Menahan lengan Nessy yang semakin keras memukulnya.
"Semua cewek itu butuh kejelasan, bukan cuma status tanpa perasaan!" Kean tentu tau apa yang dimaksud Nessy. Perasaannya terhadap Nessy pastinya.
"Apa kayak gitu aja harus diomongin! Semuanya udah jelas Nes dari cara gua perlakuin lu!" Wanita itu selalu saja mempersulit keadaan. Ia tetap bertanya meski sudah tau jawabannya.
"Plase ya Kean gua bukan dukun yang bisa tau isi pikiran lu!" Melipat kedua tangannya.
"Gua cinta sama lu, Puas?!"
"Puas dong" ekspresi jenaka Nessy yang kini menggelayut manja di lengan Kean.
"Gila lu, Nes" Berusaha melepaskan diri namun Nessy semakin menggelayutinya.
"Bodo amat gua lagi seneng!" Semakin mengeratkan pelukannya.
"Jalan ngapain bengong aja!" Secepat itu hilangnya sikap romantis yang ditunjukkan oleh Nessy.
Meski tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi diantara mereka. Kean tetap melajukan mobilnya menuju tempat yang akan mereka datangi hari itu.