Roleplay As Cultivator

Roleplay As Cultivator
36 : Naga dari masa lalu (4)




Boom~ BOOM~ boom~


Suara ledakan terus terjadi didalam cahaya hijau yang menyilaukan mata.


Crack~


Tiba - tiba terdengar suara retakan yang membuat sang Dwarf menengok ke atas.


“Sial, Bahkan teknik ini tidak bisa menahan serangannya”


Tapi beruntung bagi sang Dwarf serangan itu perlahan mereda. Cahaya hijau yang menyilaukan mata itu mulai redup dan menghilang, meninggalkan tembok kasat mata yang penuh dengan retakan. Sang Dwarf menghentikan tekniknya menyebabkan tembok itu pecah bagaikan kaca.


Dwarf melihat kondisi sekitarnya dimana tanah yang tidak berada di belakang tembok pelindungnya berubah menjadi cairan hitam kental.


“Benar - benar kacau”


Swoosh~ boom~


Dreadwing mendarat dengan keras di cairan hitam kental itu sehingga menyebabkan cairan iotu terciprat ke segala arah.


Sang Dwarf mengangkat salah satu tangannya dan mengeluarkan tower shield (perisai besar yang bisa diletakkan di tanah untuk menjadi tower kecil dengan ukuran sekitar tiga kali dua meter). Cairan itu mengenai perisai dan melelehkan bagian yang terkena. Dia menengok kebelakang untuk mengetahui kondisi teman - temannya.


“kalian tidak apa - apa”


Mereka mengeluarkan perisai entah itu dari metal atau sihir untuk bertahan dari serangan.


Dreadwing bangkit dan menatap kelompok orang - orang di depannya dengan tatapan mengintimidasi. Dia juga melepaskan aura yang menekan pergerakan mereka.


“ … Kalian tahu kalau kebodohan juga termasuk dosa bukan”


“Tapi apa yang kalian lakukan sudah bukan kebodohan lagi … “


“Hanya mencari kematian”


Dreadwing membuka mulutnya dengan lebar dan perlahan menarik nafasnya.


“Gawat”


Manusia yang menggunakan teknik tujuh pedang terbang ( Seven Flying sword) bergerak paling cepat dan berpindah ke depan Dreadwing. Dia memegang pergelangan tangan kanannya dan mengarahkannya ke arah Dreadwing. Ujung pedang utamanya melayang ke arah Dreadwing dengan enam pedang lain mengitarinya seperti kincir angin.


“Bloom - Six Red-Petal Sword Shield”


Aura merah berbentuk enam kelopak bunga muncul di depan kultivator  manusia itu.


“Disintegrate … Breath“


SIING~ SWOOOSH~


Semburan laser hijau yang dikeluarkan Dreadwing menghantam Enam kelopak bunga berwarna merah tersebut dan terpecah ke sekitarnya.


“Kuuuuh”


Kultivator manusia itu kewalahan dengan serangan itu. Dia menggenggam erat pergelangan tangan kanannya yang gemetaran. Perlahan satu kelopak bunga itu terurai oleh serangan Dreadwing bersamaan dengan satu pedang yang pecah. Darah mengalir dari salah satu lubang hidung Kultivator manusia itu. Satu persatu kelopak itu terurai  dan membuat kondisi kultivator manusia tersebut semakin parah. Ketika serangan Dreadwing selesai dan dia menutup mulutnya hanya tersisa satu kelopak bunga berwarna merah. Tetapi tidak bertahan lama karena kultivator manusia itu kehilangan kekuatannya untuk terbang dan akhirnya terjatuh ke tanah.


“GUO JING !!!”


Sang Dwarf berlari mendekati kultivator manusia bernama Guo Jing itu.


“A-aku ba .. ik - bai ..ik saj- UHUK!”


Guo jing yang berusaha menunjukkan kalau dirinya baik - baik saja, tetapi di tengah kalimat dia batuk mengeluarkan sedikit darah. Dia menguatkan tekadnya supaya tidak terjatuh. Pedang - pedangnya yang hancur terhubung langsung dengan rohnya melalui kontrak. Teknik ini bisa membuat kultivator mudah mengendalikan senjata milik mereka Tapi seperti yang terlihat, karena mereka terhubung jika senjata itu rusak atau hancur, maka sebagian jiwa yang tertanam di senjata itu ikut rusak. Guo Jing mengalami dampak respon balik dari tekniknya, rohnya sedikit rusak dan juga ikut mempengaruhi tubuh fisiknya. Dia hanya perlu istirahat beberapa menit untuk pulih, tapi kondisi tidak membiarkannya.


Dreadwing berjalan maju perlahan dengan garang.


“Betapa sia-sia perjuangan kalian”


“Membunuh kalian dengan cepat tanpa rasa sakit akan menjadi hadiah terbaik dariku untuk kalian”


“Tapi kalian sia - siakan niat baikku”


Swoosh~


Tiba - tiba dari samping sebuah anak panah berwarna silver melesat ke arah lengan kanan Dreadwing.


Boom~


“Argh, keparat”


“Ini anak panah pembunuh naga”


Pembunuh naga atau dragon slayer adalah gelar untuk sesuatu yang mampu untuk mengalahkan pertahanan dari seekor naga entah itu seseorang ataupun berupa barang (item) .


Dreadwing mengibaskan salah satu sayap dan membuat angin ribut bercampur asap hijau ke arah Kultivator elf yang memanahnya.


Swoosh~


Kultivator elf itu menghindarinya dengan langkah angin yang membuatnya bisa berjalan di udara. Dia melompat - lompat di udara mengikuti aliran angin untuk menghindari asap hijau. Setiap lompatan membuatnya naik semakin tinggi sampai diatas Dreadwing. Dia kemudian mengambil anak panah lain dan mulai menghujani Dreadwing dengan anak panah.


 Zap~ Zap~ Zap~ Zap~ Zap~ Zap~


“Argh, Sialan kau”


Panah - panah itu menancap di beberapa tempat seperti tangan, kaki, tubuh, dan ekornya.


kultivator elf itu mengambil sebuah anak panah silver dengan ujung berwarna ungu. Kemudian dia terjun bebas ke depan Dreadwing berdekatan dengan Kulivator dwarf dan Guo Jing. Begitu berhasil mendarat Kultivator elf itu segera menancapkan anak panah di tangannya ke tanah dan membuat simbol tangan tertentu.


“Ethereal forest lend me your power”


“Capture the Good and the Evil”


“Chain of chaos !”


Dari pangkal tempat anak panah itu tertancap di tanah, keluar rantai hitam yang terhubung ke panah yang tertancap di tubuh Dreadwing. Rantai itu kadang nampak oleh mata dan terkadang menghilang seolah keberadaannya tidak nyata. Rantai itu mulai bergerak dan mengikat Dreadwing, berusaha menjatuhkannya ke tanah.


Hal itu hanya memancing kemarahan Dreadwing. Aura ungu mulai menutupi tubuhnya, dan matanya kembali bersinar seperti debu bintang.


“Life Channeling to Origin”


Begitu suaranya yang dalam terdengar, aura ungu menyebar ke sekitar Dreadwing memakan kelompok orang - orang itu. Tubuh mereka mengeluarkan api putih yang bergerak seperti tersedot oleh angin ke arah Dreadwing. Dia membuka mulutnya siap untuk menelan api - api itu.


“Teknik iblis ini lagi”


“Cepat gunakan formasi ritual itu, sebelum kita kehabisan kekuatan hidup kita !”


Kultivator Dwarf berteriak dengan keras sambil melompat ke atas Dreadwing. Dia melayang lima puluh meter di atas Dreadwing kemudian mengayunkan palu besarnya ke bawah.


“Thousand mountain falling from heaven”


Tekanan gravitasi menyerang Dreadwing dan membuatnya terjatuh ke tanah. Walaupun kedua tangan dan kakinya sudah menyentuh tanah tetapi dia tetap bisa bertahan dan tidak jatuh sepenuhnya. Kaki dan tangannya perlahan tenggelam ke dalam tanah yang retak akibat tekanan gravitasi.


Empat orang kultivator yang sedari awal pertarungan berada di belakang melompat maju dan mengelilingi Dreadwing. Di tangan mereka terlihat semacam cermin dari metal yang berbentuk lingkaran dengan ukiran simbol sihir mengelilinginya.


Kultivator itu berdiri tegak memegang cermin itu dengan tangan kiri mengarahkannya ke Dreadwing. Kemudian tangan kanan mereka membuat simbol tangan. Mereka merapalkan mantra yang terdengar seperti teriakan burung hantu di tengah malam.


Di bawah kaki mereka mulai muncul cahaya ungu yang mulai mengalir ke arah satu sama lain. Tidak lama lingkaran formasi dari cahaya ungu terlihat mengitari Dreadwing.


“Formasi sudah jadi”


“Kita mulai ritualnya”


“Semuanya bertahanlah”


“HyaaaH”


Tanah di dalam formasi itu berubah menjadi gelap seperti ditutupi oleh asap hitam. Kemudian bermunculan tangan - tangan putih yang memegang tubuh Dreadwing dan mencoba menariknya ke bawah.


Dreadwing yang perlahan terseret ke bawah membuka mulutnya lebih lebar dan menarik nafas panjang. Matanya bersinar lebih terang dan melepaskan aura berwarna ungu dan hitam.


“Sepertinya kalian memang memilih mati dengan cara paling buruk”


aaaaaaAAAAAAAAAAAAA~


Dreadwing melepaskan suara melengking yang sangat keras. Sebegitu kerasnya suara itu membuat para kultivator yang mengepungnya mengeluarkan darah dari telinga mereka. Tubuh mereka goyah seperti akan tumbang dengan api putih yang semakin kuat keluar dari tubuh mereka. Beberapa dari mereka juga mengeluarkan darah dari mulut.


Para kultivator ini berusaha sekuat tenaga menjaga konsentrasi mereka. Di dalam pikiran mereka hanya ada satu tujuan yang harus dicapai walaupun harus mengorbankan nyawa.


‘Kita harus berhasil menghilangkan makhluk terkutuk itu dari dunia ini’