Roleplay As Cultivator

Roleplay As Cultivator
29 : Warisan



“Ini belum berakhir”



‘Itu yang sudah aku ucapkan sejak lima menit yang lalu’


huff~ huff~ huff~ huff~


Tian Jie menatap Undead Knight di depannya dengan keadaan kelelahan. Nafasnya cepat dan terasa sesak. Tubuhnya penuh dengan lebam. Darah menetes di setiap tubuhnya. Dia menunduk dengan satu lutut menyentuh tanah. Pedang di tangan kirinya menancap ke tanah dan dia gunakan untuk menahan tubuhnya supaya tidak jatuh ke depan. Mata kanannya yang masih setengah terbuka sudah tidak bisa fokus lagi.


Tiba - tiba Tian Jie mengerutkan keningnya.


‘kuh, sakit kepala ini lagi’


Dia sudah terlalu banyak menggunakan spell cantripnya sehingga sakit kepala menyerangnya lagi. Tubuhnya sudah mencapai batas pemakaian, bahkan dia kesusahan untuk mengangkat kepalanya dengan tegak. Tetapi kondisi tidak mengijinkannya untuk beristirahat.


Dug~ dug~ dug~


Suara langkah berat mendekatinya.


Tian Jie tidak perlu melihat siapa yang mendekat untuk tahu siapa itu. Musuh terkuat yang pernah dia lawan semenjak bereinkarnasi ke dunia ini. Musuh yang seharusnya tidak dia lawan di tingkatnya sekarang. Tapi pilihannya untuk menolong seseorang membuat takdir mengarahkannya untuk melawannya.


Apakah Tian Jie menyesal sudah menolong Huang Qingyue, tentu saja dia menyesal. Jika saja membiarkan Huang Qingyue menyelesaikan misinya sendiri dan hanya bertanya arah kota terdekat. Saat ini dia pasti sedang beristirahat di sebuah tavern untuk mencoba kuliner dunia ini. Tetapi dibalik penyesalannya dia juga merasa lega.


‘Jadi seperti ini rasa menjadi seorang petualang’


Tian Jie tentu saja selalu ingin merasakan bagaimana petualangan di dunia fantasi yang sebenarnya seperti di dalam TRPG yang dia selalu mainkan. Dia yang selalu memerankan karakter baik hati saat bermain TRPG, tidak sanggup untuk membiarkan seorang NPC (non-player character) mati begitu saja. Dia yang merasa emosional ketika seorang NPC yang selalu menemaninya di dalam TRPG mati di cerita petualangannya. Dia akan selalu memilih untuk membantu para NPC itu walaupun tahu lawannya terlalu kuat. Seperti dia mencoba menolong Huang Qingyue saat ini.


‘Haaah, sayang sekali ini berakhir begitu cepat’


‘Aku masih ingin menikmati petualangan ini’


DUG~ DUG~


Suara langkah berat itu berhenti tepat satu langkah di depan Tian Jie.


‘Sepertinya .., inilah akhirnya’


BAAAM~


Hantaman keras mengenai perut Tian Jie. Dia terlempar jauh ke belakang tanpa melepas pedang di tangan kirinya. Dia terguling - guling dan berhenti ketika menabrak sebuah batu besar. Kedua matanya sudah tertutup.


Cough~ cough~


Keluar darah dari mulut Tian Jie. Tubuhnya gemetaran karena dia masih berusaha bergerak tapi sudah mustahil.


‘Maaf … Qing .. yue’


Kegelapan mulai menutup seluruh kesadaran Tian Jie.



Jika Tian Jie masih bisa menahan sebentar saja kesadarannya dia akan melihat sistem di depan matanya yang berkedip merah.


Bing~


[PERINGATAN : NYAWA HOST SEDANG DALAM KEADAAN KRITIS]


[PERINGATAN : NYAWA HOST SEDANG DALAM KEADAAN KRITIS]


[PERINGATAN : NYAWA HOST SEDANG DALAM KEADAAN KRITIS]


[MEMULAI PROSEDUR … ]



Jauh di dalam gelapnya dungeon, di tempat yang tidak diketahui lokasinya dengan pasti. Terdengar suara - suara seperti banyak orang sedang berunding.


“Apakah dia pantas ?”


“Dia bisa dengan tenang menganalisis situasi dan menentukan langkah yang dirasa terbaik”


“Tapi sayang semua itu tidak berguna di hadapan kekuatan mutlak”


“Keraguannya di dalam pertarungan akan menjadi salah satu kelemahannya”


“Apakah dia pantas ?”


“Dia berani maju sendirian untuk memberi kesempatan temannya melarikan diri”


“Pengorbanan yang tidak berarti, berusaha menjadi pahlawan seperti orang bodoh”


“Tapi dia memiliki jiwa ke satria yang bagus untuk bisa menghadapi mereka”


“Apakah dia pantas ?”


“Dia memiliki teknik yang kuat dan sangat jarang dimiliki kultivator dengan tingkat yang sama”


“Sangat bodoh, dia tidak menguasai dengan sempurna dasar dari penggunaan senjatanya”


“Konyol, dia selalu menghancurkan senjatanya ketika menggunakan tekniknya”


“Aku tidak tega melihat pengorbanan senjata - senjata itu”


“Tapi potensi yang dia miliki sangat besar”


“Apakah dia pantas ?”


“””...”””


“Kita tidak punya pilihan lain”


“Dia yang terbaik sejauh ini”


“cih, dia masih terlalu kasar dan belum terpoles dengan baik”


“Kesimpulan … ”


“Bagaimana dengan gadis temannya ?”


“””...”””


“Dia juga memiliki kualifikasi”


“Plin - plan”


“Terlalu memikirkan hal yang tidak perlu dalam pertarungan”


“Dia terlalu membuang - buang potensi bakatnya untuk menggunakan kekuatan kehendak”


“Dan tekniknya yang dia gunakan sangat bodoh”


“Benar - benar menyia - nyiakan bakatnya sendiri”


“Bukankah dia juga bisa menjadi pembawa warisan kita dengan bakatnya ?”


“””...”””


“Bagaimana jika kita memberikan benih api ke gadis ini ?”


“Bukankah anak laki - laki ini yang memiliki kualifikasi lebih banyak ?”


“Kita akan memberikan semuanya kepada laki - laki ini kecuali benih api”


“Cih, kuharap dia bisa menggunakan anak - anakku dengan lebih baik”


“Aku ingin mengujinya sekali lagi”


“””...”””



Undead Knight berjalan mendekati tubuh Tian Jie yang sudah tidak bergerak lagi. Baju besi Undead knight penuh dengan bekas potongan. Kepala, lengan kanan, dan dada kirinya sudah hilang, Tetapi dia masih bisa bergerak dengan bebas. Api Hijau masih membara dengan kuat dari rongga - rongga baju besi itu. Jika seseorang memperhatikan dengan lebih teliti, terdapat bayangan tengkorak manusia dari dalam api hijau itu.


Tiba - tiba sebuah lingkaran cahaya yang berisi simbol sihir muncul di bawah kaki Undead Knight itu.  Sebuah rantai keluar dari lingkaran cahaya itu dan mengikat tangan kiri Undead Knight.


Undead Knight itu marah dan berusaha melepaskan tangannya dengan menghentak - hentakkan rantai itu. Tetapi rantai itu kokoh dan tidak terpengaruh.


Tidak lama rantai lain muncul dan mengikat pinggang Undead Knight, membuatnya semakin meronta - ronta. Dua rantai mengikat kedua kaki Undead Knight dan akhirnya membuat dia berhenti bergerak.


Saat Undead Knight masih berusaha melepaskan diri dari rantai - rantai yang mengikat dirinya, sebuah lingkaran cahaya yang penuh simbol sihir juga muncul di bawah tubuh Tian Jie.



Di dalam kegelapan Tian Jie seperti melayang dalam kehampaan hingga dia mendengar suara menyapanya.


“hai, anak muda”


Tian Jie yang baru saja merasakan kematian keduanya masih sedikit linglung dan tidak terlalu fokus.


“Siapa kamu ?”


“Bukan siapa - siapa”


“Hanya sebuah jiwa dari waktu yang sudah berlalu”


Tian Jie hanya diam tidak bersuara. Dia tidak bisa membuka matanya ataupun menggerakkan badannya. Bahkan suara yang dia dengar dan keluarkan seperti langsung terdengar di pikirannya.


“hei, aku memiliki benih api yang bisa digunakan untuk membentuk inti spiritual api”


“Apakah kamu menginginkannya ?”


Tian Jie tidak menunjukkan ekspresi apa  - apa.


“Apakah kamu bisa memberikannya ke temanku ?”


“Temanmu ?”


“Maksudmu gadis yang cacat itu ?”


“Kenapa kamu malah ingin memberikannya kepadanya ?”


Ujung bibir Tian Jie sedikit terangkat.


“Dia masih memiliki masa depan untuk berkembang”


“Sedangkan aku sudah digerbang alam batas”


Kehampaan kembali untuk beberapa saat sampai suara itu terdengar lagi.


“Baiklah, akan aku berikan ini kepadanya”


“Apakah kamu yakin tidak ingin pulih kembali ?”


“Bisa saja benih api ini akan membantumu”


Tian Jie ingin menggelengkan kepalanya tetapi tidak bisa dia gerakkan.


“Jika aku yang mati, tidak ada yang akan kehilangan diriku”


“Tapi dia masih memiliki ibu untuk dia rawat”


“... Ah, dan saudari yang dia sayangi”


“... Kamu benar - benar orang baik”


“Aku harap kamu menjaga warisan ini dengan baik”


Tian Jie merasakan kekuatan yang mengalir ke arahnya. Sebuah energi spiritual dengan jumlah besar mengalir masuk ke dalam tubuhnya dengan paksa. Lingkaran sihir di jantungnya mulai bersinar dengan terang.


(A/N: aku menulis ini dalam keadaan demam, mungkin banyak hal membingungkan. jadi, maaf jiak kurang detail)