Real Love

Real Love
Real Love #9



Sebelumnya, Keyla memang sempat marah dengan kelakuan seenaknya Arya padanya. Namun setelah dipikir lagi, kenapa juga ia harus marah? Toh dari dulu pun Arya kan memang begitu, suka seenaknya dan kadang suka bercanda kelewat batas. Jadi seharusnya ia sudah biasa dengan hal itu. Dan tak perlu membesar besarkanya apalagi sampai memikirkannya.


Karena jika terus dipikirkan hanya akan membuatnya merasa sakit, sakit dengan fakta bahwa Arya tidaklah sendiri dan mungkin juga karena ia memang tidak pernah ada di hati pria itu. Mungkin sebab itulah kenapa ia bisa bersikap berlebihan tadi siang. Dan kalaupun nantinya Melati akan melabraknya ia tidak perlu takut, karena ia tidak bersalah dan itu hanyalah candaan bukan kenyataan.


Jadi Keyla putuskan untuk tidak terlalu ambil pusing dengan semua yang terjadi dan ia akan bersikap biasa saja jika berhadapan dengan Arya. Mungkin dengan begitu akan membantunya untuk tidak terlalu berharap pada Arya.


Tapi tetap saja, kedatangan Arya ke rumahnya sekarang membuatnya merasa senang. Maklum saja, jomlo sepertinya jarang ada yang mengapel ke rumah lebih tepatnya tidak pernah ada pria yang datang ke rumahnya. Walaupun sebenarnya Keyla bisa saja membawa pacarnya dulu ke rumahnya, namun semua itu tidak ia lakukan. Bukan karena pacarnya tidak tampan makanya ia malu mengenalkannya pada kedua orang tuanya, tapi karena Keyla hanya mau mengenalkan satu pria saja pada orang tuanya, pria yang pastinya serius dengannya. Bukan hanya yang bermain main dan menyakitinya saja. Dan lagi pula jika Keyla membawa semua pacarnyaa dulu bisa dipastikan ia akan dianggap wanita tidak baik yang gonta ganti pasangan.


Mulut tetangganya kan luar biasa nyinyirnya, doyannya hanya mengurusi hidup orang lain padahal hidup anaknya saja tidak jauh lebih baik darinya.


"Kita mau diem aja di sini?"


Suara Keyla memecah keheningan yang terjadi sejak lima menit yang lalu diantara keduanya. Lebih tepatnya sejak Arya mentertawakn pakaiannya dan tingkah lakunya yang berlebihan. Ah Keyla sepertinya harus mengingatkan dirinya lagi untuk bersikap biasa saja. Jangan sampai berlebih karena sesuatu yang berlebih itu tidak baik seperti yang terjadi padanya sebelumnya berlebihan menanggapi tampilannya malah mempermalukan dirinya sendiri.


Keyla duduk dengan gelisah, matanya berpendar mengawasi sekitar. Takut ada orang yang melihatnya berduaan dengan Arya dan mengadukannya pada ibunya. Bisa bisa ia dinikahkan saat itu juga oleh ibunya.


Arya menggaruk tengkuknya salah tingkah, "Jadi kita mau kemana?"


"Mana aku tau, kan kamu yang mau ngajak aku bicara," seru Keyla menoleh sebentar pada Arya lantas kembali melihat sekitar. Mata Keyla membulat sempurna, melihat Ambar dalam sekumpulan ibu ibu yang baru pulang pengajian. Ia langsung bergerak heboh, menepuk paha Arya brutal menyuruh pria itu menjalankan mobilnya. "Kita kemana aja asal jangan di sini, buruan nyalain mobilnya!!" seru Keyla panik, melihat orang orang itu berjalan mendekat ke arahnya.


Kehebohan Keyla menular pada Arya, pria itu sampai dibuat kalang kabut. Keduanya bisa bernapas lega setelah mobil Arya berjalan menjauhi komplek perumahannya.


***


Keyla menatap horor pada Arya. Ia memang menyuruh Arya membawanya kemana saja, tapi bukan berarti malah ke rumah orang tuanya juga kan. "Kita ngapain ke rumah orang tua kamu?"


"Ini rumah aku Key, bukan rumah orang tua aku," jelas Arya.


Keyla memicing curiga, tangannya menyilang di depan dada bersikap defensif. "Kenapa kamu bawa aku ke sini?"


"Aku tau kamu masih punya cukup malu untuk tidak berkeliaran dalam keadaan buruk seperti itu." ujar Arya seraya menunjuk pakaian Keyla dengan dagunya. Keyla menunduk, memperhatikan kembali penampilannya, bibirnya meringis menyadari penampilannya yang jelek.


"Ayo turun!" ajak Arya seraya keluar dari mobil, melangkah menuju teras rumah.


Rumah ini adalah miliknya sendiri, rumah yang baru selesai di bangun dua bulan lalu. Dan menjadi tempat dirinya melarikan diri disaat orang orang mulai menekannya lagi. Arya harap kelak rumah ini akan menjadi tempatnya pulang, tempat ternyaman yang diisi dengan keceriaan dan kegembiraan. Bukannya menjadi tempat yang hanya bisa membuat tertekan saja.


Pintu sudah berhasil dibuka, Arya berbalik hendak mengajak Keyla untuk masuk. Namun ia tidak menemukan keberadaan Keyla di belangkangnya, dahinya mengerut bingung bukannya tadi Keyla mengikutinya? Jangan bilang gadis itu kabur lagi.


Mulutnya berdecak melihat Keyla yang diam saja di dalam mobil. Pria itu melangkah lebar mendekati pintu penumpang. Kepalanya menggeleng melihat Keyla yang justru malah bersembunyi.


"Keyla buka pintunya!" perintah Arya, saat ia mencoba membuka pintu yang ternyata terkunci.


Di dalam mobil, Keyla menggeleng kuat, "Nggak mau."


Arya kembali berdecak menghadapi tingkah keras kepala Keyla, "Buka gak?!" nada suara Arya naik satu oktaf matanya menatap tajam pada Keyla.


Tubuh Keyla mengerut takut melihat tatapan Arya, gadis itu mendengkus jengkel. "Iya iya," ujarnya sebal.


Pintu sudah terbuka, namun Keyla enggan untuk turun. Melihat itu Arya menghembuskan napasnya kasar, kenapa disaat ia ingin meminta maaf saja harus sesusah ini.


"Turun!" titah Arya, pria itu masih berusaha sabar menghadapi Keyla.


"Kita mau ngapain sih ke sini? Kenapa harus ke rumah kamu segala." protes Keyla, bibirnya mencebik kesal.


Bukan apa-apa, Keyla takut saja Arya berbuat sesuatu padanya. Sepertinya membunuhnya gitu agar ia tidak mengganggu kehidupan pria itu lagi. Atau yang lebih parah Arya ingin menjualnya lagi. Keyla menggelengkan kepalanya kuat kuat.


Raut wajah Arya berubah datar, ia tau pasti Keyla sedang berpikiran yang tidak-tidak tentangnya. Tangganya menyentil dahi wanita itu membuat Keyla menjerit karena sakit sekaligus terkejut.


"Hilangin pikiran jelek kamu itu. Kamu mau turun sendiri atau mau aku gendong sampai dalam?" tanya Arya tak sabar dengan Keyla yang banyak diam.


Keyla menekuk wajahnya kesal, setengah hati Keyla turun kemudian berjalan menghentak mendahului Arya. "Pemaksa," sebalnya.


Di belangkangnya Arya terkekeh, melihat kekesalan Keyla. Bibir tipis Keyla misah misuh, mencibir kelakuan Arya yang seenaknya. Sepertinya suasana hati Keyla sudah jauh lebih baik dari tadi siang. Semoga saja Keyla mau memaafkannya.


Setelah masuk rumah yang katanya milik Arya, tiba tiba saja Keyla menghentikan langkahnnya. Dahinya mengerut melihat isi rumah yang masih kosong melompong menandakan rumah ini baru dibangun. Entah kenapa fakta itu membuat Keyla diserang cemas.


Keyla berbalik hendak melarikan diri, namun langkahnya terhenti karena kepalanya membentur sesuatu yang keras membuatnya terhuyung mundur satu langkah. Keyla mendengkus kesal seraya mengusap keningnya. Kepalanya mendongak matanya langsung menemukan Arya yang berdiri menjulang di depannya. Wajah pria itu terlihat kesal.


Keyla cengengesan sepertinya ia tahu penyebab Arya kesal. "Aku cuma mau bicara sama kamu, bukan mau ngapa-ngapain kamu. Tapi kalo kamu emang gak percaya yah terserah, kamu boleh pulang."


Bibir Keyla maju beberapa centi, perasaan bersalah merayapi hatinya. Apalagi mendengar nada suara Arya yang terdengar lelah membuatnya tak enak hati. Dia seolah tidak menghargai niat baik Arya yang ingin meluruskan permasalahan tadi siang sampai bela belain datang ke rumahnya. Gadis itu memilin bajunya, bingung antara memilih untuk pulang atau tetap bertahan di sini.


Sebenarnya Keyla ingin pulang bukan karena takut Arya akan melakukan hal jahat padanya. Tapi ia takut tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menerjang Arya. Bagaimanapun juga Keyla masih sadar imannya lemah, dan berduan dengan Arya dalam jangka waktu yang lama bukanlah sesuatu yang bagus.


Keyla melirik Arya lewat ekor matanya mengamati Arya yang sedang memandang lurus ke arah dinding wajah pria itu tampak kusut. Keyla menghembuskan napasnya kuat kuat sebelum akhirnya melangkah kembali masuk ke dalam rumah Arya. Yah pada akhirnya ia memilih bertahan karena Keyla sadar tidak mungkin ia pulang berjalan kaki mengingat dirinya tidak menbawa uang sepeserpun.


Dibelangkangnya, Arya tersenyum puas ia tau Keyla orang yang selalu menghargai usaha orang lain. Masih dengan senyumnya Arya menyusul Keyla yang tanpa diperintahkan sudah duduk di sofa ruang keluarga. Berhubung karena hanya tempat itu yang sudah terisi dengan perabotan selebihnya masih kosong melompong.


"Pantes aja dari tadi gue nyium bau gak enak," ucap Keyla tanpa sadar, Arya mendelik mendengarnya.


"Walaupun aku belum mandi, tapi aku tetep ganteng dan menggoda kan?" Arya menaik turunkan kedua alisnya menggoda Keyla, gadis itu berdecak pelan melihat kepercayaan diri Arya. Yah walaupun harus Keyla akui Arya malah tampak semakin mempesona dengan tampilan yang berantakannya itu. Jas warna kremnya sudah terlepas dari tubuhnya menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku belum lagi rambut hitamnya yang lepek karena keringat menambah kesan mempesona Arya dimatanya. Rasanya benar-benar tak adil kenapa Arya yang berantakan saja terlihat mempesona sementara dirinya? Jangan ditanya lagi ia berantakan malah terlihat menyedihkan.


"Kalo kamu mau minum ambil aja di dapur sendiri yah." suara Arya menyentak Keyla dari lamunannya, gadis itu memghela napasnya mellihat Arya yang berjalan ke lantai atas meninggalkam dirinya sendiri.


***


Yang namanya nunggu memang tidak enak. Dan Keyla merasakannya sekarang, gadis itu mendesah kesal matanya melirik tajam ke atas berarap Arya akan muncul dan masalah ini segera selesai agar ia bisa cepat cepat pulang dan mengistirahatkan tubuhnya.


Keyla meneguk hingga tandas air putih yang ia ambil dari kulkas Arya. Air yang menemaninya menunggu Arya hingga dua puluh menit lamanya. Andai saja di rumah Arya ada makanan ia pasti tidak akan sekesal ini menanti Arya yang sedang mandi. Jangankan makanan, minum aja cuma ada air putih doang.


Sangat disayangkan luarnya aja bagus tapi dalamnya kosong melompong begitupun dengan isi kulkas Arya dari luar tampak besar dan Keyla kira pasti banyak isinya namun saat ia buka hanya ada tiga botol air putih.


Sebenarnya sembari menunggu Arya tadi Keyla sempat menjelajah rumah Arya. Tidak semuanya ia hanya melihat lantai bawah saja karena bagian laintai atas ia tidak berani. Secara keseluruhan rumah Arya besar dengan taman di samping yang cukup besar juga. Yang jadi pertanyaan Keyla kenapa rumah ini belum diisi sepenuhnya oleh perabotan rumah. Padahalkan Arya punya perusahaan yang bergerak di bidang furniture sangat gampang bagi pria itu untuk mengisi rumahnya. Mungkin nanti akan Keyla tanyakan itupun kalau ia berani.


Keyla melirik jam di ponselnya, waktu sudah menunjukan pukul delapan malam belum terlalu malam namun rasa kantuk sudah menyerangnya. Seharian bekerja membuatnya lelah belum lagi menghadapi tingkah Arya yang bak bunglon membuatnya membutuhkan tenaga ekstra. Saat seperti ini Keyla butuh yang segar segar, sepertinya melihat Arya sehabis mandi pasti menyegarkan.


Tanpa sadar Keyla menjilat bibir bawahnya, membayangkan Arya sehabis mandi layaknya ia membayangkan ji chang wook pasti luar biasa.


Sebentar, barusan dia cuma ngebayangin aja kan? Kok sekarang Keyla sepetti melihat tubuh telanjang dada seseorang. Gadis itu mengucek kedua matanya memastikan apa yang dihadapannya benar atau salah. Tapi masa iya ji chang wook langsung muncul di depannya doi kan lagi wamil. Ah sepertinya Keyla memang benar benar butuh tidur otaknya mulai tidak bisa diajak kompromi.


Keyla menggeleng kuat kuat mengusir bayangan mesum dari otaknya disertai kibasan tangan mencoba menghilangkan jejak jejak kekotoran di sekelilingnya. Sampai sebuah suara terdengar, menghentikan aksi konyolnya


"Kamu kenapa?" Keyla tediam dahinya mengerut, berpikir sejak kapan bayangan bisa menimbulkan suara. Lambaian tangan di depan wajahnya membuat gadis itu mendongak melihat siapakah gerangan sebenarnya yang punya tubuh liat liat menggiurkan di depannya.


Mulut Keyla terbuka matanya mengerjap menemukan wajah Arya yang berada dekat dengan wajahnya. Gadis menelan salivanya melihat wajah tampan Arya yang tersenyum geli padanya. Keyla menepuk kedua pipinya menyadarkan dirinya dari segala hal yang membuatnya gila.


Mata Keyla tak sengaja melirik ke bawah matanya membulat sempurna, "What the ****! Kenapa kamu gak pake baju!" pekiknya histeris saat sadar bahwa yang ia lihat tadi bukanlah bayangan melainkan tubuh Arya yang hanya terbalut handuk dari pinggang sampai lututnya.


Sial kalo begini Keyla makin gak tahan untuk tidak menyentyh perut Arya yang sialannya terbentuk sempurna. Kulitnya yang berwarna coklat menambah kesan seksi Arya dimata Keyla apalagi dengan tetesan air yang masih terisisa ditubuhnya membua Keyla sampai merinding disko. Arya dalam tampilan seperti ini sangat menggairahkan dimata Keyla membangkitkan sisi ****** dalam dirinya.


Oke Keyla tarik, tahan, buang. Baca istigfar Keyla jangan sampe lo nyerang dia dan berakhir di pengadilan agama nantinya gara gara lo dinikahin paksa.


"Aku lupa kalo baju aku ketinggalan di mobil." jawab Arya santai pria itu bahkan berpindah posiai duduk di samping Keyla seraya menyilangkan kedua kakinya. Entah kenapa gerakan Arya itu bagaikan godaan untuk Keyla.


Keyla melirik sadis pada Arya, "Emangnya di sini gak ada baju kamu apa?" tanyanya sewot..


"Asal kamu tau, aku emang jarang nyimpen baju di sini dan kalopun ada semua lagi di laundry." Keyla mendengkus bibirnya misah misuh Keyla tau Arya pasti sengaja ingin memamerkan tubuhnya di depan Keyla supaya ia bisa memaafkan pria itu dengan gampang. Arya tau saja kelemahan anak kurang belaiannya nyonya Ambarwati.


"Emang kenapa sih kalo aku gak pake baju?" tanya Arya pura pura tidak tau, padahal sebenarnya ia memang tidak sengaja melakukan ini. Bajunya tertinggal di mobil semua dan sangat malas untuk mengambilnya dahulu. "Kan bagus kalo aku gini, kamu jadi dapet pencerahan, penyegaran mata secara gratis." sambungnya tersenyum miring.


Keyla memdesis kesal, menendang kaki Arya agar pria itu berhenti menggodanya. "Kamu pake baju sekarang atau kita gak usah bicara?" ancam Keyla semakin lama kesabarannya makin diuji.


Arya terkikik, ekspresi sebal Keyla sangat memghiburnya menjadi obat lelahnya setelah bersitegang dengan ibunya. "Males keluarnya Key, takut masuk angin." balasnya.


Keyla memejamkan matanya mengontrol emosi yang meletup letup, tangannya melempar bantal sofa pada Arya. "Pake, tutupin tubuh kamu." perintahnya.


Arya menurut, tangannya mendekap erat bantal sofa yang Keyla lempar. Melihat itu Keyla jadi meringis ingin rasanya ia bertukar posisi dengan bantal itu. Merasakan dekapan hangat Arya pada tubuhnya sepertinya enak apalagi tubuh telanjang Arya pas-- stop it Keyla otakmu makin lama makin gak bener. Keyla harus menyeselesaikn ini secepatnya sebelum kewarasannya menghilang.


Keyla menghembuskan napasnya, mencari posisi nyaman bicara namun tidak melihat Arya sedikitpun. "Jadi kamu mau bicara apa?"


"Huh?"


Keyla berdecak, belum apa apa Arya sudah membuatnya emosi. "Kamu mau bicara apa sampai ngajak aku ke sini?" tanyanya penuh tekanan.


Arya tersenyum lagi, pria itu memiringkan tubuhnya menghadap Keyla. "Key!" panggilnya, suasana mendadak serius.


"Hm." sahut Keyla.


Arya menarik napasnya, merangkai kata yang akan diucapkannya pada Keyla. "Maaf untuk kejadian tadi siang, jujur aku gak ada niat sedikitpun untuk nyakitin atau bahkan membawa masalah buat kamu. Itu hanya ucapan spontanitas aku karena kesal dengan Melati. Seperti yang kamu kira aku orang terkadang gak pernah berpikir sebelum berbicara dan kejadian tadi salah satunya. Aku tau kamu marah besar sama aku tapi aku bener-bener minta maaf sama kamu. Aku bakal lakuin apapun deh biar kamu mau maafin aku." terang Arya.


Arya menunggu dengan cemas respon Keyla, namun gadis itu hanya diam membuat Arya jadi kalat kabut. Apa sesusah itu Keyla memaafkannya? Wajar saja sih siapa juga yang mau dituduh jadi selingkuhan apalagi dari mantannya sendri.


"Dan soal melati kamu gak usah khawatir aku bakal ngurus wanita itu biar dia gak ganggu kamu. Pokoknya aku bakal tanggung jawab sama apa yang udah aku lakuin." lanjutnya lagi tapi Keyla masih tetap diam. "Key!" panggilnya gusar.


Keyla menghela nalasnya, ia bingung harus merespon bagaimana. "Gini,  jujur sebelum kamu minta maaf aku udah maafin kamu. Aku sadar kamu emang orang yang suka ceplas ceplos tapi mungkin sifat kamu itu membuat aku sedikit terkejut dan bertingkah lebay seperti tadi siang. Mungkin karena aku belum terbiasa dengan hal itu makanya aku marah. Kamu gak perlu minta maaf kamu gak salah kok. Jadi kamu gak perlu tanggung jawab apa-apa, kamu cukup bersikap biasa aja aku udah seneng kok." jelas Keyla.


Arya menghembuskan napasnya lega, "jadi kamu maafin aku?" tanyanya memastikan dan Keyla mengangguk mantap.


Melihat itu Arya spontan memeluk Keyla mendekap erat tubuh Keyla yang berubah menegang, matanya juga membulat sempurna.


Fix si Arya minta digaplok kalo gini.


***