
Hati kadang sulit dimengerti, terkadang lantang menyerukan untuk pergi tapi malah mendekati, meski sadar akan risiko patah hati tapi masih saja mengharapkan dia yang tak pasti.
***
Meski sudah menghabiskan waktu satu jam untuk merias diri, tetap saja ada yang kurang pas di hati. Layaknya mencari pasangan hidup yang harus sreg dulu baru melangkah menuju pelaminan, begitu yang Keyla rasakan saat ini.
Tubuh nyaris sempurna itu berputar di depan cermin besar setinggi tubuhnya, alis yang sudah dilukis sedemikian rupa itu berkerut, berpikir apa yang kurang dari penampilannya. Gaun merah menyala--pilihan Maura tempo hari--membalut tubuhnya dengan sempurna. Riasaan wajah yang minimalis namun menonjolkan sisi dewasa dalam dirinya, menambah kesan memukau dalam dirinya.
Bibir yang diberi polesan lipstik warna berry itu menyeringai menatap pantulan dirinya. Sebut saja Keyla makhluk terpecaya diri sebab merasa amat cantik malam ini. Dia bahkan tertawa-tawa sendiri, demi Tuhan adakah orang di luar sana yang sama gilanya dengan Keyla yang doyan memuji dirinya sendiri sampai cekikikan gak jelas?
Keyla berpose di depan cermin, membuat ekspresi datar yang terlihat menggoda menurutnya. Setelahnya Keyla tertawa lagi. "Gila kok gue sok cantik banget yah," gumamnya. Kepala Keyla menggeleng, mengenyahkan segala ketidak warasan yang hinggap di otaknya.
Keyla meraih anting-anting yang sudah disiapkannya dan nyaris dilupakannya. Benda mungil itu yang ternyata membuatnya merasa penampilannya kurang lengkap. Senyum puas tercipta kala matanya menatap pantulannya, Keyla lekas meraih clutch hitam hadiah ulang tahunnya dari sang Mama. Eits! Jangan salah sangka, sebab nyonya Ambarwati baik jika ada maunya. Tidak ada yang gratis di dunia ini pemirsa, ada timbal balik yang harus Keyla bayar. Mamanya yang keterlaluannya kelewatan itu minta Berlian kelak jika beliau berulang tahun. Saat itu Keyla mendengkus, meratapi nasib hidupnya. Dikira dia artis ono apa yang berliannya sampe tiga puluh karat.
Suara ketukan ujung runcing heelsnya terdengar nyaring di kamarnya yang sunyi. Keyla berdecak, kala matanya menatap jam di ponselnya yang menampikan waktu lebih lima belas menit dari waktu janjian mereka. Keyla mendial nomor seseorang, menunggu hingga panggilannnya diangkat.
"Lo dimana *****?" todong Keyla langsung saat panggilannya diangkat, tidak menutupi kekesalan dalam suaranya.
"Kenapa Key?" suara seringan kapas, tanpa ada rasa bersalah itu memantik emosi Keyla.
Keyla mendengkus. "Lo dimana?" tanya Keyla lagi, bisa habis kesabrannya kalo begini. Dia lelah menunggu dia yang memberi harapan tanpa kepastian jangan menambahnya dengan menguji kesabarannya.
"Kan sekarang hari tunangannya si Tasya. Ya gue lagi di acara pertunangannya lah. Lo lupa?!" Lha? Kenapa jadi Maura yang doyan bikin huru hara yang marah.
Tahan napas Keyla, jangan marah tahan hasratmu untuk memaki.
Pada kenyataannya Keyla tidak bisa melakukan itu. Jelaslah dia marah, dia ingat dengan jelas Maura menawarinya untuk datang ke sana bersama meski konsekuensinya dia harus jadi obat nyamuk antara Maura dan pacarnya. Namun pada faktanya Maura justru meninggalnya tanpa dosa.
"Heh kutil! Lo yang lupa apa gimana hah?! Lo kan ngajakin gue bareng napa jadi lo udah di sono?!" semprot Keyla sebal. Keyla tidak akan semarah ini jika saja orang tuanya belum berangkat. Dia bisa ikut dengan mereka dan juga Kyla, karena sudah berjanjian dengan Maura dia menolaknya dengan halus. Tapi kini? Yang ia harapkan justru mengecewakan, sialan memang.
"Eh, emang iya?" tanya Maura polos, jika Maura ada di depannya sudah habis dia di tangan Keyla.
"Tau ah!" serunya kesal, mematikan sambungan sebelah pihak.
Moodnya hancur lebur, sebal dan marah bercampur menjadi satu. Sekarang bagaimana? Ponselnya berdering, dengan malas Keyla meraihnya. Emosinya kian memuncak membaca sebaris kalimat yang Maura kirimkan.
Sori Key, gue lupa. Yaudah lo naik ojol aja.
Dengan dress di bawah lutut dan stiletto coklat muda Maura menyuruhnya naik ojol? Yang benar saja. Usahanya berdandan selama satu jam bisa sia-sia kalo begitu. Dengan emosi menggebu Keyla putuskan untuk naik taksi online.
Keyla turun ke lantai bawah, duduk di sofa ruang tamu menunggu taksinya datang. Sembari menunggu, gadis itu berselfie ria mencoba mendapatkan foto sempurna yang akan ia upload di IGnya. Rasanya sudah lama sekali Keyla tidak eksis di sosial media. Sebab dunia nyatanya saja sudah terlalu melelahkan.
Suara ketukan pintu menghentikan Keyla dari kenarsisannya. Dahinya berkerut, merasa heran sebab tak biasanya driver taksi online turun dan mengetuk pintu. Biasanya mereka akan menelpon jika sudah sampai di depan rumah. Keyla menggedikan bahu tak acuh, memilih bangkit untuk menemui si driver. Dia harus segera cepat sampai di sana untuk membalaskam dendamnya pada Maura.
Keyla berdecak, sebal sebab si driver kembali mengetuk pintu rumahnya tak sabaran. Lekas Keyla membuka pintu. "Maaf membuat menung--"
Keyla mengerjap, napasnya tercekat, dadanya naik turun. Tercengang luar biasa, bibirnya tak kuasa berkata-kata hanya mampu terbuka dan menutup. Ekspresi wajahnya pasti jelek sekali sampai pria di depannya terkekeh. Ah berapa lama Keyla tidak mendengar suaranya? Sampai tubuhnya dibuat merinding begini.
"Hai Key!" Arya tersenyum begitu menawan hingga nyaris membuat Keyla ingin menerjangnya, memeluknya erat dan mengatakan betapa dia merindukannya.
***
Malam belum begitu larut, tapi cuaca terasa begitu menusuk. Keyla bahkan merasa bulu kuduknya merinding, entah murni karena cuaca atau sebab pria yang kini sedamg mengemudi di sampingnya.
Keyla menggosok lengannya, dress yang dikenakannya memang memiliki model sabrina yang mengekpose bahunya yang mulus. Keyla patut bersyukur, sebab diberi bahu yang indah dan seksi tentunya. Jika Tasya diberi rupa yang cantik bak dewi aphrodite, Maura dengan segala kerapihan yang menonjolkan sisi manisnya, dan Aurel disebut si imut yang mematikan. Maka Keyla adalah jelmaan dari kesempurnaan yang wanita impikan. Dia cantik, tapi Tasya jelas lebih cantik, lantas apa kelebihannya?
Tubuh langsingnya. Masuk perguruan tinggi Keyla mulai mengenal kata kerasnya dunia. Dimana kecantikan menjadi tolak ukur dalam hal pertemanan. Memang tidak semua, tapi Keyla pernah mengalaminya sendiri. Saat itu dia masih di zona patah hati, yang berujung pada malasnya melakukan sesuatu termasuk merias diri. Bahkan sekedar mewarnai bibir saja rasanya malas--bayangkan seorang Keyla Anindhyta yang doyan dandan waktu SMA menjadi si pemalas merawat diri.
Wajah pias layaknya orang sakit menjadi hal yang enggan dilihat. Hanya sebab itu, dia sampai dihindari orang-orang, katanya dia kaya gembel. What the **** sekali bukan? Apa hal yang paling menyebalkan dari patah hati ditambah hinaan?
Sejak itu, Keyla mulai rajin merawat dirinya, tidak hanya wajah, tubuhnya juga dia rawat. Dan yang paling Keyla sukai dari bagian tubuhnya adalah bahunya yang seksi dan juga rambutnya yang panjang menjuntai indah .
"Dingin?"
"Hah?" Keyla tersentak, spontan menoleh. Rupanya ia terlalu hanyut dalam kilasan masa lalunya.
"Kamu kedinginan?" ulang Arya, menatap tangan Keyla yang mengusap lengan bagian atasnya.
Sadar tatapan Arya, Keyla lekas menghentikan aksinya. Dia berdeham canggung. "Eng--enggak kok."
Arya mengangguk paham. "Kamu bohong."
Keyla mengerjap, jantungnya dibuat berdebar kala Arya memberhentikan mobilnya. "Ka-kamu mau ngapain?" tanyanya gugup saat Arya melepas jasnya. Iman gue lemah jangan digoda pliss, pinta batinnya.
Arya terkekeh melihat raut panik Keyla. "Mau mesum," godanya mengedipkan sebelah mata.
Seketika Keyla mencebik, sadar dirinya sedang digoda. Pipi yang sudah diberi perona itu semakin merona, sialan sekali kenapa sisi jalangnya malah berpikir kemana-mana.
"Pake," titah Arya, menyerahkan jas maroon yang semula membalut tubuh tegapnya, menyisakan kemeja hitam yang menambah ketampanannya. Sumpah! Keyla lemah liat pria pake baju hitam, gantengnya nambah.
"Pake Key, aku gak mau kamu masuk angin. Nanti kamu sakit aku repot di kantor." ini nih udah diterbatin trus dijatuhin. Dasar mantan sialan, orang mau move on kok malah manis gini sih, gerutu Keyla dalam hati.
"Lagian ngapain sih pake baju seterbuka itu, pamer-pamer aurat aja." Keyla mengerjap, ini Arya sedang menggerutu? Protes sebab pakaiannya? Haknya apa memang? Entah apa yang merasukimu Arya
***
Pertunangan Tasya dirayakan dengan meriah. Sebab kedua keluarga bukanlah kalangan sembarang orang. Orang tua Tasya sendiri merupakan dosen di sebuah universitas ternama. Sedang ayah sang pria ialah direktur disalah satu rumah sakit swasta. Tak heran jika undangannya saja banyak meski hanya pertunangan. Tak terbayang akan seperti apa jika keduanya berjodoh dan menikah nanti.
"Ayo!" ajak Arya.
"Kamu duluan aja nanti aku nyusul." Perkataan Keyla mengundang tanda tanya besar dalam benak Arya.
"Bareng aja kenapa sih," ujar Arya menatap bingung Keyla yang berdiri di sampingnya, beberapa langkah di depan mereka pintu ballroom hotel berada, dan tiba-tiba saja Keyla menghentikan langkahnya.
Pria yang malam ini mengenakan kemeja hitam itu mengernyit, menyadari ada yang tidak beres dengan Keyla. Raut wajah cantik Keyla kentara sekali menyimpan kecemasan dan kegelisahan. Pertanyaannya apa yang membuat Keyla seperti itu. Arya tak paham.
Sementara itu, Keyla mencoba mengendalikan detak jantungnya yang menggila seperti otaknya yang gila. KENAPA DIA MAU MAU SAJA DATANG KE SINI BERSAMA ARYA. Oke tenang Keyla, bisik batinnya. Otaknya yang konslet itu baru saja bekerja normal.
Hotel The Amor tempat digelarnya pertunangan Tasya adalah hotel yang sama yang bekerja sama dengan Nata Perkasa. Dan dengan kemeriahannya ini besar kemukinan akan ada yang mengenal Arya. Dan apa yang akan orang pikirkan saat melihat Arya datang bersamanya dan bukan dengan tunangannya? Masih terekam jelas dalam ingatannya saat Dewi mengancamnya dulu, Keyla tidak takut hanya saja dia tidak suka saat dirinya dianggap rendah oleh orang lain.
"Kamu lama," tukas Arya menarik tangan Keyla untuk menggandeng lengannya seperti semula.
Larut dalam kecemasannya Keyla tidak menyadari bahwa Arya membawanya menuju sang tokoh utama. Mata si wanita melotot tajam padanya, lebih tajam lagi saat pandangannya turun pada tangan Keyla yang memeluk tangan Arya. Keyla menelan salivanya susah payah saat Tasya memberi isyarat mati lo Key habis ini.
Keyla masih amat ingat perkataan Tasya yang menyuruhnya menjauh dari Arya. Dan sekarang dia malah datang dengannya. Ini diluar kendalinya, sungguh. Sampai kini Keyla tidak mengerti kenapa Arya bisa datang ke rumahnya dan seolah tau tentang kebingungannya soal kendaraan. Padahal tidak ada komunikasi sebelumnya, Keyla bahkan harus membatalkan pesanan taksinya.
Tak lama Aurel datang menyapa. "Loh Key baru datang?" Aurel bertanya pada Keyla tapi matanya melihat Arya. Mati sudah Keyla, Tasya dan Aurel jelas tidak suka dengan kedatangannya bersama Arya. Keyla amat yakin setelah ini akan ada interogasi habis-habisan untuknya. "Gue kira lo bakal datang sendiri." Oke, itu terdengar seperti sebuah peringatan untuknya.
"Iya," cicitnya, wajah memelas pada Aurel dan Tasya memberitahukan bahwa ini diluar kuasanya.
"Keyla!" Seseorang menyerobot, menyelip di antara Keyla dan Arya. Si tersangka utama tersenyum tanpa dosa saat Keyla mendelik padanya.
"Sori." Keyla tidak mendengar nada penyesalan sama sekali dalam suara Maura. Yang ada hanya senyum culas Maura saat menatapnya.
Dan saat Arya digiring Vito entah kemana, Keyla langsung menyerbu Maura, menyalahkan apa yang menimpa padanya. "Ini semua gara-gara manusia tengik ini. Seriusan Tas, Rel gue gak tau kenapa Arya bisa jemput gue," terang Keyla.
"Ya dia naik mobil lah masa teleportasi," sahut Maura tak gentar sama sekali.
"Semua salah lo Ra!" Pekiknya kesal, sebab Tasya dan Aurel yang masih bergeming tanda belum percaya.
"Salah lo lah, kenapa gak nolak waktu dia jemput?" Timpal Maura tersenyum mengejek sebab berhasil membuat Keyla mati kutu.
Keyla mendesis kesal, apalagi saat Tasya dan Aurel menuntut sanggahannya. "Emang dasar masih cinta diajak tunangan orang mau aja. Ti ati Key, jangan sampai ada affair bahaya bisa masuk viral lo." Keyla terpojok dan Maura semakin gencar mencercarnya.
"Gue gak gitu yah!" Sentaknya sebal. Niat hati kan dia ingin balas dendam pada Maura kenapa malah jadi kebalik gini?
Maura mengedikan bahunya. "Bahkan lo pake jas dia sekarang Key," ejek Maura masih belum puas menghakimi Keyla.
Wanita itu hendak menyanggah perkataan Maura saat Tasya berujar. "Gue gak mau tau, lo harus jaga jarak aman sama dia. Kalo gak mau sakit hati lagi. Ngerti Key?" Tegas Tasya, sebelum pamit sebab acara pertunangan akan dimulai.
"Kita cuma pengen yang terbaik buat lo Key, dan untuk saat ini kak Arya bukan orangnya," timpal Aurel.
***
"Mau kemana sih?"
"Udah kamu ikut aja."
Setelah acara inti selasai Arya tiba-tiba saja menyeretnya keluar ballroom. Membawanya menaiki lift dan menekan tombol lantai teratas. Keyla dengan otak gilanya mulai memikirkan yang 'iya-iya'. Mungkin Arya sudah memesan kamar presiden suit untuk keduanya melepas rindu? Atau melepas hal lainnya? Oke stop it Keyla kenapa dirimu mesum sekali, geram batinnya.
Dan kebingungan Keyka terjawab saat Arya ternyata membawanya ke rooftop hotel ini. Semilir angin malam langsung menerpa wajahnya, menerbangkan rambut-rambut yang mencuat dari ikatan simpul atasnya. Keyla merapatkan jas Arya ditubuhnya menghalau udara membelainya. Meski kedinginan tak menghentikan langkah Keyla untuk melihat kota Bandung dari atas sini. Bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman yang begitu manis.
Wanita itu mendesah lega, entahlah dari atas sini Keyla merasa kelegaan menghinggapinya. Seolah tak ada masalah yang menghinggapinya, termasuk status pria yang bersamanya.
Teringat Arya, Keyla menoleh ke belakang. Matanya bertemu pandang dengan mata Arya yang juga menatapnya. Sekian menit, Keyla mengalihkan pandangannya, Bersitatap dengan Arya tidak baik untuk kesehatan jantunganya, Keyla memilih untuk melihat pemandangan kembali.
"Cantik," kata Arya.
Keyla mengangguk setuju. "Iya, pemandangannya memang cantik"
"Kamu cantik,"
"Iya, aku emang can--eh apa?!" Repleks Keyla menoleh pada Arya, matanya menyiratkan pertanyaan dari apa yang Arya katakan. Setiap orang pasti akan senang dan tersipu jika ada yang memujinya cantik, terlebih jika orang itu spesial baginya. Dan itu yang Keyla rasakan kini, tapi sebisa mungkin dia menekan rasa bahagia yang membuncah di dadanya.
Pria itu menatap dalam mata Keyla. "Aku punya permintaan buat kamu." Mengabaikan apa yang sebelumnya ia katakan, Arya melangkah mendekati Keyla dan berhenti dua langkah di depannya. "Aku minta kamu diam ditempat dan menunggu, biarkan aku mendekat dan berjuang. Bisa?"
***