Real Love

Real Love
Real Love #17



Aku orang yang payah dalam hal memahami, jadi berhenti membuatku salah paham akan segala sikapmu selama ini.


***


"Fandi? Saya kira kamu tidak jadi ke sini." Danu muncul dari arah tangga, menginterupsi perbincangan putrinya dan salah satu langganannya. Jika Danu tidak salah lihat keduanya cukup terlihat akrab, jelas interaksi keduanya bukan antara dua orang yang baru mengenal. Apalagi saat dia berdiri di samping meja, dan melihat dengan jelas raut wajah Keyla yang tampak tegang membuatnya tak pelak mengernyitkan dahi. Namun, Danu memilih bungkam, masih ada waktu untuknya melakukan introgasi.


"Jadi dong om. Saya kan udah janji, masa ingkar. Laki-laki kan yang dipegang ucapannya," sahutnya seraya tersenyum lebar.


Kresek mana kresek, rasanya Keyla ingin muntah mendengar omong kosong yang kaluar dari mulut Fandi. Laki-laki dan mulut manisnya memang satu paket patah hati bagi setiap wanita lemah godaan seperti Keyla. Kenapa wanita bisa menjadi lebih waras setelah disakiti? Kenapa mata hatinya seolah buta akan kenyataan bahwa apa yang terlihat oleh mata bisa saja keliru. Teruntuk para perempuan di luaran sana yang selalu mengagungkan cintanya, yang sudah dibutakan oleh cinta. Sadarlah bahwa ada saatnya dimana logika juga harus bekerja. Jangan mau jadi budak cinta.


"Ekhem, bullshit." Keyla berdeham, menarik atensi Danu yang semula menatap pemuda di depannya.


"Kenapa Key? Kamu sakit?"


Keyla gelagapan, lupa akan sosok sang papa. Aduh, ternyata perasaan dengki yang masih tertinggal di dalam hati membuat Keyla jadi lupa diri. Satu harapan Keyla, moga saja Danu tidak melihat gelagat tak suka yang menguar dari sikap Keyla. "Enggak Pa. Keyla baik-baik aja, cuma telinga Keyla agak sensitif denger hal omong kosong," sarkas Keyla melirik sinis pada Fandi yang wajahnya nampak terkejut.


Entahlah, rasanya meski sudah beberapa bulan berlalu tapi sakit itu masih saja terasa. Bukan karna Keyla masih ada rasa, karna jelas hatinya masih terombang ambing pada pria lain. Keyla jelas tau ini hanya rasa kesal yang timbul kembali karna pertemuan tak sengaja ini.


Danu menggeleng pelan dengan tingkah putrinya itu. Sudah dapat dipastikan memang keduanya ada hubungan dan pastinya bukan hubungan baik. "Jadi Fandi, bagaimana? Kamu jadi ngerental mobil kaya biasanya?" Tanya Danu.


Netra Keyla menyorot bingung melihat Fandi yang tampak tidak fokus. Terlihat dari tubuhnya yang berjengit kaget saat ayahnya menyentuh tangannya. Ini orang kenapa dah? Gak mungkin kan cuma gegara denger omongan sarkas gue dia mendadak dapet hidayah. Keyla membatin heran, alisnya berkerut heran melihat Fandi yang justru malah menatap lekat padanya.


Danu menatap Keyla, meminta penjelasan kenapa Fandi bisa begitu. Keyla mengedikan bahu sebagai jawaban, dibanding ngurusin si Fandi yang udah gak penting lagi. Lebih baik Keyla membuka ponselnya melihat aplikasi belanja online siapa tau ada diskon.


"Nak Fandi!" Danu mencoba menyadarkan Fandi akan esksistensinya. Dan berhasil Fandi menoleh padanya, meski terlihat salah tingkah. "Gimana? Jadi ngerental mobilnya?" Tanya Danu pelan-pelan, takut Fandi masih gagal fokus.


"Ah I-iya jadi om," sahutnya cepat.


Lewat ekor matanya, Danu melihat ada raut tak rela saat Fandi dia giring meninggalkan Keyla yang tak acuh "Key papa ke atas dulu ya, kalo bosen kamu nyusul aja ke atas." Tak ada tanggapan dari anaknya, Keyla hanya mengangkat tangannya membentuk kata oke.


***


"Keyla anak om?" Tanya Fandi langsung, bahkan sebelum pantat Danu mendarat dengan sempurna pada kursi.


Danu menarik seulas senyum, menanggapi perkataan Fandi. Tak ada niatan dalam dirinya untuk menjawab. "Mau rental untuk berapa lama?" Danu bertanya pada pokok pembicaraan mereka, seperti yang sudah mereka bicarakan lewat whatsapp. Meski sudah mengenal cukup lama tak menjamin seseorang bisa mengenal seluk beluknya. Sejauh mata menilai, Fandi baik tutur katanya, terbilang sopan, untuk anak muda jaman sekarang.


Pekerjaannya juga terbilang oke. Walau itu tidak menjamin kebahagiaan, tapi tidak ada salahnya Danu mempertimbangkan jika mungkin saja ke depannya pria ini berniat serius pada anaknya kan? Namun melihat gelagat Keyla sepertinya anaknya tidak menaruh rasa.


Mendapat penolakan secara tidak langsung membuat Fandi malu setengah mati. Pria itu berdeham canggung, lantas berjalan menuju tempat duduk tepat di depan Danu. "Maaf, Om," sahut Fandi kemudian.


Senyum pemakluman Danu berikan. "Saya maafkan. Lain kali jangan campur adukan antara pekerjaan dengan urusan pribadi kamu tau saya paling tidak suka itu," tegas Danu.


Fandi mengangguk paham. Keduanya kembali berlanjut membahas pekerjaan lebih tepatnya tentang Fandi yang ingin merental mobil di tempat Danu seperti kebiasaannya sejak tiga tahun yang lalu. Hingga kini Danu masih tidak tau untuk apa anak muda itu merental mobil sebab hal itu bukan ranahnya.


Setelah mencapai kesepakatan, Fandi pamit undur diri. Gerakannya terlihat terburu-buru hingga mengundang rasa penasaran Danu. "Kok buru-buru banget Fan." Danu menegur membuat Fandi yang hendak beranjak menjadi terhenti.


Fandi menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Eh a-anu saya mau nyamperin Keyla, boleh?"


Embusan napas keluar dari mulut Danu. "Bisa kamu duduk sebentar?" Titah Danu.


Dengan berat hati Fandi menurut, matanya melirik jam di tangannya yang baru menunjukan pukul setengah satu siang. Ternyata diskusi mereka cukup lama juga. Ia hanya berharap Keyla masih ada di bawah.


Bukan tidak tau, Danu sangat tau sekali bahwa lawan bicaranya sedang gelisah. "Jadi, bisa sekarang kita bahas  masalah pribadi?" Tanya Danu sejurus kemudian. Raut mukanya berubah serius, tangannya saling bertaut di atas meja. Matanya menyorot tajam hingga tanpa sadar Fandi dibuat merinding. Selama mengenal sosok Kamandanu tidak pernah sekalipun Fandi melihatnya seserius ini. Danu terkenal orang yang hangat dan ramah dalam bekerja pun dia terkesan santai. Fandi hanya tidak tau saja bahwa putri-putrinya adalah hal berharga yang Danu miliki, jadi tidak sembarang orang boleh mendekati bahkan sampai menyakitinya. Apalagi Melihat gelagat tak nyaman Keyla jelas Danu harus bertindak tegas.


"Sebelumnya kamu bertanya Keyla anak saya kan? Iya, dia memang anak saya, putri pertama saya yang begitu saya jaga. Jadi bisa kamu jelaskan maksud kamu sebelumnya? Saya tidak bodoh untuk tau bahwa kalian saling mengenal dan sepertinya memiliki hubungan yang buruk," simpul Danu.


Fandi meneguk ludahnya susah payah. Dalam hati ia lega, karna sepertinya Keyla tidak pernah menceritakan kisah mereka yang buruk dan mengundang penyesalannya dulu. "I-iya dulu kami sempat ada hubungan dan karna satu dan lain hal kami memilih berpisah. Tapi saya sadar bahwa saya masih asa rasa dengan anak om dan ingin mendapatkan hatinya kembali. Apa boleh saya mendekati Keyla lagi?" Tanya Fandi meminta ijin, suaranya sarat akan kesungguhan. Namun, hal itu tak lantas membuat Danu percaya begitu saja.


Danu mengedikan bahunya. "Jika memang kamu serius ya saya ijinkan tapi jika kamu hanya ingin menyakiti atau sampai punya niat terselubung pada anak saya, kamu tau kan sedang berhadapan dengan siapa? Tapi semua kembali lagi pada Keyla, hanya dia yang paling tau apa yang membuatnya bahagia," putus Danu, lantas beranjak dari kursi.


***


"Ngelamun mulu lo, kaya punya beban berat aja deh," komentar Kyla, melangkah mendekati Keyla yang sedang menopang dagu.


Helaan napas berat Keyla keluarkan, kepalanya terasa pusing akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang dipikirkannya. Mengabaikan perkataan Kyla sebelumnya, Keyla malah melontarkan pertanyaan. "Ngapain ke sini?"


"Ngante--eh siapa tuh?!" Seru Kyla seraya mengedikan dagunya pada seseorang yang muncul bersama ayahnya. Tanpa perlu menoleh, Keyla tau siapa yang dimaksud Kyla. Raut lesunya berubah masam, kemunculan Fandi hari ini semakin menambah daftar panjang penderitaannya.


Mengabaikan adiknya Keyla lebih memilih memainkan ponselnya, hal itu jelas lebih menarik dibanding objek di belakangnya. "Mukanya oke juga tuh, gak ada niatan buat disikat?" Celoteh Kyla, memandang kedua pria berbeda usia yang menghampirinya. Matanya beralih pada sang kakak yang tak peduli. Aneh sekali padahal Keyla adalah jenis orang yang tidak akan melewatkan mangsa yang cukup menarik. Mata Kyla menyipit curiga, pasti ada sesuatu yang diewatkannya.


"Lho Kyla, ngapain ke sini?" Tanya Danu langsung, heran akan keberadaanya.


Kyla tersenyum cengengesan. "Di suruh mama nganterin makan siang," balasnya, ekor matanya melirik pria dewasa yang berdiri di samping ayahnya. Radar kepekaan Kyla menangkap ada yang tidak beres antara Keyla dan pria itu. Apalagi mata pria itu terus menatap nyalang pada Keyla.


Dan saat Keyla beranjak, seperti hendak pergi, pria itu lantas mencekal tangannya. Ekspresi wajah keberatan Keyla sangat kentara sekali terlihat, namun pria itu seolah buta dan tetap menampilkan seulas senyum. "Mau kemana?" Pertanyaan Fandi mengundang kernyitan di dahi Keyla. Wanita itu lantas menatap Fandi untuk beberapa saat, sebelum menyentak lengannya hingga terlepas.


Tidak peduli dengan keberadaan Danu dan juga Kyla yang menonton aksinya. Keyla melipat kedua tangannya di depan dada, dagunya ia angkat menampilkan kesan angkuh. "Sorry. Apa hak lo nanya gue mau kemana? Emang situ siapa? Stop bersikap seolah semuanya baik-baik aja. Gue muak." Keyla berujar sarkas, lekas berlalu dari sana tak peduli dengan ekspresi pias Fandi atau raut tak terbaca sang ayah, Keyla hanya sedang berusaha jujur dengan hatinya.


"Key, kamu mau kemana?" Tanya Danu.


Keyla berhenti, lalu berbalik. "Key mau ketemu Maura, Pa," sahut Keyla, abai pada sosok yang memelas menatapnya. Matanya beralih pada Kyla. "Lo ke sini naik motor gue kan? Mana kuncinya?"


Bukannya memberikan apa yang Keyla minta Kyla malah menarik tangan Danu dan mencium punggung tangannya. "Kyla pamit yah Pa, mau ikut kak Key," ujar Kyla seraya menyerahkan rantang makanan yang dibawanya. "Kata mama jangan lupa


Bibirnya berdecak, tak sabar menunggu Kyla yang lama. Keyla sudah gerah dengan situasi saat ini, dan saat Kyla berlari kecil ke arahnya langsung saja Keyla menarik tangannya dan menyeretnya menuju motor kesayangannya berada.


***


"Wah gilasih tadi lo keren banget Key!" Seru Kyla heboh. Ekspresi wajahnya berbinar-binar semangat.


Sementara Keyla justru mendengus malas. Raut wajahnya begitu suntuk, pagi yang semula indah kini mendung, mungkin saja sebentar lagi hujan. Tapi Keyla harap itu tidak terjadi. "Tumben banget yakan seorang Keyla Anindhyta bisa bersikap tegas kaya gitu," cerca Kyla, tidak puas dengan tanggapan Keyla yang diam saja. Padahal ini adalah hal yang langka gituloh.


"Berisik deh! Gue lagi bawa motor ini. Mau lo gue ajak nyusruk?" Ancam Keyla.


"Bawel lo."


"Coba aja sama mantan yang satu lagi juga gitu." Kyla kembali berujar. "Eh lupa kalo sama mantan yang itu kan masih ada rasa, mana tega ngomong yang nyakitin yang ada malah rela disakitin mulu," ejek Kyla seraya tersenyum miring, tak puas mengolok-olok Keyla si bucinnya Arya.


Sebal dengan Kyla yang terus saja berbicara. Keyla dengan sengaja mengerem mendadak, karena sudah sampai di tempat tujuan. Kyla yang tak siap jelas tersentak ke depan dan kepalanya membentur helm.


Duk. "***** jidat gue!" Umpat Kyla, memegang dahinya. Melihat bahu Keyla yang bergetar karna tertawa jelas saja membuat Kyla marah. "Sialan lo," desisnya kesal.


Mengelus dahinya, Kyla beranjak turun dan berjalan menuju pintu masuk cafe membiarkan Keyla memarkirkan motornya sendiri. Matanya menjelajah, mencari sosok teman kakaknya yang katanya sudah sampai lebih dulu. Terlihat dikejauhan Maura melambaikan tangan padanya, lekas saja Kyla menghampiri dengan wajah cemberutnya.


"Kenapa La, kok ditekuk gitu mukanya?" Tanya Maura setelah Kyla duduk di depannya.


"Kualat dia Ra," sahut Keyla tak lama kemudian. Duduk di sisi kiri Maura. "Jadi kenapa nih?"


Maura yang semula tersenyum berubah murung. "Gue putus," cicitnya.


"Hah?!"


Mata Keyla mendelik pada Kyla yang merespon berlebihan. "Biasa aja kali kagetnya," cibirnya. "Kok bisa sih Ra?" Tanya Keyla kembali pada Maura. Padahal selama ini setau Keyla, hubungan Maura paling adem ayem.


Gelengan lemah Keyla terima, Maura menundukan kepalanya. Pantas saja Keyla menemukan hal yang beda pada Maura, pancaran matanya tampak lesu, ternyata ini penyebabnya.


"Ra?" Panggil Keyla pelan, mengusap lembut bahu Maura. "Nggak papa kalo lo belum siap buat cerita. Tapi satu hal yang perlu lo tau, gue siap buat dengerin curhatan lo. Lo bisa hubungin gue kapan aja, atau lo bisa datang ke rumah gue." Senyum tersungging di bibir Keyla yang dibalas senyum lemah Maura.


"Makasih Key," sahut Maura. Keyla tau tidak semua orang mudah menceritakan permasalahannya, bukan karna tak percaya hanya belum siap membuka luka hati.


"Kalian ini kebiasaan, kalo ke sini maunya langsung disediain gitu. Bisa kan pesen kaya pelanggan lainnya." Gerutuan seseorang mengalihkan ketiganya pada satu sahabat mereka yang terlihat repot dengan nampan di tangannya. Mata Kyla dan Keyla berbinar melihat berbagai makanan dan dessert tersaji di hadapan mereka.


"Wah mahmud pengertian banget. Tau aja gue belom makan," ujar Keyla antusias. Tanpa babibu langsung mencicipi nasi goreng seafood di depannya.


Aurel berdecak, matanya beralih pada Kyla. "Kyla apa kabar? Lama kita gak ketemu, makin cantik aja deh."


"Besar kepala dia dipuji gitu Rel."


"Sirik aja sih lo," ketus Kyla. "Kalo raga sih baik-baik aja kak, tapi kalo hati gak baik-baik aja. Sepi banget gak ada yang menempati. Anak kak Aurel kalo udah gede jodohin aja sama aku, Kyla rela kok nungguinnya."


Perkataannya sontak mendapat jitakan dari Keyla. "Keburu menopause duluan elonya,"


Keyla menepis tangan Keyla dari kepalanya. "Apasih lo!" Sentaknya sebal, balas melotot pada Keyla.


Aksi keduanya menjadi hiburan tersendiri bagi Aurel dan Maura. Bahkan wajah murung Maura kini perlahan memudar terganti dengan tawa kecil. "Aduh jangan dong Kyla. Anak kakak kan masih kecil-kecil. Mending kamu kakak kenalin sama sepupu kakak. Ganteng kok orangnya, kayak kapten Ri. Mau?" Tawar Aurel yang pasti gak ada ditolak Kyla terlihat dari kepalanya yang mengangguk semangat.


"Mau, mau kak! Ada fotonya gak?" Tanya Kyla langsung gerak cepat. Kapan lagi yakan dapet kacang ijo.


Sang kakak hanya menepuk jidatnya. "Kaya lo banget Key, waktu jaman SMA," bisik Maura terkikik geli melihat kehebohan Kyla melihat wajah Radit dari ponsel Aurel.


Tanpa memperdulikan lagi adiknya Keyla lebih memilih melanjutkan makan dan sesekali mengobrol dengan Maura, mencoba mengalihkan sahabatnya itu dari rasa sakit yang sedang menimpanya.


"Aku cariin ternyata di sini," ujar seseorang dari samping Keyla. Ke empat wanita itu sontak menoleh menatap Vito yang berdiri menjulang dengan kemeja navy dan juga jeans hitamnya. Rambutnya tersisir rapi dengan pomade, kesan maskulin menguar dari tubuhnya. Ah andai dia bukan suami Aurel udah Keyla sikat pasti.


"Kakak kok di sini? Katanya ada urusan sama kak Arya?" Tanya Aurel heran.


"Iya, tadi Arya keburu chat katanya bahas masalah nikahannya di sini aja sekalian sama pihak WO nya," terang Vito santai, berbeda dengan ketiga wanita yang tampak tegang mendengarnya. Mereka serempak melirik pada Keyla, namun wanita itu malah sibuk dengan tiramisu di depannya seolah tidak mendengar apa yang Vito katakan.


"Kak Arya mau nikah?" Tanya Kyla bersuara, namun matanya malah menyorot pada sang Kakak.


Entah kepekaan Vito ada dimana, pria itu justru malah menjawab pertanyaan Kyla dengan lugas. "Katanya sih gitu. Bentar lagi juga dia mau ke sini, tadi sih bilangnya lagi di jalan."


Kening Vito mengernyit saat matanya bertemu pandang dengan Aurel yang kini melotot padanya. Dagu Aurel mengedik pada wanita di depannya, Vito menunduk mengikuti arah yang Aurel tunjuk. Seakan tersadar, Vito menggaruk alisnya salah tingkah."Maaf Key," ringis Vito.


Keyla yang semula fokus dengan dessertnya, kini menoleh ke samping. "Kakak kenapa minta maaf?" Tanya Keyla bingung.


"Maaf soal Ar--"


Wanita itu menghela napas perlahan. "Gini yah kak, terlepas dari semua hal yang penah terjadi antara aku sama dia. Mau dia nikah ataupun enggak itu bukan urusan aku, karna sekarang aku sama dia cuma sebatas bos dan bawahan. Jadi kak Vito gak usah merasa bersalah gitulah," tukas Keyla.


"Tapi hati lo Key," sela Maura, matanya menyiratkan rasa iba.


Bibir bewarna peach dari liptint itu berdecak. "Ini hati gue, jadi urusan gue kalian gak perlulah merasa bersalah atau kasihan. Gue fin--"


"To!" Panggilan dari suara berat dan terkesan serak itu terdengar dari arah pintu masuk. Inilah sosok yang sedang mereka bicarakan.


Dengan setelan kaus v neck bewarna hitam yang dibalut jas kasual abu-abunya Arya terlihat menawan dengan rambut yang dibiarkan berantakan. Berbagai macam ekspresi terpampang di wajah mereka, kecuali Keyla yang memilih menyibukan dirinya. Sementara Arya tidak menyadari akan sosok Keyla karna terhalang tubuh tegap Vito. Raut wajah Aurel dan Maura begitu sinis melihat sosok yang datang bersama Arya.


"Oh H--hai Ar," jawab Vito terbata.


Alis Arya terangkat, melihat respon Vito. "Mau bahas dimana?"


"Rel gue mau nambah lagi dong. Boleh?" Sela Keyla menatap Aurel dengan sorot permohonan. Jika dalam situasi biasa mungkin Aurel akan mencibirnya namun kini Aurel justru merasa kasihan.


Wanita yang bersama Arya, melirik heran merasakan tubuh di sampingnya menegang. Dan tanpa diperintah Vito menggeser tubuhnya dan menampilkan tubuh Keyla dari samping. Ada tatapan tak biasa dari Arya saat melihat Keyla. Sadar diperhatikan Keyla akhirnya menoleh, seulas senyum tersungging dibibirnya kala bertemu tatap dengan mata coklat Arya.


"Makan Pak, Bu." Keyla menawarkan, kemudian kembali fokus pada kegiatannya semula.


Semua yang di sana--kecuali wanita yang mengenakam midi dress kasual-- tau bahwa senyum yang sempat Keyla lontarkan terdapat kegetiran.


Dengan susah payah Keyla telan potongan terakhir tiramisunya. Kali ini rasa pahit kopi lebih mendominasi, entah karna lidahnya yang mati rasa atau hatinya yang mati rasa. Yang Keyla tau, dititik ini hatinya sudah mencapai puncak kesakitannya. Arya sungguh hebat, mempermainkan hatinya dengan begitu tega. Kemarin melambungkan hatinya, semalam masih memberinya perhatian dan hari ini menghancurkan hatinya.


***