Real Love

Real Love
Real Love #10



Hembusan napas kasar keluar dari bibir perempuan tanpa lipstick itu-- untuk kesekian kalinya. Tanpa bertanya pun orang yang melihat penampilan wanita itu akan paham bahwa dia dalam keadaan yang tidak baik baik saja. Apalagi dengan wajah pucat tanpa polesan make up dan juga lingkaran hitam dikedua matanya menambah kesan berantakan dalam diri wanita itu.


Entah apa yang sudah menimpa wanita itu sampai berpenampilan buruk seperti itu. Yang pasti mereka yang melihat menduga dia patah hati. Pasti.


Kembali wanita itu menarik dan menghembuskan napasnya, mencoba menghilangkan jejak jejak debaran sisa semalam di jantungnya.


Apa yang pria itu lakukan padanya kemarin malam benar-benar mengguncangnya, mengguncang pertahanannya yang tipis, setipis urat malu pelakor. Nasib perawan kurang belaian yah begini, dipeluk mantan sekali saja langsung goyah. Lebih sialan lagi kenapa Arya harus melakukannya dengan bertelanjang dada. Anak perawan lemah iman lihat om om seksi begitu, pengennya dikekepin aja.


Kedua wanita yang duduk dengan wanita itu saling melirik. Berbicara lewat mata, saling menanyakan ada apa gerangan dengan Keyla hari ini. Walaupun belum lama kenal, tapi mereka tau Keyla tipe wanita yang selalu memperhatikan penampilan tidak seperti sekarang. Rambut yang biasa tertata rapi itu dibiarkan tergerai bebas membuat angin leluasa membelainya.


Ditambah sejak mereka mengajaknya untuk makan siang bersama sampai mereka memesan makanan wanita itu hanya diam saja. Sungguh aneh.


Metta, yang duduk di samping Keyla mengedikan bahunya pada Rara, tanda ia tidak tau apa yang terjadi dengan Keyla.


Rara yang tidak tahan dengan kebisuan Keyla, mencoba memanggil wanita yang sedang menelungkupkan kepalanya dalam lipatan tangannya itu. "Key!"


Diam, tidak ada sahutan sama sekali seolah wanita itu tidak memdengarnya.


"Keyla!"


Rara tidak pantang menyerah dia mencoba sekali lagi dengan menaikan nada suaranya. Tapi hasilnya tetap sama bahkan Keyla tidak merubah posisinya sama sekali.


Kesal karena tidak diacuhkan, Rara akhirnya menendang meja dengan keras membuat Keyla terlonjak kaget dan melotot kesal. "Apaan sih?!" sentaknya.


Bukannya merasa bersalah Rara malah balas melotot, "lo yang apaan dari tadi dipanggil diem aja. Budek lo."


Keyla berdecak, tidak membalas perkataan Rara, ia lebih memilih mengedarkan pandangannya menghindari Rara dan Metta yang kini sedang menatap lekat padanya.


"Lo yakin gak papa? Lo keliatan--buruk." komentar Metta, meringis diakhir kalimatnya.


Keyla menghela napasnya, kemudian menoleh pada keduanya, bibirnya tertarik sedikit mencoba menampilkan senyum walau terpaksa. "Gue gak papa."


Metta mengangguk mengerti dan tidak bertanya lagi, walaupun sebenarnya ia penasaran dengan apa yang terjadi dengan Keyla. Tapi ia sadar mereka belum sedekat itu sampai harus saling berbagi. Karena tanpa diminta pun Keyla pasti akan menceritakannya jika ia siap.


Tapi berbeda dengan Rara, wanita itu masih setia menatap lekat Keyla. Ingin bertanya tapi tertahan karena pesanan mereka sudah datang. Akhirnya ia lebih memilih memuaskan rasa laparnya dahulu.


Disaat kedua temannya asik dengan makanan mereka dan sesekali saling melontarkan obrolan. Keyla justru malah larut dalam dunianya sendiri. Soto di depannya tidak membangkitkan nafsu makannya sama sekali walaupun dia sedang lapar.


Entahlah, Keyla merasa lelah sehingga untuk makan saja rasanya malas. Dan yang paling membuatnya lelah adalah sikap Arya padanya. Pria itu terlalu sulit ditebak, membuatnya kembali dalam kubangan kebingungan yang ia buat sendiri. Andai saja ia bisa menjadi kuat dan tak mudah lemah semua ini pasti tidak akan terjadi.


Terbukti dari kondisi Arya yang baik baik saja dan masih bersikap profesional seperti biasa semakin membuat Keyla merasa miris. Disaat dirinya justru tak bisa tidur karena pelukan Arya, pria itu justru malah sepertinya tidur nyenyak.


Dia yang biasa tampil menawan harus rela berangkat kerja tanpa riasan dikarena meeting sialan yang hampir saja ia lupakan. Bahkan untuk sarapan saja ia hanya meminum susu dan dua lembar roti tawar. Mengenaskan sekali.


Senyum miris tersungging di bibirnya yang sedang mengunyah makanan dengan paksa. Sepertinya di sini hanya dirinya sendiri yang masih terpengaruh dengan Arya. Yah walaupun dari dulu pun Arya tak pernah terpengaruh sedikitpun olehnya.


Mengenaskan sekali.


Keyla merutuki dirinya sendiri yang labil. Imannya yang lemah membuatnya mudah tergoda begitu saja. Hati dan otaknya selalu tak sinkron, disaat otaknya menyuruh menjauh hatinya malah mendekat. Sepertinya kedepannya Keyla tidak akan menjauh atau nenghindari Arya lagi, ia belajar dari sebelum sebelumnya hal itu hanya akan membawa Arya mendekat. Keyla putuskan mulai sekarang ia akan menghadapi Arya.


Meskipun Keyla tidak yakin dengan itu.


"Gue pasti bisa!" ucap Keyla penuh keyakinan, wanita itu tanpa sadar berdiri tegak begitu saja membuatnya jadi pusat perhatian karena tingkah spontannya.


"Lo sehat Key?" tanya Rara ngeri sendiri dengan tingkah aneh Keyla.


"Eh?"


Keyla meringis, menutupi wajahnya dengan tangan lalu gadis itu duduk kembali di tempatnya. Dalam hati Keyla merutuk kebodohnya, semoga orang-orang tidak mengingat tingkah lakunya barusan.


"Lo kesambet Key?" tanya Metta seraya tersenyum geli melihat Keyla yang menaruh kepalanya di meja.


"Berisik!" desis Keyla kesal kemudian mengangkat kepalanya, dan terlihatlah wajahnya yang memerah malu.


Rara tersenyum jahil, "Cie Keyla kesambet cintanya pak Arya." goda Rara, "gue tebak lo pasti kacau kaya gini gara gara mikirin gimana caranya goda pak Arya kan? Ngaku lo!" tuduh Rara.


Keyla mendelik sebal melihat tampang menggoda Rara. Ini kenapa orang satu otaknya gak bener.


"Otak lo kayaknya perlu diselametin deh Ra. Isinya setan semua, sesat." balasnya.


"Bukan otaknya yang beres emang orangnya aja gak beres." sahut Metta, membela Keyla.


Rara mendengkus. "lo pada gak tau aja otak gue isinya ide brilian semua."


"Iya ide brilian buat nyesatin orang." cibir Keyla.


Rara mengangkat bahunya tak acuh, yah gimana lagi. Kalo dunia isinya orang baik semua gak seru harus ada yang sesat sesatnya.


"Eh Pak Arya kemana yah? Lo tau gak Key?" tanya Rara kepalamya celangak celinguk mencari si bos tampan idaman mertua.


"Mana gue tau, gue bukan emaknya."


"Ck. Lo kan sekretarisnya masa gak tau sih. Biasanya kan Pak Arya kalo makan siang suka di sini. Doi kan jarang makan di luar." ujar Rara.


Ini perasaan Keyla saja atau memang benar, Rara sepertinya hapal semua tentang Arya Keyla yang mantan merangkap sekretarisnya saja gak tau.


"Tau deh."


Responnya cuek, bahasan tentang Arya hanya membangkitkan kembali kekesalannya.


"Seharusnya sebagai sekretaris yang baik lo tau. Karena setau gue pak Arya orang yang suka mendekam disarangnya dia jarang keluar apalagi kalo lagi banyak kerjaan." kata Rara, "Gue saranin lo mending beli makanan buat dia deh Key." sambungnya.


Keyla mengangkat alisnya tinggi tinggi, "buat apaan?"


"Buat lo sumbangin! Ya buat pak Arya lah." sewot Rara, "Hitung hitung pendekatan, lo kasih dia perhatian." mulai lagi sesatnya.


"Ogah!" seru Keyla, menolak segala ide yang berasal dari Rara. Karena ide wanita itu pastinya selalu terdapat kebusukan di dalamnya. Rara tidak tau saja seberapa usaha Keyla untuk mendapatkan Arya dulu. Dan ia sedang tidak ingin melakukan itu bahkan tidak mau lagi.


"Elah batu amat sih lo, nurut sama yang lebih tua dikit napa sih." sebal Rara. "Udah mending udah ini lo pesen makanan, seafood yah karena itu makanan kesukaan pak Arya."


Seriusan Keyla tidak pahamm dengan Rara kenapa wanita itu malah menyuruhnya kenapa tidak dia saja. Apalagi ia sampai tau betul makanan kesukaan Arya, Keyla yang mantannya saja gak tau. Memangnya apa yang Keyla tau dari Arya? Tidak ada.


Keyla menghela napas, mulutnya terbuka hendak protes tapi terpotong oleh Metta. "Udah deh Ra, jangan dipaksa. Ngebet banget lo pengen Keyla deket sama Arya. Lo aja sana yang beli." ujar Metta menengahi.


Rara merengut, mulutnya tertutup rapat, mengalah. Metta sebenarnya tau kenapa Rara begitu. Rara jenis orang yang suka sekali menjodoh jodohkan orang lain yang menurutnya serasi. Hal yang menimpa Keyla bukan yang pertama kalinya, jadi ia sudah tidak heran lagi ditambah kebenciannya pada Melati semakin membuatnya gencar mendekatkan Arya dan Keyla.


***


Meski mulutnya mengatakan tidak tapi Keyla bisa apa saat hatinya justru khawatir dengan Arya. Keyla meninjau beberapa hari kebelakang selama ia bekerja dengan Arya, dan apa yang Rara bicarakan tentang Arya memang benar. Pria itu terlalu malas untuk keluar atau memesan makanan jika sedang sibuk.


Kemungkinan besar, sekarangpun pria itu pasti belum makan. Mengingat begitu banyaknya berkas yang harus dipelajari pasti membuat pria itu lupa waktu.


Namun memberikan makanan itu tak semudah bayangannya, Keyla takut ala yang dilakukannya disalah artikam oleh Arya. Keyla berdiri gelisan, antara melanjutkan niat awalnya memberikan makanan itu atau tidak. Beberapa kali wanita itu mengacak rambutnya, membuat rambutnya yang semula sudah berantakan semakin tak berbentuk.


Keyla rasanya kesal dengan dirinya sendiri yang masih memikirkan Arya, kenapa melupakan pria itu sangat sulit kenapa juga ia masih peduli pada Arya.


Frustasi dengan dirinya sendiri, Keyla memilih berjongkok di depan pintu ruangan Arya. Beruntung ruangan Arya berada diujung jadi tidak akan ada yang memergoki aksi gilanya. Keyla rasanya ingin menangis saja saat ini.


"Calm down, Keyla." ucapnya menyemangati dirinya sendiri kemidian menghela napasnya. Baru saja gadis itu hendak berdiri pintu di depannya lebih dulu terbuka, menampilkan sosok Arya yang berdiri dengan tegap dalam balutan kemeja slimfit warna navy tanpa jas.


Lagi dan lagi Keyla terpana melihatnya.


"Kamu ngapain disitu Key?" pertanyaan Arya menyentak Keyla dari aksi bodohnya.


Buru buru wanita itu bangkit, tangannya bergerak cepat merapikan penampilannya. Moto selalu tampil cantik di depan mantan gadis itu terapkan walau sebenarnya itu tidak berlaku untuk hari ini.


"Anu... Pak saya ma--"


"Itu makanan buat saya?"


"Eh?"


Keyla mengerjap, mengikuti telunjuk Arya yang mengarah pada kantong plastik putih di tangannya. Kalau sudah begini Keyla tidak bisa mundur lagi.


"Iya, Pak." jawab Keyla pelan, kepalanya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Keyla takut Arya mengira dirinya masih menyukai pria itu dengan memberi perhatian seperti ini.


Yah walaupun kenyataanya itu memang benar tapi tetap, Keyla gengsi mengakuinya.


Semenyara Keyla menunduk, Arya justru terdiam menatap keyla lekat sebelum seulas senyum muncul di wajahnya. Sepertinya Arya mulai menemukan apa yang dicarinya.


"Makasih." ucap Arya tulus, Keyla mengangguk masih dengan menyembunyikan wajahnya.


"Bukannya saya tidak tau terima kasih, tapi saya boleh minta tolong ambilkan piring dan juga sendok?" pinta Arya.


Keyla mengangkat wajahnya saat Arya mengambil kantong plastik di tangannya, dan respon Keyla kembali menganggukkan kepalanya saking tak kuasa bersuara, kepalanya terlalu penuh memikirkan kejadian yang berusaha diusirnya.


Arya diam dengan posisi menyandar pada daun pintu, memperhatikan punggung Keyla yang berjalan menuju pantry. Sebuah senyum terpatri di wajah tampannya.


"Keyla!" panggil Arya saat Keyka hendak berbelok.


Gadis yang dipanggil namanya menoleh, ekspresi bingung gadis itu tampilkan. Kenapa Arya memanggil namanya lagi, jangan bilang Arya menolak makanannya. Cukup dirinya saja yang ditolak masa pemberiannya juga ditolak.


Lain Keyla, Arya justru tersenyum lebar memperhatikan wajah Keyla yang tampak menggemaskan menurutnya. Arya seperti menemukan Keyla yang dulu menyukainya.


"Satu lagi, tolong buatkan saya kopi." dan setelah itu Arya langsung masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Keyla yang merutuk karena sikap seenaknya itu.


Katakanlah Arya tidak tau diri, sudah diberi makanan malah menyuruh yang lainnya. Tapi Arya tidak bisa menutupi rasa bahagianya saat ada orang yang masih perhatian padanya di saat ia sendiri saja tidak peduli dengan dirinya.


Tak lama kemudian Keyla kembali dengan piring, sendok dan juga kopi pesanan Arya, tak lupa gadis itu juga membawa air putih. Takut takut nanti Arya malah menyuruhnya kembali.


Keyla berjalan dengan wajah kesal yang tidak ditutup-tutupi, membuat senyuman kembali terlukis di wajah Arya.


"Ini Pak."


Keyla menyimpan nampan berisi pesanan Arya di meja sofa, sementara Arya duduk di kursi kebesarannya memperhatikan Keyla. Tangan pria itu terlipat melihat Keyla yang berbalik hendak keluar dari ruangannya.


"Tolong sekalian tuangin makanannya dong Key." ujar Arya, sekonyong sonyong membuat Keyla menggeram dalam hatinya.


Harinya sudah berat ditambah lebih berat.


Dengan perasaan keki Keyla berbalik, berusaha memaksakan sebuah senyum di wajahnya. Bagaimanapun Arya tetap bosnya, manusia maha benar yang menggajinya.


Arya menutup mulutnya berusaha menahan tawa saat melihat bibir Keyla misah misuh yang pasti mengatainya, tangan wanita itu bergerak membuka plastik dengan tidak sabaran terlihat sekali tidak ikhlasnya.


"Kalo gak ikhlas jangan Key, nanti makanannya jadi gak enak. Saya curiga kamu ngasihnya juga gak ikhlas lagi." kata Arya seraya berjalan menghampiri Keyla yang duduk di sofa. Tangan pria itu terlipat di depan dada menunjukan kesan curiga.


Keyla mendengkus, mendelik pada Arya yang duduk di sampingnya. "Ikhlas banget saya pak, ikhlas kaya liat mantan sama yang lain." sahutnya sebal, bermaksud menyindir Arya yang sudah menyuruh nyuruhnya.


Arya tersenyum kecil, kenapa dimata Arya Keyla yang seperti ini terlihat lucu. "Di mulut ikhlas padahal aslinya nangis nangis, kalo masih suka ya kejar Key." balas Arya bermaksud menimpali lelucon Keyla yang sebenarnya tidak berarti itu.


"Mengejar itu kaya makanan pak, ada masa basinya juga. Buat apa mengejar kalo ditolak dan berakhir patah mati mah mending gak usah." Keyla mengatakan itu seraya fokus menata makanan di depannya tidak menyadari ekspresi Arya yang berubah.


Arya menatap Keyla dalam, ada kegetiran dalam matanya yang berusaha ia tutupi. "Kamu benar, setiap orang punya masa lelahnya, termasuk kamu." gumam Arya.


"Bapak ngomong apa?" tanya Keyla menoleh pada pria itu.


"Ng--nggak ngomong apa apa." jawab Arya gugup, apalagi melihat mata Keyla yang memicing curiga menatapnya sebelum akhirnya mengangguk membuat Arya bernapas lega.


"Ini udah selesai Pak, kalo gitu saya permi--"


"Mau kemana? Temenin saya makan." Arya menarik tangan Keyla yang hendak berdiri agar duduk kembali ditempatnya.


Keyla sontak melotot dengan aksi Arya itu, mulutnya terbuka hendak protes tapi Arya malah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Keyla berdecak, matanya memperhatikan Arya yang anteng dengan makananya sementara tangannya memegang pergelangan tangan Keyla.


Tidak taukah Arya, Keyla panas dingin saat ini. Pasrah wanita itu hanya diam, berharap Arya cepat menyelesaikan makan siangnya agar ia bisa cepat-cepat pergi.


"Mau?" tawar Arya menyodorkan sendok ke hadapan Keyla.


Keyla menggeleng, ia sudah cukup berdebar dengan duduk di sebeleh Arya dengan tangan yang saling bersentuhan jangan ditambah lagi.


Arya mengangkat bahunya tak acuh, tidak ambil pusing dengan sikap diam Keyla.


"Omong omong Key, tumben wajah kamu suci dari make up hari ini, rambut kamu juga berantakan banget." entah apa maksud Arya bebicara begitu, yang pasti Keyla dibuat malu karenanya.


Jelas dirinya malu, karena baginya perkataan Arya seolah hinaan baginya. Memang dasarnya Tuhan tidak mengizinkan niat pamer kecantikannya di depan mantan.


"Lagi males aja, Pak." jawab Keyla sekenanya, tidak menghilangkan sikap formalnya.


Arya mengangguk paham, "Oh, Saya kira gara gara saya peluk kemarin malam kamu jadi susah tidur, makanya ancur begitu." perkataan dengan nada santai yang Arya keluarkan berhasil membuat Keyla dongkol.


Kalo udah tau ngapain nanya lo ganteng.


"Idih, bapak pede banget deh." hanya itu yang bisa Keyla katakan, masa iya dia mau berkata jujur ketauan dong dia gagal move on nya. Eh.


"Tapi gak papa deh kamu begini..." ujar Arya menggantung, Arya mengangkat wajahnya kemudian menatap lekat Keyla yang juga sedang menatapnya, tangannya terangkat merapikan rambut Keyla. Bibirnya melengkung, membuat senyum manis, "Karena kamu yang seperti ini terlihat apa adanya. Karena jujur kamu yang seperti ini sangat aku rindukan." Sebab menurut Arya, Keyla yang natural seperti sekarang mengingatkannya pada Keyla yang dulu, polos dan menggemaskan. Bukan Keyla yang selalu tampil dewasa dan anggun.


Dan dengan begini makin susahlah jalan Keyla untuk melupakan Arya.


***