Real Love

Real Love
Real Love #5



Suasana sarapan kali ini terasa mencekam. Dan ini disebabkan karena aura kemarahan yang menguar dari sang Nyonya rumah. Siapa lagi kalau Nyonya Ambarwati. Wanita yang berusia hampir lima puluh tahun itu masih marah perihal mantu dan juga cucu.


Keyla si anak pertama yang menjadi korban teror itu memilih diam. Dirinya terlalu lelah mendengar rengekan ibunya yang terus menerus menanyakan dirinya kapan membawa pacar. Ambar memang begitu, ia akan sangat gigih jika menginginkan sesuatu. Namun untuk kali ini, sepertinya Ambar harus berjuang lebih keras. Dan untuk itulah, ia sudah menyiapkan rencana dalam otaknya agar apa yang dimaunya tercapai.


Terdengar licik memang, tapi mau bagaimana lagi. Ini demi kelangsungan hidup Keyla, jika tidak sekarang, kapan lagi? Manusia sempurna yang suka mengomentari hidup orang lain alias orang yang gak punya kerjaan di luar sana akan semakin menggosipi anaknya.


"Ekhem!" Ambar berdeham keras, sengaja agar para penghuni meja makan itu memusatkan atensi padanya.


Sang pehuni meja makan saling melirik, berbicara lewat mata. Menanyakan apa yang hendak dibicarakan kali ini oleh Nyonya Ambarwati. Namun ketiganya sama-sama mengangkat bahu, tak tahu.


Mata yang sudah tajam itu menatap anak sulungnya lekat. Keyla yang sadar lantas mendongak, menatap balik ibunya yang duduk di depannya. Alisnya terangkat bingung, hatinya mengatakan ada hal buruk yang akan menimpanya.


"Key!" panggil Ambar pelan namun sarat ketegasan dalam nada suaranya.


"Kenapa Ma?"


Keyla mulai tidak nyaman dalam duduknya. Ditambah ingatan akan apa yang ibunya lakukan selama tiga hari terakhir membuatnya semakin dirundung kecemasan.


"Mama mau kamu menikah, bawa pacar kamu secepatnya ke hadapan Mama sama Papa. Kalo nggak..." Ambar menjeda ucapannya, menikmati ekspresi Keyla yang melotot kesal padanya. Wanita paruh baya itu sudah tidak punya pilihan lain. "...Mama bakalan jodohin kamu." tegasnya tanpa mau dibantah.


Keyla melongo, mendengar keputusan sepihak ibunya. Gadis itu membuang napasnya kasar. Kenapa Ambar jadi memaksakan kehendak seperti ini? Keyla sangat tidak suka dipaksa. Apalagi masalah pasangan hidup.


"Ma!" rengek Keyla, tak terima dengan keputusan sepihak ibunya.


"Nggak ada penolakan Keyla. Keputusan mama udah bulat." tegasnya.


"Ma, jang--" Danu yang ingin membela Keyla, harus menahan apa yang ingin dikatakannya saat melihat Ambar yang melotot ganas padanya.


"Papa diam aja deh." Telunjuk Ambar menyentuh bibir  Danu. Menahan pria yang berstatus suaminya itu untuk bicara. Tatapan Ambar beralih pada Keyla, "Kamu nurut aja deh, ini yang terbaik buat kamu. Mama juga tau tipe laki-laki yang kamu suka kaya apa. Kamu kan setipe sama mama."


Keyla memutar bola matanya jengah. Kepercayaan diri ibunya over sekali. Keyla memang ingin mencari pasangan hidup seperti ayahnya. Yang selalu tenang walaupun menghadapi makhluk halus macam ibunya. Yang kelakuan selalu ajaib dan suka menguras emosi. Tapi bukan berarti harus dengan dijodohkan.


Setidaknya Keyla bisa sedikit bernapas lega hari ini. Ia terhindar dari serangan pria pria yang hendak ibunya jodohkan. Ya, semenjak tiga hari yang lalu, Keyla selalu disodorkan berbagai foto pria beserta biodatanya oleh Ambar.


Selama tiga hari itu, Keyla dibuat mual karena ibunya selalu melebih lebihkan setiap pria yang disodorkan.  Ambar persis seperti sales produk kecantikan yang menawarkan pria dengan kelebihan dan manfaatnya.


Beruntung hari ini ia sudah mulai bekerja. Ia jadi terbebas dari segala macam bujuk rayu yang akan dilancarkan ibunya. Keyla tidak tau saja bahwa Ambar sudah menyiapkan rencana dalam otaknya. Rencana yang akan membuatnya menikah dalam waktu dekat.


Untuk kali ini, Keyla iyakan saja kemauan ibunya itu. Semakin ditentang ibunya akan semakin mengeluarkan perkataan yang bisa mematikan lawannya. Ambar sangat ahli membuat mati kutu lawannya, tapi sepertinya keahliannya sedikit memudar. Buktinya ia tidak bisa membalas mulut julit orang orang tentang dia yang tak juga membawa pria ke hadapan orang tuanya.


***


PT. Nata Perkasa adalah perusahaan yang tidak terlalu besar namun memiliki nama yang terkenal dikalangan atas. Produk yang dihasilkan tidak main main, kualitasnya sangat dijunjung tinggi. Reputasinya dalam dunia bisnis tidak bisa diragukan lagi.


Begitulah yang Keyla tau, semalam Keyla mencari tau tentang perusahaan ini. Sebenarnya niatnya sih ingin mengetahui siapa pemilik perusahaan ini. Kalian tahu lah, jomblo seperti Keyla yang dikejar nikah harus pintar-pintar mencari mangsa. Harapannya sih semoga saja sang pemilik masih muda dan juga single sepertinya. Namanya jodoh kan tidak ada yang tau.


Siapa tau karena tidak sengaja saling tabrak, Keyla yang akan terjatuh diselamatkan sang pemilik perusahaan, lalu keduanya bertatapan dan jatuh cinta. Oh abaikan pemikirannya itu. Kebanyakan membaca novel picisan yang Kyla sodorkan membuatnya jadi menghalu seperti itu.


Keyla menggeleng pelan. Ia seperti wanita yang ngebet nikah saja, sampai-sampai niatnya untuk bekerja malah mau flirting ke bossnya sendiri. Ini semua gara gara ibunya yang neror minta cucu sama mantu terus, Keyla kan jadi berasa dikejar kejar rentenir. Tapi tak apalah, itung itung sambil menyelam minum air.


Jodoh, tunggu aku! Aku datang buat jemput kamu, mama papa udah nunggu kamu.


Keyla melangkah mantap memasuki gedung Nata Perkasa. Berbaur dengan  karyawan lainnya. Entah kenapa Keyla merasa bahagia hari ini, bahkan senyum lebar menghiasi wajahnya. Dadanya juga berdebar kencang, apa itu tanda kali ia akan bertemu jodohnya? Ugh! Dia sekarang persis wanita yang dikejar menikah karena umur sudah akan memasuki tiga puluhan.


Keyla menoleh ke arah kaca mobil di parkiran. Memperhatikan apakah menampilannya sudah rapi atau belum. Bagaimanapun juga, menjadi sekretaris dituntut untuk berpenampilan menarik dan juga rapi. Senyumnya semakin lebar, melihat tubuhnya yang cantik dibalut blouse putih yang dilapisi blazer bewarna navy dan celana bewarna senada. Sepatu heels hitam setinggi sepuluh centi menambah kesan cantik untuk penampilan Keyla hari ini. Rambut hitam bergelombangnya ia ikat menjadi satu, memperlihatkan lehernya yang putih mulus.


Sempat terpikir dalam benaknya, kenapa wanita cantik sepertinya benasib sial terus. Mungkin istilah cantik belum tentu bernasib baik cocok untuknya. Tidak semua orang yang cantik akan mudah mendapatkan pria yang benar.


Kembali pada keadaan saat ini. Keyla mempercepat langkahnya saat melihat Metta yang sudah ada di mejanya.


"Hai, Ta!" sapa Keyla.


Metta berjengit kaget, mengelus dadanya kemudian memukul pelan lengan Keyla yang sudah mengagetkannya. "Ngagetin aja lo!"


Keyla tertawa melihat wajah sewot Metta. Semenjak ia mengobrol dengan Metta, keduanya memang memutuskan untuk tidak bersikap formal.


Keyla memperhatikan Metta yang membereskan mejanya. Tak jarang Metta juga menggerutu karena itu. "Ribet banget yah Ta?" tanya Keyla.


Metta mengangguk, "Iya, biasalah ini berkas berkas dari Adm. Harusnya dikasihin ke divisi keuangan langsung, ini malah dititipin ke resepsionis. Gue berasa jasa penitipan barang." Wanita itu merengut kesal, gara-gara bagian administrasi yang menambah pekerjaannya saja.


"Sori yah, gue beresin ini dulu." ucap Metta tak enak, karena membuat Keyla menunggu. "Lo duduk aja dulu di sana, pegel entar nungguin gue."


"Its oke, santai aja kali. Pak Haris juga belum tentu udah datang." Keyla mengibaskan tangannya, menyuruh Metta untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Lo enggak tau aja, bapak bapak tua satu itu on time banget. Apalagi pak bos, matahari belum nongol aja dia udah stand by di ruangannya." tutur Metta. "Asal lo tau aja, pak bos itu disiplin banget. Dia gak suka sama orang yang melanggar waktu." lanjutnya.


Keyla meringis, kenapa ia merasa ini bukan sesuatu yang baik. "Lo gak lagi nakutin gue kan?"


"Yaelah, tanya aja sono sama karyawan lain kalo gak percaya." Metta mengangkat bahunya tak acuh. Semoga nasib Keyla mujur bekerja secara langsung dengan pak bos.


Keyla meneguk ludahnya, kadar kepercayaan dirinya berkurang lima persen gara-gara perkataan Metta. Semoga saja bossnya ganteng dan masih muda, ia jadi bisa mendapatkan kepercayaan dirinya lagi. Sedikit tidak nyambung memang, tapi kalo liat orang ganteng kan bikin betah, siapa tau Keyla jadi betah berlama lama bekerja di sini.


"Memet!!" suara lengkingan dari arah belakang, membuat Keyla terlonjak. Bahkan Keyla mendengar ada yang sampai menggerutu karena aksi wanita itu. Jelas saja, pagi-pagi wanita itu sudah membuat keributan. Keyla berbalik, matanya menangkap seorang wanita yang yang sedang berlari ke arahnya, tepatnya ke arah Me--


"Ck! Dasar cewek gak punya malu. Masih aja teriak teriak. Kena semprot baru nyaho tu anak." Keyla menoleh pada Metta yang baru saja berbicara.


"Temen lo?" tanya Keyla kembali memandang wanita tadi.


"Kalo lagi kumat malu maluinnya, dia bukan temen gue." jawab Metta.


Keyla terkekeh. Ia jadi ingat dirinya yang suka membuat malu sahabat sahabatnya. Kenapa Keyla baru sadar kalo dirinya suka membuat orang malu yah.


"Amit-amit, sana lo pergi jauh jauh. Lo bukan temen gue." Metta mendorong wajah wanita itu agar mejauh darinya. Metta langsung membersihkan tubuhnya, ia seperti baru di peluk hantu sampai membuatnya merinding. Wanita itu mencebik, menatap kesal kelakuan Metta.


Keduanya tidak sadar kalo sedari tadi Keyla perhatikan. Keyla tersenyum, ia teringat akan dirinya dan sahabat sahabatnya, kelakuan Metta barusan seperti saat Tasya yang kesal bila dirinya sudah membuat malu. Keyla jadi merindukan ketiga sahabatnya.


"Siapa nih?"


Pertanyaan wanita itu mengembalikan Keyla dari lamunannya. Ia tersenyum saat wanita itu menyadari keberadaanya, bahkan sekarang secara terang terangan dia menatap lekat dirinya. Tatapannya seolah sedang menilai dirinya.


"Sekretaris barunya Pak bos," jawab Metta.


Wanita itu ber oh ria. Lantas tersenyum pada Keyla, tangannya terulur pada Keyla. "Kenalin gue Kinara, panggil aja Rara." ujarnya memperkenalkan namanya.


"Keyla." balas Keyla singkat, melepaskan jabatan tangannya.


"Yang kuat iman yah." celetuk Rara tiba tiba.


"Hah? Maksudnya?"


"Lo jadi sekretaris pak bos harus kuat iman. Banyakin istigfar kalo perlu." sahut Rara.


"Kenapa emagnya?" tanya Keyla, masih tak mengerti dengan perkataan wanita di hadapannya.


"Pak bos punya peliharaan, jadinya lo kudu kuat iman."


Keyla mengernyit, masih tak paham. Sepertinya sifat lemotnya muncul lagi. "Maksudnya Pak bos melihara **** ngepet?" tanya Keyla polos.


Bukan jawaban yang ia dapat, malah suara tawa menggema yang di dengarnya. Rara dan Metta terbahak, keduanya tak kuasa menahan tawa mendengar pertanyaan polos Keyla ditambah raut wajahnya yang polos semakin membuat keduanya makin tidak kuasa untuk tertawa. Tidak peduli akan tatapan orang orang yang merasa terganggu dengan tawa menggelegarnya.


Keyla memberengut, bibirnya mencebik kesal. "Berisik ih!" desisnya.


Rara memegang perutnya yang terasa keram karena tertawa keras. Kenapa bisa Keyla berpikiran ke sana, di zaman modern seperti sekarang. Yah walaupun kemungkinan itu bisa saja ada. Yang namanya manusia, selalu melakukan apa saja keinginan mereka bagaimana pun caranya.


"Lo jelasin deh Met, gue gak tahan," titah Rara di sela tawanya.


Raut wajah Keyla semakin tak enak dilihat. Menjadi bahan tertawa disaat kamu tidak tahu apa yang ditertawakan itu sungguh menjengkelkan.


Metta menyeka air matanya, tawa geli masih terissa dari bibirnya. Apalagi melihat ekspresi keki Keyla membuatnya ingin tertawa lagi. "Maksud si Rara peliharaan itu nyokapnya pak bos. Dia udah kaya peliharaannya pak bos. Kerjaannya ngintilin Pak bos mulu. Kalo misal Pak bos lagi merasa terancam nah si peliharaannya ini pasti bakal gerak cepat buat basmi orang yang mengancam." terang Metta, Keyla mangut mangut, "Makanya lo hati hati kalo udah jadi sekretarisnya pak bos. Bu Dewi gak suka anaknya diganggu apalagi sampe digoda. Bisa bisa lo dibabat habis sama Bu Dewi." sambungnya.


"Yah kalo lo mau goda juga gak papa. Lagian pak bos ganteng gitu, sayang kalo dianggurin. Ibaratnya orang ganteng itu kaya makanan, gak disikat sayang." tambah Rara.


"Pak bos anak mami?" tanya Keyla, mendengar cerita keduanya ia jadi berpikir begitu.


Keduanya serentak menggeleng, "Nggak. Pak bos tuh anak tunggal, lo taulah anak tunggal gimana. Bu Dewi ini maunya anaknya dapet yang terbaik. Apa apa diatur, harus jadi kebanggaan juga. Ya gitu deh." jawab Rara.


Keyla mengangguk paham. Tak terbayang bagaimana gak enaknya menjadi bosnya ini. Ia saja yang dua bersaudara masih diatur atur perihal jodoh.


"Dan satu lagi," Keyla menegakkan tubuhnya, menunggu cerita selanjutnya tentang Pak bos yang entah siapa namanya. "Lo kudu hati hati sama peliharaan pak bos yang satu lagi."


"Alah, yang ini mah gak berbahaya. Dia cuma modal cantik sama kaya doang. Lagian pak bos juga kayaknya gak suka sama dia. Tiap ke sini juga si boneka santet gak pernah dianggap ada." sahut Rara.


"Siapa sih?"


"Itu, kembarannya bunga kemboja alias si Melati. Dia tuh tunangan pak bos. Tapi lagaknya udah kaya istrinya aja, setiap ada cewek yang deket pak bos pasti langsung dilabrak sama dia." sungut Rara, sepertinya Rara sangat tidak menyukai wanita bernama Melati ini.


"Hust! Kalo ngomong jangan kenceng kenceng. Ada yang denger tau rasa lo." Peringat Metta, matanya menjelajah sekitar, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Intinya lo jangan deket-deket sama pak bos. Maksudnya jangan caper sama pak bos, jangan coba goda dia kalo gak mau hidup lo kacau di sini." Metta memandang serius Keyla.


Gadis itu menyimpan baik baik peringatan dari Metta. Sepertinya kedua wanita ini sangat berbahaya.


"Tapi kalo lo suka sama pak bos sih gak papa. Orang si boneka santet cuma tunangan, belum sah. Masih bisa lah lo nyelip diantara kedunya."


Jadi? Ia harus menuruti perkataan siapa?


***


Bekerja menjadi sekretaris tidaklah mudah. Tidak seenak yang dibayangkan. Keyla pernah merasakan bagaimana susah dan ribetnya menjadi sekretaris. Saat magang dulu, ia pernah jadi sekretaris. Ia dituntut bekerja tepat waktu, kalo bisa datang lebih cepat dari pada bosnya. Menyiapakan berkas untuk meeting, membuat jadwal meeting, memeriksa agenda bosnya. Tak jarang ia juga merangkap menjadi asisten pribadi. Menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan bosnya.


Seperti kopi, makanan, bahkan pakaian. Itu benar benar melelahkan. Namun dibalik semua itu, Keyla suka saat dirinya bisa berbicara di depan banyak orang. Bisa pergi keluar kota jiga ada pertemuan dengan klien.


Sejak dulu ia dikenal sebagai gadis yang malas dan juga tidak pintar. Makanya saat ujian masuk perguruan tinggi ia belajar dengan giat supaya masuk ke fakultas keinginannya.


"Nanti, anda tinggal melanjutkan pekerjaan sekretaris sebelumnya. Kebetulan sekretaris yang lama sudah menyelesaikan pekerjaannya sebelum resign." Keyla menggangguk mengerti dengan apa yang Pak Haris ucapkan.


Keyla sedang berada di dalam lift, menuju lantai lima dimana ruangan direktur utama berada. Keyla memperhatikan tombol di lift, ia meremas tangannya. Tiba tiba saja ia merasa gugup. Keyla butuh kepercayaan dirinya sekarang.


Pintu lift berdenting, ia mengikuti langkah Pak Haris. Sebelumnya ia sudah menandatangani kontrak kerja di ruangan Pak Haris.


Pintu ruangan Direktur Utama mulai terlihat. Keyla semakin meremas jarinya. Mendengar cerita Rara dan Metta, bosnya pastilah tampan. Dan entah kenapa itu membuatnya berdebar. Belum liat wajah tampannya saja ia sudah gemetar seperti sekarang. Kalo sudah melihat bisa bisa ia kejang kejang.


Pak Haris mengetuk pintu bertuliskan direktur utama di atasnya. Saat terdengar perintah masuk, pak Haris membuka pintu itu. Selama pak Haris membuka pintu selama itu Keyla menahan napasnya.


Pemandangan pertama yang Keyla lihat setelah pintu terbuka benar benar diluar perkiraannya. Kalo seperti ini Keyla lebih baik memiliki bos yang gendut, botak dan mendekati uzur saja daripada orang yang sedang tersenyum padanya sekarang ini.


"Keyla, perkenalkan dia Pak Arya. Direktur utama sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan ini."


Perkataan Pak Haris tidak ia dengar. Yang Keyla inginkan sekarang adalah lari sejauh jauhnya. Menjauhi makhluk yang sialannya tampan dan mantannya ini.


***