
***
Kenapa disaat Keyla ingin menjauh, Arya malah mendekat. Pria itu seolah membangkitkan harapan yang sudah lama ia pendam dalam hatinya.
Keyla tidak mengerti dengan jalan pikiran Arya, lebih tidak mengerti lagi kenapa pria itu melakukan hal itu dengan santainya. Tidak tau kah Arya bahwa Keyla dibuat berdebar karenanya?
Bahkan untuk sekedar berkedip saja rasanya sulit sekali. Sampai suara dentingan lift menyadarkannya. Keyla merutuk Arya yang melenggang begitu saja, seolah apa yang terjadi tidak berefek apa-apa untuknya.
Keyla menarik dan menghembuskan napasnya perlahan, mencoba meredakan debaran di dada kirinya. Sebelum keluar dari lift, Keyla memantapkan hatinya untuk tidak goyah dengan keputusan awalnya.
Jika Arya saja bisa bersikap santai begitu kenapa Keyla tidak bisa? Anggap saja semua yang pernah terjadi di antara dia dan Arya seperti kentut. Bau sesaat dan akan hilang terbawa angin setelahnya.
Keyla menyimpan tasnya, kemudian menyalakan komputer. Tangannya merogoh tasnya, mengambil buku agenda yang selalu dibawanya. Buku itu berisi jadwal Arya setiap harinya. Sebenarnya di komputernya pun ada jadwal Arya secara rinci, hanya saja Keyla lebih suka menggunakan buku itu, lebih praktis. Itu lebih mempermudahnya, secara Keyla suka pelupa.
Keyla mengingatkan dirinya bahwa jam sembilan nanti ada meeting dengan pemilik hotel The Amor di restaurant milik Vito yang tak lain milik Arya juga. Keyla segera menyiapkan berkas untuk meeting kali ini.
Meeting kali ini membahas lebih lanjut mengenai cabang hotel The Amor yang akan menggunakan furniture dari Nata Perkasa.
Keyla menghembuskan napasnya, mencoba fokus pada pekerjaannya. Dan tidak lagi mengingat apa yang terjadi di lift tadi.
Lama Keyka berkutat dengan komputer di hadapnnya, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul delapan lebih seperempat. Para karyawan sudah berdatangan dan mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Keyla meregangkan lehernya yang terasa kaku dan melanjutkan pekerjaannya yang sedikit lagi. Terlalu larut dengan pekerjaanya, Keyla sampai tidak menyadari kehadiran seseorang yang sedang berjalan elegant ke arahnya, lebih tepatnya menuju ruangan Arya.
Wanita paruh baya dengan pakaian glamour itu berdiri angkuh di samping meja Keyla. Menatap Keyla yang masih terfokus dengan komputernya.
"Pak Arya ada?" pertanyaan tanpa sapaan itu berhasil membuat Keyla terlonjak di tempatnya. Keyla mengerjap, memandang sesosok wanita paruh baya yang menatapnya lekat.
Bukannya takut, Keyla malah balas menatap wanita yang Keyla tebak adalah sosok 'peliharaan' yang dimaksud Rara dan Metta. Keyla baru tau wujud ibunya Arya seperti ini, dulu jangan kan mengetahui wajahnya namanya saja Keyla tidak tau. Secara dulu hubungan yang terjalin antera dirinya dan Arya hanyalah hubungan sa--
Oke Keyla jangan diingat lagi, itu hanya masa lalu.
Dewi mendengus melihat sekretaris baru anaknya yang malam melamun. "Saya tanya, Aryanya ada?"
Keyla mengerjap, meringis malu. "Ada, Bu."
Tanpa menunggu lama, Dewi beranjak masuk begitu saja ke dalam ruangan Arya. Semantara Keyla melongo tak percaya melihat kelakuan wanita yang masih modis walaupun sudah tua itu.
"Pantes anaknya cakep, emaknya aja cakep gitu. Gila gue yang masih muda aja kalah sama gayanya." Keyla menggelengkan kepalanya, berdecak kagum melihat tampilan Dewi.
Suara interkom mengalihkan Keyla dari kekagumannya. Suara Arya yang menyuruhnya untuk ke ruangannya terdengar. Wanita itu menghela napasnya, kejadian tadi masih membekas diingatannya.
Keyla meraih buku agendanya, kemudian masuk ke dalam ruangan Arya.
"...Arya gak bisa mah. Arya banyak kerjaan." Keyla diam di dekat pintu,tidak berniat masuk lebih jauh, membiarkan kedua orang itu berbicara leluasa.
"Itu terus alasan kamu. Apa susahnya sih ngeluangin waktu cuma buat makan siang sama Melati?" Arya menghela napas lelah, bosan sekaligus jengah dengan segala paksaan yang selalu Dewi lakukan.
"Ma please, Arya lagi banyak kerjaan. Jangan nambah-nambah kerjaan Arya." tekannya, berusaha untuk tidak menyakiti ibunya.
"Ayolah Ar, kamu selalu nolak terus. Kalo begini gimana caranya kamu bisa makin deket sama Melati?" Dewi masih gigih membujuk Arya.
Arya menggeleng pelan, fokusnya beralih pada Keyla yang masih diposisinya. "Berkas untuk pertemuan kali ini sudah kamu siapkan?"
"Sudah, Pak." jawab Keyla.
"Kamu ngapain di sini?!" sentak Dewi, tak suka dengan kehadiran Keyla.
Keyla menunjuk dirinya, "Saya?" tanyanya, Dewi berdecak mendengar pertanyaan bodoh Keyla. "Disuruh pak Arya ke sini." jawabnya santai, tidak merasa terintimidasi sama sekali dengan tatapan Dewi.
Tiba tiba saja Dewi memicing curiga, memandang Arya dan Keyla secara bergantian. Arya yang sudah hapal dengan tabiat ibunya mendengkus kesal.
"Saya peringatkan dari awal sama kamu. Jangan berani beraninya kamu goda anak saya. Awas aja kalo sampai saya mendengar kamu mendekati anak saya." jari Dewi teracung di depan wajah Keyla. "Dia sudah punya tunangan, jadi jangan harap kamu bisa mendekatinya."
"Ma!" pekik Arya, Ibunya kadang suka kelewatan. Ia tau maksudnya ibunya ini baik, mengingat dulu pernah ada beberapa sekretarisnya yang berusaha menggodanya. Tapi tidak harus begitu juga kan. Arya jadi merasa bersalah pada Keyla apalagi ibunya membawa bawa statusnya.
"Suruh anak ibu oplas jadi jelek dulu, baru saya gak akan goda dia. Jangan salahin saya kalo saya goda anak ibu, abisnya anak ibu minta digoda banget." sahut Keyla.
Arya menepuk jidatnya, ia lupa terkadang Keyla suka melontarkan hal yang tidak masuk akal. Kalo sudah begini dijamin ibunya akan semakin tidak suka dengan Keyla. Dan itu akan menyulitkan dirinya maupun Keyla, karena Arya pastikan ibunya akan terus datang untuk memantaunya.
***
Keyla melirik Arya lewat ekor matanya. Pria itu terlihat serius menghadap ke depan. Menajalankan mobilnya dengan tenang, namun entah kenapa membuat Keyla gelisah.
Ingatan tentang kejadian di ruangan Arya terlintas di benaknya. Keyla mendengus, mengingat betapa menyebalkannya ibu Arya. Dikira Keyla akan diam saja gitu, manut manut untuk tidak menggoda Arya. Walaupun sebenarnya ia tidak berniat untuk menggoda Arya. Kenapa? Karena Keyla tau nantinya bukan Arya yang akan tergoda, tapi ia yang akan tergoda mengejar Arya.
Getaran dari dalam tasnya mengalihkan Keyla dari kamunannya. Ada pesan masuk dari Maura, Keyla lekas membuka pesan itu.
Maura : Key, gue denger lo kerja di perusahaan kak Arya yah?
Keyla mendengus membaca pesan Maura. Keyla sangsi Maura dan Tasya tidak terlibat dengan penyebab kenapa ia bisa bekerja di perusahaab Arya.
Keyla : Iya, kenapa lo? Seneng liat gue menderita!
Maura : Santai kali. Idih sok-sokan menderita, padahal nyatanya kesenangan bisa flirting sama mantan.
Keyla : Boro boro mau Flirting, yang ada gue udah diancam duluan sama emaknya.
Maura : hah? Lo ketemu calon mertua?
Keyka berdecak, calon mertua katanya? Yakali dia punya calon mertua yang sebelas duabelas sama ibunya. Sukanya maksa.
Keyla : Iya calon mertua, mertua orang.
Maura : Cie sensi cie. Lo kaya pantat bayi sensitif amat
Maura : Eh iya. Gue mau ngasih tau, dua minggu lagi Tasya tunangan. Jadi siapin pasangan buat ke sana yah.
Keyla : pasangan buat apaan?
Maura : Keyla **** jangan dipelihara napa. Yakali lo mau ke sana sendirian sementara gue sama Aurel bawa pasangan. Ngenes amat idup lo
Keyla : Hina aja terus, gue ikhlas kok
Keyla : bilangin sama Tasya, suruh undur gitu pertunangannya jadi dua bulan lagi.
Keyla : biar gue bisa nyari pacar dulu.
Maura : Makanya jangan jadi jomlo. Lagian kalo nunggu dua bulan lagi yang ada lo udah dicampakan lagi sama kaya yang kemarin.
Maura : bodo amat. Udah dari pada repot nyari, kenapa gak yg ada di depan mata aja.
Keyla : siapa? Bapak gue?
Maura : pliss Key, itu otak jual aja sana gak guna amat. Lo kira ini acara ulang tahun bocah apa sampe mau bawa bapak lo.
Keyla : omongan lo Ra, pait amat.
Maura : abisnya gue kesel sama lo. Pantesan aja lo dicampakan mulu dari dulu. Otak lo gak berguna dengan sempurna.
Keyla terdiam, senyum kecut tersungging di bibirnya. Maura benar, ia tidak pernah menggunakan logikanya saat jatuh cinta. Karena perempuan sepertinya lebih menggunakan hatinya dibandingkan logika. Sekarang Keyla paham bahwa saat jatuh cinta, logika dan hati harus seimbang. Agar kita masih bisa berpikir logis, tidak samapi buta karena cinta.
Maura : udah daripada repot nyari yang gak pasti kenapa gak ngajak kak Arya aja.
Keyla : ogah, takut gue sama kucing garongnya.
Maura : Ah elah, ngapain takut segala sama si Melati. Dia mah modal tampang doang. Pasti kalah deh dia kalo adu kekuatan sama lo.
Keyla : dikata gue atlet tinju. Lagian belum tentu dia mau juga. Udahlah jangan ngarepin dia.
Maura : bukan Maura namanya kalo masalah gini aja gak bisa. Tunggu aja, dia pasti mau.
Keyla menghembuskan napasnya. Kenapa orang disekitarnya seolah mendorongnya untuk mendekati Arya lagi.
***
Keyla menghembuskan napas lega, pertemuan kali ini berjalan lancar. Setidaknya meeting siang ini sedikit mengalihkan dirinya dari Arya dan segala yang termasuk di dalamnya.
Keyla melirik jam di tangannya. Sudah waktunya makan siang. Sepertinya Keyla akan memilih untuk makan siang di sini saja. Karena jika ia kembali ke kantor sekarang pasti waktu makan siangnya akan habis.
Keyla sekarang sedang duduk sendiri, sementara Arya sedang mengantarkan klien mereka ke depan. Matanya berpendar, restoran ramai dengan pengunjung yang ingin makan siang.
Sayang sekali jam seperti ini, Aurel masih di tempat kuliahnya. Jika ada wanita itu, Keyla pasti tidak akan sendirian begini seperti anak hilang yang celingak celinguk.
Suara kursi yang berdecit mengalihkan Keyla dari buku menu di tangannya. Di depannya,Arya duduk seraya tersenyum padanya.
"Kok balik lagi Pak? Saya kira bapak langsung balik ke kantor." tutur Keyla.
"Masa saya mau ninggalin kamu."
"Ya gak papa pak. Lagian saya mau makan siang di sini dulu pak." ujar Keyla, berharap agar Arya segera pergi dari hadapannya. Bukan maksud mengusir, hanya saja Keyla merasa tidak nyaman. Tidak nyaman dengan debaran di dadanya.
"Kalo gitu kita makan siang bersama." sahut Arya santai.
Keyla menghela napasnya, memilih menyerah. Ia kembali berkutat dengan buku menunya kembali. Memilih menu makan siangnya kali. Keyla memanggil pelayan, lantas menyebutkan pesanannya begitupun dengan Arya. Setelah pelayan itu pergi, keduanya terdiam sibuk dengan pikiran masing masing.
"Key!" panggil Arya pelan.
Keyla mengongak, mengalihkan atensinya dari ponsel digenggamannya. Mata Keyla bertemu tatap dengan mata coklat milik Arya. Sejenak Keyla terhanyut, Keyla lekas mengalihkan matanya.
"Aku minta maaf." ujar Arya, mananggallan sikap formalnya.
"Untuk?" tanya Keyka tak mengerti.
"Maaf untuk ucapan mama aku tadi."
Keyla menggeleng, "Nggak perlu minta maaf, ibu bapak gak salah." ujar Keyla, "lagian yang dilakuin bu Dewi itu wajar. Namanya orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya." yah walaupun sebenarnya ucapan Dewi itu sedikit membuatnya geram.
"Tapi tetep aja, perkataan Mama aku nyakitin kamu."
Keyla tersenyum, "Nyakitin dimananya coba." Keyla tertawa kecil, seolah perkataan Arya adalah hal yang lucu. Padahal nyatanya itu hanyalah kamuflasenya saja. Keyla tidak mau membuat Arya merasa bersalah dan akhirnya kasihan padanya.
"Secara gak langsung mama aku nuduh kamu wanita penggoda. Aku minta maaf." ucap Arya tulus. Arya tidak tau ucapan maafnya ini benar untuk itu atau untuk hal lain. Seperti permintaan maaf karena membuat hati Keyla sakit dengan statusnya.
"Nggak masalah, aku udah terbiasa denger perkataan menyakitkan, bahkan yang lebih dari itu." seperti perkataan kamu dulu.
Keyla bersyukur karena pesananannya datang. Menghentikan pembicaraan yang tidak disukai namun membutnya penasaran ini. Tanpa menunggu lama lagi, Keyla segera menyantap makanannya.
Arya memperhatikan Keyla, wanita itu memakan makanan dengan lahap. Senyum Arya mengembang, melihat Keyla makan lahap begitu entah kenapa membuatnya senang. Seolah beban yang menimpanya selama ini terangkat.
Arya jadi ingat saat tadi pagi ia mencubit pipi Keyla, ah ia jadi ingin mencubitnya lagi. Tangan Arya terulur untuk menyentuh pipi Keyla, belum sempat tangannya menyentuh pipi Keyla. Gadis itu lebih dulu menunduk, membuat tangan Arya mengenai rambutnya.
Kepalang basah, Arya akhirnya mengelus rambut Keyla yang diikat menjadi satu. Bisa Arya rasakan tubuh Keyla menegang, namun bukannya berhenti Arya malah semakin menggerakan tangannya untuk merapikan rambut Keyla. Sampai suara lengkikan terdengar, menghentikan aksinya.
"Arya!!"
Arya segera menarik tangannya, alisnya terangkat memandang Melati yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Sementara Keyla segera mengangkat kepalanya, mencari sunber suara wanita yang memanggil Arya.
"Kamu ngapain di sini Mel?" tanya Arya, nada suaranya terdengar tak suka dengan kehadiran Melati.
Melati berdiri di samping Meja Arya dan Keyla. Matanya memandang tajam pada Keyla yang dibalas gadis itu dengan kernyitan di dahinya. Matanya beralih pada Arya, senyum manis langsung tersungging di bibirnya.
"Aku ke sini karena mau makan siang sama kamu. Mama kamu bilang kamu ada di sini." Melati duduk di kursi anatara Keyla dan Arya.
Arya mendengus, betapa keras usaha ibunya itu. "Kamu tau aku banyak kerjaan Mel, jadi ngertiin aku."
"Maksud kamu apasih? Aku kan cuma pengen makan siang sama kamu. Aku kan 'tunangan' kamu." Melati dengan sengaja menekan kata tunangan, seolah sedang menyindir Keyla.
Arya menarik dan menghembuskan bapasnya perlahan. "Terserah."
"Kamu bilang kamu banyak kerjaan, terus sekarang apa? Kamu lagi makan siang berdua sama dia!" hardik Melati kesal dengan respon tak acuh Arya.
"Aku abis meeting barusan. Kebetulan udah waktunya makan siang. Yaudah aku makan siang sama dia. Trus salah gitu?"
Keyla diam, menyaksikan perdebatan Arya dengan kembarang bubga kemboja itu. Selagi keduanya berdebat, Keyla memperhatikan menampilan Melati yang tak kalah modis dari ibunya Arya. Ia seolah ditampar kenyataan bahwa Arya menyukai wanita cantik seperti Melati bukan sepertinya.
"Apa harus banget sama dia makan siangnya? Pake acara elus elus segala lagi." sungutnya sebal, mata Melati beralih pada Keyla.
"Kamu siapa? Kenapa bisa sama tunangan aku?" tanya Melati.
"Saya se--"
"Dia selingkuhan aku. Puas kamu?" potong Arya cepat. Kadua wanita itu saling diam mencerna ucapan Arya, sesaat kemudian keduanya serempak berteriak.
"Apa?!"
***