
Kamu, perayu ulung sejati. Yang datang dan pergi sesuka hati, memberi harapan sekadar ilusi lantas bersikap seolah itu tiada arti.
***
Selalu seperti ini, Arya dengan sikap seenaknya dan Keyla dengan kekurang tegasannya. Keyla tidak mau dianggap percaya diri sebab merasa Arya ada rasa padanya. Tapi sikap pria itu sulit untuk ia mengerti, jangakan mengerti Arya, Keyla saja terkadang bingung memahami dirinya sendiri.
Menghela napas berat, Keyla mencoba menfokuskan pikirannya pada komputer di depannya. Tidak mau membuat kesalahan yang akan mengacaukan kariernya di Nata Perkasa. Meski sejauh ini, Arya tidak pernah menunjukan sikap seperti apa yang Rara ceritakan.
Arya baik, bahkan kelewatan baik. Atau itu hanya padanya saja? Tuh kan otaknya mulai berharap lagi. Salahkan Arya yang suka sekali menebar benih-benih harapan di hatinya.
Hingga detik ini, kejadian di rooftop itu masih menjadi tanda tanya besar. Bayangkan saja Keyla yang kelewatan syok saat itu hanya terpaku tanpa bersuara. Dan ketika kesadaran menghampirinya, Arya malah mengajaknya turun. Katanya udara malam tidak baik untuk kesehatan. IYA KESEHATAN HATINYA! Ingin sekali Keyla mengatakan itu, namun apalah daya dirinya malah bersikap pasrah saja waktu Arya menggiringnya turun dan mengantarnya pulang.
Sudah, setelah itu tidak ada kejelasan sama sekali, seperti kejadian sebelum-sebelumya. Arya dengan keahliannya yang suka menggantungkan perasaan orang, malah bersikap biasa saja. Seakan apa yang dikataknnya tidak berarti apa-apa. Dan Keyla sendiri tidak berani untuk menanyakan maksudnya, apa haknya menanyakan itu? Menanyakan hal yang jelas-jelas akan melukainya, menamparnya akan kenyataan Arya hanyalah si masa lalu yang masih tersimpan di hatinya.
"Iya, Pak?" Jawab Keyla kala telepon di mejanya berbunyi.
"Tolong buatkan saya kopi, bisa?" Pinta Arya, suaranya terdengar parau. Penampilan Arya hari ini juga tak sememukau biasanya. Keyla berusaha untuk tak peduli akan apa yang menimpa pria itu, meski kuat keinginannya untuk bertanya.
"Baik, Pak." Keyla menghembuskan napas, lekas bangkit untuk membuatkan pesanan sang atasan.
Pantri lenggang kala Keyla masuk, diambilnya gelas beserta tatakannya. Keyla adalah wanita yang pintar bersolek namun payah urusan dapur. Setiap ibu Negara memyuruhnya memasak, Keyla selalu mengeluarkan jurus seribu satu alasan dan siasat. Dari mulai menjadwal tiap ibunya memasak sama dengan jadwalnya tidur siang atau dirinya akan melayap dan pulang saat malam tiba.
Bukan Keyla tidak mau membantu, tapi tiap kali hati berniat baik untuk meringakan beban sang ibu yang ada justru Keyla malah menghancurkan daerah kekuasaan ibunya itu. Dan ujungnya Keyla dipaksa untuk mengganti rugi dari kerusakan yang diperbuatnya, piring dan gelas pecahlah, dapur berantakanlah dan masih banyak lagi.
Ini bukan kali pertama Keyla membuatkan Arya kopi ataupun teh. Namun, Keyla tetap diliputi kecemasan akan rasanya, dia hanya menerka komposisi antara gula dan kopi. Dan tak pernah mencicipinya, sejauh ini Arya tidak pernah protes jadi Keyla bepikir minuman yang ia sajikan normal-normal saja.
Sedikit kesusahan, Keyla mengetuk pintu ruangan Arya. Saat seruan masuk terdengar, Keyla masuk dengan hati-hati, ketukan heelsnya terdengar mengalihkan Arya dari dunianya. Dalam diamnya Arya mengamati Keyla, perempuan itu hari ini mengenakan blazer dress bewarna coklat serasi dengan stilettonya. Rambut panjang terjalin rapi dengan model ponytail, wanita itu memang pandai sekali dalam memadupadankan busana.
"Makasih Key," ucapnya tulus seraya tersenyum.
"Sama-sama."
Keyla berdiri kikuk, ingin segera pergi dari hadapan Arya. Namun apa daya sang pemilik ruangan justru malah menatap lekat dirinya. Kepala Keyla menunduk, tidak berani menatap balik sang atasan. Ingat kata-kata kalo orang lawan jenis berduaan yang ketiganya setan? Dan Keyla takut khilaf nanti malah membuatnya berbuat nekat.
"Manis, Key," komentar Arya membuat Keyla meringis. Kalau tidak salah ingat Keyla tadi memasukan tiga sendok teh gula.
"Biasanya orang kalo lagi banyak pikiran butuh asupan manis yang banyak pak," kilah Keyla, memberanikan diri menatap balik Arya yang masih tersenyum sejuta wattnya.
Arya tertawa kecil. "Tau darimana saya lagi banyak pikiran?"
Keyla menunjuk wajah Arya dengan telunjuknya. "Itu! Muka bapak kusut gak glowing kaya biasanya. Pasti lupa pake skincare. Rambutnya juga biasanya rapi sekarang kaya sapu ijuk. Jadi jelek gak ganteng lagi." Mulutnya kalo udah dipancing suka kebablasan gini kan.
Bukannya tersinggung, Arya justru malah tertawa. Ini orang kayanya bener-bener stress deh tawa mulu perasaan. "Keberadaan kamu membuat perasaan saya lebih baik," tuturnya tanpa diminta.
Alis yang dipahat sepenuh hati itu menyatu, bertanya pada diri sendiri apa yang dilakukannya hingga Arya merasa demikian. "Bapak bener-bener stress yah, saya gak ngapa-ngapain kok."
"Iya saya stress gara-gara kamu Key." Keyla bergidik, bukan tersanjung perempuan itu justru merasa ngeri sendiri. Arya memang don juan, perayu ulung yang andal tapi dia bukan pria alay dan lebay.
Ditambah tatapan yang intens dari manik kelam itu membuat Keyla dirundung panas dingin. "Bapak kesambet yah, kok aneh banget." Perempuan itu berujar lirih, perutnya mulas luar biasa hanya disuguhi pemandangan indah di depannya. Meski penampilan Arya tak semenawan biasanya, tapi pesonanya tidak luntur sama sekali.
Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahangnya menambah kesan macho. Membuat Keyla tergelitik merasakan bagaimana kulitnya bila bersentuhan langsung. Tidak ada rambut yang disisr rapi dan diberi jel, tidak ada dasi yang selalu menambah kesan berwibawa Arya.
Arya mengangguk menyetujui. "Kayanya saya mulai kesambet sama kamu Key." Dan perkataan Arya sukses membuat dara cantik anaknya bapak Kamandanu itu kabur dari hadapannya.
***
M
engirim pesan rindu, menyuruhnya menunggu dan sekarang mengatakan kesambet olehnya. Keyla menggeleng pelan, tak habis pikir dengan jalan pikiran Arya. Terlalu banyak tanda tanda dalam benaknya, tentang Arya dan sikapnya, dan yang ditakutinya tentang Arya dan perasaan pria itu terhadapnya.
Perempuan itu sudah kenyang akan harapan dan angan. Hingga membuatnya lupa akan si kenyataan, dan berujung pada patah hati tak beujung yang mendera hatinya. Sejauh ini Keyla masib bisa mengatakan ia baik-baik saja. Tapi itu bukan jaminan jika sekali lagi patah, hatinya masih baik-baik saja.
Kepalanya pening, denyutan terasa dipelipisnya. Perempuan itu memijit pelipisnya mencoba meredakan denyutan yang kian menyiksa. Dipukulnya pelan kepala itu dengan tangan terkepal, beberapa kali Keyla melakukan itu sampai gerakannya terhenti sebab pergelangan tangannya dipegang seseorang.
Entah kenapa Keyla merasakan hawa yang tak enak. Perlahan Keyla mendongak, menemukan Arya berdiri menjulang di samping mejanya. Raut wajah lelaki itu tampak tegang, ada sorot tak suka dari manik itu. Sekarang apalagi Tuhan?! Jerit batinnya.
"Berhenti melakukan hal konyol yang menyakiti diri sendiri Key," tegas Arya bagai titah yang harus Keyla patuhi.
Bagai pajangan dashboard mobil, Keyla mengangguk-ngangguk pelan. KENAPA KEYLA SELALU PASRAH SAJA SIH?! Batinnya menjerit tak terima. Keyla menahan napas merasakan tangan besar Arya menyentuh rambutnya, merapikan jalinan rambutnya yang mencuat. Perutnya melilit oleh rasa yang membuncah luar biasa yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Terlalu menyenangkan hingga rasanya Keyla ingin waktu berhenti saat ini juga.
Peduli setan jika ada yang memergoki keduanya, meski Keyla tidak yakin dengan itu. Mata Arya menyipit oleh senyuman yang berhasil meluluh lantakan hatinya. "Can--"
drrt...drrt...
Dering ponsel Keyla menyadarkan keduanya dari kekhilafan yang terjadi. Baik Arya maupun Keyla sama-sama menjauhkan diri. Namun, tangan Arya masih setia bertengger di pergelangan tangannya. Perempuan itu berdehem. "Pak tangannya," tegur Keyla tak enak hati seraya menunjuk lengannya yang lekas dilepas Arya dengan kikuk.
Nama anak dedemit tertera sebagai si penelpon yang tak lain adalah nama untuk kontak Kyla. Dengan malas, Keyla mengangkat panggilan adiknya sementara Arya diam meperhatikan. Niat hatinya ingin meminta laporan penjualan tapi malah berujung lain.
"APA?!" Bentak Keyla marah. Perempuan itu bahkan spontan berdiri dari duduknya, mengakibatkan Arya terlonjak sebab suara menggelegarnya.
Jika tadi kepalanya berdenyut maka sekarang kepalanya berasap. Dongkol, marah dan khawatir bercampur menjadi satu, wajah Keyla memerah akan emosi yang siap meledak.
"Key!" Panggilan Arya menghentikan niatannya yang hendak beranjang. "Kenapa?" tanyanya.
Ditariknya napas dalam-dalam, jangan sampai Keyla meledak di sini. "Saya izin keluar sebentar boleh, Pak?" Keyla enggan menceritakan alasannya disaat emosi menguasainya
Arya mengernyit, meski tidak tau apa yang terjadi dia tetap mengangguk. "Boleh, tapi saya ikut."
***
SMA Pelita Jaya, lama sekali Keyla tidak menginjakan kaki di sekolah tercintanya ini. Bibir semerah tomat itu menghela napas, teringat tujuannya datang ke sini. Apalagi kalau bukan adik curutnya itu berbuat ulah. Tadi Kyla menyuruhnya datang ke sekolah sebab adik satu-satunya itu bertengkar dengan salah satu siswi. Masalahnya apa, Keyla juga tidak tau, awas saja kalau hanya gara-gara laki-laki. Keyla gunduli anak itu.
Keyla tidak sendiri. Arya ikut bersama, entah apa yang mendasari laki-laki itu untuk mengantarnya Keyla tidak peduli. Sebab Keyla terlampau kesal pada Kyla. Ketukan stilettonya dengan lantai marmer terdengar sepanjang koridor, langkahnya tergesa menuju ruang BK berada. Yang kalau tidak salah ingat berada ditikungan beberapa langkah di depannya.
Arya setia mengekor di belakang Keyla, secara garis besar dia tau apa alasan Keyla datang ke sekolah adiknya. Kyla, adik perempuan itu bertengkar dengan temannya hingga membuat Keyla murka.
Tarikan napas kuat Keyla lakukan sebelum mengetuk pintu ruang BK. Sahutan terdengar beberapa detik setelahnya, ini rasanya lebih mendebarkan dibanding saat dia akan sidang skripsi. Mempertahankan keanggunannya, Keyla masuk matanya mengedar ke seisi ruangan. Hingga berhenti pada biang kerok yang duduk santai di kursinya tidak mengindahkan pandangan intimidasi yang dilayangkan wanita paruh baya di depannya.
Ah, wanita itu. Rasanya raut wajahnya masih sesadis dulu, Keyla menghela napas malas mendekatinya. Mereka yang berjumlah sembilan orang itu serempak menoleh padanya. Keyla meringis melihat sorot tajam Bu Nurjanah.
"Anda?" Tanya Bu Nurjanah.
"Kakak Kyla," jawab Keyla mendelik tajam pada sang adik yang menyeringai dengan pandangan terarah pada seseorang di belakang Keyla. Sial, ia melupakan keberadaan Arya dan KENAPA PRIA ITU HARUS IKUT MASUK.
Bu Nurjanah mengangguk, lantas mempersilakannya duduk di tempat Kyla semula. Keyla menganggukan kepalanya, tersenyum sopan pada pria yang duduk di kursi sebelahnya, sedari tadi pria itu terus menatapnya, membuat Keyla risi.
"Jadi begini, bapak dan Ibu. Kyla dan Lisa kedapatan berkelahi di koridor saat jam istirahat tadi. Saya sudah menanyai para saksi, dan mereka bilang keduanya bertengkar karena memperebutkan laki-laki," terang Bu Nurjanah.
Mata Keyla menyipit tajam pada sang adik yang terlihat tak acuh. Duduk di sofa ruang BK diapit kedua temannya. Adik kurang ajarnya itu malah menaik dan menurunkan kedua alisnya bangga dengan yang dilakukannya. Tuhan kenapa ujian sekali dia punya adik seperti Kyla.
"Dan diduga Kyla menjadi pelaku yang menyerang lebih dulu," Bu Nurjanah menyorot tajam pada Kyla, ditatap begitu Kyla justru memutar bola matanya malas. "Tapi saksi mata mengatakan Lisa lebih dulu memancing dengan kata-kata," tambahnya, beralih menatap gadis yang menunduk di dekat pria yang Keyla senyumi tadi.
Keyla ikut melihat gadis itu, meringis memperhatikan penampilannya. Keyla tau Kyla memang bukan lawan mudah dalam bergulat. Sebab Keyla juga sering berkelahi dengan adiknya itu, menyebabkan sang Nyonya Ambarwati mencak-mencak. Dan penampilan Keyla tidak jauh berbeda dengan gadis itu kala selesai berkelahi. Rambut sepanjang dadanya berantakan, wajahnya terdapat merah bekas cakaran. Ah adiknya itu paling malas menggunting kuku. Pakaiannya kusut dan terparah hingga sobek di bagian pinggangnya. Keyla berdigik membayabgkan seberapa bringasnya Kyla.
"Kami pihak sekolah akan memberikan sanksi tegas untuk keduanya. Terlebih lagi bagi Kyla yang suka membolos pelajaran." Keyla menghembuskan napasnya, pusing sekali kepalanya saat ini. Dipijitnya pangkal hidungnya. Hingga tangan besar seseorang hinggap di bahunya, menepuk pelan memberi semangat. Menengadah, Keyla menemukan wajah Arya yang tersenyum lembut padanya. Aish! Kalo begini bukannya tenang, Keyla malah semakin rancu.
"Dan untuk kamu Lisa, kami akan memberikan skorsing."
Keyla dan pria di sampingnya terhenyak, saling melirik satu sama lain. Sementara gadis bernama Lisa itu semakin menunduk dalam. "Loh kok? Ponakan saya salah apa yah Bu, kok diskorsing?" Tanya Pria gagah yang Keyla perkirakan usianya di atas Arya.
"Maaf sebelumnya Pak, saya mendapat laporan dari beberapa siswa bahwa ponakan anda ini sering pacaran dipojokan. Dan dia didapati berbuat tak senonoh, oleh karena itu kami pihak kesiswaan dan wali kelas sepakat untuk menskorsing Lisa," jelas Bu Nurjanah.
Dalam ketegangan itu, terdengar tawa cekikian dari arah sofa. Keyla melotot memperingatkan adiknya untuk menjaga sikap. Keyla jelas tau tabiat bu Nurjanah, jika sedang marah semua bisa kena imbasnya. Kyla mengedikan bahunya cuek, tersenyum mengejek pada Lisa.
Lisa mendesis merespon Kyla, hingga deheman Bu Nurjanah mengalihkan keduanya. "Untuk kalian berdua, ini menjadi peringatan terakhir. Jika saya sampai mendapati kalian berbuat ulah, jangan salahkan saya bila melakukan tindakan tegas," peringat Bu Nurjanah, matanya menyipit tajam. "Kalian sudah kelas dua belas, lebih baik sibuk belajar untuk ujian Nasional bukan malah memperebutkan laki-laki tidak jelas. Paham kalian?"
"Iya, Bu," sahut keduanya malas.
***
"
Ngapa lo liat-liat!" Sinis Kyla kala matanya bertemu pandang dengan Keyla yang menatap saksama dirinya. "Tau kok gue cantik," tambahnya percaya diri.
Keyla mendengkus keras. "Otak lo dimana sih? Ngapain berantem cuma gara-gara cowok doang. Malu-maluin banget!" Sentak Keyla, tangannya terjulur hendak mencekik Kyla. Gadis itu buru-buru bersembunyi di balik punggung Arya.
Beruntung parkiran sekolah sedang sepi jadi tidak ada yang melihat aksi mencak-mencak Keyla. Emosinya sudah sampai ubun-ubun, dan inginnya dia menghajar Kyla hingga puas.
"Key," panggil Arya lembut, "tenang. Jangan terbawa emosi."
"Tuh dengerin!" Seru Kyla menjulurkan kepalanya dari balik tubuh Arya.
Keyla berdecak kesal. Ini bukan kali pertama Keyla dipanggil ke sekolah Kyla, sebelumnya Keyla bisa mentolerir segala ulah yang dilakukan Kyla. Membolos dan terlambat yang menjadi rutinitas adiknya itu membuahkan hasil SP satu dari sekolah. Sedangkan sekarang perihal bertengkar Keyla jelas marah, pliss deh laki emang populasinya lebih dikit dari perempuan tapi masa diperebutin juga.
"Awas aja, gue bakal laporin hal ini sama mama," ancam Keyla menunjuk Kyla yang cuek tidak terpengaruh sama sekali.
"Silakan, gue tinggal bongkar balik rahasia lo. Iya kan calon kakak ipar?" Kyla mengedipkan sebelah matanya pada Arya, yang mengernyit heran. "Gerah banget di sini, balik yok. Dedek laper kakak." Tanpa disuruh, Kyla masuk ke dalam mobil SUV milik Arya dan duduk di kursi belakang.
Hembusan napas keras Keyla keluarkan, kesabarannya benar-benar diuji oleh Kyla. "Yuk pulang," ajak Arya. Keyla menurut saja saat Arya membukakan pintu mobil untuknya. Setelah itu Arya berlari menuju kursi kemudi.
"Duh, calon kakak ipar sweet banget. Pantes aja kakak gue yang buluk ini gagal move on," celetuk Kyla polos.
Dan kesabaran Keyla habis, secepat flash dia berbalik dan menarik rambut Kyla kuat hingga perempuan itu menjerit kesakitan. Arya tersenyum melihat tingkah keduanya.
***