Real Love

Real Love
Real Love #11



Akhir pekan menjadi hari yang ditunggu bagi setiap orang yang lelah dengan pekerjaan. Bersantai di rumah atau berjalan jalan menjadi pilihan untuk menikmati akhir pekan.


Melupakan sejenak banyaknya  pekerjaan yang menunggu di hari senin.


Sayangnya, semua itu hanya menjadi angan bagi Keyla. Entah dosa apa yang ia perbuat sampai untuk mendapat ketenangan saja rasanya susah sekali.


Apa tidak cukup selama lima hari penuh ia direcoki dengan Arya yang seolah memberinya harapan atau Keyla saja yang terlalu berharap?


Kehadiran Arya akhir kahir ini berhasil menyita perhatiannya, membawanya dalam kubangan masa lalu yang sakit namun menyenangkan. Iya Keyla memang sebodoh itu, sudah tau sakit bukannya menjauhi rasa sakit itu tapi malah terus berdiam di tempat.


Keyla menggelengkan kepalanya, kenapa bayangan kejadian siang kemarin kembali melintas di kepalanya. Untuk hari ini saja ia ingin damai jika tidak bisa mendapatkannya maka ia akan mambuatnya.


Sayangnya keinginan Keyla itu terlalu muluk-muluk, sampai untuk terwujud saja susah. Bagaimana bisa ia damai jika makhluk yang masuk dalam list menyebalkan dalam hidupnya sedang duduk santai di hadapannya.


"Bisa gak itu kakinya dienyahin. Ngerusak pemandangan aja," sebal Keyla mendelik sinis pada siempunya kaki yang dengan santainya tidak mengacuhkan keberadaannya.


Kyla, gadis yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas itu menoleh sekilas pada Keyla lalu berkutat kembali dengan ponselnya. Seakan belum puas, dengan Sengaja Kyla menggerakan kedua kakinya yang berada di atas meja menghalau mata Keyla yang sedang menonton televisi.


Sang kakak yang sudah hatam dengan kelakuan Kyla yang suka memancing alias memancing-mancing keributan. Lantas mengalah, merubah posisi tidurannya di sofa menjadi duduk. Padahal Keyla sudah sangat nyaman dengan posisinya tadi tapi mau bagaimana lagi adik kurang ajarnya itu tidak pernah bisa membuatnya senang barang sedikit saja.


Keyla mulai memposisikan dirinya dengan nyaman, memeluk bantal sofa di pangkuannya matanya tertuju pada tayangan infotaiment yang sedang booming-boomingnya membahas artis yang tikung menikung itu. Benar kata orang-orang, jodoh itu jorok. Itu contohnya bekas teman saja jadi jodohnya. Tapi terlepas dari itu namanya jodoh tidak ada yang tau bukan?


Rasa-rasanya Keyla baru saja meneguk rasanya ketentraman, sebelum kekesalan kembali menghinggapi hatinya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan adik tercinta yang tiada tara ingin ia musnahkan dari bumi ini.


"Hidup lo udah kebanyakan dosa, jangan nambahin dosa dengan nonton begituan," sindiran pedas dari mulut manis Kyla berhasil menguji kesabaran Keyla.


"Yang namanya gosip, gibah itu gak baik." sambungnya seolah belum puas memancing emosi Kyla.


"Berisik! Sok nasehatin orang padahal sendirinya doyan nyinyir di sosmed," balas Keyla tak mau kalah.


Mata Kyla memicing menatap Keyla, kepalanya lantas menggeleng dramatis. "Susah yah ngasih tau orang saraf. Dikasih tau soal kebaikan malah marah," ujarnya.


Keyla memutar bola matanya malas, Kyla bener-benar titisan Ambarwati, suka mendramatisir. "Mendengarkan apa kata orang itu gak papa, selagi baik. Tapi jangan sampe hidup juga dikendalikan apa kata orang,"   kata Keyla. "Dan juga liat dulu orang yang ngomongnya, jangan sampe yang nasehatin kelakukannya sama juga. Itu mah namanya orang buta nuntun orang buta." sambungnya telak.


Kyla bungkam, tidak menyangka Keyla akan berkata demikian. Tapi bukan Kyla Azzahra namanya jika kalah begitu saja. "SubhanAllah, jomblo yang kejebak di masa lalu barusan bersabda." Mata Kyla dibuat-buat berbinar, tangannya bertepuk tangan seolah tak menyangka dengan apa yang Keyla katakan.


Sementara itu, Keyla dibuat makin kesal saat Kyla dengan sengaja menyinggung perihal statusnya. Kyla memang benar-benar tahu caranya membungkam balik lawan bicaranya.


"Bangke!" umpat Keyla kesal kemudian melempar bantal sofa pada Kyla yang tertawa puas sudah memancing kemarahan Keyla. "Mati aja lo sono." seru Keyla kesal.


"Kalo gue mati entar jomblo satu ini makin kesepian dong," ejek Kyla.


"Anak siapa sih lo, ngeselin banget," komentar Keyla.


"Anaknya bapak Kamandanu dan ibu Ambarwati yang cantik jelita tapi laku," Kyla menjulurkan lidahnya, belum puas mengejek Keyla.


Tersulut, Keyla melepas sendal rumah yang dikenakannya berniat melempar Kyla dengan sendalnya itu. Tapi Kyla lebih tau kebiasaan Keyla, gadis itu lebih dulu berlari ke kamarnya. "Pergi jauh jauh lo dari gue!!" teriak Keyla marah.


Kyla yang sudah di dalam kamar melongokan kepalanya, kemudian berteriak. "Jadi jomblo jangan galak-galak, entar gak ada yang mau. Bahaya bisa-bisa jadi perawan tua!!" Setelah mengatakan itu Kyla menutup pintu kamarnya tak lupa ia juga menguncinya, takut-takut Keyla menyerangnya.


Sementara di ruang keluarga Keyla mencak-mencak kesal. Kenapa bisa ia punya adik semenyebalkan Kyla, yang bisanya hanya membuatnya darah tinggi saja. Kalo sudah begini, Keyla butuh pengalihan dari emosinya. Berdiam diri di rumah bukan lagi pilihan yang menyenangkan.


Keyla menghempaskan tubuhnya ke sofa, pipinya menggembung menahan emosi yang siap meluap-luap. Keyla kadang bingung kenapa ia mudah sekali terpancing emosi. Padahal jomblo juga bukan status yang hina. Apa mungkin ini ada sangkut pautnya dengan si mantan yang sudah punya tunangan sementara dirinya masih sendiri?


Suara dering ponselnya berhasil mengalihkan pikiran Keyla. Diliriknya ponsel yang berbunyi di atas meja. Benaknya menerka siapa orang yang menghubungi jomblo sepertinya. Keyla mendengkus, gara gara Kyla ia jadi mengatai dirinya sendiri jomblo.


Maura cantik💋 calling


Keyla bergidik jijik melihat id challer si penelpon. Sejak kapan ia memberi nama menjijikan seperti itu. Ah ini pasti ulah Maura yang suka menjarah ponselnya. Pasti Maura juga yang sudah menyusupkan nomor ponsel Arya.


"Apa?!" tanya Keyla sewot, sebelum si penelpon bersuara.


"Eh santai buk, jangan emosi gitu." sahut Maura.


Keyla menghela napasnya, inilah kebiasaan buruknya selalu melampiaskan kekesalannya pada orang lain. "Ngapain nelpon?" tanya Keyla lagi nada suaranya lebih bersahabat.


"Mau ngajak mangkal," balas Maura bercanda.


"Serius deh Ra, gue lagi emosi ini jangan bikin gue tambah emosi," sebal Keyla malas berbasa basi.


Tapi Maura tidak terpengaruh sama sekali. "Kenapa lo? Abis kena nyinyiran siapa? Emak lo apa adek lo?"


Ke tiga sahabat Keyla sudah sangat paham bagaimana tabiat ibu dan adik Keyla. Yang sama sama memiliki mulut nyelekit. Tidak heran jika Keyla terkadang malas diam di rumah.


"Pusing gue, bocah satu itu minta gue rukiyah kali yah. Makin hari kelakuannya makin bikin pala gue mau meledak aja." curhat Keyla, tangannya memijat pangkal hidungnya.


"Ujian hidup jomblo kaya lo emang berat yah." niat hati Maura ikut prihatin dengan nasib sahabatnya. Sayangnya ia salah memilih kata.


"Berisik! Gak usah bawa-bawa status gue!" ketus Keyla.


"Eh sensi amat, kaya kucing kebelet kawin." celetuk Maura.


"Maura!" geram Keyla.


"Iya-iya, marah mulu gak asik ah." ujar Maura mengalah.


"Lo sebenernya nelpon gue mau ngapain sih?" tanya Keyla kembali ke topik awal.


"Oh iya gue lupa." Sepertinya Maura baru mengingat niat awalnya, maklum saja mengejek Keyla selalu menyenangkan membuatnya jadi pelupa. "Gini, acara tunangannya si Tasya kan tinggal beberapa hari lagi. Gue mau ngajak lo buat beli baju."


"Buat apaan?"


"Buat dipake lah Key, masa buat dijual lagi," sahut maura gemas.


"Iya gue tau, tapi apa mesti banget beli baju baru? Baju gue masih banyak yang belum dipake. Lagian gue lagi bokek, dapet kerja juga belum lama, penghasilan masih dari orang tua." ujar Keyla.


"Ayolah Key! Kalau enggak lo temenin gue belanja deh. Siapa tau nanti ketemu jodoh tak terduga kan," bujuk Maura.


Keyla berpikir sejenak, sepertinya pergi ke mall bukan pilihan yang buruk. Siapa tau nanti ia bertemu pria tampan pontensial yang bisa di bawa pulang. Eh maksudnya untuk dikenalkan pada orang tuanya.


Senyum miring terlukis di wajahnya, oke Keyla saatnya pencarian belahan jiwamu dimulai. "Oke." jawab Kyla.


Bisa Keyla dengar Maura berteriak senang di seberang sana. "Kalo gitu setengah jam lagi kita ketemu di sana."


Alis Keyla mengernyit. "Eh lo gak jemput gue?" tanya Keyla heran.


"Idih ngapain gue jemput lo segala. Makanya punya pacar sana biar ada yang antar jemput." Maura lantas mematikan panggilan telepon tersebut secara sepihak, membuat Keyla mengumpat kesal.


Sialan


****


"Kita mau kemana nih?" tanya Keyla.


Siang ini Keyla mengenakan blouse warna biru muda model sabrina dipadukan dengan skinny jeans yang membalut kaki jenjangnya. Tidak lupa heels setinggi sepuluh centi melengkapi penampilannya. Rambutnya Keyla ikat menjadi satu, mengingat cuaca di luar sana sangat panas membuat Keyla enggan menggerai rambut hitamnya.


Sementara Maura mengenakan drees floral selutut yang tampak manis dikenakannya.


Maura mengetukan jari telunjuknya di dagu. "Menurut lo kita kemana dulu?" tanya Maura balik.


Keyla memutar bola matanya keki, setelah tadi Maura mambuatnya menunggu selama dua puluh menit lantas sekarang malah membuat mereka berkeliling tidak jelas begini.


"Gue nanya lo malah balik nanya," cibir Keyla.


Maura melirik wajah Keyla yang bertekuk masam. Mood sahabatnya benar-benar tidak bagus.


"Yaudah, kita keliling aja dulu siapa tau nemu yang bagus," usul Maura.


Mereka pun berjalan, sesekali Maura mengajak ngobrol Keyla. Awalnya wanita itu diam, mungkin marah dan malas berbicara dengan Maura. Namun saat Maura mambahas pria tampan Keyla langsung menyahut. Moodnya berubah baik setelah melihat pria tampan melewati mereka.


"Lumayan lah buat dijadiin tumbal kalo ada yang nanya kapan nikah," balas Keyla, matanya tak berhenti jelalatan mencari mangsa segar berdompet tebal. "Sayangnya aja udah punya anjing peliharaan." yang dimaksud dengan anjing peliharaan di sini adalah kekasih si pria.


Mereka memang suka memberikan julukan tersendiri untuk orang yang tidak mereka sukai.


Maura mengangguk setuju. "Jaman sekarang laki laki ganteng trus jomblo jarang."


Entah sudah berapa lama mereka berkeliling, hingga pembicaraan itu harus terhenti karena keduanya juga sudah mulai lelah. Apalagi Keyla, kakinya sedikit kebas akibat sepatu heelsnya.


"Capek nih gue," keluh Keyla. "lo jadi gak sih beli bajunya?"


"Jadilah, coba deh kita ke toko yang di sana siapa tau ada diskon." ujar Maura menunjuk salah satu toko yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Ayok!" ajak Keyla menarik tangan Maura untuk segera ke sana. Lebih cepat lebih baik, agar penderitaanya cepat selesai.


Naasnya, yang namanya wanita tidak pernah cepat dalam hal berbelanja. Selalu ada pertimbangan yang panjang sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu. Terlebih jika ada diskon, beh makin lama sudah.


Bahkan Keyla saja yang semula tidak berniat membeli pakaian jadi tergoda. Diskon dan pria tampan sama menggoda imannya.


Keyla menggigiti bibir bawahnya, berpikir untuk membeli barang satu pakaian atau tidak. Mengingat ia belum mendapatkan penghasilan sendiri.


"Kalau mau ambil aja Key, gue yang bayar," suara dari arah belakangnya membuat Keyla spontan menoleh ke arah Maura.


Matanya memicing, curiga dengan perkataan Maura barusan. "Abis ngepet dimana lo mau bayarin gue segala." ujarnya sangsi. Yah walaupun harus Keyla akui pekerjaan Maura yang seorang Arsitek pasti menghasilkan gaji besar.


Maura mencibir. "Ini gue lagi mode malaikat baik hati malah gitu."


Keyla mengedikan bahunya tak acuh. "Heran aja biasa juga pelit lo," jawabnya lugas.


Keyla lantas meninggalkan Maura dan kembali berkeliling mencari pakaian yang diinginkannya. Tangannya sibuk memilah milah, mencari gaun yang sekiranya sesuai untuk acara pertunangan Tasya yang akan di gelar dengan cukup meriah.


"Key! Sini deh." panggil Maura, tangannya melambai menyuruh Keyla mendekat.


Keyla menurut, dia menghampiri Maura yang sedang memegang sebuah dress merah.


"Lo coba sana!" perintah Maura menyerahkan dress di tangannya.


Alis Keyla menukik. "Kok gue yang nyobain?" tanyanya bingung.


"Udah jangan bawel, lo coba aja." Maura mendorong Keyla menuju ruang ganti.


Akhirnya Keyla parsah menuruti keinginan Maura untuk mencoba gaun tersebut. Lama Maura menunggu sampai rasanya ia ingin mendobrak pintu ruang ganti tapi Keyla lebih dulu keluar.


Mata Maura bebinar, melihat gaun yang dipilihnya sangat pas ditubuh Keyla, senyumnya mengembang memikirkan Keyla yang pasti akan sangat cantik hari itu.


"Oke kita beli yang ini," putusnya, lantas mendorong Keyla kembali ke dalam ruang ganti. Keyla hanya bisa menggerutu dengan kelakuan seenaknya Maura.


****


"Lo ngapain natap gue terus sih?" tanya Maura risih.


Pasalnya semenjak mereka keluar dari toko tadi, Keyla tidak berhenti menatapnya. Iya kalo menatap biasa tapi ini Keyla menatap aneh dirinya.


"Aneh aja lo mau bayarin baju gue," ucap Keyla jujur.


Mengingat baju yang Maura belikan untuknya cukup mahal bagi Keyla, walaupun sudah di diskon tetap saja mahal.


Maura menelan ludahnya susah payah, berharap Keyla tidak berpikir aneh-aneh. "Gue baik salah gua jahat lebih salah lagi," protes Maura.


"Anggap aja gue lagi sodakoh sama fakir kasih sayang kaya lo." sambungnya.


Bibir Keyla mengerucut kesal, hari ini seolah menjadi hari bully dirinya. Keyla memilih diam sudah malas meladeni Maura.


"Sekarang mau kemana?" tanya Keyla mengalihkan pembicaraan.


"Makan aja, gue laper."


Keyla mengangguk setuju. "Gue juga."


"Mau makan apa?" tanya Maura.


"Yang ada nasinya, gue laper banget soalnya." Peduli amat dengan berat badan yang akan naik. Itu mah urusan belakangan, yang penting Keyla bisa merasakan nikmatnya dunia.


"Yaudah makan di restoran nusantara aja." ajak Maura.


Keyla diam, batinnya berperang. Inginnya dia menolak ajakan Maura, tapi nanti Maura akan berpikir macam-macam. Akhirnya Mereka turun satu lantai dari tempat mereka berada saat ini. Sampai di tempat yang di tuju, mereka bisa melihat ke dalam restoran yang cukup ramai. Seperti namanya restoran ini menyediakan makanan nusantara yang rasanya tidak diragukan lagi.


"Yakin makan di sana?" tanya Keyla sangsi, sebernarnya ia sedikit enggan untuk makan di sana.


"Jangan karena yang punya restorannya kak Arya lo jadi gak mau masuk gini deh Key," ujar Maura kesal akan sikap Keyla yang selalu menghindar. "Lagian kak Aryanya juga belum tentu ada."


Setelah mengatakan itu, Maura menarik lebih tepatnya menyeret Keyla untuk masuk ke dalam. Keyla menghembuskan napasnya, memilih mengalah. Walaupun hatinya diliputi perasaan takut dan gelisah entah karena apa.


Maura menghentikan langkahnya, begitupun dengan Keyla. Mata Maura melihat seisi restorant, mencari tempat kosong yang strategis.


Sedangkan Keyla lebih memilih menjelajahkan matanya, siapa tau ada sang masa depan di sini. Tapi matanya malah menemukan sosok yang menyita perhatiannya akhir-akhir ini baru saja keluar dari ruangannya.


Atensinya beralih pada sosok wanita di samping pria itu. Tangan wanita itu begelayut manja di tangan kekar si pria. Dari tempatnya berdiri Keyla bisa melihat si pria yang beberapa kali mencoba melepaskan tautan tangan si wanita seolah risih dengan kontak fisik itu. Atau itu hanya perasaan Keyla saja?


Keyla menggeleng kuat, menepis segala hal yang bersarang di otaknya. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia sudah tidak tepengaruh dengan segala hal yang bersangkutan dengan dia--Arya.


Baru saja Keyla hendak mengalihkan pandangannya, objek yang ia lihat tadi lebih dulu melihatnya. Sejenak keduanya saling menetap, Keyla merasa tatapannya seolah terkunci. Sampa-sampai untuk mengalihkan pandangannya saja terasa berat. Tidak ada ekspresi berarti yang Keyla lihat di wajah Arya.


Aksi itu harus terhenti, saat si wanita yang tak lain Melati menarik paksa Arya yang diam saja.


Keyla lekas menarik napasnya dalam-dalam, baru sadar bahwa sedari tadi ia menahan napasnya. Rasanya paru-parunya sesak sekali, sampai ia harus memegangi dadanya.


Maura menatap sendu Keyla, sedari tadi ia melihat aksinya. Tidak bisa dipungkiri ia merasakan apa yang Keyla rasakan. Sebagai sahabat ia ingin Keyla bahagia, dan ia berjanji akan membuat sahabatnya bahagia.


"Key, buruan. Jangan ngelamun mulu." tegur Maura, ekspresi wajahnya ia buat kesal.


Bagi Maura bersikap seolah tidak tau apa-apa itu kadang perlu. Karena terkadang tidak semua orang ingin terlihat menyedihkan, maka buatlah mereka kesal. Dengan itu setidaknya pikiran mereka akan teralihkan.


"Lama lo ah!" dengkus Maura. Lantas menarik tangan Keyla yang hanya diam saja.


Mereka sudah duduk saling berhadapan. Keyla sedikit menyesal karena diam saja saat Maura mendudukannya tadi. Sekarang ia harus melihat secara langsung pasangan yang sangat serasi itu.


Bibirnya tertarik, menghasilkan senyum miris. Keyla seolah ditampar oleh kenyataan bahwa Arya begitu serasi dengan Melati yang cantik dengan balutan dress brukat ungu yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ditambah dengan riasan wajah yang semakin menambah kecantikannya. Tubuhnya yang bak model benar-benar membuat para wanita iri. Termasuk dirinya, yang tidak ada apa-apanya.


"Gue tau itu sakit. Melihat orang yang kita cinta bersama wanita lain." ucap Maura, menatap objek yang sedang Keyla lihat.


Keyla gelagapan, kenapa ia bisa melupakan keberadaan Maura. "Ngomong apa sih lo, gajelas banget," elak Keyla, memilih fokus pada buku menu di tangannya.


Maura menghela napasnya, hatinya menjerit, sampai kapan Keyla akan begini. "Jangan terus-terusan membohongi diri sendiri Key," kata Maura menatap Keyla yang menghindari tatapannya.


"Kalo emang masih cinta sama dia ya gak papa. Jangan mengelak apa yang hati lo rasa. Itu hanya akan nyakitin diri lo sendiri." sambung Maura saat Keyla memilih diam.


"Gue menyedihkan yah Ra?" tanya Keyla menatap Maura, "masih berharap sama orang yang gak mungkin gue miliki, baik dulu, sekarang atau nanti." mungkin ini yang membuat Keyla merasa bertemu dengan Arya adalah hal yang ia takutkan. Karena ia tau bahwa dirinya masih berharap akan rasa yang tak pernah ada.


"Semua orang berhak bahagia Key," sahut Maura.


"Iya, semua orang memang berhak bahagia. Tapi tidak dengan merusak kebahagian orang lain." tutur Keyla tersirat kesedihan dalam nada bicaranya. Apalagi saat matanya kembali melihat ke meja pasangan itu berada.


Keyla putuskan, mulai hari ini ia akan lebih membentengi hatinya. Karena ia tidak siap sakit hati yang disebabkan oleh angan-angan yang sebenarnya ia ciptakan sendiri


****