Real Love

Real Love
Real Love #3



Bertemu mantan disaat hati masih labil itu benar-benar menyesakkan. Setiap hal yang kita lakukan selalu berakhir memalukan. Seperti yang Keyla lakukan, menatap Arya lama seperti itu benar-benar memalukan. Apalagi sampai ditertawai oleh teman-temannya, mereka mengatakan bahwa Keyla terpesona. Malu Keyla akui, kenyataan itu memang benar. Tapi membuat dirinya menyedihkan seperti dulu tidak akan Keyla lalukan.


Maka, saat teman-temannya menggoda, Keyla langsung memutuskan tatapannya. Dalam hati ia berharap Arya tidak berpikir bahwa Keyla masih menyukainya. Karena Keyla tidak yakin bagaimana hatinya saat ini. Selama lima tahun ini, hatinya baik-baik saja. Pernah sekali rindu, tapi tidak berlangsung lama. Dan saat bertemu Arya kembali, hatinya bersikap aneh.


Terlalu membingungkan untuk di cernanya. Memikirkan semua itu, hanya membuatnya pening saja. Masa lalu itu memang benar benar berbahaya. Bisa memperbaiki sekaligus merusak masa depan.


Kejadian beberapa hari yang lalu membawa Keyla pada kegalauan berlarut dihatinya. Kenyataan yang menimpanya beberapa hari terakhir ini benar-benar mengganggunya. Apalagi kenyataan yang menyebutkan bahwa Arya akan menikah. Sangat tidak disangkanya.


Memang apa yang kamu harapkan Key? Arya akan bersanding denganmu? Huh! Mimpi saja! Bisik sisi iblisnya.


Yah itu hanya mimpi. Pertemuan kembali dengan Arya pun bagaikan mimpi bagi Keyla. Mimpi yang selalu menghantuinya setiap malam.


Untung saja saat itu, Keyla tidak terlibat percakapan dengan Arya. Bisa dipastikan hatinya akan benar-benar makin mengkhawatirkan. Menatap Arya langsung seperti itu saja ia sudah tidak tahan. Apalagi sampai berbicara, dan topik yang dibicarakan tentang masa lalu. Bisa dipastikan ia akan terjebak dalam lingkaran masa lalu.


Keyla menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Memukul-mukul kepalanya pelan, mengusir pemikiran dikepalanya yang berhubungan dengan Arya. Keyla sudah membuang jauh-jauh nama pria itu dari hati dan pikirannya selama lima tahun terakhir ini, lantas kenapa baru bertemu dua kali saja ia sudah kepikiran lagi.


Anak gadisnya ibu Ambarwati memang lemah imannya. Mudah sekali tergoda, apalagi godaannya macam Arya. Udah hot, menyegarkan lagi. Berasa minum air es disaat cuaca panas. Menyejukan sekali.


"Kenapa lo kak? Mulai gila?"


Keyla menghentikan tingkah absurdnya. Bersedekap dada, dengan mata melotot tajam pada Kyla yang masuk bergitu saja ke dalam kamarnya.


"Ngapain ke sini?" Keyla balik bertanya, tak menghiraukan pertanyaan tidak bermutu Kyla sebelumnya.


"Semua orang nungguin lo buat sarapan. Elo malah asik dandan mulu. Jomblo sih." dengus Kyla, lekas pergi dari kamar Keyla.


Keyla mengerutkan alisnya tak mengerti, "Apa hubungannya coba. Dasar adek gak nyambung."


***


Jika mungkin biasanya, orang lain akan diberi wejangan untuk tidak grogi dan terus berdoa saat akan interview oleh orang tuanya. Tapi Keyla sangat berbeda, sedari tadi saat dirinya bergabung untuk sarapan. Ibu Ambar terus saja mengoceh. Memperingkatkan Keyla supaya tidak mempermalukam dirinya. Mengingat reputasinya yang sering membuat kedua orang tuanya geleng geleng kepala merupakan hal wajar bila Ambar menyuruhnya begitu.


Lagipula Keyla tidak berniat membuat dirinya malu. Selama ini hidunya dipenuhi rasa tak tau malu akan kelakuannya. Selain wejangan itu, ibu Ambar juga mewanti-wanti Keyla untuk bisa bersikap anggun. Ini sebenarnya agak tidak masuk akal di otaknya. Keyla ini mau interview bukannya mau ikutan miss indonesia. Yang ketiga, Baginda ratu menyuruh Keyla agar selalu tersenyum, tanpa diperintahkan pun anaknya ini kan memang suka senyum. Iya, senyum senyum sendiri.


Dan yang terakhir benar-benar aneh, "Nah yang terakhir, jangan lupa, pulang pulang harus bawa nama calon mantu Mama. Awas kalo enggak yah kamu!" ancam Ambar sembari melotot ke arah Keyla.


Keyla bergidik melihatnya, sungguh menyeramkan. Keyla tidak mengerti dengan pikiran ibunya. Dikira dia mau kebiro jodoh apa. Dia ini mau interview buat kerja. Bukan interview buat mendapatkan pasangan hidup. Ibunya aneh-aneh saja. Beruntung Tuan Kamandanu yang terhormat membantu Keyla untuk terlepas dari wejangan pagi yang tidak berarti itu. Sayangnya, Nyonya Ambarwati tidak akan menyerah begitu saja sebelum Keyla mengiyakan ucapannya.


Ngomong ngomong, kenapa juga ibunya nyuruh dia bawa mantu segala. Keyla belum ada niatan nikah muda, lagipula calonnya saja belum ada. Usia sepertinya lebih bagus digunakan untuk berkarier. Tapi dasar ibunya, selalu saja mempunyai jawaban yang membuatnya bungkam.


"Justru karena kamu masih muda, waktu kamu buat memilih pasangan hidup itu masih banyak. Terlalu fokus berkarier kadang membuat orang lupa dengan usia mereka. Kalo udah mepet mau uzur suka susah nyari jodohnya. Nah makanya itu, kamu harus nyoba buat nyari dari sekarang." jawab Mamanya. "Masa ibunya mantan kembang desa, sekarang anaknya gak laku laku sih. Malu lah, tetangga pada nanyain kenapa Keyla gak pernah bawa cowok ke rumah? Gak ada yang mau yah sama dia? Kok kalah sama Kyla. Mama kan gak suka." sambung Ambar.


Keyla menghela napasnya, kenapa pula tetangga di dekat rumahnya pada rempong semua. Mau dia laku atau enggak juga gak berpengaruh buat mereka kan. Mereka tidak tau saja seberapa banyak mantan Keyla.


Ish! Emak emak emang rempong, bisanya gosip aja. Liat nanti, Keyla akan melepas kejomblowatiannya. Tunggu saja pembalasanku wahai ibu ibu kompleks doyan gosip! Janji Keyla dalam hatinya.


Melihat Keyla yang diam saja, Ambar kembali melanjutkan kutbah paginya. "Mama gak neko neko kok kalo soal calon mantu. Cukup mapan, baik sholeh sama bertanggung jawab aja. Kalo ganteng mah itu bonus, yang penting bisa mengayomi kamu."


Keyla menipiskan bibirnya, tidak ada yang bisa menyelamatkannya dari situasi ini kecuali dirinya sendiri. Ayahnya sudah menyerah melawan kebawelan ibunya, Kyla apalagi. Gadis remaja itu masih sayang uang jajannya. Membantu keyla sama dengan siap dipotong uang jajan. Sialan sekali.


"Iya iya ma, Nanti Keyla bawain, sekalian kalo bisa Keyla dapetnya ustad biar bisa rukiyah mama. Biar gak bawel sama narsis mulu." cibirnya.


Nafsu makan Keyla menguap begitu saja. Tanpa membiarkan Ambar mengeluarkan kembali argumennya. Keyla langsung menyerobot tangannya, mencium punggung tangan wanita galak sekaligus narsis itu. Bukannya ingin bersikap tidak sopan, tapi Keyla tidak mau moodnya hancur. Dan berakibat pada gagalnya wawancara kerjanya nanti.


***


Saat sampai di PT. Nata Perkasa, perusahaan tempatnya akan melakukan interview. Keyla melupakan wejangan pertama yang ibunya berikan. Saat memasuki lobi perusahaan yang bergerak di bidang furniture. Keyla tidak bisa membuat dirinya untuk tidak takjub dengan desainnya. Perusahaan ini sama seperti perusahaan yang lainnya hanya saja desainnya benar benar memukau dimata Keyla. Lobi ini seperti memiliki tema tersendiri. Garden di dalam ruangan.


Keyla baru pertama kali datang ke sini. Saat memasukan lamaran, ia melakukannya lewat Aurel. Wanita itu yang memberitahukan ada lowongan di sini. Keyla hanya menyiapakan cv dan juga ijazah saja selebihnya dilakukan oleh Aurel. Aurel bilang pemilik perusahaan ini adalah teman Vito. Keyla tidak menanyakan siapa itu. Baginya itu tidaklah penting. Yang penting ia bisa cepat cepat memdapat pekerjaan.


Semoga berhasil, bisiknya. Keyla melangkah menuju resepsionist dengan pasti. Senyuman terpatri di wajahnya. First impression itu sangatlah bagus, untuk itu Keyla akan membuat kesan yang bagus pada dirinya.


"Permisi!"


"Iya?" wanita berlipstick merah maroon itu mendongak. Menatap Keyla sebentar sebelum kemudian tersenyum. "Ada yang bisa dibantu?"


"Say--"


"Ah kamu pasti Keyla Anindyta? Yang mau interbiew kan!" serunya tiba tiba memotong ucapan Keyla.


Keyla tersenyum canggung, tidak suka dengan aksi wanita itu yang seenaknya memotong perkataannya. Jika bukan demi kesopanan, Keyla pasti sudah menyemburnya habis habisan. Untung Keyla sedang dalam mode gadis manis dan sopan.


"Iya, saya Keyla."


"Mbak Keyla sudah ditunggu sama Pak Haris di ruangannya." ujar wanita itu.


Perusahaan ini memang jam kerjanya yang pagi banget apa gimana. Sejak Keyla datang ia tidak menemukan secuilpun makhluk sejenisnya yang berkeliaran. Kecuali satpam di depan dan juga wanita yang sedang ribut di depannya ini. Padahal waktu masih pukul delapan lebih. Sepertinya pemilik perusahaan ini benar benar disiplin akan waktu.


"Bisa antarkan saya ke ruangan pak Haris?" pinta Keyla.


Wanita itu memgangguk, namun tidak langsung beranjak dari posisinya. Sedari tadi Keyla lihat wanita ini sibuk merias wajahnya. Dari mulai membuat alis, menyapukan bedak sampai memakai lipstik. Sejauh matanya melihat, Keyla tidak menemukan kerusakan dalam riasannya. Lantas kenapa wanita ini sibuk sekali sih, Keyla yang melihatnya jadi keki sendiri. Ia berasa sedang melihat tutorial make up tapi yang melakukan bocah yang baru tau apa itu make up. Tidak rata dan terkesan amburadul.


Aish! Menghina orang kadang selalu membuat Keyla lupa diri. Ia sampai tidak ingat tujuannya. "Maaf mbak," Keyla menginterupsi, saat wanita itu hendak menyapukan bedaknya. "Bisa antarkan saya sekarang." Keyla berbicara selembut mungkin, namun dengan sedikit paksaan di dalamnya.


Seakan sadar sudah membuat Keyla menunggu, wanita itu segera membereskan perlengkapannya. "Maaf, biasalah perempuan suka rempong." ringisnya malu.


Keyla tersenyum tipis, tidak menjawab. Dalam hatinya ja memaki kelakuan wanita itu yang membuat paginya yang indah menjadi buruk.


Wanita bernama Metta itu berjalan di depan Keyla. Menuntun Keyla untuk menemui bagian HRD. Sesekali wanita itu mengajak Keyla berbicara. Tidak buruk juga, wanita itu ternyata pandai berbicara. Keyla jadi merasa bersalah karena sudah menjelekannya dalam hati.


Mereka berhenti di lantai tiga, perusahaan ini terdiri dari lima lantai. Sepanjang jalan menuju ruang pak Haris. Banyak pasang mata yang memperhatikannnya. Ada dari mereka yang menyapa Metta.


Metta mengetuk pintu ruangan Pak Haris, saat ada suara yang menyuruh masuk. Metta membuka pintuz lantas masuk ke dalam dengan Keyla yang mengekorinya.


"Semoga berhasil Keyla!" bisik Metta tulus, sebelum wanita itu undur diri


Keyla menghembuskan napasnya pelan. Seorang pria paruh baya yang tak lain Pak Haris itu tersenyum menyambutnya. Pak Haris langsung menyuruhnya duduk di depannya. Keyla menarik napasnya, berdoa semoga semua lancar.


***


Setelah lulus wisuda, Keyla ditawari untuk bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta oleh dosennya. Pekerjaan yang sama dengan yang ada di Nata Perkasa. Yaitu menjadi sekretaris sesuai dengan jurusan yang diambilnya saat kuliah. Saat itu, Keyla menolak tawaran dari dosennya itu. Bukannya sombong, hanya saja Keyla tidak mau memperpanjang dirinya tinggal sendiri di Jakarta. Ia sudah merindukan keluarganya. Makanya dia lebih memikih pulang ke Bandung dan mencari pekerjaan di sini.


"Selesai juga." gumamnya. Keyla meregang otot-ototnya yang kaku. Ia tidak menyangka acara interview itu akan berjalan lama. Duduk selama hampir tiga jam membuat punggung dan pantatnya terasa kebas.


Seharusnya interview itu tidak akan memakan waktu lama jika saja Pak Haris tidak mendadak mendapatkan titah rapat mendadak dari sang pemilik perusahaan.


Semuanya berjalan lancar sesuai harapannya. Walau tadi Keyla sempat kesal karena harus berdiam diri dulu sendiri sementara Pak Haris rapat. Sepanjang wawancara itu, Keyla menjawab setiap pertanyaan dengan tenang. Dan Keyla sangat senang setengah mati karena ternyata ia diterima. Pak Haris bilang, Keyla merupakan rekomendasi dari si pemilik perusahaan. Selebihnya semuanya karena memang Keyla layak mendapatakn pekerjaan ini. Nilai nilainya juga bagus.


Sebebarnya Keyla masih bingung, mengapa pemilik perusahaan Nata Perkasa ini terkesan mengenalnya. Keyla saja tidak tau siapa nama pemiliknya. Tapi itu tidak masalah baginya, yang penting Keyla si jomblo sudah tidak pengangguran lagi.


Keyla melirik jam tangannya. Sudah waktunya makan siang, para karyawan juga sudah mulai keluar meninggalkan pekerjaan mereka. Keyla mengelus perutnya yang sedikit berbunyi. Rasa lapar menderanya, Keyla harus bergegas untuk pulang.


Panas terik matahari menyambut Keyla saat wanita itu keluar dari gedung Nata Perkasa. Wanita itu mengibaskan rambut ikalnya sebentar, sebelum melanjutkan langkahnya. Langkah kaki Keyla goyah saat heels delapan centinya tidak sengaja menginjak batu.


"Aw!" ringis Keyla saat telapak tangannya bergoresan dengan jalan. Keyla membersihkan tangannya yang kotor. Pupil mata Keyla melebar melihat hak sepatunya patah. Wanita itu menganga tak percaya.


Masih dengan posisi terduduk di lantai jalanan. Tangan Keyla meraih sepatunya yang patah. Masih tidak percaya heels pemberian Fandi dua bulan lalu bisa patah begitu saja.


"Si kutu kupret Fandi ngasih gak ikhlas kali yah. Apa gak cukup hati gue aja yang patah. Kenapa pula sepatu gue mesti patah juga." gerutu Keyla, gadis itu berusaha bangkit. Malu jika ada yang mellihat ia duduk lesehan seperti ini. Citra wanita cantik dan anggunnya bisa hilang.


Belum sempat berdiri, sepatu hitam mengkilat berhenti di depan Keyla menghentikannya niat untuk berdiri. Keyla mengernyit, berusaha bangkit setelah sebelumnya melepas sepatu sebelahnya


"Mbak gak papa? Kalo jalan hati hati mbak, jadinya jatuh kan."


Keyla memutar bola matanya malas. Kenapa orang-orang selalu mengatakan hati hati disaat orang itu sudah terjatuh.


"Nggak papa mas!" jawabnya sebal.


Sedikit kesal dengan respon pria yang entah siapa itu. Seharusnya pria itu membantunya berdiri, bukan hanya memberikan kata-kata mutiara seperti tadi.


Keyla menepuk nepuk roknya yang kotor, membiarkan sepatunya tergeletak begitu saja. Sementara kaki putihnya mengenai jalanan panas. Pria di hadapan Keyla terus memperhatikannya yang membersihkan pakaiannya. Rambut lurus sepunggungnya menutupi wajah Keyla yang menunduk. Membuat pria itu tidak bisa melihat wajahnya.


Sebuah tangan dengan sapu tangan terulur di depan wajah Keyla yang masih menunduk. "Buat bersihin tangan mbaknya."


Keyla menerima sapu tangan itu, tidak enak menolak niat baik pria itu. "Makasih Ma--"


Perkataan Keyla terhenti ditenggorokannya, melihat siapa pria yang berdiri di hadapannya. Diteguknya ludah susah payah. Kenapa harus bertemu lagi tuhan. Erang hatinya gusar.


"Kita ketemu lagi, Keyla." Arya tersenyum senang, berbading terbalik dengan Keyla yang justru menampilkan ekspresi ketakutan.


Sesaat, keheningan menyelimuti keduanya. Bergelut dengan pikiran masing-masing, bertanya pada dirinya kenapa mereka berturut turut bertemu tiga kali.


Arya berdeham, mencoba mengembalikan kesadaran Keyla. Namun wanita itu masih setia terdiam menatap lurus padanya, membuat Arya jadi salah tingkah sendiri. "Keyla." panggil Arya ragu, tangannya melambai di depan wajah Keyla.


Keyla mengerjap, lekas mengalihkan pandangannya. Rasa malu datang menyergapnya. Kenapa bisa kesalahan waktu itu terulang kembali. Tidak bisakah matanya itu tidak menatap Arya seperti itu. Sial, pesona Arya sepertinya semakin kuat.


"Key, kamu gak kepanasan?"


"Hah?"


Dagu Arya menunjuk ke bawah dimana kaki Keyla berada. Keyla melihat kebawah, kaki telanjangnya memerah. Kenapa bisa dia tidak menyadari kakinya yang kepanasan mengenai aspal jalan. Terlalu kaget bertemu Arya membuat Keyla lupa akan kakinya.


Keyla meringis, sekarang rasa panas mulai menjalar dari kakinya. Arya memperhatikan semua yang Keyla lakukan, pria itu menghela napasnya. Keyla masih sama, selalu saja teledor.


"Ikut aku." tanpa menunggu persetujuan dari Keyla, Arya menarik pelan tangan wanita itu agar mengikutinya.


Keyla terperangan tak percaya, matanya menatap tangannya yang Arya pegang. Rasa senang menyelimuti hatinya. Namun fakta tentang Arya yang akan menikah. Membuat Keyla tersadar dari alam bawah sadarnya. Tidak seharusnya Keyla merasakan sesuatu itu pada Arya. Kisahnya dan Arya sudah lama berakhir.


***