
Keyla melangkah tergesa gesa mendekati pintu utama. Emosi menguasainya saat ini. Fakta yang ia temukan hari ini, membuatnya marah sekaligus kesal.
"Aurel!!" teriak Keyla, tangannya menggedor pintu rumah Aurel.
Peduli setan dengan tetangga Aurel yang terganggu karena teriakannya. Terserah orang akan berpikir apa tentangnya, yang bertamu di waktu petang seperti sekarang. Keyla butuh penjelasan Aurel sekarang.
"Aurel!"
Sekali lagi Keyla meneriaki nama Aurel, tangannya masih senantiasa menggedor pintu rumah Aurel. Tangannya sampai memerah saking kuatnya ia memukul pintu. Keyla mengatur napasnya, menarik dan menghembuskannya secara perlahan.
Tangannya terangkat, siap menggedor pintu kembali, tapi pintu di hadapannya lebih dulu terbuka. Keyla mengernyit, saat tak menemukan orang yang membuka pintu. Sampai suara anak kecil terdengar, ia menundukan kepalanya. Menemukan tampang kesal di wajah anak Aurel.
"Anti jangan teriak teriak. Ini rumah bukan hutan anti. Nanti di marahin tetangga." omel anak itu.
Tangannya yang kecil berkacang pinggang menatap Keyla. Matanya menyiratkan permusuhan. Keyla sampai dibuat meringis.
Keyla tersenyum paksa, mana mungkin ia mengamuk di hadapan anak kecil. "Hehe... Maafin anti yah Varo."
Tangan Keyla terulur untuk mengelus rambut bocah laki laki itu. Naasnya, anak Aurel itu malah menghindar. Membiarkan tangannya menggantung menyentuh udara. Keyla mencoba bersabar Alvaro memang suka membuat kesal. Beda sekali dengan Alvero yang cenderung pendiam dan tak banyak tingkah.
Sama anak kecil aja lo di tolak Key. Bisikan setan terdengar di kepalanya. Keyla mencoba menyabarkan dirinya. Senyum yang sempat hilang karena penolakan Alvaro kembali ia sunggingkan. "Mama kamu ada gak?" tanya Keyla, kembali ke tujuan awalnya datang ke rumah Aurel.
"Ada, di dapur." ketus Alvero. Bocah itu melengos begitu saja, meninggalkan Keyla yang gemas ingin mencubit pipinya karena kesal. Keyla mengikuti langkah kecil Alvero menuju dapur.
Sampai dapur, dilihatnya Aurel sedang menyiapkan makanan. Ada anaknya satu lagi juga sedang memegang buku. Keyla tau pasti bocah itu hanya melihat gambarnya saja. Yakali bocah empat taun udah bisa baca lancar.
"Aur--"
"Berisik, jangan teriak teriak. Kedengeran tetangga, malu tau." potong Aurel cepat sebelum Keyla berteriak memanggil namanya lagi.
"Anti malu maluin." sahut Alvero, menimpali ucapan Aurel.
Bocah satu itu benar benar minta dicincang. Keyla heran itu anak turunan siapa sih. Perasaan Aurel gak gitu gitu amat. Jauh sekali dengan sifat Vito, bapaknya kan kalem. Gak nyolot begitu. Masih kecil aja sukanya bikin darah tinggi orang, gedenya gimana coba.
"Anak lo yang satu itu turunan siapa sih, kok nyolot banget. Beda banget sama abangnya yang adem ayem gitu." komentar Keyla, matanya memperhatikan Alvero dan Alvero.
Aurel terkekeh, ikut memperhatikan kedua anaknya. Jika Alvero sedang memperhatikan buku, maka Alvaro sedang mencorat coret buku. Kedua anaknya kembar identik, orang akan sulit membedakan mereka. Namun jika sudah kenal, akan mudah membedakan keduanya, lihatlah sikap keduanya yang jauh berbeda.
"Lo tau lah. Alvaro kan dulunya diasuh sama nyokap gue. Kalo Alvero kan sama mertua gue. Jadi beda gitu." jelas Aurel.
Keyla mangut mangut, "Pantes, yang satu nyebelinnya nauzubillah kaya nyokap lo. Satu lagi pendiem, persis mertua lo yang kalem." ujar Keyla, "lo gak niat nambah anak lagi Rel?"
Keyla mengalihkan pandangan pada Aurel. Bukan menjawab, Aurel malah menoyor kepalanya. "Dua aja udah pusing. Pake mau nambah segala, lagian kuliah gue belum selesai!" dengusnya.
Keyla mencibir, merapikan rambutnya yang terkena toyoran Aurel. "Nyantai kali. Lagian tinggal skripsi ini kan?"
"Lo kata bikin skripsi semudah bikin anak apa." sewotnya.
"Jangan bawa bawa masalah gituan dong."
Aurel memutar bola matanya malas. Memilih menyingkir untuk melanjutkan kegitannya. Membiarkan Keyla memperhatikan anaknya yang berebut buku.
Aurel kembali dengan mangkuk sayur ditangannya. "Btw lo mau ngapain datang ke rumah gue? Gak mungkin lo dateng ke sini cuma mau liatin anak gue doang."
Keyla menepuk jidatnya, ia hampir lupa tujuan awalnya. Setiap melihat anak Aurel selalu membuatnya jadi lupa dan terhanyut. Ekspresi wajah Keyla berubah kesal seperti saat ia datang.
"Lo kenapa gak bilang sih?!" serunya kesal.
"Nggak bilang apaan?" tanya Aurel tak mengerti.
"Nggak bilang kalo Arya yang punya perusahaan itu!" pekik Keyla.
Tampang Aurel berubah datar, ia kira Keyla datang ke rumah ingin apa. Ternyata masalah si mantan, "Lo gak nanya." balasnya santai, "Lagian emang kenapa sih? Ada masalah?"
"Ada!"
"Apa masalahanya Keyla? Apa karena dia mantan lo? Terus lo jadi merasa terganggu dengan fakta itu?" tanya Aurel beruntun.
Keyla diam, karena memang itulah yang menjadi masalah untuknya. Walaupun ia tahu bagaimana perasaan Arya padanya, tapi entah kenapa itu sedikit mengganggu. "Gue tau seberapa besar perasaan lo sama kak Arya. Gue juga tau seberapa keras lo berjuang dulu buat dapetin kak Arya. Dan gue juga tau, seberapa besar lo sakit hati karena kak Arya. Tapi bukan berarti lo harus terus terus ngehindarin dia kan? Lo bilang lo udah lupain dia, lo udah berhasil move on dari dia. Terus kenapa saat lo tau dia jadi bos lo, lo jadi kalang kabut kaya sekarang?"
Keyla bungkam, perkataan Aurel benar benar menohoknya. Keyla sadar, sejauh apapun ia berlari, pada akhirnya ia dan Arya juga pasti akan bertemu kembali. Namun entah kenapa itu benar benar membuatnya sesak, ditambah status Arya yang tunangan orang lain membuatnya...sakit.
"Gue takut Rel," cicitnya pelan
Aurel menghela napasnya, dirangkulnya bahu Keyla. "Lo takut kenapa Key? Takut kembali jatuh untuk kedua kalinya?"
Dalam pelukan Aurel, Keyla mengangguk ragu. Sebenarnya itulah alasana sebenarnya kenapa ia tidak mau bertemu bahkan berurusan dengan Arya. Tapi sekarang apa? Ia malah terikat kontrak kerja dengan Arya, memaksanya untuk berinteraksi secara langsung dengan Arya.
"Lo harus yakin sama diri lo sendiri. Lo pasti bisa ngadepin Arya. Lagipula gue yakin, kak Arya bisa bersikap profesional."
"Dia emang bisa bersikap profesiaonal tapi gue takut gue yang gak bisa profesional." gumanya pelan.
Bahkan baru sehari kerja dengan Arya saja Keyla sudah beberapa kali kedapatan melamun. Tidak fokus bekerja, untung saja Arya masih mentolerirnya.
"Ya kalo emang lo masih suka dia yah gak papa." balasnya enteng.
Keyla melepaskan pelukannya, memandang Aurel kesal. "Tapi kan dia udah punya tunangan." sebalnya.
"Ck! Baru tunangan, belum jadi istrinya kan? Masih bisa lah lo duri di hubungan mereka." kata Aurel.
Keyla mengerucutkan bibirnya, kenapa Aurel dan Rara seakan mendorongnya untuk mendekati Arya lagi. Niatnya kan ingin menjauh, bukan mendekat.
"Au ah! Pusing gue."
Aurel terkekeh, sebenarnya ia tidak benar benar serius menyuruh Keyla untuk memdekati Arya. Tapi jika memang keduanya jodoh, tidak ada yang tau kan. Aurel hanya berharap Keyla bisa bahagia nantinya.
"Lo mau ikut makan malem sekalian gak?"
Keyla nampak berpikir, kebetulan perutnya juga sudah keroncongan. "Boleh." Keyla menggangguk, "btw laki lo mana?"
"Kak Vito? Tadi sih bilangnya lagi di jalan sama kak Arya. Paling bentar lagi nyampe." Aurel menyamarkan tawanya melihat ekspresi horor Keyla mendengar nama Arya disebut.
"Gue gak jadi makan di sini deh. Tiba tiba kangen masakan mama. Gue balik dulu." pamitnya, berlari keluar dari rumah Aurel. Meninggalkan Aurel yang tertawa karena berhasil menjahilinya. Padahal Vito sebenarnya ada di rumah, pria itu sedang mandi sekarang. Apa Keyla tidak menyadari mobil Vito yang terparkir di depan.
Dasar Keyla, sebegitu kerasnya dia menjauh dari Arya.
***
Keyla merebahkan tubuh lelahnya. Tiga puluh menit yang lalu ia sampai di rumahnya. Tanpa menjawab pertanyaan ibunya perihal calon mantu ia langsung pergi ke kamarnya. Daripada meladeni ibunya, ia lebih memilih untuk mandi. Menyegarkan pikiran dan hatinya yang tak menentu. Semuanya terlalu tiba tiba untuknya, dirinya yang tiba tiba bertemu Arya, yang tiba tiba bisa bekerja di perusahaan Arya dan juga fakta tentang Arya sedikit membuatnya terguncang.
Keyla membalikan posisinya menjadi tengkurap. Di saat seperti ini, ia butuh sekali pencerahan. Ia butuh seseorang untuknya curhat, ia butuh seseorang yang netral, tidak akan menghakiminya. Akhirnya Keyla memutuskan untuk menanyakan pendapat Kyla. Adiknya satu itu kadang bisa sangat berguna jika dirinya sedang galau begini.
Keyla sudah berdiri di depan pintu kamar Kyla. Mengetuknya terlebih dahulu, sebelum ia membuka pintunya perlahan. Keyla melongokan kepalanya, matanya menemukan Kyla yang sedang telungkup dengan laptop di hadapannya. Keyka tebak, pasti adiknya itu sedang menonton drama korea.
Keyla mendengus, mengingat dirinya yang dipaksa untuk menonton drama korea oleh Kyla. "Ada apaan?" tanya Kyla tanpa mengalihkan pandangannya.
Ragu ragu, Keyla berjalan mendekati Kyla. Ia berdiri di samping ranjang Kyla, lantas mendudukan dirinya di pinggir ranjang. "Gue ganggu lo gak?"
"Banget. Lo ganggu banget tau gak, gak tau apa gue lagi nikmati wajah gantengnya Cha Eun Woo." sungut Kyla.
Sudah Keyla duga. Mengganggu Kyla di saat gadis itu sedang menonton drama atau membaca novel memang benar-benar bukan pilihan yang tepat. "Bentar aja, gue mau curhat sama lo." pintanya memelas.
Kyla menghembuakan napasnya kasar. Bangkit duduk menghadap Keyla, tampangnya kesal. "Oke. Asal lo bayar." balasnya santai. Keyla melotot, ini adiknya mata duitan sekali, persis dirinya. "Kalo gak mau ya gak papa, keluar sekarang dari kamar gue." sambungnya.
Shit! Kenapa orang orang yang ditemuinya hari ini menguras emosinya sekali. "Fine, gue bayar. Dasar mata duitan." cibirnya.
Kyla mengedikan bahunya, "Di dunia ini gak ada yang gratis. Lo jatuh cinta aja pengen dapet imbalannya. Balasannya kalo gak bahagia yah menderita." Keyla mengdengkus, adiknya pintar sekali berkata-kata. "Jadi lo mau curhat apaan? Gue tebak, pasti tentang mantan lo yang om om itu."
"Jadi?" tanya Kyla tak sabar dengan Keyla yang diam terlalu banyak berpikir.
Keyla menarik dan menghembuskan napasnya secara perlahan. "Gue mau tanya, gimana respon lo kalo ketemu sama mantan yang udah nyakitin lo? Bahkan lo sampai terjebak untuk terus ketemu sama dia."
"Biasa aja."
"Hah? Kok biasa aja? Dia udah nyakitin elo loh?" Keyla tak percaya dengan respon Kyla yang terlihat santai seperti itu.
Kyla memandang bosan Keyla. "Ya terus emangnya harusnya gimana? Marah marah sama dia karena udah nyakitin elo? Dendam gitu? Apa benci gitu? Apa semua itu bisa merubah apa yang udah terjadi? Nggak kan?" tanya Kyla balik, "Asal lo tau aja, orang yang selalu mengungkit ngungkit masa lalu itu menyedihkan. Dia terlihat seperti orang yang gak bisa bangkit dari masa lalu itu, sementara mantannya aja udah bahagia sama yang lain. Mungkin omongan gue terdengar kasar, tapi itu kenyataannya. Gue tau itu gak mudah, tapi akan lebih baik kalo lo jangan memperlihatkan kesedihan lo akan apa yang pernah dia lakuin di masa lalu. Lo harus buktiin kalo lo bahagia walaupun tanpa dia." terang Kyla.
Keyla termenung, apa yang diucapkan Kyla ada benarnya juga. Ia memang terlihat menyedihkan dengan mengharapkan Arya kembali, sementara pria itu sudah bersama wanita lain.
"Tapi gimana kalo misal gue masih suka sama cowok itu?" tanya Keyla pelan, kepalanya menunduk tak berani memandang Kyla yang pasti akan marah kalo dirinya masih mengharapkan Arya.
"Lo liat dulu, dia juga suka gak sama lo? Jangan sampai lo hanya terjebak perasaan sepihak."
Keyla tersenyum getir, bahkan ia tidak yakin dulu Arya menyukai. Mengingat apa yang pria itu katakan membuatnya yakin Arya tak pernah memiliki sedikitpun perasaan padanya. Keterdiaman Keyla membuat Kyla sadar bahwa pria yang Keyla bilang ini tidak balas memiliki perasaan yang sama.
"Saran gue, lebih baik lo bersikap seolah olah gak ada apa apa diantara kalian. Itu akan lebih baik daripada pada akhirnya lo kembali terjerat perasaan yang hanya menorehkan kesedihan. Bersikap seolah lo udah gak terpengaruh lagi sama dia. Ini demi hati dan juga harga diri lo sebagai perempuan." saran Kyla.
Keyla diam, mencerna setiap kata yang Kyla ucapkan. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Ternyata benar kata orang, Kyla lebih mirip seperti kakak dibanding dironya. Sekarang Keyka tau apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi Arya.
"Thanks Kyla!" serunya senang, memeluk Kyla erat melampiaskan kebahagaian.
Kyla yang dipeluk erat seperti itu, memberontak mencoba lepas dari kekangan tangan Keyla. Bagaimanapun ia ingin yang terbaik untuk kakaknya. Dan dia berharap Keyla tidak lagi bersikap bodoh dengan terjebak perasaan dengan pria brengsek lagi.
"Lepas ****! Gue gak bisa napas!" makinya kesal.
Keyla cengengesan, melepaskan ikatan tangannya. "Abisnya gue gemes sama lo. Kok pinter banget sih." Kyla menghindar saat tangan Keyla hendak menyentuh pipinya.
"Gue kan emang pinter, gak kaya lo yang mau aja dibego begoin," ujarnya jumawa.
Keyla berdecak, gen narsis dari ibunya mengalir ditubuhnya dan Kyla. "Iya iya yang pinter mah beda."
"Jangan lupa bayaran gue yah." Kyla mengongatkan membuat Keyla mendengkus kesal.
"Iya bawel,"
"Awas loh, itu buat beli album bias gue yang mau come back."
Keyla pura pura tidak mendengar, ia memilih pergi dari kamar Kyla. Adiknya bisa sangat cerewet bila membahas uang dan juga biasnya itu. Namun begitu, ia tetap akan membelikan apa yang dimau adiknya itu.
***
Suara ketukan sepatu dengan lantai terdengar. Keyla tidak sabar menunggu pintu lift terbuka. Ia melirik jam ditangannya, waktu masih menunjukan pukul setengah tujuh. Masih ada waktu satu setengah jam sebelum jam masuk kantor. Keyla sengaja datang pagi, mengingat Arya yang selalu datang pagi menuntutnya untuk datang lebih pagi dari pria itu. Kebetulan juga ia harus mempersiapkan berkas untuk Arya meeting nanti siang.
"Widih sekretarisnya pak bos rajin amat jam segini udah nangkring di sini. Semangat banget yang mau deketin pak boss." Keyla menggeleng pelan mendengar perkataan Rara. Bagaimana mau mendekati pak bos kalo dianya keburu gemeter duluan.
"Apaan sih lo Ra. Pagi pagi udah ngaco aja."
"Ngaku aja kali. Jadi gimana berhasil goda pak boss?" Rara menaik turunkan kedua alisnya menggoda Keyla.
"Berisik Ra, entar ada yang denger bahaya. Bisa bisa gue dilabrak kembarannya bunga kemboja lagi." peringat Keyla.
Rara mendengus, menjauhkan tubuhnya dari Keyla. "Ah gak asik lo mah. Padahal gue udah lama gak dapet gosip hot tau."
Rara benar benar seperti dirinya sekali. "Ada ada aja lo." balas Keyla, "btw tumben jam segini udah dateng. Bukannya kata Metta lo suka dateng telat?" tanya Keyka mengalihkan pembicaraan tentang goda dan menggoda.
"Biasalah ada kerjaan yang belum beres, makanya datengnya pagi." jawab Rara.
Sekali lagi Keyla menggeleng pelan dengan kelakuan Rara. "Lo kaya anak sekolah yang dateng pagi cuma buat ngerjain PR tau gak." komentar Keyla.
Rara tersenyum cengengesan, membuat matanya yang sipit menjadi tak terlihat. "Ya abisnya gimana lagi. Kemaren berkasnya lupa gue bawa, daripada entar gue diamuk bu Ema mending gue kerjain sekarang." alasannya.
"Lo sendiri? Kenapa datang pagi? Jangan jangan bener dugaan gue kalo lo mau nyiapin siasat buat deketin pak bos?" tuduh Rara. Keyla menoyor kapala Rara.
"Otak lo benerin sana. Gak bener terus perasaan."
Rara menekuk wajahnya, "Ya kan siapa tau gitu."
"Nggak yah, gak niat gue godain pak--"
"Ekhem."suara deheman berat yang sarat ketegasan terdengar dari belakang mereka. Tubuh keduanya menegang, menyadari siapa sang pemilik suara. Keyla melirik lewat ekor matanya, Arya berdiri persisi di belakangnya.
Mati lo Key.
Beruntung pintu lift segera terbuka, baik Keyla maupun Rara serempak menyingkir membiarkan Arya masuk lebih dulu. "Selamat pagi Pak!" sapa keduanya saat Arya melewati mereka.
"Pagi!" balas Arya, tersenyum singkat.
Waktu yang masih pagi membuat lift kosong, hanya ada mereka bertigadi dalam lift. Keyla dan Rara berdiri tepat di belakang Arya.
"Key." panggil Rara seraya berbisik.
"Apa?" tanya Keyla balas berbisik, mendekatkan kepalanya pada Rara.
"Lo liat pantatnya pak bos." Rara menunjuk pantat Arya, Keyla mengernyit tak mengerti.
"Kenapa sama pantatnya?" bisik Keyla.
"Pantatnya seksi, minta diremes banget. Lo liat punggungnya senderable banget kan." bisik Rara menggoda.
Jika tidak ingat ada Arya di depannya, Keyla pasti sudah mengumpati Rara yang begitu berani membicarakan Arya. Keyla meneguk ludahnya susah payah, sial. Perkataan Rara membuatnya membayangkan yang iya iya. Membayangkan tangannya meremas pantat liat liat empuk milik Arya. Ya ampun bahkan dirinya kenapa bisa mengira pantat Arya liat liat empuk.
Rara yang tau apa yang sedang Keyla pikirkan terkikik. Apalagi melihat Keyla yang meneguk ludahnya semakin membuat Rara tak kuasa menahan tawa. Memperhatikan Keyla yang menatap pantat Arya tanpa kedip benar benar sangat lucu.
"Lo bayangin Key, tangan lo raba raba pantatnya. Ugh! Pasti bikin ketagihan." bisik Rara lagi, semakin meprovokasi Keyla untuk membayangkan hal yang lebih.
Keyla menggeleng kuat kuat, mengenyahkan pantat seksi dan remasable itu. Ia melotot kesal pada Rara yang terkikik di sampingnya. Sialan kenapa otak Rara tidak beres begitu.
Belum sampai di situ, Rara mendekatkan tangannya, hendak menyentuh pantat Arya. Keyka semakin melotot di tempatnya melihat keberanian Rara. Ia mengutuk lift yang lama sekali terbuka. Sedikit lagi tangan Rara samapai menyentuh celana Arya dan sebelum semuanya terjadi Keyla lebih dulu menepis tangan Rara.
Sayangnya, tindakannya itu malah membuat tangannya memukul pantat Arya secara tidak sengaja. Tidak keras namun cukup membuat Arya langsung menoleh ke arahnya. Menatap tangannya yang menggantung dekat pantatnya.
Keyla menatap tajam Rara yang pergi begitu saja karena lift berhenti di lantai tiga. Perempuan itu mengedipkan matanya, menggoda Keyla yang terjebak berdua bersama Arya.
"Kenapa?"
Pertanyaan Arya menyentak Keyla. Buru buru gadis itu menarik tangannya, berdiri gugup dalam tatapan Arya yang seakan menghujamnya.
"Kenapa?" sekali lagi Arya melontarkan pertanyaan itu.
"Ke-kenapa apa pak?" tanya Keyla gugup, tidak berani mengangkat wajahnya untuk sekedar menatap Arya.
"Kenapa kamu pukul pantat saya?" pertanyaan gamblang Arya semakin membuat Keyla menundukan kepalanya.
Awas aja lo Ra, abis lo sama gue nanti. Janji Keyla, mengingat biang masalah ini malah kabur begitu sjaa.
"A-anu pak, ta-tadi ada lalat ijo di celana bapak. Makanya saya pukul pantat bapak."oke bagus Keyla, kamu malah semakin mempermalukan dirimu sendiri dengan memberikan alasan konyol seperti itu. Kamu kira Arya bocah yang mudah dibodoh bodohi.
Tanpa Keyla sadari, Arya justru tersenyum mendengar jawaban asalnya. Melihat wajah Keyla yang memerah karena malu membuat Arya mencubit pipi gadis itu gemas. Sontak saja Keyla melotot akan aksinya spontannya itu.
***