
Untuk beberapa detik, Keyla terpaku gendang telinganya meresapi tiap kata yang keluar dari mulut Melati. Otak dangkalnya berusaha mencerna siatuasi menegangkan ini.
Apalagi orang-orang yang semula beraktivitas mulai menghentikan aksi mereka. Sekadar untuk menonton atau mencari tahu maksud perkataan Melati yang tentu saja begitu lantang terdengar. Bisik-bisik mulai terdengar, mengait-ngaitkan gosip satu dengan yang lainnya hingga menimbulkam kesimpulan yang tidak tau kebenarannya.
Keadaan ini begitu mengusik Keyla, apalagi tatapan orang-orang terkesan menuduh ke arahnya. Memang apa salahnya? Dasar manusia hanya melihat dari satu sudut pandang tanpa tau kebenarannya.
Keyla menatap lurus ke depan, menatap sepasang mata yang balik menatap tajam ke arahnya. Ada sorot kebencian dan kemarahan yang tersaji. Keyla berdeham, mencoba mencairkan suasana yang mencekam. "Maksud anda apa? Saya tidak mengerti." Siapa yang terima jika dituduh tanpa bukti?
Bukannya menjawab, Melati justru tertawa, jenis tawa sinis. "Tidak usah berpura-pura seolah kamu tidak mengetahui apa maksud saya. Bukti sudah jelas bahwa kamu adalah penyebab Arya memutuskan pertunangan dengan saya!" Sentak Melati, suaranya lantang hingga orang-orang kian berkerumun.
Tarikan napas Keyla lakukan, guna menjaga emosinya tetap stabil. Dan tidak terpancing dengan perkataan Melati, meski kini dirinya tersudutkan. Masih dengan raut wajah tenang Keyla membalas Melati. "Atas dasar apa anda menuduh saya seperti itu? Jangan sampai anda menyesal karena sudah menuduh saya sembarangan."
Melati tersenyum mengejek. "Memang begitu kenyataannya. Bahwa kamu adalah wanita di foto postingan Arya. Bahwa kamu adalah wanita penggoda yang sudah membuat Arya memutuskan pertunangan dengan saya. Bahkan kamu dan Arya sudah bermain api sejak lama bukan?"
Keyla sadar sekali, bahwa dirinya kini sedang dipermalukan di depan banyak orang dengan tuduhan yang dilayangkan Melati. Nasib kacung sepertinya mau membela seperti apapun pasti akan tetap menjadi pihak yang salah. Apalagi jelas sekali orang-orang tidak ada yang berniat membantunya dari situasi ini. Meskipun Keyla tidak membutuhkan bantuan mereka.
"Tapi saya merasa tidak melakukan itu semua," balas Keyla tegas tanpa merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Melati.
Melihat respon Keyla yang sangat santai membuat Melati geram, buku-buku jarinya mengepal dengan rahang yang mengetat. "Terus saja mengelak, karena pada kenyataannya memang itu yang terjadi bahkan Arya sendiripun mengakui. Bahwa dia mencintai wanita lain, dan itu adalah kamu, My Ela,"
Mendengar kata terakhir yang Melati ucapkan, tubuh Keyla menegang, jantungnya berpacu dengan cepat. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar nama itu. Keyla ingat sekali saat dia pernah meminta seseorang untuk memanggilnya dengan nama itu.
Hari ini angin berembus dengan kencang, hingga menerbang daun-daun kering yang berjatuhan. Meski matahari terik sekalipun tidak terasa panas sama sekali, membuat orang-orang memilih untuk menghabiskan waktu untuk liburan atau sekedar jalan-jalan bersama orang terkasih. Seperti sepasang manusia yang baru saja resmi menyandang status sepasang kekasih.
"Ish." Dress floral dengan rambut terurai bukanlah perpaduan yang bagus di cuaca berangin seperti ini. Namun, ingin tampil cantik di kali pertama kencan membuat gadis yang sedang dimabuk asmara itu seolah tidak peduli.
Dengan bibir mengerucut sebab sebal, gadis itu merapikan asal-asalan rambutnya. Sialnya dia lupa membawa ikat rambut.
Sahutan dari sampingnya membuat gadis itu menghentikan gerakannya, menoleh ke samping menatap sang kekasih dengan wajah bertekuk. "Lain kali pake celana aja, biar nyaman." Ditegur dengan suara yang lembut dan usapan di kepalanya membuat dada gadis itu bergemuruh hebat. Tanpa bisa ditahan, lengkungan terlukis di wajahnya, pipinya yang diberi blush on kian memerah.
Gadis remaja itu mendongak, menatap sang kekasih yang terlihat begitu bersinar karna tersorot matahari. Sadar diperhatikan, pria itu menatap balik sepasang mata yang berbinar manatapnya. "Kenapa ngeliatinnya gitu banget sih, hm?"
Gadis itu menggeleng. "Nggak papa. Cuma mau bilang kenapa Kak Ar ganteng banget sih," puji gadis itu terang-terang. Sejak pertama kali mengenal sosok di depannya. Tak ada kata malu dalam kamusnya. Kalo suka ya ungkapkan kalo tidak juga ungkapkan, baginya bisa bersanding dengan sang pujaan hatinya masih menjadi hal yang luar biasa tak dipercayanya.
Tawa renyah terdengar, pria itu mencubit gemas hidung sang gadis. "Bisaan banget mujinya, pantes dari awal kamu langsung cinta kan?" Godanya.
Jika gadis lain akan bersikap malu-malu, gadis itu justru tidak. Dengan semangat kepalanya mengangguk kemudian menggeleng. "Keyla mengakui kalo kak Ar ganteng pake banget, tapi bukan itu yang bikin Keyla jatuh cinta. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata yang bikin mata Keyla cuma tertuju pada kak Arya. Kalo soal tampan jelas di luaran sana banyak yang lebih tampan, tapi Kak Arya beda entah kenapa, pertama ketemu kak Arya dan natap mata Kak Arya, seolah ada magnet yang menarik Keyla, membuat Keyla terhanyut. Ada sedih dibalik binar mata kakak, ada rasa nyaman yang membangkitkan rasa di dada."
Untuk sejenak, ada keheningan yang menyeruak diantara keduanya. Ditemani semilir angin yang kembali menerbang helaian rambut Keyla. Pria bernama Arya itu, hanya mampu menatap kekasihnya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. "Kamu ini yah, masih remaja udah jago banget gombalnya. Belajar dari mana hem?" Tangan besarnya menarik lembut lengan Keyla, mengaitkan jari-jari keduanya yang terlihat begitu kontras. Dia memggiring gadis itu untuk duduk di bangku yang tersedia, sementara dia memilih membungkuk di hadapannya.
Melihat respon sang kekasih yang biasa saja membuat gadis itu mencebik. Bibir polesan liptint keluaran Korea itu mengerucut, dengan kedua lengan yang dilipat. "Nggak usah ngambek gitu, jelek tau," ejek Arya mengacak gemas rambut panjang Keyla.
"Abisan kakak gak bisa romantis dikit apa."
"Romantis itu tugasnya laki-laki. Lagipula kamu belum tau aja sebarapa romantisnya kakak. Cowok di drakor yang sering kamu tonton aja lewat," sombong Arya.
Keyla mendengkus, namun tak pelak tersenyum. Tak ada kata yang bisa menggambarkan seberapa bahagianya dia kini. Memangnya apa yang lebih membahagiakan dari menjadi pacar orang yang dia cinta? Meski Arya belum pernah menyatakan perasannya.
"Kakak mau ngapain?" Tanya Keyla heran, kala melihat Arya bangkit. Dahi Keyla berkerut melihat Arya yang berjalan ke belakang tubuhnya.
Tidak ada tanda-tanda akan menjawab. Akhirnya Keyla memilih tutup mulut, menunggu apa yang akan Arya lakukan. Dan benar saja, Keyla merasakan tangan besar Arya di kepalanya. Dan saat jemari besar itu menarik halaian rambutnya ke belakang dan menyatukannya menjadi satu, Keyla tak kuasa untuk menahan senyumnya. Selayaknya orang jatuh cinta, setiap perilaku yang Arya lakukan terkesan begitu istimewa bagi Keyla.
"Emangnya bisa?" Keyla mendongak, mengejek Arya yang kesusahan mengikat rambutnya.
Arya berdecak. "Makanya kamu diem, jangan gerak-gerak terus," gerutu Arya.
Melihat respon Arya, Keyla justru tertawa. "Sayangnya aku marah nih," goda Keyla.
"Kamu ini yah," dengkus Arya. "Jangan diledekin napa, kakak baru pertama kali ini ngiket rambut. Jadinya maklumin." Pengakuan Arya jelas membuat Keyla terkejut, hingga repleks membalikan tubuhnya membuat jalinan rambut yang susah payah Arya buat rusak.
"Serius?!" Pekik Keyla.
Meski ini hal kecil, tapi bagi Keyla ini adalah informasi yang luar biasa membahagiakan. "Sama yang dulu-dulu gak pernah?" Tanyanya memastikan.
"Enggak, cuma kamu doang."
Seketika Keyla merasakan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Dengan penuh binar kebahagian Keyla menatap Arya, "Makasih," ujarnya malu-malu.
Alis Arya terangkat, heran. "Buat apa?"
"Terima kasih, sudah menjadi alasan Ela bahagia," sahut Keyla, wajahnya memerah malu. Meski terkadang suka malu maluin, tetap saja menggombal bukan keahliannya. Apalagi saat melihat reapon Arya yang diam saja membuat Keyla diserang panik.
Tak berapa lama, tawa Arya pecah. Pria itu sampai terbahak hingga memegangi perutnya. Membuat Keyla jengkel saja.
"Maaf...maaf..." ujar Arya disela tawanya, "abisan kamu lucu banget sih, dari tadi ngegombal mulu. Curiga mantan fakgirl nih." Lanjutnya setelah tawanya mereda.
"Enak aja," sergahnya.
"Maaf dong, jangan cemberut gitu, my Ela." Arya tersenyum, melihat respon tubuh Keyla yang terdiam.
Keyla mengerjap. "Apa?" Tanyanya memastikan.
"My Ela. Tadi kamu sebut nama kamu Ela," jelas Arya.
Keyla menggigit bibirnya, kenapa rasanya pas sekali saat Arya memanggilnya dengan nama Ela. "Boleh gak kalo aku minta kakak panggil aku Ela?" Pinta Keyla.
"Karena panggilan itu, panggilan aku waktu kecil dari nenek. Dulu nenek susah banget sebut nama Keyla, karna lidahnya yang sunda banget alhasil malah kepeleset jadi Ela. Meski begitu, panggilan itu juga karna aku selalu bermimpi hidupku seperti Cinderella yang bahagia bersama pangerannya."
"Sudah jelas bukan kalo kamu memang selingkuhan Arya, bahkan nama kontak kamu di ponsel Arya saja begitu spesial." Kalimat memojokan dari Melati membuyarkan segala kenangan Keyla dengan Arya.
Keyla menarik napas dalam-dalam, hal yang bersangkutan dengan Arya selalu berhasil membuat dadanya sesak.
"Hal itu tidak bisa dijadikan tolak ukur kalo saya berselingkuh dengan tunangan anda. Karna di mata saya kami hanya atasan dan bawahan." Tegas Keyla. Jujur Keyla sudah lelah, ingin segera mengakhiri drama picisan ini.
"Alah masih saja kamu mengelak, memang dasar wanita murahan!" Hardik Melati.
"Jaga mulut anda!" Peringat Keyla.
Melati tersenyum mengejek. "Kalo bukan wanita murahan lalu apa? Sebutan yang cocok untuk orang yang sudan merebut milik orang lain? Saya yakin pasti kamu sudah menyerahkan tubuh kamu untuk menggoda tunangan saya."
Selesai Melati berbicara, sejurus kemudian Keyla maju. Tanpa babibu tangannya melayang, dan mendarat di pipi mulus Melati. Hingga menimbulkan suara tamparan yang keras. Dada Keyla naik turun, matanya memerah emosi. Suasana lobi seketika senyap, orang-orang terbelalak tak percaya melihat Keyla bisa menampar Melati yang notabene calon nyonya Nata Perkasa.
"Saya bisa membuat mulut anda robek lebih dari ini. Jadi saya peringatkan anda untuk berpikir lebih dulu sebelum berbicara," ancam Keyla penuh penekanan.
Sementara Melati masih terpaku dengan apa yang terjadi, dia hanya bisa memegangi pipinya yang memerah. Puas dengan aksinya, Keyla memilih berlalu namun baru tiga langkah dia kembali berbalik. "Dan satu lagi, saya bukan selingkuhan pak Arya. Perlu anda tau nyonya Melati, saya adalah mantan Pak Arya, mantan terindahnya." Selesai berkata begitu, Keyla tersenyum miring melihat ekspresi shock di wajah Melati.
Rasanya Keyla ingin tertawa, karna sudah melontarkan kalimat bualan. Tapi biarlah, dirinya cukup puas melihat ekspresi terkejut orang-orang.
...***...
Hatinya diliputi kecemasan. Berbagai macam hal berkecamuk di kepalanya. Cepat atau lambat semua ini pasti terjadi, sialnya dia belum mempersiapkan risiko dari tindakannya. Lawannya jelas bukan orang sembarangan, salah-salah dia bisa kehilangan segalanya. Apalagi dia sudah kehilangan kepercayaan dari orang yang dia cintai.
Jemarinya mengetuk di atas meja. Tak sabar menunggu kedatangan seseorang. Pria itu menghembuskan napasnya, sudah setengah jam lalu dia menunggu. Namun, sosok yang ditunggu tak juga menampakan dirinya.
Beberapa menit waktu berlalu, hingga dia nyaris putus asa dan ingin beranjak pergi. Hingga suara berdebum menghentikan aksinya, dan sosok yang ditunggunya muncul dengan raut wajah super kesal. Ternyata suara debum itu berasal dari tas yang sengaja dibanting. Terlihat jelas sekali sosok itu enggan bertemu dengannya.
"To the point aja, aku gak punya banyak waktu," ujarnya ketus.
"Kamu gak mau pesen makan dulu?" Tanyanya menawarkan namun ditolak dengan mentah-mentah.
"Enggak makasih. Liat muka kakak aja bikin aku enek," sahutnya judes.
Pria itu mengangguk mengerti, maklum sekali jika kedatangan wanita itu begitu terpaksa. Jari jemari pria itu bertaut, ada sorot kecemasan dalam matanya. Apalagi melihat lawan bicaranya yang enggan menatapnya dan justru lebih memilih menoleh ke samping.
Sadar jika pria itu terlalu lama, wanita itu kembali berujar sinis. "Buruan ngomong, aku gak punya banyak waktu untuk orang gak punya hati kaya kakak."
Pria yang tak lain Arya itu menghela napas. "Saya tau kamu terpaksa ke sini. Dan saya amat menghargai itu. Saya juga tidak berharap lebih akan sikap kamu sama saya setelah semua yang saya lakukan sama sahabat kamu. Tapi jika boleh berharap, apa boleh saya meminta bantuan kamu?"
Wanita dengan setelan blouse cream dan celana bahan hitam itu menoleh, raut wajahnya menyiratkan keberatan. "Tergantung, kalo ada sangkut pautnya sama Keyla aku gak mau," tolaknya lugas.
Arya terdiam, tanpa berpikir jauh pun dia tau ini tidak akan mudah. "Sayangnya ini ada hubungannya dengan sahabat kamu itu," lirih Arya.
Saat ini, Arya ada di posisi terendahnya, dia merasa sudah tidak ada jalan lain selain meminta bantuan orang lain.
Wanita itu tertawa sinis. "Dan sayangnya aku gak mau menyesal untuk kedua kalinya," sahutnya. Dengan cepat wanita itu meraih tasnya beringsut ingin pergi. Namun dengan cepat Arya mencegah. "Lepas kak, aku gak mau mengulangi hal bodoh lagi." Sambungnya.
"Saya mohon, Ra," pinta Arya, kepalanya menunduk dalam, sayangnya semua itu tidak memunculkan sisi simpatik Maura.
Dengan kasar, Maura melepaskan celakan Arya di tangannya. "Dengar ini baik baik kak. Cukup sekali aku menjerumuskan sahabat aku sama orang gak punya hati kaya kakak. Mungkin waktu itu aku terlalu naif, percaya sama kakak yang jelas-jelas udah nyakitin Keyla. Bodoh banget dulu aku punya pemikiran kalo kakal bisa bahagiain Keyla, dan kenyatannya kakak malah sakitin sahabat aku lagi. Maaf kak, aku nggak akan bodoh untuk kedua kalinya. Tempo hari mungkin aku begitu semangat buat bikin kalian bersatu kembali, begitu yakin sampai aku dengan rela melakukan segala cara dari menyusupkan nomor kakak ke hp Keyla. Menceritakan semua percintaan tragis Keyla ke kakak, sampai aku bohongin sahabat aku biar dia datang bareng kakak ke pertunangan Tasya," napas Maura memburu, dadanya sesak jika mengingat segala pengkhianatannya selama ini.
"Aku gak mau khianatin sahabat aku lagi kak, sudah cukup Keyla sakit selama ini, dia berhak bahagia kak. Aku mohon sama kakak, menjauh dari Keyla sebelum semua semakin kacau dan kalian makin tersakiti." Lanjut Maura, matanya berkaca-kaca, apalagi saat teringat bayangan Keyla yang selalu tersenyum padahal hatinya terluka.
"Aku berharap kakak mendengarkan perkataan aku. Aku pergi kak," pamitnya, meninggalkan Arya yang kini kehilangan harapannya.
Tubuh ringkih itu terduduk lemas. Rasanya seperti tak ada lagi tenaga setelah mendengar penuturan Maura. Setelah ini apa yang harus dilakukannya? Arya tau ini salahnya yang sudah merusak kepercayaan Maura padanya. Sebab jujur saja sejak bertemu Keyla kembali Arya memang merasa ada rasa bahagia yang dia sendiri tidak mengerti alasannya. Hal itu yang membuatnya nekat menemui Maura dan meminta perempuan itu untuk mendekatkan dia dengan Keyla padahal jelas dia punya pasangan. Arya tau dia jahat, tapi saat itu dia seperti menemukan mainan baru yang membuatnya bersemangat setelah merasa hidupnya hampa penuh kekangan.
Apa yang dirinya tanam itulah yang ia tuai. Kini Arya harus merasakan sendiri dari hasil perbuatannya.
...***...
Keyla tau apa yang sudah diperbuatnya begitu berisiko, dan mungkin saja akan membuatnya kehilangan pekerjaan. Tapi justru itu yang Keyla mau, jika dia tidak bisa mengundurkan diri lebih baik dia di pecat. Sebab untuk bertahan bekerja dengan Arya, Keyla sudah tidak bisa. Karena mau bagaimanapun, Keyla tidak bisa menampik bahwa rasa itu masih ada.
Dan semenjak kejadian tadi pagi, Keyla sadar dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang. Untung saja dia tipikal yang bodo amat, terserah orang mau berpikir buruk tentangnya toh dia tidak meminta makan pada mereka.
Bahkan ponselnya tidak berhenti berbunyi sejak tadi, itu disebabkan oleh Rara dan Metta yang heboh dan masih tak percaya dengab fakta bahwa dia mantan Arya. Keyla hanya membaca tanpa ada niatan untuk mengklarifikasi, karna dia tidak mau lagi membuat bualan yang membuatnya meringis sendiri.
Yang harus dilakukannya sekarang adalah menyelesaikan pekerjaannya sebaik mungkin sebelum nanti statusnya kembali pengangguran. Senyuman terpatri di wajahnya, entah itu senyuman bahagia atau hanya kamuflase untuk menutupi apa yang dirasakannya.
"Semoga setelah ini ada bahagia yang datang, Tuhan," harap Keyla.
Entah doanya yang terlalu muluk-muluk atau Keyla terlalu banyak dosa hingga bukan bahagia yang datang sesuai harapannya, malah bencana yang datang. Tanpa sempat menghindar, Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya hingga menimbulkan bunyi nyaring. Bahkan wajah Keyla sampai menoleh ke samping.
"Dasar wanita tidak tau diri! Sudah saya peringatkan sejak awal untuk menjauh dari anak saya!" Bentak Dewi, wanita itu yang baru saja menampar Keyla. "Itu balasan untuk wanita bebal yang berani mempermalukan dan menampar calon mantuku." Sambung Dewi.
Keyla mendongak, matanya memerah menahan perih. Sorot matanya menatap penuh benci pada Melati, jelas sekali wanita itu mengadu pada Dewi.
...***...