Real Love

Real Love
Real Love #8



Gila. Ini benar benar gila, dan yang lebih gila lagi kenapa Keyla hanya diam saja sesaat setelah Arya menyebutnya selingkuhannya?


Otaknya mendadak blank, tidak bisa berpikir dengan semestinya. Bahkan saat Melati hendak menamparnya pun Keyla hanya diam. Pandangannya lurus menatap tidak percaya pada Arya. Beruntung Arya sigap, pria itu langsung mengamankan Melati, menyeretnya keluar dari restoran sebelum wanita itu membuat keributan.


Sayangnya, membawa Melati keluar dari sana tidaklah mudah. Arya sampai harus mengerahkan kekuatannya. Benar kata orang, wanita bisa jadi menggila bila miliknya diusik. Mungkin itu yang sedang terjadi pada Melati. Tapi kan di sini Keyla tidak mengusik, justru malah Arya yang mengumpankan dirinya sendiri.


Sementara Arya keluar untuk menenangkan Melati--yang pastinya tidak akan mudah. Keyla justru masih terdiam ditempatnya. Hanya kata Apa yang mampu ia suarakan. Semua kata yang lainnya seolah terkunci di dalam mulutnya.


Keyla memejamkan matanya, mengingat apa yang baru saja terjadi. Helaan napas kasar Keyla keluarkan, diusapnya wajahnya kasar. Keyla yakin, setelah ini hidupnya akan berubah suram. Padahal sebelumnya pun hidupnya sudah suram kenapa sekarang malah akan bertembah suram.


Dan ini semua karena Arya, Keyla tidak tau apa yang pria itu pikirkan sampai bisa berbicara hal yang tidak masuk akal seperti itu. Sepertinya kepala Arya terbentur sesuatu sebelumnya, hingga ia berbicara melantur seperti itu.


Keyla menarik napasnya dalam, mencoba meredam emosi yang ingin meledak. Keyla bangkit dari duduknya, nafsu makannya sudah menguap begitu saja. Pikirannya terlalu kacau, berdiam diri di sini bukanlah pilihan yang baik.


Baru saja Keyla hendak melangkah, suara Arya mengagetkannya.


"Mau kemana?" Keyla diam, enggan menjawab pertanyaan Arya, bahkan untuk sekedar menatap wajahnya saja rasanya Keyla malas.


Menguatkan hatinya, Keyla berusaha mengabaikan keberadaan Arya. Melanjutkan kembali niatnya untuk meninggalkan tempat terkutuk ini. Sayangnya, Arya tidak membiarkannya pergi begitu saja, pria itu malah mencekal lengannya.


Pada akhirnya Keyla mengalah, ia menoleh pada Arya. Raut wajahnya tampak tak bersahabat. Dan Arya cukup paham makna itu.


"Lepas!" desis Keyla, menyentak lengan Arya agar melepaskan cekalannya.


Bukannya terlepas, Arya malah merubah celakannya menjadi menggenggam tangan Keyla, menarik wanita itu untuk duduk kembali. Ia masih cukup punya malu untuk tidak kembali membuat keributan dan menjadi pusat perhatian.


Keyla bertahan diposisinya, keinginannya saat ini hanyalah pergi sejauh jauhnya dari Arya. Bukan malah kembali berbicara hal yang hanya akan membangkitkan perasaannya.


"Lepas!!" sentak Keyla, kali ini usahanya berhasil.


Arya mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Mungkin sebaiknya ia membiarkan Keyla tenang terlebih dahulu. Bagaimanapun juga ia sudah membuat wanita utu terkena serangan jantung akibat ucapannya.


"Maaf untuk ucapan aku bar--"


"Lain kali berpikirlah sebelum berbicara." potong Keyla cepat, melirik sekilas pada Arya. "Aku yakin kamu cukup pintar untuk tida berbicara hal omong kosong seperti itu. Jangan sampai ucapanmu itu hanya bisa menyakiti orang lain apalagi sampai menghancurkannya." ujar Keyla datar.


Keyla tahu, Arya orang yang suka bercanda, tapi jika itu menyangkut masalah hati. Bisakan pria itu tidak membuanya menjadi candaan?


Sepertinya setelah ini Keyla benar benar akan merealisasika saran Kyla. Mencoba menjauh dan pura pura tidak saling mengenal saja.


***


Arya melangkah gontai menuju beranda rumah orang tuanya. Pria itu mengacak rambutnya frustasi, rasa bersalah menyelimutinya. Seharusnya ia bisa menjaga mulutnya untuk tidak berbicara begitu.


Arya tidak mengerti dengan dirinya, kenapa baik dulu maupun sekarang dirinya hanya bisa menyakiti Keyla saja. Padahal jauh di dalam hatinya, ia ingin sekali menebus segala kesalahannya di masa lalu. Namun yang terjadi sekarang ia malah semakin menambah dosanya pada Keyla.


Niat baiknya membantu Keyla agar mendapat pekerjaan di perusahaannya sepertinya malah membuat gadis itu menderita. Yah, Keyla bisa bekerja di perusahaannya itu adalah rencananya. Arya yang meminta Aurel agar menyuruh Keyla memasukan lamarannya ke sana. Tadinya, Arya berharap dengan begitu ia bisa sedikit menebus kesalahannya.


Mungkin memang seharusnya Arya tidak melakukan itu semua. Sepertinya dengan ia tidak menampakan dirinya di hadapan Keyla saja itu sudah menebus semuanya. Sayangnya semuanya sudah terjadi, Arya tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi.


Arya menghembuskan napasnya, bahkan disaat ia berbuat baik saja pada akhirnya malah menyakiti orang lain. Segala yang dilakukannya selalu salah, ia hidup saja sepertinya juga salah.


Arya menggeleng kepalanya, otaknya terasa sakit memikirkan semua yang sudah terjadi hari ini. Sebaiknya ia istirahat, menenangkan hati dan otaknya agar bisa berfungai normal kembali. Dan menyiapkan amunisi untuk menghadapi Keyla esok hari.


Sayangnya keinginan Arya untuk beristirahat tidak akan terlaksana selama ada Dewi yang mengganggunya. Seperti sekarang, ibunya itu sudah menungguinya di ruang keluarga. Wanita itu bersidekap dada menatap nyalang padanya.


Arya menghela napasnya, pasti Melati sudah mengadu pada ibunya. Melihat gelagat Dewi yang seperti itu semakin meyakinkannya.


"Kenapa, Ma?"


Dewi mendengkus, melihat sikap Arya yang seolah tidak punya salah. "Kenapa?! Seharusnya mama yang tanya itu sama kamu. Kamu kenapa sebenarnya Arya?! Kenapa kamu ngomong sama Melati kalo sekretaris kamu itu selingkuhan kamu hah?!" hardik Dewi berang dengan kelakuan Arya.


Arya memjamkan matanya sejenak, "Arya cuma bercanda ma." jawabnya tenang.


Dewi melotot, "Bercanda kamu bilang?!" pekik Dewi kesal, "kamu tahu gak? Gara gara ucapan kamu itu Melati hampir aja mau mutusin pertunangannya sama kamu."


"Ya bagus," gumam Arya pelan, sayangnya telinga ibunya terlalu tajam. Wanita itu masih bisa mendengar apa yang ia ucapkan.


"Apa maksud kamu dengan bagus hah?!" Dewi semakin marah, apalagi ditambah sikap santai Arya semakin membuatnya marah. "Kenapa kamu jadi beruabh gini Arya? Kamu mulai gak nurut lagi sama mama. Apa semua ini ada sangkut pautnya sama sekretaris baru kamu itu?"


Arya yang semula memandang ke arah lain sontak langsung menatap ibunya. "Jangan bawa bawa dia. Ini gak ada hubungannya sama dia. Dan kalo emang Arya berubah, itu bukan karena dia, tapi karena mama." nada suara Arya sarat akan peringatan.


Dewi tertawa sinis, kelanya menggeleng tak percaya. "Sekarang kamu bahkan berani nyalahin mama. Sepertinya kecurigaan mama benar soal dia. Kalo dia udah goda kamu."


"Ma!" bentak Arya, ia sudah tidak bisa mentolerir lagi perkataan ibunya. Tidak bisa Arya bayangkan bagaimana sakit hatinya Keyla bila mendengarnya.


Dewi berdecih, wajahnya mengeras, kedua tangannya terkepal. "Mama anggap ini tidak pernah terjadi. Jadi kamu gak perlu minta maaf, tapi mama minta kamu untuk pecat dia secepatnya." putus Dewi begitu saja. Ia berbalik, pergi meninggalkan Arya, baru beberapa langkah ia berjalan suara Arya terdengar kembali,  membuatnua menghentikan langkahnya.


"Arya gak akan pecat dia, dan Arya juga gak akan minta maaf sama mama. Karena Arya gak bersalah, Arya harap mama bisa intropeksi diri sebelum melemparkan kesalahan pada orang lain." ujar Arya tenang namun penuh sindiran.


Merasa tak terima dengan perkataan anaknya, Dewi berbalik, melangkah cepat menuju Arya. Sampai di hadapan Arya tangannya sudah bersiap hendak menampar Arya. Sedangkan Arya hanya diam saja, membiarkan tangan ibunya melayang menuju pipinya. Tetapi semua itu tidak terjadi, tangan Dewi lebih dulu ditahan seseorang.


Arya menatap datar ayahnya yang baru saja menghentikan aksi ibunya. Arya tidak merasa senang sama sekali dengan apa yang dilakukan Ayahnya.


"Papa apa-apaan sih! Lepas gak?! Mama mau kasih pelajaran anak ini." pekik Dewi kesal, memberontak minta dilepaskan.


"Udahlah ma, ngapain mama tampar dia sih? Dia udah dewasa, dia pasti tahu mana yang baik dan buruk. Jadi biarin ajalah." Pandu langsung menarik Dewi, membawanya menjauh dari Arya.


Sementara itu, Arya tersenyum miring memperhatikan kedua orang tuanya yang melangkah menuju kamar mereka. Yang satu kelewat peduli dan yang satunya kelewat tidak peduli. Benar benar perpaduan yang pas.


***


Arya takut jika ia berbuat sesuka hatinya malah akan membuat Keyka semakin tidak menyukainya. Yah sekarang Arya sedang berada di depan rumah Keyla, berharap Keyla keluar dari sana agar mempermudah niatnya.


Pertengkarannya dengan Dewi sore tadi malah membuat Arya semakin tak tenang. Arya yakin ibunya sedang mnyusun rencana agar membuat Keyla tidak betah bekerja dengannya. Seperti sebelum sebelumnnya.


Maka dari itu, Arya memberanikan dirinya untuk menemui Keyla hari ini juga, jika tidak bisa dipastikan ia tidak akan tidur nyenyak malam ini.


Arya menghela napasnya, mencoba menenangkan degup jantungnya yang terasa berdebar cepat. Fokus matanya beralih pada ponsel ditangannya, yang menampilkan nomor ponsel Keyla.


Arya menarik napasnya, memberanikan dirinya untuk menghubungi Keyla. Ditempelkannya benda persegi itu ditelinganya, beberapa detik Arya menunggu namun panggilannya tak kunjung di jawab.


Hembusan napas kasar Arya keluarkan, kepalanya ia benturkan ke kemudi mobil. Arya mengangkat kepalanya, mungkin lebih baik ia mengirim pesan saja pada Keyla. Siapa tau Keyla tidak mempunyai nomornya, jadi menganggap panggilannya tidak penting.


Sementara itu, di sisi lain. Keyla duduk selonjoran di atas karpet, di tangannya sedia keripik kentang menemaninya yang sedang menonton drama korea bersama Kyla. Kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan keduanya saat bosan atau sedang patah hati sepertinya.


"Kya! Jin Hyuk oppa!!"


"Terus bang, jangan kasih kendor!"


"Ya ampun senyumnya bikin meleleh aja bang!"


Keyla memutar bola matanya malas, mendengar teriakan lebay adiknya yang entah untuk keberapa kalinya.


Setiap tokoh utama pria muncul, Kyla pasti berteriak, membuat Keyla jengah saja. Fokusnya menonton jadi terganggu. Bahkan adiknya itu sampai menggigiti bantal saking gemasnya melihat Choi Jin Hyuk dan juga song ha yoon.


Keyla menggelengkan kepalanya, kadang ia bingung kenapa Kyla sama lebaynya seperti dirinya bila melihat pria tampan. Ah sepertinya jiwa centil ibunya mengalir dalam dirinya dan Kyla.


"Bilangnya gak suka pria tua." cibir Keyla.


Sejenak, Kyla menghentikan aksi gemasnya. Menatap sinis pada Keyla, "Eh sorry yah, Choi Jin Hyuk ahjussi rasa oppa oppa. Gak kaya mantan lo, om om menuju father father." balasnya tak terima.


Keyla memutar bola matanya, malas mendengar segala pembelaan Kyla tentang oppa oppanya itu. Lebih baik Keyla menikmati kembali menontonnya, dari pada mengusik Kyla yang pasti akan berakhir dengan adu mulut tiada henti.


Suara dering ponsel membuat keduanya serempak berdecak. Bukannya mencari tau ponsel siapa yang berbunyi, kakak beradik itu malah pura pura tak mendengar, mereka tak mau melewatkan adegan yang paling ditunggu di drama korea yang sedang ditontonnya.


"Handphone lo bunyi noh, angkat sana, berisik." seru Kyla kesal, setelah ia memeriksa ponselnya yang ternyata tidak berbunyi. "Tumben handphone jomlo kaya lo ada yang telpon." cemoohnya.


Keyla melempar keripik ditangannya ke arah Kyla. Punya adik seperti Kyla membuatnya harus sedia menyetok kesabaran. Puas membalas Kyla, Keyla lantas bengkit mengambil ponselnya yang ia simpan di atas ranjang Kyla.


Ponsel sudah ada di tangannya, baru saja ia hendak menjawab panggilan lebih dulu berakhir. Dahinya mengernyit bingung melihat id challer si penelpon.


"******** gila," gumam Keyla pelan, Keyla heran sejak kapan dia menyimpan nomor dengan nama itu.


"******** gila siapa?" tanyanya pada diri sendiri, mengingat ngingat siapa orang yang ia beri nama begitu.


"Mana gue tau, lo ngasih nama orang aneh aja." sahut Kyla, "Mungkin itu salah satu nomor mantan lo kali. Atau mungkin nomornya si keparat Fandi." sambungnya.


Keyla duduk di tempat semula, otaknya masih berpikir mengenai si penelpon. "Seinget gue, gue gak pernah ngasih nama gitu deh. Lagi pula nomor mereka semua udah gue blokir."


Keyla mengedikan bahunya, berusaha tak peduli dengan si ******** gila ini. Mungkin itu hanya orang iseng saja, tapi hati kecilnya berkata lain. Ia penasaran dengan si penelpon dan ada urusan apa menelponnya. Keyla menggigiti bibirnya, menimang nimang untuk menelpon balik atau tidak.


"Kalo penasaran telpon balik aja," celetuk Kyla, gemas dengan Keyla yang terlalu banyak berpikir.


Keyla mengangguk setuju, belum sempat ia menekan tombol panggilan, sebuah pesan lebih dulu masuk ke ponselnya. Pesan yang dikirim dari orang yang sama dengan yang menelpon tadi.


Keyla membaca kata demi kata dalam pesan itu. Sampai matanya tertuju pada bagian akhir dari pesan itu Keyla sontak melemparkan ponselnya. Matanya melotot horor menatap ponselnya. "Gila," komentarnya menggelengkan kepala tak percaya.


Kyla yang heran dengan reaksi Keyla lantas mengambil ponsel Keyla. Membaca pesan yang dikirimkan si ******** gila ini.


Aku ada di depan rumah kamu, boleh aku bertamu ke rumah kamu?


Arya.


"Arya? Bukannya itu mantan lo yang om om itu yah?" tanya Kyla menatap Keyla yang sedang menggigiti jarinya.


"Iya," cicitnya pelan, Keyla bingung kenapa Arya ada di depan rumahnya dan mau apa pria itu ke rumahnya.


"Mau ngapain di ke sini?" tanya Kyla lagi, tangannya menyerahkan kembali ponsel Keyla. "Kayaknya kalo dia ketemu mama bakal seru deh." Kyla tersenyum miring seraya menaik turunkan kedua alisnya. Keyla menatap horor adiknya, ia tau apa yang adiknya itu pikirkan, dan sebelum semua itu terjadi Keyla lebih dulu bangkit dan berlari dengan cepat keluar dari kamar Kyla untuk menemui Arya.


Di tempatnya Kyla terkikik, mellihat begitu takutnya Keyla tadi.


***


Arya memghembuskan napasnya untuk yang kesekian kalinya. Jarinya mengetuk ngetuk kemudi mobil matanya masih terfokus menatap bangunan dua lantai di depannya.


"Kenapa gak dibales yah? Apa gue langsung masuk aja?" gumamnya.


Pria itu mengacak rambutnya frustasi. Ia sudah bosan menunggu lagi, memantapkan hatinya Arya memegang handle pintu baru saja ia hendak membuka pintu orang yang ditunggunya sudah lebih dulu keluar.


Bibir Arya tertarik begitu saja saat melihat Keyla, pria itu diam memperhatikan Keyla yang berjalan tergesa keluar dari pekarangan rumahnya. Alis Arya terangkat melihat tingkah Keyla yang waspada, wanita itu seolah takut ada yang melihatnya. Merasa sekitarnya aman tanpa ada orang berkeliaran, Keyla lekas berlari cepat menuju mobilnya.


Arya menatap Keyla yang sudah duduk di sampingnya, napas wanita itu tak beraturan. Merasa diperhatikan, Keyla menoleh pada Arya, wanita itu langsung duduk tegak. "Bapak ngapain ke rumah saya? Ada kerjaan mendesak?" tanya Keyla formal.


Arya menggeleng, tangannya berusaha menutup mulutnya menahan tawa yang hendak keluar melihat penampilan Keyla. "Nggak ada, saya hanya ingin berbicara mengenai kejadian tadi siang." jelas Arya, Keyla mengangguk paham. "Dan satu lagi, jika sedang di luar kantor jangan bersikap formal."


Lagi Keyla mengangguk. Ia diam menunggu Arya berbicara lagi, bukannya mendengar suara Arya, Keyla malah mendengar suara kikikan dari sampingnya. Gadis itu mengerut bingung, beberapa detik kemudian mata Keyla membulat teringat dengan penampilannya. Keyla langsung mengalihkan pandangannya ke samping. Merutuki kecerebohonnya.


Bagaimana bisa ia berpenampilan berantakan seperti ini. Ia mengenakan kaus kebesaran bewarna merah muda yang sialannya terdapat tulisan JOMBlO besar. Belum lagi celana lusuh selutut yang biasa ia gunakan saat tidur memperparah tampilannya. Rambut sepunggungnya tergerai begitu saja dan yang lebih memalukan kenapa Keyla memakai sandal jepit merah pemberian Arya? Ah shit, sepertinya ini akan menjadi penampilan terburuknya di depan mantan.


***