
Netra dengan iris coklat itu menatap hampa pada kotak persegi di pangkuannya. Ekspresi wajahnya datar, dan sulit ditebak, berbagai rasa berkecamuk dalam hati dan kepalanya. Kedua tangannya meremas sisi kotak dengan erat hingga membuatnya penyok. Namun, hal itu tak jua membuatnya puas, kini tangannya terulur meraih sebuah potret berisi seorang pria dan gadis remaja dengan seragam SMAnya.
Bibir pucat itu menarik sudut bibirnya, menampilkan seringaian yang terlihat menyeramkan di suasana malam ini. Ada sorot tak biasa saat dirinya melihat potret sepasang kekasih itu, dimana si gadis menampilkan ekspresi luar biasa ceria dan bahagia dengan rambut yang dikuncir dua tak lupa tanganya merangkul lengan si pria. Berbanding terbalik dengan si gadis, pria itu justru menampilkan ekspresi yang terkesan dipaksakan. Kedua tangan masuk ke dalam saku, dan terlihat sekali agak risih berdekatan dengan si gadis.
Perempuan itu tertawa getir, matanya seolah dibuka lebar-lebar akan kenyataan yang ada. "Aku baru sadar, bahkan sejak dulu pun kamu gak pernah mencintai aku," suaranya begitu lirih dan menyayat hati. "Aku memang terlalu dibutakan cinta."
Perempuan itu menghela napas perlahan, menahan sesak di dadanya. Matanya mulai diselimuti kabut yang sebentar lagi akan menganak sungai. Kepalanya menengadah, menghalau cairan yang menyeruak dari matanya. Tidak, ia tidak boleh menangis. Cukup sudah selama ini ia menangisi pria itu, kali ini tidak boleh ada lagi air mata. Dia, Keyla sudah merasa lelah dengan segala hal yang berhubungan dengannya. Pria itu memang paling bisa mempermainkan perasaannya.
Sekali lagi Keyla menatap isi dalam kotak pink ditangannya, matanya menerawang. Begitu banyak benda kenang-kenang mereka di masa lalu, yang begitu membekas bagi Keyla tapi tidak bagi pria itu. Mengenang masa lalu membuat ingatannya ditarik pada pertemuan pertema mereka yang begitu memalukan.
Hari itu, Aurel ulang tahun. Mereka berencana membuat kejutan, lebih tepatnya Vito yang hendak memberikan kejutan pada istrinya itu. Dan sebagai teman yang baik Keyla dan kedua sahabatnya ikut membantu mempersiapkan segalanya serta memastikan berjalannya acara. Saat siang menjelang Keyla, Maura dan Tasya datang ke rumah orang tua Vito, mereka berencana menghias rumah Vito dengan balon dan pernak pernik sederhana lainnya.
Hal itu ternyata cukup menguras tenaga, apalagi mereka tidak menyewa orang untuk membantu. Baru saat sore menjelang ketiganya pamit pulang, dan akan kembali saat malam nanti. Keyla yang memang sudah kelelahan langsung tumbang. Ia tertidur dengan nyenyak sampai lupa waktu dan baru terbangun saat Ambar menggedor pintu kamarnya dengan brutal dan mengatakan ada Tasya dan Maura.
"Keyla bangun! Tasya sama Maura udah nungguin dari tadi!"
Sontak saja Keyla langsung terlonjak bangun, secepat kilat mandi dan bersiap. Keyla bahkan tidak sempat memoles wajahnya, yang Keyla pikirkan jangan sampai kedua temannya mengamuk. Dan benar saja saat sampai di ruang tamu, keduanya sudah memasang wajah garang dengan mata tajam bagai silet hingga Keyla bergidik. Tanpa belas kasihan keduanya kangsung menarik Keyla begitu saja, dan menyeretnya masuk ke dalam mobil.
"Lama banget sih, kebiasaan ngaret mulu!" Ketus Tasya.
Selama perjalanan Keyla dibuat ketar-ketir. Bibirnya mengerucut saat Tasya dan Maura mengabaikannya. Dua puluh menit waktu perjalanan terasa begitu mencekam bagi Keyla. Begitu sampai di kediaman orang tua Vito, Maura dan Tasya langsung saja keluar dengan membanting pintu hingga membuatnya dan Pak Ujang--supir Tasya-- terlonjak.
"Makasih yah, Pak," ujar Keyla saat turun dari mobil.
Saat memasuki halaman ada dua mobil yang sudah terparkir, dan saat Keyla melintas halaman depan matanya tak sengaja melihat penampilannya yang terpantul dari kaca mobil. Seketika Keyla menghentikan langkahnya. "OMG!! Kenapa muka gue jelek banget!" Pekik Keyla histeris.
Kakinya melangkah mendekat pada kaca mobil, melihat dari dekat wajahnya yang kumal. Wajar saja, orang dia gak sempat dandan tadi. "Ck! Gara-gara Maura sama Tasya, gue jadi gak sempet dandan kan." Keyla berdecak sebal. "Udah jomblo, jelek pula, nasibmu ngenes amat Key," gerutunya.
Tangannya merogoh tas selempang hitam yang dibawanya, mencoba mencari bedak dan liptint yang sempat ia masukan tadi, semoga saja tidak ketinggalan. Dan dapat! Keyla tersenyum cerah, setidaknya penampilannya bisa lebih baik dengan itu. Akhirnya Keyla menyapukam sedikit bedak di wajahnya. Selesai urusan bedak, Keyla beralih pada bibirnya, untung saja bibirnya tidak pecah-pecah jadi pakai liptint saja cukup.
Baru saja Keyla hendak memulas bibirnya, bersamaan dengan itu jendela kaca mobil bagian pengemudi-- yang Keyla pakai untuk becermin-- turun secara perlahan. Menampakkan seorang pria yang menyeringai menatapnya. Mulut Keyla terbuka, tangannya menggantung di udara. Waktu seakan berhenti seketika, mata Keyla mengerjap.
"Ganteng banget!" Jerit batinnya.
"Kenapa gak dilanjut?" Tanya pria itu, ada nada geli dalam suara beratnya.
Untuk sejenak, Keyla kehilangan pasokan udara. Ritme jantungnya bergerak cepat. Pria yang entah siapa namanya itu keluar dari mobil membuat Keyla otomatis mundur perlahan. Kini keduanya saling berhadapan, Keyla sampai harus mendongak saking tingginya pria itu. Postur tubuhnya tegap, dengan wajah yang terpahat sempurna. Rambut sepanjang telinganya dibiarkan berantakan.
"Ini mimpi atau nyata yah?" Gumam Keyla namun masih bisa terdengar oleh pria itu.
Laki-laki yang mengenakan kemeja putih dan celana jeans sky blue itu terkekeh. Kepalanya menunduk sejajar dengan gadis yang mengenakan dress peach dengan rambut dibiarkan tergerai. "Kamu gak mimpi kok," sahutnya seraya mencubit pelan pipi Keyla.
Mendapat perlakuan begitu tentu saja menghasilkan reaksi tak biasa. Di mana pipinya yang polos kini berubah kemerahan. Aksi pria itu tidak sampai di sana, kini tangannya terulur meraih liptint di tangan Keyla. Senyuman tidakĀ luntur dari wajah tampannya, Keyla diam saja saat dagunya diangkat perlahan. Dan tanpa Keyla duga pria itu menyapukan liptint di bibirnya. Mata Keyla menatap lekat pada wajah rupawan itu. Sedangkan pria itu tampak fokus pada bibirnya.
"Selesai!" Pria itu berseru senang kemudian menegakkan tubuhnya. Matanya menyipit karna tersenyum lebar. Untuk kesekian kalinya Keyla dibuat terpesona. "Sekarang udah cantik, gak jelek lagi," goda pria itu.
Lagi-lagi Keyla dibuat merona. Ketahuan sekali kalau dia tidak awam akan hal seperti ini. "Makasih kak," cicit Keyla seraya menunduk. Terlalu malu untuk menatap wajah itu lebih lama lagi.
Dari sudut matanya Keyla melihat kepala pria itu mengangguk. Pria di depannya ternyata penuh kejutan tidak sampai sana Keyla dibuat berdebar lagi saat tangan besar dan beotot itu meraih jari-jari tangannya yang mungil. Entah kenapa meskipun pria itu begitu asing baginya tapi Keyla merasakan rasa nyaman saat tangan besar itu melingkupi tangannya.
"Ayo!" Ajaknya, menarik tangan Keyla memasuki kediaman Vito.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Keyla dibuat berdebar oleh seorang pria. Dia memang tipikal orang yang mudah jatuh cinta namun perasaan yang kini dirasanya berbeda. Terlalu menyenangkan untuk dijabarkan. Keyla menggigit bibirnya, menahan lengkungan yang ingin menghiasi wajahnya. Matanya menatap punggung kokoh yang berjalan di depannya.
Tasya dan Maura yang melihat Keyla datang dengan pria asing tentu saja mengernyit bingung. Apalagi saat melihat kedua tangan keduanya saling bertaut, jelas itu kejadian langka. Keduanya menuntut jawaban dari Keyla yang kini menghampiri keduanya sementara pria itu menghampiri Vito.
"Siapa?" Tanya Tasya penuh selidik.
Keyla mengedikan bahunya. "Kalo gue bilang dia calon pacar gue gimana?"
Maura menoyor kepala Keyla. "Ngaco!"
Vito dan pria tadi menghampiri mereka, wajah itu masih saja tersenyum membuat Keyla makin tak tahan. Dan saat itulah Keyla tau bahwa pria itu adalah teman Vito.
"Kenalin ini teman saya, namanya Arya!" Seru Vito memperkenalkan.
Dan saat pria bernama Arya menyodorkan tangannya. Keyla langsung menyerobot dan menjabat tangannya.
"Arya,"
***
"Key cepetan turun, kita makan malam!!"
Keyla tersentak, matanya mengerjap lantas menatap sekitar. Dia menghenbuskan napas, ternyata ia terlalu hanyut akan kenangan masa lalu. Kenangan itu begitu sulit Keyla lupakan hingga kini. Tapi sekarang tekadnya sudah bulat, Keyla lelah berurusan dengan masa lalu.
Jemari tangannya bergerak cepat memasukan benda-benda yang pernah begitu berharga. Tak lupa sandal buluk milik pria itu juga Keyla masukan. Kini semua yang berhubungan dengan Arya sudah terkumpul dalam kotak.
Ambar dan Danu mengernyit saat melihat Keyla masuk dapur dengan pakaian yang sama saat pulang bekerja. Wajah anaknya juga tampak sedih, pikiran buruk menyerang keduanya. Apa mungkin Keyla di pecat?
"Mau kemana Key?" Tanya Danu saat Keyla berjalan lurus hendak menuju ke halaman samping.
Langkah kaki Keyla terhenti, seulas senyum tipis dia sunggingkan. "Mau bakar sampah, Pa," jawab Keyla.
Kepala Danu bergerak naik turun tanda mengerti. "Oh iya tadi Fandi ke kantor, dia titip salam buat kamu." Danu berujar, matanya menatap Keyla ingin tahu respon anaknya. Tapi tak ada ekspresi berarti yang Keyla tampilkan wajah anaknya masih murung, Danu dibuat penasaran akan penyebabnya. Sementara Ambar yang sedang menyiapkan makanan langsung terhenti, alisnya berkerut bingung.
"Fandi siapa?" Tanya Ambar penasaran. Tiba-tiba saja senyuman mengembang di wajahnya. "Akhirnya Keyla ada suka juga."
Danu menggeleng pelan akan tingkah istrinya yang selalu berlebihan. Sementara Keyla memilih melenggang pergi enggan membahas soal Fandi yang kembali memcoba mendekatinya lewat Danu. Baginya Fandi sudah tak ada artinya.
Sedangkan Kyla dibuat cemas akan keadaan Keyla. Kyla jelas tau apa kotak yang dibawa Keyla. Kyla adalah salah satu saksi bisu perjuangan Keyla mendapatkan Arya dan segala hal yang berhubungan dengan pria itu selalu Keyla simpan dengan apik.
Dari dulu Kyla selalu mengejek Keyla yang mau mauan menyimpan benda yang menurutnya sampah itu. Namun Keyla tetap pada pendiriannya untuk menyimpan semuanya. Dan jika saat ini Keyla memutuskan untuk membuangnya, artinya Keyla sudah benar-benar pada batasnya.
Kyla tau, meski pada saat di cafe Keyla terlihat biasa saja. Nyatanya hati kakaknya itu hancur tak terkira. Kyla saja jika ada di posisi Keyla pasti sudah merasakan sakitnya. Kyla jadi ingat saat acara makan direstoran tempo hari. Arya begitu perhatian pada Keyla, jika matanya tidak salah melihat Kyla tau ada rasa dari Arya untuk Keyla. Tapi kini ia dibuat bingung juga geram, kenapa Arya setega itu, jika pada akhirnya hanya menyakiti lebih baik jangan mendekati.
Diam-diam Kyla mengikuti Keyla yang berjalan menuju belakang rumah. Tubuh itu terlihat ringkih, tidak seperti Keyla biasanya. Meski Kyla suka membuat Keyla kesal tapi ia paling tidak bisa melihat kakak satu-satunya itu bersedih. Dibalik sikap bar-barnya Kyla tau kakaknya itu memiliki hati yang lemah lembut dan mudah tersentuh. Tak ayal jika ia mudah jatuh hati pada Arya si perayu.
"Biar Kyla aja yang bakar kak." Kyla menginterupsi kegiatan Keyla yang hendak memasukan kotak ke dalam tong sampah.
Tidak ada balasan dari Keyla, perempuan itu masih diam berdiri membelakangi Kyla. Karna tak kunjung menunjukan reaksi, Kyla memberanikan diri berjalan ke depan Keyla. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat wajah Keyla yang dipenuhi air mata.
"Kak," panggil Kyla lirih seraya merangsek maju, memeluk Keyla. Melihat Keyla serapuh ini jelas membuat Kyla juga ikut sakit. "Kakak bisa cerita sama aku kak, kakak gak sendiri."
***
Patah hati membuat kinerja otaknya sedikit terganggu. Dan Keyla malas sekali jika pekerjaannya terbengkalai dan harus membuatnya bertemu pria itu. Yah, nyaris satu minggu ini Keyla berhasil menghindari Arya. Berbagai cara berhasil dilakukannya, beruntungnya Arya juga sedang sangat sibuk minggu ini dan sering keluar kantor. Dan Keyla patut bersyukur akan itu, tapi kali ini sepertinya bukan hari beruntungnya sebab sejak pagi Arya terus-terusan berusaha mengajaknya berbicara tapi selalu Keyla tak acuhkan.
Namun bagi Keyla tidak ada yang perlu mereka bicarakan. Kisah keduanya sudah berakhir lima tahun lalu. Dan tak seharusnya Keyla kembali jatuh pada pria itu. Keyla melirik jam di tangannya, sebentar lagi jam pulang bekerja. Perempuan itu langsung membereskan meja kerjanya, bersiap untuk pulang. Hal itu sudah ia lakukan selama satu minggu ini demi menghindari Arya.
Dan nyaris satu minggu ini juga Keyla dibuat heran dengan tingkah Arya. Pria itu terlalu pintar bermain peran hingga Keyla tidak tau pria itu bersungguh sungguh atau hanya mempermainkannya. Setelah semua beres, Keyla lekas bangkit dan bergegas pergi. Kakinya melangkah cepat, makin cepat kala pintu ruangan Arya terbuka dan pria itu muncul setelahnya. Keyla menekan tombol lift dengan tak sabaran, saat sadar Arya berusaha mengejarnya.
"Keyla, tunggu!" Sergah Arya seraya berderap cepat.
Tapi usahanya sia-sia saat Keyla berhasil masuk lebih dulu dan pintu kini tertutup. "Shit!" Umpatnya seraya mengacak rambut frustasi.
Tanpa menunggu lama, Arya beralih pada lift satu lagi. Yang diperuntukan untuk petinggi perusahaan. Sementara itu Keyla menghela napas lega, tubuhnya menyandar pada dinding lift. Tubuh dan hatinya lelah jika terus-terusan begini. Entah sampai kapan Keyla akan sanggup terus begini, inginnya Keyla ia berhenti bekerja saja demi kelangsungan hatinya. Namun ia terikat kontrak, dan ada konsekuensi jika ia mengundurkan diri.
Dentingan lift memyadarkan Keyla, ia bergegas keluar sebelum Arya berhasil menyusulnya. Lobi kantor cukup ramai oleh orang-orang yang hendak pulang. Keyla melangkah lebuh santai, bibirnya melengkung senyum saat bertemu dengan Metta di balik meja resepsionis. "Duluan Ta," pamitnya.
"Apa kamu akan terus menghindar Key," suara dari belakangnya membuat tubuh Keyla membeku.
Seperti seblumnya, Keyla langsung berjalan cepat tanpa menoleh sedikitpun.
"Keyla tunggu!" Seru Arya, namun Keyla tak acuh dan memilih menulikan pendengarannya. Kegiatan di lobi seketika terhenti, para karyawan mengernyit bingung melihat bos mereka yang kini mengejar serketarisnya berbagai spekulasi menghampiri. "Keyla Anindhyta! Aku perlu bicara," pinta Arya memelas.
Suasana semakin tidak mengenakan, Keyla tidak buta jika kini dia dan Arya menjadi pusat perhatian. Tapi apa pedulinya, baginya menjauh dari Arya jauh lebih penting. Nyaris mencapai o
Pintu Keyla berhenti tapi tidak berbalik. "Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, semua sudah selesai," ujar Keyla dingin dan berlalu pergi.
Arya dibuat mematung, tubuhnya lemas seketika. Matanya menyorot sedih menatap kepergian Keyla. Arya menghembuskan napas berat, hal itu tentu saja membuat para karyawan yang tersisa saling berbisik.
Kenapa semua jadi begini, Arya tidak tau kenapa semua sekacau ini. Ia tidak tau kenapa hatinya seberantakan ini. Arya tidak tau apa yang sebenarnya hatinya ingin, semuanya terlalu membuatnya frustasi. Yang Arya mau saat ini hanya berbicara dengan Keyla dan menjelaskan semua. Matanya menatap jam dipergelangan tangannya. Jam itu sudah ketinggalan jaman, meski begitu bagi Arya jam itu begitu berharga. Jam pemberian Keyla saat ulang tahunnya yang ke dua puluh enam tahun.
***