
"Dimakan Key."
Keyla tersentak, tersenyum kikuk pada Arya yang memperhatikannya. Tidak sekali dua kali Keyla kedapatan melamun oleh Arya. Itu memang bukan hal yang terlalu memalukan. Hanya saja, saat melamun Keyla selalu tidak sadar dengan ekspresinya.
Ekspresi yang menurut beberapa mantannya, sungguh gak banget. Dengan mulut yang terbuka, mata yang tidak berkedip memandang lurus lawan bicaranya. Kadang membuat ilfeel beberapa mantannya. Dan jangan sampai Arya juga ikut-ikutan ilfeel padanya. Tapi.... Kenapa Keyla harus takut Arya ilfeel padanya? Bukankah itu bagus, berarti Arya tidak akan suka padanya. Tapi kalau begitu Keyla tidak bisa membuat kesan mantan yang elegan dong. Oke, mulai sekarang Keyla tidak akan melamun lagi.
"Ngelamun lagi?"
"Hah?"
Arya menutup mulutnya, berusaha menahan tawa melihat ekspresi melongo Keyla. Gigi kelinci Keyla yang terlihat, menambah kesan lucu menurut Arya. Berbeda dengan Arya, Keyla justru merutuki kebodohnya yang lagi-lagi kepergok dengan melamun. Pupus sudah citra gadis anggun dalam dirinya.
Arya tersenyum, setelah berhasil meredakan tawanya. Sedari tadi sebenarnya Arya merasa canggung dengan situasi antara mereka berdua. Disatu sisi, Arya ingin berbicara panjang lebar dengan Keyla. Menyalurkan rasa rindunya kepada wanita di hadapannya. Namun Arya sadar, keadaan diantara mereka berdua sudah berbeda. Dan yang membuat itu terjadi adalah dirinya.
Ingin sekali Arya meminta maaf untuk semua kesalahannya di masa lalu. Tapi sebisa mungkin Arya tahan kata itu. Kadang ada beberapa orang yang tidak suka membahas topik yang berbau masa lalu. Lagi pula, sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat. Mereka baru saja bertemu setelah lima tahun terpisah, akan lebih baik Arya memberikan kesan nyaman terlebih dahulu agar semuanya lancar.
Keyla duduk gelisah. Entah Arya sadar atau tidak. Pria itu terus menatapnya, membuat Keyla tidak nyaman. Lebih tepatnya membuatnya merasa malu. Mungkin saja ada cabai di giginya saat tadi ia melongo atau yang lebih parah lagi riasannya mulai luntur. Sepertinya Keyla harus segera menyelesaikan acara makan siang bersama yang penuh dengan kecanggungan ini.
Kalau saja Arya tidak dengan baik hatinya meminjamkan Keyla sendal jepit merek terkenal ini. Pasti mereka tidak akan berakhir makan bersama seperti ini. Saat Arya menarik tangannya, Keyla pasrah saja mengikuti pria itu yang membawanya ke dekat mobilnya. Keyla tidak tau apa yang Arya lakukan, terlalu malas untuk menerka nerka. Sampai saat Arya menyodorkan sebuah sendal jepit bewarna padanya. Mulanya Keyla tidak mengerti sampai saat Arya mengatakan, "Kamu pake, nanti kaki kamu melepuh kalo gak pake alas kaki. Maaf, cuma ada sendal jepit. Ini juga bekas aku, tapi jarang aku pake kok. Paling cuma dipake kalo aku lagi sholat atau jumatan di luar aja."
Penjelasan Arya yang tanpa Keyla minta, membuat wanita itu akhirnya menyetujui ajakan Arya untuk makan siang bersama. Dengan syarat jangan jauh-jauh, karena Keyla masih punya malu untuk tidak berkeliaran dengan salah kostum seperti ini. Akhirnya Arya membawanya ke restoran dekat dengan PT. Nata Perkasa.
"Key!" panggil Arya pelan. Pria itu sudah menyelesaikan makannya. Sementara Keyla piring Keyla masih tersisa banyak.
"Iya?"
"Makanannya gak enak yah? Dari tadi kamu makannya kaya gak nafsu gitu." tanya Arya.
Keyla menggeleng, memaksa menarik kedua sudut bibirnya, "Nggak kok. Cuma emang nafsu makannya lagi jelek akhir-akhir ini." jelas Keyla.
Arya mengangguk, "Kirain karena makan sama aku, kamu jadi gak nafsu."
Emang iya, teriak hati Keyla. Keyla yang biasanya makan penuh nafsu, sekarang harus menjaga image nya. Ingin sekali Keyla berteriak di depan muka Arya, tapi lagi-lagi Keyla menahan keinginannya. Jika dia melakukan itu, sama saja ia menunjukan dirinya yang masih terpengaruh dengan Arya.
"Oh iya, kamu ngapain tadi di Nata Perkasa?" tanya Arya, semoga saja Keyla tidak sadar bahwa Arya sedangĀ mencari cari topik pembicaraan. Jika disituasi normal, Arya pasti akan ke mode Arya yang bawel dan kadang ceplas ceplos. Tapi lagi-lagi, Arya menahan itu semua. Semata mata karena tidak mau membuat Keyla merasa tersakiti atau tersinggung dengan ucapannya.
Keyla menelan makanannya, sebelum menjawab pertanyaan Arya, "Kebetulan aja lagi ada urusan. Kamu sendiri? Ngapain di sana?"
"Sama kaya kamu, lagi ada urusan kerjaan." jawab Arya.
Hening menyelimuti keduanya. Arya melirik jam ditangannya, masih ada waktu sampai waktu makan siangnya habis.
"Kalo masih ada urusan, duluan aja." celetuk Keyla.
Arya mengernyit, lantas menggeleng, "Nggak papa, aku nunggu sampai kamu selesai makan aja."
Keyla menghela napasnya, kalo begini nafsu makannya semakin hilang. Tidak enak pada Arya. "Kamu abis ini mau kemana?"
"Pulang."
"Nggak jalan jalan atau main dulu?" tanya Arya lagi.
"Nggak, males. Pengen istirahat."
Arya mengangguk mengerti, "Kamu pulang naik apa? Mau aku anterin?" tawar Arya.
Keyla mengerang, ingin Keyla saat ini adalah pergi jauh-jauh dari Arya. Bukan malah terjebak berdua dengan pria itu lagi. "Nggak usahlah kamu pasti sibuk." melihat dari apa yang Arya pakai, sepertinya pria itu bukanlah seorang karyawan biasa, "Lagian aku juga bawa motor kok." tolak Keyla halus.
Keyla beranjak, mengambil tasnya. Arya ikut beranjak, memperhatikan Keyla yang merapikan pakaiannya. Wanita itu tersenyum pada Arya. "Makasih buat makan siangnya." ucapnya tulus. "Aku pulang." pamitnya.
Arya mengangguk, membalas senyum Keyla. Tatapan Arya mengikuti Keyla yang keluar dari restoran. Teringat akan sesuatu, Arya segera menyusul Keyla. Arya mencari Keyla, namun wanita itu tidak terlihat.
"Padahal mau minta nomornya." gumamnya, "Nanti juga ketemu lagi." ucapnya yakin.
***
Sebuah tangan memegang dahinya. Membuat Keyla terlonjak, lantas mengalihkan tatapannya dari sepasang sendal jepit di depannya.
"Apaan sih lo!" sewot Keyla, menepis tangan Kyla dari dahinya.
"Kirain lo mulai gila. Abis liatin sendalnya penuh nafsu gitu." Kyla mengedikan bahunya, tak peduli dengan Keyla yang melotot kesal padanya. Kyla memang tidak ada sopan sopannya padanya, saat beruda seperti dia memang tidak memanggilnya dengan embel embel 'kak'.
"Ngapain sih lo ke sini. Ganggu tau gak!" sungut Keyla. Menendang kaki Kyla yang berselonjor di sampingnya.
"Harusnya lo berterima kasih. Syukur syukur gue mau nemenin jomblo menyedihkan kaya lo." balas Kyla, tidak beranjak dari posisinya. Malah sekarang gadis itu membaringkan tubuhnya.
Keyla diam, tidak lagi balas mendebat Kyla. Semakin dibalas, maka Kyla akan semakin gencar mebalas perkataannya. Karena gadis itu sangat suka membuatnya kesal.
Keyla kembali melanjutkan kegiatannya, menatapi sendal jepit bewarna merah di atas kakinya.
Kyla mendengus melihat tingkah laku absurd kakaknya. Keyla benar-benar tiduk punya kerjaan, sampai sendal aja dipelototin.
"Itu sendal buluk dari siapa sih, diliatin mulu." Kyla bangkit, ikut memperhatikan sendal itu.
"Dari mantan." jawab Keyla tanpa sadar.
"APA?"
Keyla tersentak, "Eh lo nanya apaan barusan?"
Kyla berdecak, melihat ketidakfokusan kakaknya, "Gue tanya itu sendal butut dari siapa. Trus lo jawab kalo itu sendal dari mantan lo."
"Emang iya gue jawab gitu?" tanya Keyla sangsi.
"Terserah." dengus Kyla kesal, kembali membaringkan tubuhnya.
Keyla menghela napasnya. Kenapa baru bertemu Arya beberapa kali saja sudah membuatnya jadi menyedihkan seperti ini.
"Kalo boleh tau. Itu dari mantan lo yang mana?" tanya Kyla pura pura tidak peduli, padahal ia sungguh penasaran sekali. "Secara mantan lo kan banyak. Padahal dulu boro boro punya mantan. Ada yang suka aja udah alhamdulillah."
Alis Kyla mengerut, mencoba mengingat ngingat siapa yang dimaksud Keyla. Matanya membulat sempurna saat ingat bagaimana antusiasnya Keyla saat menceritakan mantannya yang satu itu. "Oh! Yang Om-Om itu?" seru Kyla heboh.
Decakan kesal keluar dari mulut Keyla, "Dia nggak om om yah." ujarnya tak terima. Memangnya dia perempuan apaan.
"Kalo bukan om om apa namanya dong? Beda umur kalian kan kalo gak salah 8 atau 9 tahun gitu." sahut Kyla.
"Itu namanya dia matang yah. Dan perlu lo garis bawahi, gue suka lelaki matang, bukan om om." balas Keyla mau kalah. "Istilahnya itu kaya mangga yang udah mateng enak buat dimakan. Nah laki laki yang udah matang juga enak buat diporotin." terang Keyla.
"Matre!" desis Kyla.
"Gue realistis bukannya matre."
"Iya-iya lo menang." Kyla mengangkat tangannya, mengalah daripada perdebatan tidak berarti ini terus berlanjut. "Terus sekarang, ceritanya lo lagi kejebak nostalgia nih, gara gara sendal ini."
Keyla mengedikan bahunya, "Mungkin." jawabnya tak acuh.
"Pantesan lo mau aja nerima ni sendal jelek, padahal biasa lo anti banget." Kyla mengangguk ngangguk paham.
"Eh bentar..." Kyla bangkit duduk, memandang lantas memandang kakaknya lekat, "bukannya mantan lo yang waktu SMA itu yang bikin lo minggat ke Jakarta kan? Yang waktu lo ceritain itu."
Keyla mengangguk, tak terusik dengan fakta itu. Keputusan untuk mengambil kuliah di Jakarta, mulanya tidak terlintas dibenaknya sama sekali. Keyla hanyalah gadis manja yang tidak bisa jauh dari orang tua. Dan keinginannya untuk mandiri di Jakarta awalnya ditentang keluarganya. Bagaimanapun juga, mereka tidak yakin Keyla bisa menjalani itu semua. Namun perkataan seseorang yang mengatakan Keyla gadis manja yang tidak bisa apa-apa membuatnya bertekad untuk membuktikan bahwa perkataan orang itu salah. Dan buktinya sekarang Keyla bisa berhasil menjalani hidupnya sendiri.
"Gue tebak, mantan lo pasti makin ganteng. Makin segala-galanya dari dulu." perkataan Kyla membuyarkan lamunan Keyla tentang salah satu alasan ia memilih pergi.
"Iya, dia makin ganteng." sahut Keyla lesu. Arya makin tampan sama saja dengan Keyla makin lemah.
"Mantan lo sekarang umurnya berarti udah tiga puluhan kan? Dia masih single?" tanya Kyla beruntun. Ia merasa tertarik dengan kehidupan Keyka dan mantannya ini.
Keyla mengangguk lantas menggeleng, "Iya kalo gak salah umur dia udah tiga satu. Menurut lo, laki ganteng, kaya, terus mapan masih jomblo gitu?" tanya Keyla balik memandang adiknya.
Kyla memgangguk paham, "Berarti kalo bukan punya pacar ya punya istri." tiba tiba saja Kyla memandang Keyla, membuat Keyla bergidik jijik.
"Ngapain lo liatin gue."
"Nggak. Gue cuma kasian aja sama lo. Ngenes amat hidup lo."
"Sialan." umpat Keyla kesal.
Kyla tertawa senang, "Makanya jangan suka jual mahal, jual murah juga belum tentu ada yang mau." lagi, Kyla melancarkan aksinya menggoda Keyla.
"Berisik! Balik sana ke alam lo." usir Keyla. Mendorong bahu Kyla agar enyah dari hadapannya.
"Iya-iya, nyelow kali." Keyla beranjak dari kamar Keyla. Saat akan mencapai daun pintu, Kyla membalikan badannya, memanggi nama Keyla.
"Apaan lagi?" tanya Keyla jengah.
"Cuma mau bilang, jomblo aja udah ngenes jangan ditambah lebih ngenes lagi gara gara kejebak sama masa lalu." Kyla langsung berlari keluar dari kamar Keyla sebelum kakaknya itu mangamuk.
"Kyla Azzahra!" teriak Keyla berang.
Keyla menghembuskan napasnya, mengatur emosinya yang meluap gara gara adiknya itu. "Lama-lama gue bisa gila." gumamnya.
Netra hitam kecoklatan milik Keyla beralih pada sendal jepit merah yang masih ada di pangkuannya. Disimpannya sendal itu di nakas. "Dear mantan, cukup hidup gue yang lo recokin. Jangan mimpi gue lo recokin juga." setelah mengatakan itu, Keyla membaringkan tubuhnya. Menjemput mimpinya.
***
Tidak ada di dunia ini yang lebih nikmat selain menikmati kedamaian dengan bersantai sembari menonton televisi ditemani dengan camilan. Ditambah para pengganggu yang tidak ada semakin membuat Keyla damai. Hari kamis siang ini, untuk hitungan jarinya Keyla bisa menikmati ketenangan kembali. Tanpa adanya Kyla yang suka membuatnya kesal. Tidak ada juga Ambar, ibunya yang selalu ceramah setiap saat. Akhirnya Keyla bisa menikmati penganggurannya juga, sebelum nanti hari senin ia mulai bekerja.
Setelah sebelumnya ia bisa bangun siang lagi. Biasanya, tidurnya selalu diganggu oleh teriakan ibunya yang menyuruhnya untuk beberes, tapi kali ini. Telinganya aman tentram tanpa terjaman penyakit budeg mendadak.
Untung saja hari ini Kyla masih sekolah, ia jadi tidak harus menemukan wajah menyebalkannya.
Keyla meraih remot, mengganti saluran televisi yang membosankan. Keyla menghela napas saat kebanyakan saluran televisi menayangkan berita pembunuhan lah, pencurian sampai politik yang tidak dimengertinya. Itu semua terlalu berat untuk dicerna disaat ia ingin bersantai seperti ini. Lagi pula masalah hidupnya saja sudah berat gara gara mantan, eh.
Keyla menggeleng, kenapa juga si mantan lagi lagi harus nyangkut di pikirannya. Dia tidak sedang ingin mengenang masa lalu lagi, capek.
Akhirnya, Keyla memilih untuk menonton si kembar saja. Itu lebih baik.
Baru saja Keyla akan merebahkan tubuhnya di sofa. Suara bantingan pintu dari depan membuatnya terlonjak. Ia mengelus dadanya, dimana jantungnya berdebar cepat. Orang gila mana yang membanting pintu sekeras itu di siang bolong seperti ini.
Wajah penuh kekesalan Ambarlah yang Keyla lihat. Dia meringis, mengingat mengatai ibunya sendiri orang gila.
Ambar menjatuhkan tubuhnya di samping Keyla. Bibirnya misah misuh, sebentar lagi akan ada luapan kekesalah dari mulut itu. "Dasar ibu-ibu pada rempong semua. Gosip aja bisanya, dikira aku juga gak bisa apa. Padahal kalo mau udah dari lama kali aku kaya mereka. Awas aja mereka, aku bungkam mulutnya nanti." ujar Ambar menggebu gebu.
Keyla mengernyit, "Ma, kenapa sih?" tanya Keyla heran dengan kelakuan ibunya.
"Itu, ibu ibu komplek pada bikin kesel. Udah tau mama gak punya cucu, eh mereka malah pada pamer. Nyeritain cucunya yang ginilah yang gitulah. Mamakan jadi kesel." adu ibunya.
Keyla mangut mangaut. Tadi memang ibunya bilang ingin membantu tetangga yang akan melaksanakan hajatan khitanan cucunya. Dan sebagai tetangga yang baik, ibunya ikut membantu. Eh sekarang pulang pulang malah ngomel.
"Itu lagi bu Ratmi, sombong banget karena bentar lagi mau tambah cucu. Anaknya kan si Nisa lagi hamil lagi. Padahal si Nisa kan umurnya lebih muda satu tahun dari kamu. Mana dia pake nanya kapan nyusul punya cucu ke Mam jadi tambah kesel deh mama." sambungnya lagi, ternyata baginda ratu belum selesai mengeluarkan kekesalahnbya.
"Yaiyalah si Nisa kan udah gol duluan." gumam Keyla pelan, namun masih di dengar ibunya.
"Hush! Nggak boleh gitu. Kedengeran orangnya nanti jadi masalah lagi." nasehat ibunya. Padahal tadi ibunya sendiri yang marah marah, dengan suara yang gak bisa dibilang pelan. Dasar emak-emak, selalu bener.
Lagian Keyla juga heran, bu Ratmi ini doyannya ngurusin hidup orang lain aja. Giliran hidup anaknya yang diomongin orang lain eh dia malah ngamuk ngamuk. Heran deh.
"Kamu juga Key, makanya cepet nyari jodoh kamu. Biar mama juga bisa sombong ke mereka." ah elah ini emak satu malah nambah beban Keyla lagi. Dikira Keyla tau apa jodohnya siapa. Lagian juga jodoh udah ada yang ngatur. Keyla diam saja, membalas sama dengan ia akan tambah di cerca ibunya. Saat ini cukup iya kan saja.
"Malah diem lagi kamu. Au ah kamu malah bikin mama tambah kesel. Pokoknya kamu buruan cari pacar sebelum nanti mama jodohin kamu." Lha ini kenapa malah jadi nyerempet ke sana. Ini mamanya dari tadi kenapa sih. Sensi amat perasaan.
Nyonya Ambarwati gak tau aja nasib tragis anaknya ini. Jadi anak emang serba salah.
***