Real Love

Real Love
Real Love #19



Bersenang-senanglah dulu sebelum kesenanganmu direnggut paksa dari genggamanmu. Arya tersenyum getir, kala mengingat moto hidupnya selama ini. Kalimat asal yang ia ucapkan tiap kali orang bertanya prinsip hidupnya, yang sudah menyakiti banyak wanita, mematahkan hati mereka tanpa perasaan. Dan hanya mempermainkannya untuk mendapatkan kesenangan. Jahat? Arya akui itu.


Untuk istilah jaman sekarang Arya bisa disebut fakboi. Tak terhitung berapa hati yang sudah hancur akan tingkah lakunya. Jiwa mudanya seakan tidak pernah puas jika tidak menyakiti kaum hawa. Bila dipikir ulang, Arya tidak mengerti kenapa dia bisa sejahat dan setega itu. Menerima setiap wanita yang menyatakan perasaan, memperlakukan mereka layaknya ia memiliki perasaan yang sama padahal di belakang ia bermain dengan wanita lain.


Arya yang dulu, selalu mementingkan kebahagiannya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Padahal dia jelas pernah merasakan di posisi saat keberadaannya tidak pernah dianggap dan akan dibutuhkan jika sudah waktunya. Sakit tentu saja, tapi hal itu tidak bisa menjadi patokan untuknya agar tidak berbuat hal serupa pada orang lain.


Kini kebahagiaan Arya benar-benar direnggut dari genggamannya. Dulu Arya bisa bebas melakukan apapun semaunya, namun sekarang tidak lagi. Hidupnya tak sebebas dulu, Arya sekarang tak lebih dari pion, yang hidupnya sudah diatur seseorang untuk mendapatkan kesuksesan dan harta. Kendali hidupnya sudah hilang dari genggaman.


Kepalanya tertunduk dalam, matanya terpejam erat. Helaan napas lemah lolos dari bibirnya, Arya sadar menyesal tidak akan mengubah apapun. Yang harus dilakukannya kini adalah memperbaiki hal yang masih bisa diperbaiki, dan memperjuangkan hal yang seharusnya sejak dulu dia perjuangkan.


Sorot mata yang semula penuh kesedihan kini kembali bercahaya dengan semangat yang membara. Arya yakin satu hal bahwa, ia harus berusaha untuk mendapatkan kembali pusat bahagianya. Semoga saja tidak ada kata terlambat untuk berjuang.


"Maaf, aku memang manusia tecela, setelah menyakiti dengan begitu sempurna, kini aku malah menginginkanmu di sisiku." Ibu jarinya mengelus layar ponsel yang menampilkan potret seorang wanita yang tampak bagian belakangnya.


Arya memasukan ponselnya ke dalam saku celana, kemudian bangkit berdiri bergegas meninggalkan kediamannya, dia harus segera menyelesaikan semua ini. Tidak peduli jika sekarang sudah pukul sepuluh malam, dan pasti mungkin orang-orang sudah tertidur. Karna ini menyangkut masa depannya. Arya sungguh tidak tenang semenjak Keyla mengabaikannya bahkan tidak pernah menjawab panggilan dan pesannya.


Dalam setiap langkahnya Arya kembali mengingat awal pertemuannya dengan Keyla. Terkenal akan julukan don juan membuat Arya melakukannya juga pada Keyla. Sikap manis yang selalu dia tunjukan pada setiap perempuannya membuatnya digilai. Tak heran jika setelah kejadian itu dia mendapat surat dari Keyla, sebut saja surat cinta yang masih Arya ingat hingga kini, jika ia tidak salah.


Untuk : Kak Arya ganteng :)


Hai kak Arya! Kita kenalan lagi yah, biar saling sayang. Kan tak kenal maka tak sayang, kalo udah kenal pasti langsung sayang. Tapi inget, jangan ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya yah, sakit soalnya hehe.


Nama aku Keyla Anindhyta, nama papa aku Kamandanu, Kak Arya inget-inget yah siapa tau kita jodoh jadi gampang kalo ijab kobul hehe.


Aduh maaf kak aku ngelantur, semenjak liat kakak aku kaya liat masa depan, silau banget. Deket-deketan sama kakak juga bikin aku diserang mulas mendadak saking gugupnya. Dugum dugum gitulah rasanya kalo di novel mah kaya ada kupu-kupu berterbangan di perut.


Terakhir, meski mata hanya bisa melihat rupa, meski hati mungkin saja keliru tapi isi hatiku hanya tertuju padamu. Eaksss.


Salam dari adik berponis tipis si pemilik senyum manis ;)


***


Tarikan napas kuat ia lakukan, memenuhi rongga dadanya yang sesak. Kemudian menghembuskannya perlahan. Arya tau ini tidak akan mudah, entah hal apa yang akan dilakukan seorang Dewi untuk memuluskan keinginannya. Wanita itu memiliki watak yang keras, dan suka memaksakan kehendaknya termasuk pada Arya, anaknya sendiri.


Semua ini bermula sekitar empat tahun lalu, satu tahun berselang dengan kepergian Keyla. Arya yang usianya sudah melewati pertengahan dua puluhan mulai dituntut untuk menjadi penerus perusahaan. Arya yang memang dasarnya pembangkang dan sulit diatur, jelas menolak keras keinginan kedua orang tuanya. Arya suka kebebasan ia lebih suka mengerjakan sesuatu atas dasar keinginannya sendiri. Termasuk membangun Restoran dan Cafe, itu atas usahanya dan Vito. Di balik segala sifat buruknya terhadap wanita, Arya tipikal seorang pekerja keras ia lebih suka mendapatkan sesuatu hasil usahanya sendiri.


Ada rasa bangga tersendiri jika mendapat sesuatu hasil jerih payahnya. Bahkan untuk membangun usaha itu Arya sudah menabung sejak masa kuliah. Baginya mengerjakan sesuatu harus totalitas. Sayangnya kedua orang tuanya tidak sepemikiran dengannya, bagi mereka usaha Arya itu tidak seberapa dibanding dengan Nata perkasa. Jika boleh jujur, Arya benci dengan sifat kedua orang tuanya. Yang suka merendahkan orang lain tanpa pernah tau seberapa usahanya untuk sampai dititik ini.


Bukan Arya namanya jika ia langsung menurut pada orang tuanya, keluar dari rumah adalah salah satu tindakannya melawan kedua orang tuanya. Jika Arya keras kepala maka Dewi lebih bisa keras kepala, wanita itu tidak hilang akal. Sebagai ibu, ia tau hal apa yang menjadi kelemahan anaknya.


"Kamu tau bukan apa yang bisa mama lakukan demi memuaskan keinginan mama?" Tanya Dewi menyeringai menatap anak semata wayangnya yang balas menatap nyalang padanya. "Pilihan kamu hanya menurut atau semua hal yang berharga dalam hidup kamu lenyap?" Sambungnya.


Dan Arya menyerah, semenjak hari itu dia tidak bisa melakukan hal sesukanya. Ia berubah, menjadi seseorang yang bukan dirinya. Dia mulai menjalankan kemauan Dewi menjadi penerus dan mungkin pion untuk menambah pundi-pundi kekayaan. Entahlah bagi Arya ia tidak lebih dari sebuah alat, Rasa respect pada kedua orang tuanya hilang. Pandu? Jangan tanya pria paruh baya itu hidup hanya untuk menurut pada Dewi jelas bukan tipikal kepala runah tangga yang patut Arya banggakan.


Semua hal semakin membuatnya muak kala Dewi kembali memaksakan kehendaknya dengan menjodohkan dirinya dengan Melati. Yang jelas tidak ia cintai bahkan sukapun tidak, tapi kali ini ia hanya membiarkan saja toh hanya perkenalan saja belum tentu menikah begitu pikirnya.


Tapi semua berubah sejak pertemuan kembali dengan Keyla. Sifat wanita itu, keluguan wanita itu membangkitkan sisi dirinya yang sudah lama mati. Jujur saja Arya tidak bermaksud mempermainkan Keyla dengan menarik ulur perasaannya. Hanya saja dia ada di posisi sulit yang jika mengambil keputusan harus ia pikirkan masak-masak.


Keputusannya untuk menghentikan segala obsesi Dewi semakin bulat sejak ibunya mulai merongrong dirinya untuk menikahi Melati. Jangankan menikah, untuk menemui wanita itu saja Arya malas.


Dan di sinilah dia berada, matanya memandang rumah dua tingkah dengan desain kontemporer tempat bersemayam makhluk yang jujur saja enggan Arya temui. Langkah kakinya menapaki jalanan berbatu yang disusun rapi hingga dia sampai di pintu rumah. Tanpa mengucap salam, Arya lekas membuka pintu putih gading di hadapnnya, menampakan keseluruhan isi rumah yang terlihat berkelas.


Kakinya membawa Arya semakin masuk ke dalam, melewati ruang tamu, telinganya menangkap suara dari ruang keluarga. Derap langkah kakinya semakin cepat dan benar saja ia menemukan keberadaan Pandu dan Dewi yang sedang menonton televisi.


Tanpa bersuara Arya melangkah ke hadapan keduanya, menghalangi pandangan mereka dari televisi. "Arya kamu apa-apaansih?!" Tegur Dewi sebal. "Datang-datang bukannya ngucap salam ini malah nyelonong aja, kaya gak punya etika." Dewi berujar sarkas sementara Pandu memilih diam saja.


Arya tersenyum tipis menanggapi kata-kata Dewi. "Memangnya mama pernah ngajarin Arya etika? Bukannya mama dari dulu sibuk mikirin uang?" Balas Arya sinis.


Sorot kepuasan terpampang dalam mata Arya saat menangkap ekspresi terkejut dalam wajah Dewi. Arya mengangkat tangannya, menghentikan Dewi yang hendak membalas ucapannya. "Nggak usah dibahas lagi, gak akan merubah keadaan." Kemudian Arya melepas cincin yang melingkar di jari manisnya, meletakannya di atas meja di hadapan kedua orang tuanya.


"Apa ini maksudnya?!" Sentak Dewi tidak bisa mengontrol emosinya. Kelakuan Arya yang main nyelonong begitu saja sudah tidak sopan apalagi sekarang tiba-tiba melepas cincin pertunangannya. Arya tidak berbiat mem--


"Arya mundur, Arya gak bisa melanjutkan pertunangan ini apalagi sampai menikah. Mama tau kan Arya nggak cinta sama Melati jadi stop memaksa Arya untuk bersama Melati. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah berhasil Ma. Itu hanya akan menyakiti Arya dan juga Melati, Arya cape hidup dalam bayang-bayang seperti ini. Arya ingin memilih pasangan berdasarkan hati Arya bukan dengan dijodohkan hanya untuk kemajuan perusahaan. Arya manusia bukan alat yang bisa Mama gerakan sesuka Mama," terang Arya suaranya tenang malah terkesan santai dengan tangan yang dimasukan ke dalam saku celana.


"Kenapa sih mama suka memaksakan kehendak?! Apa mama gak mikirin kebahagiaan Arya?! Perasaan Arya? Arya cape mah," keluh Arya, jika Dewi memiliki perasaan harusnya dia sadar seberapa menderitanya dia selama ini. Seharusnya dia bisa melihat pancaran keputusasaan yang tersorot dalam matanya.


"Justru ini demi kebaikan kamu! Kamu pikir untuk apa Mama melakukan ini hah? Harusnya kamu bersyukur bisa bersanding dengan Melati, bukan malah bersikap kekanak-kanakan seperti ini, kamu sudah dewasa Arya!" Bentak Dewi.


Arya mengangkat sebelah alisnya, bibirnya tersenyum mengejek menanggapi perkataan Dewi. "Kebaikan aku atau demi keberlangsungan hidup mama yang glamor? Arya tanya dari sisi mananya semua hal yang mama lakuin baik? Nggak ada Ma, yang ada Arya justru tertekan dengan segala tuntutan Mama. Jika Mama menganggap Arya sudah dewasa seharusnya mama membiarkan Arya memilih jalan hidup Arya!" Arya berseru marah, napasnya memburu, menghadapi Dewi selalu memancing emosinya.


Raut muka bengis Dewi tidak menggentarkan Arya. Sorot matanya tajam menatap Arya tanpa kedip. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Kamu pikir selama ini kenikmatan yang kamu rasakan datang dari mana? Seharusnya kamu berterima kasih karna sudah dilahirkan dari keluarga berada. Banyak orang di luar sana yang bersusah payah untuk mendapatkan makan. Hidup kamu enak, segala sesuatu sudah tersedia, bahkan Mama dengan baik sudah menyediakan jodoh untuk kamu. Kamu hanya perlu hidup dengan baik dan menurut pada orang tua apa susahnya hah?! Apa Mama pernah meminta sesuatu sama kamu selama ini? Cobalah untuk menjadi anak berbakti, anggap saja dengan kamu menikah dengan Melati kamu sudah membalas jasa Mama dan Papa yang sudah membesarkan kamu."


Arya tertawa miris, serentetan kalimat panjang Dewi bukan membuatnya tersentuh malah semakin membuatnya yakin untuk berhenti. Ekspresi wajah Arya berubah datar, rahangnya mengetat. "Andai bisa memilih, aku lebih baik lahir dari keluarga biasa. Keluarga yang saling memperhatikan, yang selalu ada dan tidak mementingan uang di atas segalanya. Asal Mama tau aja, kalo aku tau hidup aku akan seperti ini lebih baik aku nggak usah dilahirkan." Arya berujar datar, namun penuh penekanan. Matanya melirik sinis pada keberaraan Pandu yang hanya diam saja. Cih! Pria itu bener-benar tidak bisa diandalkan untuk jadi sosok penengah selayaknya kepala keluarga. Arya tidak paham jalan pikirannya, apa dia memang sebegitu tidak peduli pada keluarganya.


"Sekarang terserah mama yang pasti Arya menyerah. Terserah kalo Mama nggak mau anggap Arya anak lagi yang jelas Arya ingin bebas." Tutup Arya menghentikan segala perdebatan ini. Batin dan fisiknya sudah lelah.


"Arya!!" Pekik Dewi tak terima dengan keputusan anaknya. Namun, Arya tetap beranjak pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Tidak peduli jika kini ibunya sedang menjerit histeris dan memarahi Pandu yang hanya diam saja. Baginya semua sudah berakhir, tidak peduli apa yang akan terjadi nantinya yang pasti Arya akan menghadapinya.


***


Selepas dari rumah orang tuanya Arya tidak langsung pulang tapi melipir ke tempat seseorang yang sudah mengabaikannya akhir-akhir ini. Mencoba peruntungannya Arya berdiri di depan pintu gerbang.


"Permisi!" Seru Arya memanggil satpam yang berada di dalam pos.


Mendengar suara Arya, pria paruh baya berseragam putih itu berjalan menghampirinya. "Iya Mas? Ada yang bisa di bantu?"


Arya terdiam sejenak. "Begini, saya boleh masuk dulu gak Pak?" Pinta Arya.


Seakan tersadar si bapak bernama Tamrin itu buru-buru membuka pintu gerbang. "Aduh maaf saya lupa Mas," ujarnya memohon maaf.


"Tidak apa-apa Pak. Maaf saya bertamu malam-malam, kalo boleh saya pengen ketemu Keyla bisa, Pak?" Tanyanya penuh harap.


"Duh, Mas non Keyla Ng--"


"Kak Arya ngapain ke sini?!" Pertanyaan sinis Kyla ditanggapi santai oleh Arya.


Matanya memandang keberadaan Kyla yang baru datang dengan sepeda motor kesayangan Keyla. "Kamu abis dari mana malem-malem gini?" Tanya Arya mengabaikan tatapan tidak suka yang Kyla layangkan padanya.


Kyla menatap Arya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Bibirnya bedecak. "Bukan urusan kak Arya," jawabnya ketus.


Arya mengangguk paham, sikap Kyla yang mendadak berubah dapat ia maklumi sebab ini memang salahnya. "Ah begitu, Kakak mau ketemu kakak kamu ***--


"Buat apa?" Potong Kyla cepat.


"Hah?!


Kyla menghela napas. Ia berjalan menghampiri Arya membiarkan motornya terparkir di luar gerbang. "Aku memang cuma tau garis beras kisah kalian di masa lalu. Gak pernah tau dan ngerasain gimana sakit yang Keyla rasain. Dan saat pertama kali ketemu kakak, aku punya pandangan kakak gak sejahat dan seberengsek yang kakak aku ceritakan. Kakak baik aku bisa lihat ketulusan kakak sama si Keyla dan kalo aku nggak salah lihat mata kakak memancarkan kebahagiaan. Aku kira kakak memiliki perasaan yang sama, nyatanya aku salah. Semenjak kejadian di cafe tempo hari penilaian aku sama kakak ternyata salah."


Arya diam mendengarkan segala keluh kesah Kyla yang begitu menggebu-gebu seolah gadis itu begitu emosi padanya. "Aku nggak mau tau tujuan kakak datang malam-malam begini apa. Yang jelas aku minta berhenti kak, berhenti memberi harapan sama Keyla yang payah itu, jangan bersikap seolah kakak peduli tapi nyatanya hanya menyakiti. Kakak aku terlalu berharga untuk terus disakiti seperti ini. Aku harap kakak ngerti akan semua yang aku maksud." Putus Kyla, lekas beranjak meninggalkan Arya.


Langkahnya terhenti kala Arya mencekal pergelangan tangannya. "Kyla kakak mohon beri kakak kesempatan," lirih Arya. Dia tidak akan menyerah begitu saja dengan gertakan Kyla.


Kyla menarik napasnya kuat-kuat, emosinya tidak terkontrol akhir-akhir ini. Sejak kejadian itu Kyla selalu berambisi untuk menghajar Arya dengan jurus taekwondo yang dipelajarinya dari Aurel. Ingatan akan Keyla yang menangis tempo hari berhasil meruntuhkan dinding kokoh Kyla dan tanpa aba-aba dia berbalik dan melayangkan tinjunya pada wajah Arya hingga sekuat tenaga. Dan berhasil Arya terhuyung karna tidak siap dan juga tidak menyangka.


Mata Arya memperlihatkan ketidak percayaan akan apa yang Kyla lakukan. Tulang pipinya terasa berdenyut. "Kyla," panggil Arya pelan.


"Aku bilang berhenti kak!! Berhenti mendekati kakak aku atau kakak akan mendapatkan hal yang lebih dari ini!" Teriak Kyla mengancam Arya dan berlalu pergi dari hadapan Arya.


Pria itu hanya bergeming, kepalanya menunduk, diabaikannya pandangan kasihan pak Tamrin yang tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu kepalanya mendongak menatap lantai dua, berharap Keyla muncul dari gelapnya kamar di lantai dua yang ia kira kamar Keyla. Sayangnya itu hanya angannya saja karna sosok yang dirindukannya tidak muncul juga. Mungkin untuk hari ini perjuangannya cukup sampai di sinu, bibirnya menarik senyum tipis kemudian meringis merasakan ngilu di pipinya.


Arya berbalik untuk pulang, hari semakin larut malam, dia membutuhkan istirahat untuk menjernihkan pikirannya. Hingga sebuah suara berat penuh wibawa menghentikan langkahnya.


"Tunggu!" Cegah sosok pria paruh baya yang berdiri tidak jauh dari Arya. Tanpa perlu berpikir banyak, sosok itu pastilah Kamandanu ayah Keyla.


***