
Keyla menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia bergidik ngeri, melihat wajahnya yang mengenaskan. Dengan lingkaran hitam di bawah mata, oh jangan lupakan juga rambutnya yang acak-acakan.
Semalam Keyla bermimpi buruk. Dalam mimpinya ia diterjang badai. Lebih tepatnya badai masa lalu. Arya itu sudah seperti setan bagi Keyla, setan masa lalu yang menghantuinya.
Gara-gara pertemuan tidak sengaja kemarin. Keyla jadi tidak tidur dengan tenang. Bayang bayang Arya terus melintas dibenaknya. Setiap Keyla memejamkan mata, wajah Arya langsung muncul. Itu membuatnya frustasi. Padahal kemarin ia tidak bersitatap secara langsung dengan Arya. Bagaimana mau melihat wajahnya, orang Keyla langsung ngacir menyembunyikan diri di kamar mandi yang berujung dengan aksi melarikan diri.
Akan sangat memalukan bila Arya melihat wajah sembabnya. Sungguh Keyla akan sangat malu bersitatap lagi dengan Arya. Keyla belum siap bertemu Arya, apalagi dengan kondisi ia baru saja putus cinta, menyedihkan sekali. Sementara pria itu baik baik saja, bahkan masih sempat sempatnya menyapanya.
Mungkin jika Keyla sedang dalam keadaan prima. Dia pasti akan dengan senang hati bertemu Arya. Membuktikan pada pria itu bahwa ia baik baik saja. Bersikap seolah tidak pernah ada hubungan diantara mereka berdua. Menunjukan pada Arya bahwa dia bukanlah perempuan lemah seperti dulu. Sekarang Keyla sudah bertransformasi menjadi wanita dewasa yang bisa merias dirinya sendiri. Membedakan apa itu liptint, lipstik dan lipbalm.
Sejak pulang ke Bandung, Keyla sudah memeperhitungkan dirinya pasti akan bertemu Arya kembali. Seberapapun usaha yang dilakukannya untuk menghindari Arya, pasti akan ada saatnya mereka bertemu. Tapi Keyla tidak pernah berpikir ia akan bertemu Arya kemarin.
Sekali lagi Keyla mengacak rambutnya frustasi, menepuk nepuk pipinya. Mengusir apapun hal berbau Arya di otaknya. Kalo bisa dihatinya juga.
Keyla mendesah, dari pada terus memikirkan Arya, lebih baik ia mengisi perutnya yang terus berbunyi. Terlalu banyak memikirkan Arya membuatnya tidak mood makan tadi malam.
Suasana rumah yang sepi menyambut Keyla saat ia turun dari lantai atas. Keyla mengernyit, tumben sekali rumahnya tampak damai. Biasanya setiap pagi selalu saja ada teriakan dari ibunya. Nyonya Ambarwati yang terhormat tidak mungkin membiarkan anak anaknya damai walaupun itu hari libur. Ambar suka sekali membuat dia kesal. Nasib pengangguran seperti dirinya selalu dihabiskan di rumah disertai omelan setiap harinya.
Menceramahinya untuk segera mencari pekerjaan, padahal Keyla juga sudah mengirimkan lamaran kebeberapa perusahaan. Ia tinggal menunggu saja, tapi memang ibunya tidak suka sekali melihat anaknya santai. Ia selalu saja menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah. Berhubung di rumahnya tidak ada pembantu.
Keyla mengedikan bahubya tak acuh, mungkin ini hari keberuntungannya. Decakan keluar dari mulutnya saat tak menemukan makanan di meja makan. Ia lantas membuka kulkas, mencari makanan yang ibunya siapkan. Lagi lagi ia tidak menemukannya. Ia menghela napasnya pasrah. Ibunya benar benar berniat mengerjainya. Ambar pasti berniat menyuruhnya memasak makanan sendiri. Padahal mamanya tau, Keyla tidak bisa memasak dan tidak suka memasak.
Pasrah, Keyla mengambil roti tawar. Mengolesinya dengan selai coklat, mungkin hari ini ia cukup berpuas diri dengan ini. Mata Keyla menjelajah meluhat rumah yang sudah rapi. Syukurlah, kalo seperti ini ia tidak harus bersusah payah merapikannya.
Keyla kembali ke kamarnya, siang ini ia ada janji dengan ketiga sahabatnya untuk makan siang bersama. Ia harus siap siap, siapa tau nanti dia ketemu jodoh.
***
"Kebiasaan suka ngaret!" kata sambutan dari Maura tidak Keyla hiraukan.
Keyla duduk santai di hadapan kedua perempuan yang kini sudah bertampang masam. Dengan pakaian formalnya, mereka nampak berbeda. Mereka semakin dewasa, tidak seperti dirinya. Sekarang saja Keyla hanya mengenakan kaus abu-abu polos dan celana jeans. Benar benar seperti anak muda sekali.
"Sori, kan gue perlu touch up dulu. Siapa tau ketemu jodoh kan." sahutnya santai.
Maura dan Tasya memutar bola matanya malas, seorang Keyla tidak berubah sama sekali. Selalu saja laki laki yang ada di otaknya. "Padahal baru aja kemaren patah hati. Mewek mewek di rumah si Aurel." cibir Tasya.
Keyla masih mempertahankan senyumnya, tidak merasa terganggu dengan ucapan Tasya. Toh itu memang benar kan? Dalam kamus seorang Keyla, menangis karena patah hati itu boleh. Yang gak boleh itu sampai berlarut larut. Nanti jodohnya menjauh lagi karena kamunya terjebak masa lalu. Ugh! Drama sekali. "Kan itu kemaren, sekarang mah beda lagi."
"Gak ada kapok kapoknya deh lo Key. Percintaan lo tragis semua." komentar Maura.
Dalam hati Keyla membenarkan. Keyla pernah diselingkuhi, menjadi selingkuhan, yang terbaru dia menjadi temen doang yang terdahulu dia pernah menjadi ajang main main. Oke yang terakhir abaikan saja. Keyla terlalu malas membahasnya.
"Gak papa di awal tragis, yang penting diakhir bahagia aja." sahut Keyla, wanita itu meminum jus Maura begitu saja. Membuat sang empunya melotot dan menepis tangannya.
"Pesen sana!"
Keyla berdecak, lantas memanggil pelayan. Tak lama jus pesanannya datang. Keyla yang memang sedari tadi sudah kehausan, lekas menyeruput jusnya hingga tinggal setengahnnya. "Btw ini si mama muda mana?"
Tasya melirik jam tangannya, "Tadi katanya masih di jalan. Bentar lagi juga nyampe."
"Sekarang ratu ngaret udah berpindah jadi ke si Aurel yah, bukan gue lagi."
"Dia telat juga wajar. Dia kan baru pulang kuliah. Nah elo, pengangguran. Di rumah juga paling jadi pembokat dadakan." cerocos Maura.
Keyla berdecak, hatinya mendumel kesal. Kenapa mereka berdua seakan berkonspirasi untuk mengejeknya sih. Bukannya menghibur gitu, kan dia baru aja patah hati.
"Guys sori gue telat." orang yang mereka tunggu akhirnya datang. Aurel duduk di kursi kosong di diantara Keyla dan Tasya. Napas wanita itu terdengar ngos ngosan. "Udah pada pesen makan kan?" tanya Aurel.
Ah kebetulan sekali, kali ini tempat pertemuan mereka adalah salah satu rerstoran milik Vito yang Aurel kelola.
"Udah, tapi kalo lo mau pesenin buat kita-kita lagi gak papa kok." Keyla tersenyum, menampilkan deretan giginya. Aurel mendengus dengan kelakuan temannya itu.
"Penggangguran sih, sukanya gratisan." cibir Maura.
"Orang yang abis patah hati itu perlu makanan dua kali lipat dari biasanya. Untuk menstabilkan kembali berat badan yang terkuras karena seharian menangis." balas Keyla.
"Gak ada yang nyuruh lo mewek Key." Keyla mencebik, Tasya selalu saja membuatnya kalah.
"Kalo gak mewek gak enak Tas. Rasanya itu kaya lo mau boker, tapi itu si kuningnya gak mau keluar. Gak enak, sakit sama sesek." balasnya lagi.
"Idih Keyla, analogi lo jijik banget deh." seru Maura sebal.
Keyla mengedikan bahunya tak acuh. Otaknya kan memang tidak waras seperti dirinya.
"Trus lagi mewek meweknya gitu, eh malah ketemu mantan." celetuk Aurel santai, wanita itu ikut ikutan memojokan Keyla.
"Mantan yang mana nih?" tanya Tasya.
"Iti tuh! Mantan yang buat dia minggat sampe ke jakarta." jawab Aurel, semakin bersemangat.
Keyla menekuk wajahnya sebal. Ia pikir Aurel bisa diajak menjadi sekutu melawan Tasya dan Maura. Tapi ternyata Aurel sama aja. Menyebalkan.
"Oh yang itu!" seru Maura heboh.
Wanita itu tiba tiba saja terbahak di kursinya. Wajah Keyla semakin berlipat. Sialan! Mereka benar benar berniat membuatnya kesal.
"Terus gimana Rel? Ada agedan tatap tatapan penuh kerinduan gak? Yang menjebak kembali dalam kenangan masa lalu?" tanya Tasya semangat, apalagi melihat wajah Keyla yang ditekuk.
"Cerita tamat!" seru Keyla dongkol.
"Mungkin Keyla takut jatuh cinta untuk kedua kali pada orang yang sama. Makanya dia kabur." Maura menepuk nepuk pundak Keyla, prihatin dengan nasib sahabatnya. Keyla menepis tangan Maura, ini kenapa semua temennya pada semangat mengolok oloknya sih. Apa salah hamba ya tuhan?
"Nasibmu malang sekali nak. Udah pengangguran, jomblo, eh malah ketemu mantan pas mewek meweknya." Tasya menggeleng pelan, pura pura prihatin dengan nasib Keyla.
"Turut berduka cita Key."
"Lo kira ada yang mati!" sebal Keyla mendengar ucapan Aurel.
"Emang ada, hati lo." jawab Maura. Ketiga wanita itu terbahak.
***
Pembicaraan itu masih terus berlanjut. Lebih banyak yang mereka bicarakan adalah nasib ngenes Keyla.
"Eh Tas, jadinya kapan lo tunangan?" tanya Aurel, mengalihkan pembicaraan dari Keyla dan nasibnya yang buruk.
"Siapa yang mau tunanagan?" tanya Keyla, sedari tadi Keyla lebih memilih diam. Baru sekarang ia berani berbicara.
"Si Tasya." jawab Maura.
"Doain aja. Dalam waktu dekat kok!" jawab Tasya, matanya berbinar benar benar bahagia. Wajahnya berseri seri menambah kecantikannya.
"Sama si Dono?" tanya Keyla lagi.
"Doni Key, main ganti nama orang aja." koreksi Aurel.
Keyla cengengesan. Melihat wajah Tasya yang merengut karena ia salah menyebut nama pacarnya itu.
"Tasya udah mau tunangan, Aurel udah nikah bahkan udah punya anak dua. Gue punya pacar. Lah elo Key, apa kabar?" sepertinya aksi mengolok Keyla masih belum selesai.
Wajah Keyal yang penuh senyum berubah datar. Ini Maura sepertinya punya dendam kesumat padanya.
"Tunggu aja, gue cari lakinya dulu." balasnya asal.
"Awas aja, hati hati laki orang. Atau lakinya yang udah mau nikah. Bahaya." peringat Tasya. Tanpa wanita itu beritahupun Keyla juga tidak akan bermain api. Nanti kalo susah padam bahaya, hatinya bisa terbakar.
"Ngomong ngomong soal yang mau nikah. Katanya Kak Arya mau nikah." celetuk Aurel.
Mulutnya memang mengatakan sudah move on. Tapi mendengar pria itu akan menikah, entah kenapa hatinya justru tidak enak. Nye nyes gitu rasanya.
Maura adalah orang pertama yang menyadari perubahan raut wajah Keyla. Wanita itu turut sedih dengan semua yang menimpa Keyla. Perjalanan cintanya benar benar terjal sekali. "Aurel jangan bahas itulah, kasian tau ada yang udah mau berharap eh pupus harapannya." canda Maura, bermaksud membuat Keyla tidak bersedih.
Aurel dan Tasya mengerti arah pandang Maura. "Apaan sih, siapa juga yang ngarep sama cowok kek dia." sahutnya tak acuh. "Ngomong ngomong anak lo mana?" tanya Keyla mengaluhkan pembicaraan. Topik yang berbau Arya memang selalu mengusik hati dan pikirannya.
"Sama Ayahnya, tadi sih bilang mau nyusul ke sini."
Keyla salut dengan Aurel, dia bisa membesarkan kedua anak kembarnya dengan baik. Yang lebih salut lagi Keyla terhadap Vito. Pria itu tidak mengekang Aurel untuk tidak main. Pria itu selalu membebaskan, asal Aurel tau batasan saja. Keyla berharap pendampingnya seperti itu juga.
"Nda..!!" teriakan nyaring anak kecil berhasil mengalihkam ke empat wanita itu.
Vito datang bersama dengan salah aati anaknya yang digendong. Pria itu semakin bertambah usianya semakin menggoda saja. Andai tidak memiliki label suami orang pasti sudah Keyla dekati.
"Kok anaknya cuma satu?" tanya Keyla jemari mencubit gemas pipi anak Aurel.
"Sama omnya yang satu lagi." jawab Vito.
Keyla masih setia mencubiti pipi gembil anak lelaki Aurel. Sampai tidak menyadari kehadiran seseorang yang mati matian ia hindari.
"Ekhm." pria itu berdeham, mengalihkan atensi para ketiga wanita kecuali Keyla yang terlalu asik.
"Hai kak Arya!" sapa Maura ramah.
Deg
Tubuh Keyla menegang, gerakan tangannya terhenti, lewat ekor matanya Keyla menyadari tubuh jangkung Arya yang berdiri seraya menggendong anak Aurel yang satunya.
Keyla menyibukan dirinya, sebisa mungkin tidak bertatapan dengan mata yang selalu menghanyutkannya itu. Keyla tau, mereka semua sedang meperhatikannya tapi ia tidak peduli. Ia terlalu malu untuk sekedar say hai seraya tersenyum
"Key, lo ngapain nyubitin pipi laki gue." gerutuan Aurel berhasil menyadarkannya. Wanita itu mendongak, menemukan wajah Vito yang tersenyum kikuk padanya.
"Eh?"
Keyla segera melepaskan tangannya dari pipi Vito. Benar benar memalukan. Keyla menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti memerah.
"Gugup sih gugup Key, tapi laki orang jangan digoda juga kali." ejek Maura.
Keyla merutuki kebodohannya. Mereka semua tertawa, mentertawakan aksi memalukannya. Diantara semua tawa itu, Keyla mememukan tawa merdu yang membuatnya berdesir. Tawa yang ia rindukan selama lima tahun terakhir.
Tanpa sadar, Keyla menatap Arya lama. Memperhatikan Arya yang sedang tertawa. Benar benar memikat. Shit! Kenapa pula Arya malah semakin tampan, rahangnya yang kokoh, mata tajam yang selalu berhasil membuatnya terhanyut. Bibir merah menggoda, hidung mancung. Alis yang pas benar benar memukau. Kenapa setelah menjadi mantan Arya malah semakin bersinar dimatanya?
Arya tersenyum, mellihat Keyla yang menatapnya tanpa kedip. Cowok itu berdeham, mengembalikan kesadaran Keyla. "Apa kabar, Keyla?"
***