
Memang benar, bahwa tak selamanya rasa berbalas rasa ada kalanya ketulusan berakhir kecewa.
***
Wanita dengan dress putih dibalut blazer dengan warna serupa, melangkah dengan tergesa. Ketukan heelsnya terdengar bersahutan dengan suara kendaraan. Wanita itu melirik jam di tangannya, kala melihat waktu yang kian menipis langkah kakinya semakin cepat tidak peduli jika kini ia sedang mengenakan sepatu setinggi sepuluh centi.
Mentari pagi ini menampakkan dirinya tanpa malu-malu. Hingga terasa sinarnya menyengat di kulit. Beberapa kali wanita itu menyeka keringat di dahinya, satu hal yang ia harap semoga make up yang susah payah di polesnya tidak luntur.
Sialnya, kondisi di jalanan tidak mendukung. Dia lupa bahwa rumah Maura lebih jauh dari kantornya dan lagi jalanan yang di lalui sering terjebak macet. Alhasil Keyla harus mengikhlaskan dirinya olah raga pagi ini berlari sekitar dua ratus meter untuk sampai kantornya. Dari pada hanya menunggu dalam taksi yang macetnya entah kapan usai.
Gedung Nata Perkasa mulai terlihat, namun Keyla sudah tidak kuat. "Nyari duit gini banget sih," keluh Keyla, wajahnya memelas karna lelah.
Keyla pasrah jika setelah ini dia akan kena SP. Setelah kemarin dia mangkir ijin mendadak dan sekarang justru malah datang terlambat. Padahal statusnya masih lah pegawai baru.
Dari hari sabtu kemarin Keyla menginap di rumah Maura. Menemani sahabatnya itu yang sedang di zona galau karna putus cinta, meski Keyla sendiri juga sedang ada di zona terombang-ambing akan rasa. Namun sebagai sahabat yang baik, Keyla mengesampingkan urusan pribadinya, saat ini Maura lebih membutuhkannya. Sahabatnya itu baru pertama kali menjalin kasih dan itu sudah terjalin cukup lama, dan harus putus hanya karna berbeda pendapat. Klise sekali, paling juga cowoknya bosen, itu yang ada di pikiran Keyla.
Sebab baru pertama kali merasakan sakitnya putus cinta, Maura jadi abai akan kesehatannya. Sahabatnya itu sampai kerja lembur bagai kuda setiap harinya, guna mengalihkan pukirannya dari si mantan yang sialnya bekerja satu kantor dengannya. Puncaknya senin kemarin Maura tumbang karna kelelahan. Berhubung kedua orang tuanya sedang ada acara reuni di Jakarta dan kakak laki-lakinya tidak menetap di Bandung. Alhasil Keyla menawarkan diri untuk merawatnya, Maura cukup keras kepala saat Keyla ajak ke rumah sakit, jadinya Keyla hanya menemaninya dan ijin tidak masuk kerja sekaligus belum siap bertemu Arya.
"Hah...sampai juga," desah Keyla, lalu melangkah memasuki lobi kantor.
Alis tebal hasil arsiran pensil alis itu bertaut, nampak sorot kebingungan dalam matanya. Keyla melangkah ragu-ragu, jika otaknya yang mudah pelupa ini tidak salah ingat. Wanita yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis dengan tampilan glamornya itu adalah ibunya Arya kan? Untuk apa wanita paruh baya itu ada di sini? Keyla menepuk dahinya, yang punya perusahaan mah ya bebas.
Rasa panik menyerang Keyla, dia menggigiti bibirnya, dilema. Matanya mengedar, melihat karyawan lain yang menyapa dan memberi hormat pada Dewi Kusuma. Meski sama sekali tidak dipedulikan wanita itu, wanita penuh arogansi seperti dia mana mengerti tentang menghargai. Keyla mendengkus, andai bisa dia ingin pura-pura tidak melihat saja dan segera sampai di ruangannya. Tapi itu sangatlah tidak mungkin, mengingat statusnya yang notabene sekretaris Arya sudah sepatutnya menyapa.
Namun menilik beberapa waktu ke belakang, wanita itu begitu tidak menyukainy. Malas sekali jika Keyla sampai di semprot di sini, apalagi dengan keadaannya yang datang terlambat. Nyari mati sih namanya.
Keyla menyugar rambutnya ke belakang, pipinya menggembung sebab kesal. "Bismillahirrohmanirrohim. Ya Allah lindungi hamba dari godaan setan yang terkutuk," gumam Keyla sambil menangkupkan tangan di depan dada, matanya menatap lurus pada Dewi.
Dengan menguatkan tekad, Keyla melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, satu langkah lagi Keyla tepat berada di belakang Dewi dan dia hendak menyapa wanita paruh baya itu. Namun tindakan Dewi yang berbalik tiba-tiba membuat gerakan Keyla terhenti. Dengan mulut terbuka, Keyla bediri bagai patung. Sementara itu, Dewi melirik sinis pada Keyla kemudian kembali menatap ke depan, pada Metta.
"Jika nanti Arya datang, bilang bahwa saya mencarinya. Suruh dia untuk segera menghubungi saya, kalo bisa langsung datang menghadap saya," titah Dewi penuh penekanan. Aura wajahnya tidak enak dilihat sekali, Keyla yang masih berdiri kikuk di belakangnya memilih bergeser ke samping.
Metta yang sejak kedatangan Dewi merasa terintimidasi, hanya bisa menggangguk patuh. "Apa tidak sebaiknya ibu menunggu di ruangan Pak Arya?" Tawar Metta, bersikap sopan santun.
Tapi Dewi malah menolak dengan keras tawarannya. "Saya tidak punya banyak waktu untuk menunggui anak kurang ajar itu," tukasnya.
Mendapatkan jawaban itu, Metta memilih tutup mulut daripada terkena semprotan Dewi yang terkenal mudah marah. Tanpa mengucapkan apapun lagi, Dewi berbalik. Kesialan bagi Keyla yang sedari tadi terus memperhatikan Dewi, karna kini matanya justru malah bersibobrok dengan mata tajam wanita itu.
Keringat dingin mengucur di pelipisnya, Keyla menarik paksa kedua sudut bibirnya menampilkan senyuman sopan. Kepalanya mengangguk tanda hormat. Keyla menggigiti pipi bagian dalamnya, merasakan mata Dewi yang terus mebatap intens padanya seolah sedang menelanjanginya. Alis wanita itu menukik tajam menatap wajah Keyla yang sedari tadi balas menatap Dewi.
Tanpa sepatah katapun, Dewi benar-benar berlalu bersamaan itu Keyla menarik napas dalam-dalam mengisi pasokan udara yang sempat menipis. "Gila!" Serunya seraya mengipasi wajahnya. "Gue berasa baru berhadapan sama setan pencabut nyawa," gerutu Keyla.
Metta mengangguk setuju. "Apalgi gue Key, setengah jam dia berdiri di sini. Gila aja berasa uji nyali," keluh Metta lalu menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
Tersadar akan sesuatu, Keyla mendekat pada Metta. "Omong-omong, dia ngapain nyariin Pak Arya? Emangnya doi beneran gak ada?" Tanya Keyla seraya berbisik.
"Lo nggak tau?" Tanya Metta heran.
Keyla menggeleng polos. "Pak Ar--Selamat pagi Pak!" Serunya saat menangkap keberadaan Arya yang memasuki lobi dan berjalan menuju lift. Mendengar nama pria itu sontak saja Keyla menegakkan tubuhnya.
Langkah Arya sejenak terhenti, tampilan kasual dengan kaus coklat muda dipadukan dengan jas serupa dan juga sneaker putih membuatnya tampak memukau. Arya menarik senyum tipis menanggapi sapaan Metta, matanya beralih menatap Keyla yang justru malah fokus menatap lurus ke depan tanpa berniat sedikitpun menoleh padanya. Arya mengerti, Keyla masih menghindarinya.
"Ah iya Pak. Tadi ibu anda ke sini bel--" Arya mengangkat tangannya, menyuruh Metta untuk berhenti. Malas mendengar apapun yang berhubungan dengan ibunya.
Tanpa berkata apa-apa, Arya berlalu dari sana. Beberapa hari terakhir terasa berat baginya, dan Arya tidak mau mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan.
Sedangkan Keyla menatap punggung kokoh pria itu. Meski Keyla berusaha membangun dinding kokoh, tapi hatinya tidak bisa berbohong, ia bertanya-tanya apa yang sudah terjadi dan kenapa dengan wajah Arya?
Keyla menggeleng pelan. Berhenti peduli Key, demi kebaikan lo.
***
Keyla termasuk orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kejadian tadi pagi berhasil membangkitkan rasa penasarannya. Di tambah dengan percakapan anatara Rara dan Metta di grup mereka bertiga membuat Keyla dirundung kebingungan.
Dan ketika kakinya melangkah memasuki cafetaria. Telinganya mendengar desas-desus tentang Arya. Sebenernya apa yang terjadi? Apa yang sudah dia lewatkan?
"Menurut lo gimana Key?"
"Hah?"
Keyla mengerjap, menatap tidak mengerti pada Rara dan Metta yang duduk di depannya. "Sori, lo berdua bahas apa?"
Rara berdecak. "Makanya kemaren masuk, jadi ketinggalan info hot kan."
Alis Keyla terangkat. "Soal?"
"Pak Arya," jawab Metta.
Keyla tidak lagi bersuara. Sebenarnya dia sedang menekan rasa penasarannya, dia sudah berjanji pada diri sendiri untuk berhenti peduli pada hal yang berhubungan dengan Arya.
"Meski cuma keliatan belakangnya doang, gue yakin seratus persen kalo itu bukan Melati," komentar Rara, terlihat bergitu tertarik tentang seorang Arya.
"Dari gaya rambutnya aja udah beda sih," sahut Metta menimpali.
Sedang Keyla mengernyit tak mengerti. Serius ini Keyla gak paham apa yang mereka bicarakan, meski Keyla sudah membaca di grup gibah mereka. Tentang Arya yang seperti habis di pukul orang, dan juga tentang kadatangan Dewi yang tidak biasa.
"Key kok diem aja sih?" Tanya Rara gemas.
Keyla menghela napas. "Gue nggak ngerti yang kalian omongin."
Lekas saja Metta menyodorkan ponselnya. Walau masih tak mengerti Keyla menerimanya. Matanya menatap sebuah postingan instagram yang menampilkan potret seorang wanita dengan dress merah yang tampak bagian belakangnya. Nama si pembuat postingan membuat Keyla mengerutkan keningnya. Bentar-bentar, Keyla sepertingan mengenali wanita di postingan itu. Gila ini kan gue, kok bisa?
AryaDwinata

❤ 💬
Liked by KinaraL_ and 26.034 others.
AryaDwinata Maaf hatiku pernah keliru. Dulu keberadaanmu kuanggap benalu kini justru begitu kurindu💙
"Rasa-rasanya gue kaya kenal sama postur tubuhnya," Rara berujar lagi. Keyla yang semula diserang rasa terkejut kini mendadak tegang mendengar ucapan Rara.
"Gue juga ngerasa kaya gak asing deh," timpal Metta, makin membuat Keyla panas dingin. Dalam benaknya dia bertanya, BAGAIMANA BISA??
Otaknya yang payah, Keyla paksa untuk mengingat, sekiranya kapan foto itu di ambil. Matanya sukses membulat saat ingatan akan hari pertunangan Tasya muncul dibenaknya. Keyla ingat hari itu, Arya membawanya ke rooftop hotel, tapi Keyla tidak tau jika Arya mengambil gambarnya. Kenapa juga Keyla bisa tidak sadar begitu.
Sekali lagi Keyla tatap postingan itu, matanya terhenti pada caption yang tertera. Apa maksudnya ini? Terlalu banyak pertanyaan yang bercokol di kepalanya saat ini. Sebenarnya apa mau pria itu, kejadian di lobi saja membuat Keyla diserang perasaan takut. Semisal ada yang menggosipkan dia dan Arya, dan ditambah ini.
Keyla menghembuskan napas berat, ingin sekali dia membuat perhitungan dengan pria itu yang suka berbuat seenaknya.
"Gue curiga kayaknya Pak Arya punya wanita lain," kata Rara seraya menyeruput orange juicenya. "Lagian siapa juga sih yang tahan sama si Melati yang doyan nempel-nempel kaya lintah." Lanjutnya dengan menggebu-gebu.
"Mungkin itu juga alasan kenapa Bu Dewi bolak-balik ke sini terus. Apalagi tiap dateng tampangnya gak nyelow banget," balas Metta menarik kembali ponselnya dari tangan Keyla yang hanya diam saja.
Tak
Rara dan Metta saling melirik. Dalam hati keduanya harap-harap cemas. Dari bawah meja Metta menyenggol kaki Rara, lewat matanya Metta bertanya akan maksud keberadaan Arya yang berdiri di dekat meja mereka.
"Apa kalian gak keberatan kalo saya ikut bergabung di sini?" Tanya Arya basa-basi, memandang kedua pegawainya yang kini saling melirik dengan wajah cemas. Jelas saja, Arya tiba-tiba datang dan membanting nampannya disaat mereka sedang menggosipkannya.
Bisa tamat riwayat mereka kalo Arya mendengar pembicaraan mereka. "Enggak, Pak," jawab Metta.
Keyla bergeming, menunduk berpura-pura menikmati makanannya. Padahal kenyataannya batinnya sedang berperang. Keberadaan Arya di sini bukan sesuatu yang baik menurutnya. Apalagi kini penghuni cafetaria mulai nenatap ke arah mereka, jelas saja seorang Arya yang biasa makan sendiri atau paling tidak dengan pegawa berpangkat malah makan dengan pegawai rendahan.
Arya tersenyum, lalu duduk di satu-satunya kursi yang tersedia di disamping Keyla. "Tadi saya liat kalian ngobrol seru banget. Ngobrolin apa?"
Rara gelagapan, tangannya mengibas. "Bu--bukan apa-apa kok pak."
"Iya, Pak. Biasa cuma bahas make up terbaru," sahut Metta meyakinkan.
Arya mengangguk saja. Kemudian mulai menyantap makan siangnya, dikunyahnya makanan dengan pelan, sesekali bibirnya meringis. Hingga Metta dan Rara ikut meringis melihatnya. "Abis berantem dimana Pak? Sampe bonyok gitu." Rara bertanya kasihan sekaligus penasaran.
Bukannya menjawab Arya malah terkekeh. "Abis dihajar sama calon mertua."
"Kok bisa?" Tanya Metta heran.
"Karna saya sudah menyakiti anak gadisnya," jawab Arya. Iris coklatnya menyoroti Keyla yang seolah tak terusik dengan keberadaanya. Wanita itu begitu cuek.
Mereka tidak lanjut bertanya, takut tidak sopan. Meski dalam hati begitu penasaran. Pasti ini ada sangkut pautnya dengan wanita itu.
Pandangan Arya beralih pada piring Keyla, bibirnya tertarik dengan sendirinya, kemudian dia berujar. "Kamu ternyata masih gak suka kulit ayam, kaya dulu."
Keyla tersedak mendengarnya, lekas dia meminum jus mangganya. Dia berdeham, menetralisir perasaan tak nyaman saat merasakan Metta dan Rara menatapnya. Pasti kedua wanita itu mendengarnya juga. "Iya," jawabnya sinkat.
Sial sekali bagi Keyla, karna Arya terus saja melontarkan pertanyaan yang memancing kecurigaan Rara dan Metta. "Malam minggu kemarin kemana? Aku ke rumah tapi kamunya gak ada."
Ya Tuhan, tenggelamkan Keyla saat ini juga. Pandangan menyelidik Rara dan Metta membuatnya tak bisa bekutik. Apalagi mereka pasti mendengar dengan jelas Arya menggukan kata ganti saya dengan aku. "Nginep di rumah Maura," sahut Keyla ogah-ogahan. Kalau tidak di jawab pasti Rara dan Metta akan semakin curiga.
"Papa kamu juga bilang gitu."
Kalo udah tau ngapain nanya onta! Minta disambit pake stiletto yah. Keyla melirik gemas pada Arya yang kembali menyantap nasi goreng seafood miliknya. Dari jarak sedekat ini Keyla bisa melihat pipi kanan Arya yang terdapat lebam, di pelipisnya juga ada dan sudut bibirnya terlihat sobek.
Menggeleng pelan, Keyla memilih mengabaiakan sosok di sampingnya. Inginnya dia pamit lebih dulu, tapi itu akan menambah kecurigaan dua curut itu. Namun keberadaannya ini justru malah dimanfaat Arya untuk kembali melancarkan aksinya.
Tangan Arya terulur, merapikan rambut Keyla yang menjuntai ke depan karna posisinya yang kini menunduk untuk menyesap minumannya. Keyla terpaku merasakan tangan besar Arya yang membawa rambutnya ke belakang. "Kenapa sih dari dulu suka banget rambut digerai?" Serius Keyla merinding saat matanya tak sengaja bertemu tatap dengan Arya yang tersenyum lembut padanya.
Dan saat menoleh ke depan. Keyla menemukan wajah-wajah penasaran yang menatap tajam meminta penjelasan.
****** lo Key.
***
Tadi pagi matahari bersinar begitu terang dan saat sore menjelang awan mendung datang. Yang semula gerimis kini hujan lebat. Selayaknya cuaca yang sulit di tebak begitupun dengan hati, tak ada yang tau apa maunya. Hari ini bilangnya begini besoknya lain lagi. Itulah yang Keyla pikirkan tentang Arya. APASIH MAU PRIA ITU?
Membuang jenuh menunggu hujan reda, Keyla mengambil earphone dan handphonenya. Memutar lagu Ali Gatie yang berjudul its you. Entah kenapa lagu ini seolah menggambarkan perasaannya.
(Itu kamu, selalu dirimu)
If I'm ever gonna fall in love I know it's gon' be you
(Kalau aku jatuh cinta, pastinya hanya kepadamu)
(Selalu dirimu)
Met a lot of people, but nobody feels like you
(Bertemu banyak orang, namun tak ada yang sepertimu)
So, please, don't break my heart
(Jadi, tolong, jangan hancurkan hatiku)
Don't tear me apart
(Jangan berpisah dariku)
I know how it starts
(Aku tahu bagaimana ini dimulai)
Trust me, I've been broken before
(Sebelumnya hatiku pernah hancur)
Don't break me again
(Jangan hancurkan lagi)
I am delicate
(Hatiku begitu lembut)
Please, don't break my heart
(Tolong, jangan hancurkan hatiku)
Trust me, I've been broken before
(Sebelumnya hatiku pernah hancur)
I've been broken
(Aku pernah hancur)
Yeah I know how it feels
(Ya aku tahu rasanya)
To be open
(Untuk terbuka)
And then find out your love isn't real
(Dan menyadari kalau cintamu palsu)
I'm still hurting
(Aku masih merasakan sakit)
Yeah I'm hurting inside
(Sakit di dalam hatiku)
I'm so scared to fall in love
Aku begitu takut tuk jatuh cinta
But if it's you then I'll try
(Tapi kalau itu kamu, maka akan ku coba)
(Itu kamu, selalu dirimu)
If I'm ever gonna fall in love I know it's gon' be you
(Kalau aku jatuh cinta, pastinya hanya kepadamu)
(Selalu dirimu)
Met a lot of people, but nobody feels like you
(Bertemu banyak orang, namun tak ada yang sepertimu)
So, please, don't break my heart
(Jadi, tolong, jangan hancurkan hatiku)
Don't tear me apart
(Jangan berpisah dariku)
I know how it starts
(Aku tahu bagaimana ini dimulai)
Trust me, I've been broken before
(Sebelumnya hatiku pernah hancur)
Don't break me again
(Jangan hancurkan lagi)
I am delicate
(Hatiku begitu lembut)
Please, don't break my heart
(Tolong, jangan hancurkan hatiku)
Trust me, I've been broken before
(Sebelumnya hatiku pernah hancur)
Iknow I'm not the best at choosing lovers
(Aku sadar aku tak pandai memilih pendamping hidup)
We both know my past speaks for itself, for itself
(Kita berdua tahu masa laluku)
If you don't think that we're right for each other (baby, no)
(Kalau kau tak berpikir kita cocok satu sama lain)
Then, please, don't let history repeat itself
(Maka, tolong, jangan ulangi lagi kisahku yang dulu)
Cukup lama Keyla terhanyut. Dan tanda-tanda hujan reda belum terlihat sementara waktu menjelang malam. Keyla membereskan meja dan memasukan beberapa barang penting ke dalam tas dan bersiap pulang.
Sebenarnya Keyla sedang malas di rumah, semenjak Danu menyebut nama Fandi tempo hari, Ambar terus merongrongnya bertanya siapa itu Fandi dan ada hubungan apa dengannya. Yang lebih gilanya Ambar minta dikenalkan. Jangankan mengenalkan, bertemu orangnya aja Keyla ogah. Ngeselinnya Ambar malah akan merealisasikan ancaman untuk menjodohkan Keyla. Padahal Keyla sudah cukup bernapas lega sebab beberapa bulan terakhir ini Ambar seolah lupa dengan rencananya itu.
Keyla sengaja tidak langsung pulang, selain menunggu hujan reda dia juga sedang menghindari Rara dan Metta. Dua wanita dengan kadar keinginan tahuan yang tinggu itu terus saat menerornya lewat pesan WhatsApp, membuat Keyla terpaksa menonaktifkan saluran datanya.
Setelah istirahat makan siang, dia tidak mengacuhkan Arya, hanya menanggapi pria itu jika berhubungan dengan pekerjaan. Untung saja akhir -akhir ini pekerjaan sedang banyak-banyaknya sehingga pria itu tak memiliki waktu untuk mengusiknya. Dan sepertinya pria itu juga akan lembur, karna tak ada tanda-tanda ia akan keluar. Seharusnya Keyla bersyukur akan itu karna dia bisa melarikan diri.
Seperti perkiraannya lobi kantor cukup ramai oleh orang-orang yang menunggu hujan reda atau jemputan. Keyla putuskan untuk pulang menggunakan taksi online. Saat data ponselnya diaktifkan, notifikasi langsung memburu paling banyak dari aplikasi pesan, namun Keyla abaikan.
Jarinya tinggal menekan tombol pesan sebelum sebuah suara mengejutkannya.
"Pulang bareng aku aja yuk!" Ajak Arya berdiri di depan Keyla yang hanya diam saja.
Belum sempat Keyla menjawab suara lain kembali terdengar, kali ini respon Keyla begitu terkejut tak menduga akan keberadaan pria itu. "Keyla!"
Nagapain si Fandi di sini?!
"Mau pulang kan? Bareng aku aja yuk!" Senyum ramah menghiasi wajah pria itu, bajunya sedikit basah terkena rintik hujan.
Arya mengamati pria yang baru saja memanggil nama Keyla. Alisnya menukik tajam, dalam hati bertanya siapa pria itu dan kenapa raut wajah Keyla begitu terkejut. Sebenarnya mereka berdua ada hubungan apa?
"Ayo!" Arya menarik pelan tangan Keyla, namun langsung ditolak perempuan itu.
"Maaf, saya pulang sama dia," putus Keyla, kemudian menarik lengan Fandi untuk berlalu dari sana.
Iris coklat itu tak lepas memandang kepergian Keyla, raut wajahnya tak terbaca. Rahangnya mengetat dengan jari-jari yang terkepal. Sial, disaat dia ingin berjuang malah datang saingan.
***