Real Love

Real Love
Real Love #1



***


“Dia...siapa?” tanya Keyla menunjuk wanita di samping Fandi.


Sejak kedatangan Fandi beberapa menit yang lalu, Keyla sudah penasaran dengan wanita yang memeluk erat lengan Fandi itu. Keyla berusaha berpikir positif, mungkin itu adalah sepupunya. Namun melihat interaksi keduanya yang terlihat seperti sepasang kekasih membuatnya heran. Apalagi saat wanita itu tidak mau lepas dari Fandi, ia terus menempel seperti lintah. Membuat Keyla gerah. Ingin rasanya dia menarik paksa wanita itu agar menjauh dari Fandinya.


Fandi tidak lekas menjawab, pria itu menatap wanita bernama Amel sebentar. Kemudian senyumnya terbit begitu saja, Keyla berharap semoga dugaannya tidak benar. Tidak mungkin kan si Amel Amel ini pa—


“Dia pacar aku.”


car Fandi


Sejenak Keyla menegang, meresapi hatinya yang berdenyut nyeri. Ditatapnya Fandi lekat, mencari kebohongan yang yang sayangnya tidak ia temukan.


Keyla menggeleng, tak terima dengan fakta yang baru saja Fandi sampaikan. “Kamu bercanda kan?” Keyla berharap ini hanyalah candaan Fandi untuk membuatnya terkejut.


“Nggak, Key. Kita udah pacaran seminggu”


Keyla tertawa sumbang, hatinya menjerit saat ini. Pandangan Keyla beralih pada Amel. Jika boleh Keyla jujur Amel tidak jauh lebih baik darinya. Dilihat dari wajahnya saja Keyla lebih unggul. Muka perempuan itu saja lebih mirip seperti kue ulang tahun, terlalu banyak hiasan. Hanya saja Keyla kalah telak jika dibanding dengan aset dan body aduhai si Amel ini. “Kalo dia pacar kamu, lantas aku apa Fan?”


“Kamu kan temen aku.”


Keyla tersenyum getir, tangannya mengepal di bawah meja. Emosinya sudah siap meledak sejak Fandi mengatakan wanita itu adalah pacarnya.


“Temen? Selama enam bulan ini aku temen kamu doang?" tanya Keyla menekankan setiap katanya, masih berusaha bersabar.


Tepat saat kepala Fandi mengangguk, tiba tiba Keyla menyuruh pria itu berdiri. Meski bingung, Fandi menurut. Begitupun dengan Amel, wanita itu ikut berdiri juga.


“Kenapa Key?” tanya Fandi.


Keyla tidak menjawab, wanita itu tersenyum miring. Tanpa ba-bi-bu tangan Keyla yang sedari terkepal, melayang tepat mengenai hidung mancung Fandi. Sekuat tenaga Keyla kerahkan untuk menghajar wajah sok polos Fandi. Emosi Keyla sudah mencapai batasnya. Disituasi seperti ini, Keyla memsyukuri dirinya yang pernah berlatih tinju meninju pada Aurel.


“Lo pikir gue cewek apaan hah?! Lo pikir gue tempat persinggahan apa? makan tuh komitmen yang dulu lo bilang sama gue. Brengsek!" hardik Keyla marah. Napas Keyla terdengar memburu, karena emosinya.


Keyla tersenyum sedikit puas melihat wajah tercengang Fandi dan Amel karena aksinya yang tidak terduga. Tidak Keyla pedulikan pengunjung cafe yang menatap penasaran melihat apa yang terjadi. Benar benar drama sekali. Keyla tidak peduli dengan rasa malunya, yang ia pedulikan harga dirinya yang diinjak injak dan juga hatinya yang patah karena laki sialan bernama Fandi.


“Lo apa-apaan sih! Jadi cewek kok kasar banget.” Amel angkat bicara, wanita itu tidak terima pacarnya diperlakukan seperti itu. Tapi apa peduli Keyla, mereka saja tidak memperdulikan perasaannya.


"Diem lo cewek sialan!" desis Keyla.


Keyla meraih cappucinonya. Menumpahkan seluruh isinya ke atas kepala Amel. Wanita itu memekik dengan aksi tiba-tiba Keyla. Matanya membulat, memandang Keyla nyalang. Dalam hati Keyla berdoa semoga wajah penuh dempul itu tidak luntur.


“Dan lo." Keyla menunjuk wajah Fandi yang masih terduduk di lantai. Pria itu tidak berbicara sama aekali, masih terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Keyla yang biasa lemah lembut bisa melakukan semua itu. "Cowok keparat, sialan, *******. Gue sumpahin lo jadi bujang lapuk seumur hidup!" teriak Keyla tepat di depan wajah Fandi.


Setelah puas dengan aksinya, Keyla meraih tasnya. Lekas pergi dari sana, lebih baik Keyla keluar sekarang daripada ia di usir nanti karena membuat keributan. Suasana cafe hening, mungkin pengunjung cafe masih shock melihat drama live di depan mata mereka.


Keyla berajalan cepat, ke tempat motornya terparkir. Wanita itu langsung berjongkok di dekat motornya. Air mata yang tadi di tahannya kini keluar. Mengalir deras di pipi tirusnya.


"Fandi sialan! keparat! brengsek! Umpat Keyla sembari terisak.


Keyla bersyukur orang orang tidak akan bisa melihat dirinya yang berjongkok disela sela motor yang terparkir. Wanita itu menangis tanpa suara, mengeluarkan segala kesesakan dihatinya. Sedikit tenang, Keyla merogoh tasnya, mencari kunci motornya. Ia harus segera pergi dari tempat terkutuk ini.


Keyla berdecak kesal saat benad itu tidak juga ia temukan, “Sialan kenapa pake gak ada sih!" dengus Keyla kesal. Ia mengeluarkan ponselnya. Menghubungi seseorang yang bisa membantunya saat ini.


"Halo?"


"Kyl bisa jemput gue nggak?" tanya Keyla sesegukan pada Kyla adiknya.


Diseberang sana Kyla mengerutkan alisnya bingung mendengar isakan. "Kak lo kenapa? Kok nangis."


"Entar gue jelasin, buruan jemput gue ke sini." pinta Keyla, memaksa.


Keyla mendengar adiknya mendengus, "Males ah, lagian bukannya lo bawa motor ngapain gue ke sana."


"Kunci motornya ilang." raung Keyla, air matanya semakin deras mengalir.


"Ck! Nyusahin aja. Iya iya gue ke sana. Kirimin alamatnya."


Tut. Sambungan terputus, Keyla kembali mengeluarkan tangisannya. Matanya tertuju pada pintu masuk cafe. Saat pintu terbuka Keyla langsung menundukan kepalanya.


Fandi dan Amel keluar. Fandi terlihat sedang mencari cari seseorang, namun pria itu lebih dulu ditarik paksa oleh Amel.


Melihat itu, rasa sesak kembali menghampirinya. Keyla menangis, menangisi hidupnya yang miris.


Dua puluh menit kemudian, Kyla datang. Keyla langsung memanggil adiknya agar tau keberadaannya.


Kyla yang melihat Keyla sedang berjongkok jadi tak tega. "Lo kenapa kak, kok jongkok gitu? Lagi nyari recehan?"


Keyla mencebik kesal. Tanpa membalas ucapan adiknya ia langsung memeluk tubuh Kyla. Tinggi mereka yang sama memudahkan Kyla menahan berat tubuhnya saat Keyla memeluknya begitu saja.


"Lo bukannya sama pacar lo yah. Trus dia kemana?" Kyla celingukan mencari keberadaan pria di sekitar kakaknya.


"Bukan! Cowok keparat itu bukan pacar gue."


"Maksudnya?"


"Gue dijadiin temen doang Kyl!" serunya kesal.


Kyla terdiam, ia turut sedih dengan apa yang menimpa kakaknya. Tangannya mengelus punggung kakaknya yang bergetar.


"Udah jangan nangis. Percuma nangisin cowok kaya dia.


Keyla mengangguk, tangisnya sudah berhenti. Menyisakkan isakan di bibirnya.


Keyla menggeleng, "Nggak, kalo pulang entar diomelin mama. Anterin gue ke rumah Aurel aja."


Kyla mengangguk setuju. Ia menaiki motor matic kakaknya. Memasukan kunci motor cadangan yang ia bawa dari rumah. Keyla duduk tenang di dibocengan. Motor itu mulai melaju, meninggalkan tempat yang akan menjadi tempat keramat bagi Keyla. Dan ia pastikan tidak akan pernah datang ke sana lagi


***


Aurel berdecak kesal saat seseorang memencet bel rumahnya dengan tidak sabaran. Wanita itu memaki orang yang sudah mengganggu akhir pekannya. Baru saja ia selesai menidurkan kedua putranya. Dan belum sempat memindahkan mereka.


Saat membuka pintu, Aurel sudah siap menyemburkan kekesalannya pada si tamu tak di undang. Namun Aurel justru melotot saat menemukan wajah mengenaskan Keyla.


"Lho Key, lo kenapa?" tanya Aurel bingung, Keyla tidak menjawab. Dia malah memeluk Aurel. Tangisnya kembali pecah saat ingat musibah yang menimpanya beberapa menit lalu.


"Kok malah nangis sih. Yaudah masuk yuk. Malu entar diliatin orang-orang." Aurel menggiring Keyla masuk ke dalam rumahnya. Menyuruh Keyla untuk duduk sementara ia mengambil air minum.


Aurel duduk kembali di samping Keyla yang masih menangis. Tangannya menyodorkan gelas berisi air putih, menyuruh sahabatnya itu untuk minum dulu.


"Jadi lo kenapa? Datang-datang kok nangis." Keyla yang tadinya menunduk, mengangkat kepalanya. Matanya bukannya tertuju pada wajah sahabatnya. Ia malah memperhatikan sosok tampan yang sedang tidur di kampret.


"Ya ampun gantengnya." gumam Keyla, matanya yang berair, berbinar saat melihat kedua bocah yang tertidur itu.


Aurel berdecak melihat Keyla yang tidak fokus. "Barusan masih mewek-mewek sekarang malah udah senyum senyum Key." gerutu Aurel.


Keyla tersenyum tanpa dosa, "Abisnya liat cogan gue suka lupa daratan."


Aurel memutar bola matanya, "Fokus Keyla, lo malah ngeliatan anak gue penuh nafsu gitu."


Keyla mencebik, "Lo kira gue tante tante pedofil gitu." sebalnya, "Sebelum gue cerita mending lo amanin tuh anak anak lo." titah Keyla.


Aurel menurut, ia berpikir sehat untuk tidak membuat anaknya dalam bahaya berdekatan dalam radius dua meter dengan Keyla yang sedang patah hati. Aurel menidurkan kedua anaknya di kamarnya.


Air mata yang tadi sempat terhenti kini mengalir lagi. Membuat seorang Keyla berhenti menangis memang sulit. Hanya ada empat hal yang bisa membuatnya berhenti menangis. Pertama, Ambar, tangisan Keyla akan berhenti jika Ambar melihatnya menangis. Mamanya itu akan mengomel panjang lebar yang berujung pada ceramah. Kedua, pelukan, setiap ada yang memeluknya, Keyla selalu merasa tenang. Ketiga, cogan, setiap melihat cowok ganteng dunianya serasa teralihkan seperti tadi. Dan keempat karena kemauannya sendiri. Ketiga hal tadi tidak bisa terjadi jika Keyla sendiri tidak mau berhenti menangis.


"Jadi apalagi sekarang, setelah dijadiin selingkuhan, diselingkuhin, dijadiin pelampiasan dan sekarang apa?" tanya Aurel to the point.


Raut wajah Keyla berubah masam, "Sekarang lebih parah. Gue dijadiin temen doang coba." adunya sedih.


"Maksudnya? Bukannya selama enam bulan ini lo pacaran sama Fandi?" tanya Aurel bingung.


"Dia bukan pacar gue." jawab Keyla pelan, "Selama enam bulan ini, ternyata gue cuma dijadiin temen doang sama dia. Gue gak tau kenapa si sialan itu bisa sejahat itu sama gue. Gue bisa terima kalo dia jadiin gue temen tanpa ada embel-embel komitmen kaya yang dia bilang. Tapi ini enggak kan, selama berhubungan sama gue dia selalu bilang sayang sama gue. Di bilang suka tapi gak pernah ada istilah jadian. Gue gak pernah mempermasalahkannya, karena gue berusaha menjadi wanita yang gak banyak menuntut. Gue mau pasangan gue nyaman sama gue. Tapi ternyata hal itu malah buat dia jadi semena mena. Lo tau Rel, dia tadi ngajak gue ketemu tapi dia bawa cewek yang baru dia pacarin selama seminggu ini. Lo bayangin gimana perasaan gue. Entah gue yang ***** atau emang dia yang kelewat brengsek."


Keyla menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sekelebat bayangan kebersamaannya selama enam bulan bersama Fandi hinggap di pikirannya. Dadanya sesak mengingat itu semuanya hanyalah sesuatu yang semu.


Keyla mengenal Fandi saat ia masih kuliah di Jakarta beberapa bulan yang lalu. Mereka dikenalkan oleh teman Keyla. Awalnya Keyla tidak berniat memiliki hubungan dengan Fandi. Tapi meluhat bagaimana dewasanya Fandi saat menyikapi dirinya membuat Keyla luluh. Ditambah Keyla merasa Fandi serius tidak seperti mantan mantannya. Sayangnya lagi lagi Keyla terjerat oleh pesona tanpa pernah menanyakan perasaan pria itu. Sampai akhirnya ia kembali jatuh.


Aurel menatap iba, iya seperti merasakan apa yang Keyla rasakan. Aurel bingung kenapa hubungan Keyla selalu saja tidak baik. Dia selalu saja menjadi pihak tersakiti.


"Gu-gue menyesal Rel. Waktu gue terbuang sia sia selama enam bulan." raung Keyla.


Aurel hanya diam, membiarkan Keyla mengeluarkan segala keluh kesahnya. Sesekali tangannya menyodorkan tisu.


Keyla membersitkan ingusnya dengan tisu yang Aurel berikan. Perempuan itu membuangnya kesembarang, hingga berserakan di lantai rumah Aurel. Sang empunya rumah hanya bisa pasrah.


"Apa gue gak bisa bahagia sedikit aja? Gue cape gini mulu." selama ini, setiap Keyla mempunyai hubungan, pasti selalu berakhir tragis. Seperti yang Aurel ucapkan tadi, jadi selingkuhan lah, dijadiin selingkuhan lah dijadiin pelampiasan dan masih banyak lagi.


"Udah udah. Tuhan pasti udah siapin seseorang yang benar benar mencintai lo."


Keyla tidak berbicara, ia masih menangis. Sesekali meraung melampiaskan amarahnya. Aurel hanya berdoa semoga anak-anaknya tidak bangun.


"Pantesan aku ucap salam gak ada yang jawab. Ada Keyla toh."


Suara berat Vito mengalihkan kedua orang itu. Aurel lekas bangkit mengambil minum untuk Vito. Sementara Vito duduk di sofa single memperhatikan Keyla.


"Aku kira tadi ada apa, soalnya kedengeran rame sampai ke luar."


Keyla meringis, itu pasti karena suara tangisannya yang lebay.


"Biasalah ada yang lagi patah hati." Aurel muncul, menyerahkan minumanan pada Vito lantas duduk kembali di samping Keyla.


"Patah ha--"


"To lo kok jahat sih, gue malah ditinggalin gitu aja."


Perkataan Vito terpotong oleh gerutuan seseorang. Keyla menegang, Keyla masih hapal dengan jelas suara siapa itu. Suara laki laki yang menjadi alasan dirinya memilih kuliah di Jakarta. Laki laki yang ingin di lupakannya.


Keyla tidak menyangka ia akan bertemu dengan dia. Dan kenapa harus di situasi seperti ini. Disaat ia sedang salam kondisi meyedihkan.


Aurel dan Vito yang menyadari perubahan raut wajah Keyla hanya diam. Sampai seseorang tadi masuk.


"Oh ada tamu toh." katanya, tidak mengenali Keyla yang kebetalan duduk membelakanginya.


Keyla memejamkan matanya erat, ia belum siap untuk bertemu dengan dia. Suara langkah kaki laki-laki itu kian mendekat. Laki laki itu mengerutkan keningnya saat mengenal siapa orang yang dianggapnya tamu itu.


"Keyla?"


Skakmat. Keyla bergeming, tidak berani membuka matanya. Sementara laki laki itu menyunggingkan senyumnya.


"Hai mantan!"


***