
Kamu pernah begitu berarti, namamu pernah terpatri di hati, dan saat kamu memilih pergi maka tiada tempat untukmu kembali
***
Suasana senyap seketika. Baik Keyla maupun Kyla memilih bungkam, dalam hati keduanya harap-harap cemas.
"Jadi?" Suaranya tenang, namun sarat ancaman.
Keyla dan Kyla saling melirik, dari ekor matanya Keyla tau orang itu menunggu jawaban. Keyla menggaruk tengkuknya, bingung hendak menjawab apa. Lebih tepatnya Keyla takut salah menjawab. Orang dengan keadaan sensitif mudah sekali marah dan meledak-ledak. Bisa-bisa apa yang keluar dari mulutnya pasti akan selalu salah.
"Anu..." Keyla baru akan buka suara, tapi terhenti saat mendapat pelototan dari Kyla. Ekspresi Keyla berubah memelas, heran kenapa akhir-akhir ini hidupnya ngenes amat, Ada aja masalahnya.
"Jawab!!" Hardiknya, kesabarannya habis melihat kedua putrinya yang hanya bungkam. "Mama nanya sama kalian, siapa yang orang ketiga kenapa gak dijawab?!" Sambungnya sewot.
Kyla berdecak, mengelus dadanya yang berdegup kencang. "Mama apa-apaan sih, pulang langsung marah-marah gak jelas kaya orang gak punya duit aja," ujar Kyla sebal, sebodo amat kalo Ambar akan bertambah marah juga.
Ambar mendelik, mulut anak bungsunya itu memang kurang ajar sekali. "Lagian kalian, mama tanya malah dicuekin," sahutnya kesal.
"Abisnya mama jadi orang kepo sih," balas Kyla.
Ambar mendengkus, kemudian matanya beralih pada Keyla. "Siapa yang orang ketiga?" Tuntutnya. Keyla menepuk jidat, dongkol kenapa Ambar punya rasa penasaran yang begitu tinggi. Padahal tadi ia sudah bernapas lega dan terbebas dari pertanyaan itu.
Keyla gugup. "I-itu tadi kita lagi bahas drama korea The World of The Married. Kesel parah sama si pelakornya Ma," jawab Keyla seraya tersenyum agar meyakinkan perkataannya.
Kyla dibuat gregetan dengan Ambar yang tidak langsung percaya, terlihat dari raut wajahnya yang memicing penuh kecurigaan. "Kalian gak bohong kan?"
Anak sulungnya hanya bisa mengelus dada, beristigfar dalam hati. Maklum saja jika Ambar bersikap berlebihan dalam menanggapi orang ketiga. Sebab dulu sekali, mungkin saat umur Keyla baru dua belas tahun rumah tangga orang tuanya pernah diterpa masalah cukup serius dan itu disebabkam oleh orang ketiga. Ambar yang memiliki tingkat kecemburuan yang sangat tinggi jelas marah besar sampai pernah melabrak wanita itu dan mempermalukannya habis-habisan. Beruntungnya ayah mereka, selalu berkepala dingin dalam menghadapi masalah hingga masalah itu bisa diselesaikan.
Sayangnya dampak dari kejadian itu Ambar jadi sedikit sensitif dengan hal yang berhubungan dengan pelakor atau sejenisnya. Ia akan bersikap berlebihan dalam menanggapinya. "Mama kalo gak percaya bisa cek sendiri kok, di bawah flashdisknya masih nempel di tv," ujar Keyla kemudian. Ingin segera mengakhiri drama yang Ambar buat.
Terlihat Ambar menganggukkan kepalanya beberapa kali, Kyla dan Keyla dibuat lega melihatnya. Tapi keduanya kembali tegang saat Ambar kembali bersuara. "Oke mama percaya, tapi mama masih ada satu pertanyaan lagi buat kalian."
Ampun deh punya nyokap kok gini banget, susah amat mau dikadalinnya. Batin Keyla menggerutu.
Suara lantang Ambar terdengar tiba-tiba membuat kedua dara Kamandanu itu tersentak kaget. "Kenapa pintu rumah nggak kalian kunci?!"
Kyla baru saja mengap mau buka suara tapi lebih dulu diserobot oleh cerocosan Ambar yang membuat pusing mendengarnya. "Kalian ini gimana sih, dititipin rumah aja masa gak bisa. Kalo ada maling gimana? Untung mama pulang cepet, kalo engga bisa habis rumah kita gara-gara keteledoran kalian. Pantes aja yah firasat mama dari tadi siang tuh gak enak banget, sampe minta pulang cepet sama papa kalian. Padahal harusnya mama sama papa pulang besok sore."
Kalau sudah begini, mau nutup telinga terang-terangan takut dosa. Nyela juga takut dosa juga tapi daripada kepalanya nyut-nyutan mending di hentikan. "Istigfar ma, ja--"
"Kamu pikir mama lagi kesurupan?" Sentak Ambar, memotong kalimat Keyla. "Kalian ini suka kebiasaan, kalo dikasih tau orang tua tuh dengerin, ini malah masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Kamu juga Kyla dengerin." Kyla mengedikan bahunya tanda tak peduli, tak ambil pusing dengan segala drama yang Ambar lakukan. Ia sudah hatam luar kepala tabiat ibunya yang terlalu mendramatisir keadaan.
"Awas yah kalo mama denger kamu berantem atau bikin onar di sekolah. Kamu mama kirim ke pesantren nanti." Mendengar ancaman terakhir sang Mama membuat Kyla mendelik tak terima.
"Ma kok?!" Protes Kyla.
"Apa?" Balas Ambar nyolot. "Siapa tau di pesantren kamu jadi ada akhlaknya," sahutnya santai.
Kyla melotot. Emang selama ini gue gak ada akhlaknya gitu? Batinnya protes tak terima. Keyla terkikik melihat wajah penuh kesal Kyla. Heran deh kenapa punya Mama mulutnya ceplas ceplos. Padahal sama anak sendiri.
"Yeobo!"
Suara tawa yang ditahan terdengar setelah seruan itu. Keyla sampai harus menutup mulutnya saat melihat perubahan pada raut wajah Ambar yang tadinya marah berubah memerah karena malu. "Papa apa-apaan sih," rajuknya kesal.
Kamandanu mengernyitkan alis tak mengerti, lalu mengedikan bahunya cuek. "Mama kenapa masih di sini bukannya istirahat. Katanya tadi cape, tapi kok malah ngomel-ngomel sampe kedengeran ke bawah." Keyla selalu dibuat takjub setiap melihat sikap lembut Danu pada Ambar. Hingga kini papanya selalu menjadi panutan Keyla dalam mencari pasangan hidup. "Udah ayo ke kamar," ajak Danu merangkul bahu Ambar yang sontak mengundang godaan kedua anaknya.
"Udah eomma ikut appa aja sana," usir Kyla menyeringai geli melihat Ambar yang salah tingkah. Akhirnya, sebab malu Ambar memilih balik kanan dan pergi meninggalkan kamar Keyla. Sebelum itu, ia sempatkan untuk melirik sinis pada suaminya itu. Tak pelak hal itu membuat mereka yang melihat terkikik geli. "Mama kalian emang begitu, kalo lagi marah jangan kepancing ikut marah tapi cobalah untuk menggodanya nanti juga amarahnya reda sendiri," terang Danu.
Finger heart Keyla berikan untuk ayahnya, sungguh patut diacungi jempol sikap ayahnya itu. "Sudah malam, kalian lebih baik tidur. Jangan terlalu diambil hati apa yang mama katakan. Dia itu sebenernya khawatir, keinget kalian terus dari kemaren apalagi katanya dia lupa stok bahan makanan. Tapi ya gitu gengsinya selangit, gak mau ngaku." Setelah berkata begitu Kamandanu pergi menyusul Ambar.
"Dasar mama, gengsinya aja di gedein," gumam Keyla tersenyum geli.
***
Minggu pagi ini, Keyla bagun dengan perasaan yang lebih baik. Perihal Arya dan segala tingkahnya Keyla coba untuk biarkan saja. Sebab semakin Keyla pikirkan malah semakin tidak masuk diakalnya namun malah semakin membuat harapan dihatinya. Biarlah waktu yang menjawab segalanya.
"Jadi ikut Papa?"
Senyum lebar Keyla tersungging, kepalanya mengangguk antusias. "Jadi dong!" Serunya semangat. Entah ada angin apa tiba-tiba saja pagi ini Keyla punya keinginan untuk ikut Danu ke tempat kerjanya. Iya hari minggu juga ayahnya masih bekerja.
Tepat pukul sembilan keduanya bertolak menggunakan mobil sejuta umat milik ayahnya. Keyla menatap pantulan wajahnya dari cermin yang dibawanya. Hari ini ia sedang malas dandan entah kenapa, Keyla hanya memakai skincare dan liptint saja. Padahal itu jelas bukan stylenya. Mukanya jadi keliatan beda, kalo begini Keyla merasa jadi anak remaja lagi.
Kamandanu tersenyum, tangan besarnya mengelus rambut Keyla yang terurai bebas. "Anak papa kan emang cantik, pasti banyak laki-laki diluaran sana yang ngejar-ngejar kamu."
Keyla tersenyum miris. "Yang ada malah Key yang ngejar-ngejar mereka pa. Lagi pula cantik aja gak bisa menjamin seseorang bisa mencintai kita dengan tulus Pa." Sayangnya semua kalimat itu hanya Keyla utarakan dalam hatinya. Membahas soal pria menurunkan sedikit keceriaannya hari ini, sebagai pengalihan Keyla lebih memilih menatap jendela yang menampakan jalanan lenggang kota Bandung.
"Rasanya waktu berjalan begitu cepat, melihat kamu sama Kyla udah sebesar ini menimbulkan rasa takut di hati papa," suara lirih Danu mengalihkan netra Keyla pada wajah sendunya yang berusaha menarik seulas senyum tipis. "Sepertinya papa harus menyiapkan diri dari sekarang jika suatu saat ada pria yang meminang kalian. Meski berat tapi hal itu pasti akan terjadi, cepat atau lambat."
Rasa sesak menjalari hati Keyla, matanya berkaca-kaca. Keyla beringsut memeluk papanya dari samping, menyerukan wajahnya pada pundak Danu yang selalu menjadi tempat ternyaman baginya untuk bersandar. "Papa jangan ngomong gitu," bisik Keyla serak. Diingatkan tentang kebersamaan keduanya yang pasti akan berkurang nantinya membuat Keyla dirundung penyesalan. Andai dia tidak terlalu sibuk akan urusan pria pasti ia punya banyak waktu dengan ayahnya. Andai saja dia tidak memilih kuliah di jakarta pasti banyak kenangan yang mereka lewati bersama. Dan masih banyak lagi pengandaian yang hanya membuat dadanya kian sesak.
Untuk kali ini, Keyla tidak pernah menyesali keputusannya untuk ikut pergi ke tempat kerja ayahnya. Keyla seolah disadarkan akan kenyataan bahwa apa yang dilakukannya untuk mengejar laki-laki yang jelas tak mencintainya adalah hal yang sia-sia. Padahal ia jelas memiliki pria yang senantiasa selalu mencintainya dalam keadaan apapun dan jelas akan menjaganya segenap jiwa.
Keyla mempererat pelukan pada sang Papa. Matanya sudah dipenuhi air mata yang sudah tidak sanggung ditampungnya, dan tumpah. Key sayang papa, bisik hati Keyla.
***
Keyla lahir dari keluarga biasa dengan kehidupan biasa juga. Dia bukan anak sultan yang jika menginginkan sesuatu bisa dibeli dengan menjentikan jari. Dia juga bukan anak taipan yang hidupnya dipenuhi dengan kemewahan. Keyla hanyalah anak dari seorang Kamandanu. Pria penuh kasih sayang serta kesabaran yang selalu berjuang untuk memenuhi segala kebutuhan keluarganya. Tak kenal lelah, demi menerbitkan seulas senyum kebahagian di wajah istri dan anak-anaknya.
KA Rental & Bengkel merupakan salah satu usaha yang dimiliki ayahnya. Di tempat inilah Ayahnya bekerja demi mendapatkan pundi-pundi uang untuk keluarganya. Usaha yang dirintisnya sejak masih muda hingga kini sudah berkembang begitu pesat dan memiliki beberapa cabang. Banyak perjuangan untuk sampai dititik ini, tak jarang masalah datang silih berganti namun semua bisa dilalui hingga kini.
Mata Keyla menjelajah, menatap bangunan dua tingkst yang lumayan besar di hadapannya. Banyak orang di lantai bawah yang berlalu lalang, terlihat ada beberapa pelanggan yang memberbaiki mobil mereka. Kenapa di hari minggu ayahnya masih bekerja? Disaat yang lain libur. Sebab hari libur di tempat ayahnya diberlakukan pada hari jumat agar orang-orang bisa khusyuk dalam menjalankan kewajiban sholat jumat.
"Ayo!" Ajak Danu, merangkul bahu Keyla.
Beberapa pegawai bengkel menyapa mereka, lebih tepatnya ayahnya. Namun ada satu orang pegawai--yang Keyla tebak seorang montir telihat dari pakaiannya--yang salah mengenalinya. "Selamat pagi Pak! Eh tumben Kyla ikut," sapanya tersenyum begitu lebar.
Keyla mendelik mendengarnya. Iya sih mukanya emang imut-imut kalo gak pake make up tapi masa disamain sama Kyla sih. Salahnya juga sih yang hanya mengenakan sweater putih dan juga leggings bewarna abu dan jangan lupakan sneaker putihnya. Membuat Keyla tampak seperti Kyla. "Ini Keyla, Mar bukan Kyla," koreksi Danu seraya tersenyum.
Pria yang dipanggil Mar itu tampak salah tingkah. Wajahnya memerah malu karna salah mengenali orang. "Eh saya kira Kyla," kikuknya. "Abisnya neng Keyla jarang keliatan, tau-tau udah perawan aja. Bentar lagi hajatan nih pak Danu," guraunya, tapi malah mendapat tanggapan sinis dari Keyla. Kenapa sih orang-orang punya pikiran kalau sudah memasuki umur dua puluhan sebentar lagi menikah.
"Nikah sama kambing! hilal jodohnya aja belom ada," Sahut Keyla sinis.
Mendapat tanggapan begitu, membuat pria itu diserang rasa tak enak hati. Melihat itu, Danu bergerak cepat mengajak Keyla ketujuan awal mereka. "Kami duluan ya Amar," pamit Danu tak lupa tersenyum memohon pemakluman atas sikap Keyla. "Lain kali jangan gitu lagi yah," ucap Danu setelah cukup jauh dari tempat tadi. Keyla memilih mengangguk saja, padahal Keyla justru takut akan respon Danu padahal dia ingat jelas beberapa waktu lalu ayahnya masih diserang ketakutan.
"Kamu mau nunggu di sini, apa ikut papa ke atas? Soalnya papa ada beberapa klien yang ngerental mobil hari ini. Mereka udah hubungin papa lewat WhatsApp sebelumnya," jelas Danu.
"Key nunggu di sini aja Pa."
"Yaudah papa ke atas dulu, kalo ada apa-apa kamu ke atas aja," setelah mendapat anggukan, Danu berlalu menuju lantai atas yang diperuntukan untuk rental mobil. Apabila ada klien yang ingin menyewa mereka bisa berdiskusi di atas sebab di bawah terlalu berisik. Keyla berjalan menuju meja yang sepertinya ditujukan untuk penerimaan tamu. Dia mendudukan diri di sana. Tak jauh darinya ada kasir tempat pembayaran berada dengan seorang perempuan yang berdiri di baliknya.
Bingung hendak melakukan apa, Keyla memilih bermain ponsel. Membalas beberapa pesan yang masuk, salah satunya dari Maura yang mengajaknya bertemu nanti siang. Keyla mengiyakan ajakannya. Dari aplikasi pesan Keyla beralih pada instagram, terlihat ada beberapa notifikasi yang ada. Kebanyakan pemberitahuan akan likes dari postingannya. Dan ada juga yang menfollow akunnya, jarinya terus bergulir ke bawah hingga matamya menangkap nama yang tak asing baginya. Langsung saja Keyla menutup instagram, sebelum Keyla ditarik rasa penasaran untuk menstalk akunnya dan berujung pada patah hati yang tak pernah berujung.
@AryaDwinata starting following you.
Hanya melihat nama akun instagram Arya saja perasaan Keyla mulai goyah. Keyla menghela napas berat, menyimpan ponselnya, sudah tidak berniat lagi memainkan benda persegi itu. Keyla lebih memilih menopang dagu, memperhatikan keadaan bengkel ayahnya yang cukup ramai di hari minggu ini. Tatapan Keyla berubah sayu, bosan juga lama-lama. Tau begini tadi Keyla bawa perbekalan dulu deh misal mendownload drama dulu kek. Kan lagi banyak tuh drama baru.
Mata yang semula nyaris terpejam, langsung terbuka lebar. Posisi duduk Keyla langsung berubah tegak. Mulutnya mengap-mengap tak menyangka akan bertemu sosok yang pernah menorehkan luka di hatinya. Keyla dibuat kalang kabut saat sosok itu berjalan semakin mengarah--padanya.
"Ssttt Mbak Ira," seru Keyla pelan. Namun sosok yang dipanggil tak kunjung menoleh, maklum saja karna wanita itu sedang disibukan dengan pelanggan yang hendak membayar. Keyla saja yang sepertinya tak punya kerjaan.
Kembali pada sosok yang sebelumnya, Keyla menahan napas saat sosok itu semakin mendekat ke arahnya. Tak ada pilihan lain Keyla memilih menunduk menutupi wajahnya dengan helaian rambut. Berharap sosok itu tak mengenalinya atau bahkan sudah melupakannya.
Dan saat sosok berjenis kelamin laki-laki itu sudah berdiri di depannya. Keyla dibuat tegang bukan main bahkan sampai bekeringat dingin. "Permisi, Mbak. Pak Danunya ada?"
Suaranya masih seberat dulu, hingga tanpa sadar membuat Keyla menahan napas beberapa saat. "A-ada. Masnya langsung ke atas aja," gugup Keyla. Matanya terpejam erat berharap pria itu segera pergi. Namun kenyataannya saat Keyla membuka mata dari helaian rambutnya Keyla bisa melihat pria itu justru bergeming menatapnya. Sorot matanya sulit diartikan hingga membuat Keyla tanpa sadar menyibak rambutnya.
"Keyla?!" Panggilnya sangsi. Kepalanya ditelengkan, berusaha melihat wajahnya lebih seksama.
Terlanjur ketahuan Keyla akhirnya mengibaskan seluruh rambut bagai iklan sampo hingga menampakan keseluruhan wajahnya yang kucel tanpa make up. Emang udah nasibnya tiap ketemu mantan pasti dekil.
"Oh hai Fandi. Long time no see!" Sahut Keyla seceria mungkin padahal dalam hati gondok setengah mati.
"Iya, lama kita gak tekemu. Kamu apa kabar? Kerja di sini sekarang?" Pertanyaan beruntun Fandi tak lekas Keyla jawab.
Matanya malah menscan penampilan Fandi lebih dulu. Sejauh mata melihat, penampilannya masih se-oke dulu meski masih gantengan Arya sih, eh!
"Ba--"
Dan kedatangan Danu entah hal yang patut Keyla syukuri atau justru harus di sesalinya melihat ternyata Ayahnya mengenal seorang Fandi Aryan Putra.
***