Real Love

Real Love
Real Love #21



...Jangan datang jika hanya untuk kembali pergi, jangan mencari jika hanya menyakiti....


...***...


"STOP!" pekik Keyla.


Spontan, Fandi menginjak pedal rem sebab terkejut. Napas Keyla memburu, tak menyangka respon Fandi akan secepat itu. Gila saja dia seperti spot jantung. Tak jauh berbeda dengan Keyla Fandi juga sama terkejutnya.


"Kenapa berhenti? Ini belom seperempat jalan loh?" Tanya Fandi heran, dahinya berkerut melihat Keyla yang berusaha membuka sabuk pengaman. "Kamu mau kemana?"


Keyla menarik napas kuat-kuat sebelum menjawab. "Denger yah Fandi." Keyla memperbaiki posisi duduknya, memyamping menghadap Fandi. Ditatapnya nyalang pria yang pernah singgah di hatinya itu. "Gue gak tau maksud lo apa deketin gue lagi, dan gue gak mau tau juga karena segala hal tentang lo sama sekali gak penting buat gue. Satu hal yang perlu lo tau, dulu lo yang memilih pergi jadi jangan harap ada kesempatan untuk lo kembali. Jadi stop deketin gue lagi, apalagi sampe berusaha mengakrabkan diri dengan keluarga gue. Jujur gue risih dengan sikap lo, gue muak liat wajah sok polos lo itu. Jadi gue harap lo berhenti melakukan hal gak guna kaya gini. Dan gue mohon dengan sangat, enyah dari hidup gue."


Tanpa menunggu respon Fandi, Keyla memilih untuk keluar dari mobil, tak lupa pintu mobil jadi pelampiasan kekesalannya. Peduli setan jika mobil yang Fandi gunakan adalah hasil merental di tempat ayahnya.


Kemunculan Fandi di hidupnya hanya menabah daftar ruwet pikirannya. Kenapa setelah sekian lama pria itu harus muncul kembali dan kemunculan menimbulkan prasangka buruk di kepala Keyla. Seperti niat pria itu mendekatinya hanya untuk memanfaatkannya saja yang kebetulan putri dari tempatnya merental mobil. Segala kemungkinan bisa saja terjadi kan?


Cukup jauh kakinya melangkah, Keyla sama sekali tidak menoleh ke belakang untuk sekedar memastikan keberadaan mobil Fandi yang masih di tempat atau kemungkinan pria itu mengikutinya. Nggak tau malu banget kalo sampai Fandi kembali muncul di hadapannya, kurang jelas apa yang sudah dikatakannya tadi.


Ya Keyla akui selama ini dia kurang tegas terhadap pria yang dia cintai, tidak heran jika ia sering tersakiti. Dirinya terlalu lemah pada cinta, mulai kini dia berjanji akan tegas untuk melindungi hatinya meskipun ia sangsi dirinya juga mampu melakukan hal itu padanya. Siapa lagi kalau bukan Arya.


Pakaiannya mulai basah dibeberapa bagian, Keyla memilih menepi di halte. Untung saja ada orang lain yang sepertinya juga sedang menunggu angkutan umum. Keyla duduk diujung dengan posisi menyandar pada pilar.


"Sial!" Umpat Keyla, hingga beberapa orang menoleh padanya.


Keyla meringis, menunduk menatap ponselnya, berusaha tak peduli pada tatapan menghakimi yang dilemparkan orang-orang padanya. "Ini kenapa gak ada sinyal coba, perasaan gue gak pake kartu rakyat deh yang kalo hujan gini jadi gak ada sinyal," gerutu Keyla sembari menggoyangkan ponselnya berharap mendapat sinyal.


"Kalo begini alamat gue gak bisa pesen taksi online dong," dengusnya sebal, tidak ada jalan lain, Keyla harus menunggu sampai taksi lewat. Ini sih sama aja kaya lagi nunggu jodoh yang entah kapan datangnya.


Keyla manatap rintik hujan, suasana malam ini mendukung suasana hatinya yang sedang gundah. Terlalu hanyut, Keyla tidak menyadari adanya air yang jatuh dari matanya, dan saat getaran ponsel terasa Keyla baru menyadarinya dan lekas menghapusnya. "Kenapa gue nangis?" Herannya.


Tanpa dipirkirkan lebih jauh, Keyla menatap id challer di ponselnya. Nama Kyla muncul sebagai si penelpon. "Ken--"


"Lo dimana?" Tukas Kyla langsung.


"Di halte lagi nunggu taksi," jawab Keyla.


Terdengar helaan napas lega dari Kyla, Keyla mengernyitkan alisnya heran. "Kenapa emangnya?" Tanya Keyla lagi karena Kyla tak kunjung kembali bersuara.


"Jangan pulang!" Tegas Kyla.


"Hah?"


"Lo jangan pulang," ulang Kyla nada suaranya terdengar gusar.


Keyla menegakkan tubuhnya, sebentar ini dia tidak salah dengar kan Kyla melarangnya pulang? Memangnya ada apa?


"Kenapa gue gak boleh pulang?" Tanya Keyla. "Kalo lo takut gue cekcok sama nyokap lo tenang aja gue udah punya amunisi buat bungkam nyokap." Sahut Keyla.


"Bukan itu," sela Kyla.


"Trus apa?"


"Pokoknya lo jangan pulang," tukas Kyla bersikukuh membuat Keyla menjadi kesal.


"Ya tapi kenapa?" Desak Keyla, "Tanpa lo bilang alasannya malah buat gue jadi pengen cepat pulang tau gak Kyl!" Sebal Keyla.


Keyla mendengar tarikan napas Kyla, seolah ada beban berat yang membuat adiknya sulit untuk berbicara. Otak bodohnya menduga ada hal serius yang terjadi, semoga saja tidak ada hubungannya lagi dengan Fandi kalo sampai pria itu kembali berulah, Keyla tendang tititnya nanti.


"Di rumah ada kak Arya."


"APA?" Teriak Keyla, antara dia salah mendengar dan juga terkejut. Memikirkan rencana liciknya pada Fandi membuatnya tidak begitu mendengar apa yang Kyla ucapkan.


Kyla berdecak kesal. "Mantan terindah lo lagi ada di rumah. Lagi ngobrol di ruang keluarga sama Papa," ulang Kyla lebih jelas.


Untuk sesaat Keyla merasa pasokan udara menipis di sekitarnya, otaknya mendadak kosong. Ya Tuhan kenapa nasibnya begini sekali, lolos dari playboy cap kadal malah sekarang didatangi buaya darat. "Ng--ngapain dia ke sana?" Cicit Keyla.


Untuk kedua kalinya keheningan menghampiri kakak beradik itu. Dengan penuh kesabaran Keyla menunggu tanggapan dari Kyla hingga terdengar deheman suara adiknya. Kenapa perasaannya mengatakan ada yang tidak beres sudah terjadi. "Sebenernya...gue lupa bilang sama lo kalo sabtu malam kemarin Arya datang nyariin lo," sahut Kyla membuat Keyla terdiam. Jadi perkataan Arya siang tadi bukannya bualan semata, jangan bilang luka yang di dapatnya hasil mahakarya Danu. "Dan kayaknya malam itu dia ketemu papa deh." Sambung Kyla ragu.


Sekarang apalagi? Kenapa masalah hidupnya tidak selesai-selesai. Kenapa masalahnya tidak jauh-jauh dari soal hati. Menyadari keterdiaman kakaknya, Kyla kembali menambahkan. "Untuk malam ini lebih baik lo ngungsi kemana aja dulu. Soalnya siaga satu, nyonya Ambarwati kayaknya udah menemukan kandidat kuat buat jadi suami lo. Apalagi pas tau Arya bos lo, beh kegirangan banget tuh emak lo," cerocos Kyla.


Keyla mendesis kesal. "Emak lo juga."


***


Pintu putih di hadapannya Keyla ketuk tiga kali, hingga terdengar sahutan dari dalam. Udara malam berhembus, membuat Keyla merapatkan blazernya.


"Keyla?" Tanya sang empunya rumah ragu.


"Hai, Rel!" Sapa Keyla kikuk, apalagi saat mata Aurel menatapnya lekat.


"Ngapain malam-malam ke sini. Eh mending masuk dulu deh," ajak Airel saat menyadari kondisi Keyla yang mengenaskan.


"Thanks, Rel," ucap Keyla saat Aurel menghidangkan teh hangat untuknya.


"Sama-sama, lo kaya sama siapa aja deh."


"Btw anak-anak mana? Kok sepi?" Keyla celingak-celinguk mencari keberadaan si kembar, rindu juga dia pada si upin-ipin kw itu.


"Tidur kayaknya mereka, tadi sih lagi dikelonin bapaknya. Capek kali abis main mulu dari siang," terang Aurel.


Sebenernya ibu dua anak ini heran dengan kedatangan Keyla malam ini. Ingin bertanya tapi takutnya Keyla malah salah menanggapi, jadi dia memilih diam sampai Keyla menceritakan sendiri tujuannya.


"Siapa yang datang, Bun. Ar--"


"Ah ini ada Keyla kak!" Sergah Aurel. Secepat kilat berdiri menghadap arah datangnya Vito. Mata wanita dua puluh empat tahun itu melotot pada sang suami. Memberi kode untuk tidak meneruskan perkataan sebelumnya.


Gelagat pasangan suami istri itu terasa janggal di mata Keyla, memunculkan kecurigaan di benaknya. "Memangnya siapa yang mau datang?"


Vito gelagapan, dia kira yang datang adalah sahabatnya ternyata malah Keyla. "Anu..." Vito bingung, dia takut kembali salah bicara kejadian tempo hari saja membuatnya harus tidur di luar.


"Ayra. Dia katanya mau nginep di sini tapi ditungguin dari sore gak ada." Aurel buka suara, beruntungnya Keyla langsung percaya terlihat dari tatapan kecurigaannya yang hilang.


"Oh gitu, kirain si buaya darat juga bakal ke sini," gumam Keyla.


"Tumben malam-malam ke sini Key, ada masalah?" Seiring pertanyaan itu terlontar, Vito merasakan tepukan keras di pahanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sang istri Aurel yang kini melotot padanya.


Yah salah ngomong, batin Vito meringis.


"Maaf yah kak, ganggu malam-malam," ujar Keyla tak enak hati.


Aurel mengibaskan kedua tangannya. "Nggak kok Key, kak Vito jangan lo dengerin," Aurel melirik sinis pada sang suami, heran punya mulutnya gak dijaga. "Lo sahabat gue, kalo ada masalah cerita aja sama gue, gak perlu sungkan."


"Sekali lagi sorry yah Rel," ujar Keyla sungkan. "Sebenernya gue mau numpang nginep di sini boleh gak? Kalo gak ***--"


"Boleh kok, boleh banget malah!" Sela Aurel, "Mending sekarang gue anterin lo ke kamar. Pasti pulang kerja capekan, apalagi kayaknya lo abis gerimis-gerimisan."


...***...


Kandung kemih sudah kosong, kini giliran lambungnya yang perih. Keyla lupa tidak makan semalam. Sebab terlanjur tidak enak hati, Keyla jadi tidak mengatakan pada Aurel bahwa ia belum makan. Sekarang sudah pukul satu, membangunkan Aurel juga tidak mungkin, minta tolong bibi juga kasihan. Mau masak, sudah jelas dia tidak bisa, menyalakan kompor saja dia takut. Salah-salah rumah orang kebakar nanti.


"Aish," ringis Keyla merasakan perih di lambungnya, sepertinya magnya kambuh.


"Sopan gak yah kalo gue menyelinap trus ambil makanan di kulkas?" Tanyanya pada diri sendiri. "Sebodo amatlah, besok pagi gue ngomong aja sama Aurel."


Kegelapan menyambut Keyla saat dia membuka pintu. Jelas saja orang rumah sudah pada tidur. Untung bagi Keyla karna kamar tamu yang di tempatinya dekat dengan dapur. Dengan mengendap-ngendap Keyla berjalan ke arah dapur. Sama seperti ruangan lainnya dapur juga gelap, dengan senter ponsel Keyla mencari kulkas. Matanya berbinar saat melihat isi kulkas Aurel, rasanya seperti melihat make up yang sedang diskon.


Tanpa pikir panjang Keyla mengambil satu kotak susu stroberi, dan satu wadah salad buah. Dengan susah payah Keyla menutup pintu dan hendak kembali ke kamar sebelum terdengar suara langkah kaki. Buru-buru saja dia bersembunyi di bawah meja.


Perasaan was-was menghampirinya, dia sudah terlihat seperti maling yang takut ketahuan. Tubuhnya berjengit saat lampu dapur dinyalakan, jantungnya berdebar kencang saat orang yang datang duduk di meja makan. Dari postur kakinya Keyla menduga bahwa ini adalah Aurel.


"Sekarang posisi kakak dimana?" Alis Keyla bertaut, sepertinya Aurel sedang berbicara dengan seseorang. Dengan hati-hati Keyla mengintip dan benar saja dia menemukan wajah cemas Aurel yang sedang bertelpon.


"Yaudah kaka hati-hati nyetirnya. Kondisi kak Arya gimana?" Tanya Aurel.


Tubuh Keyla menegang, kenapa setiap mendengar nama pria itu responnya selalu berlebihan. Kalo sudah begini, keponya jadi kumat kan, Keyla pasang telinganya baik-baik. "Aku gak habis pikir kenapa bisa kak Arya sampai ke club malam trus pake mabuk segala," suara Aurel terdengar menggerutu.


Arya ke club? Dia mabuk? Kenapa? Batinnya bertanya.


Keyla tiba-tiba diserang perasaan tak enak, kesadarannya kembali saat Aurel kembali bersuara. "Sekarang kakak fokus aja nyetirnya, pelan-pelan aja bawa mobilnya. Aku tungguin deh kalo sebentar lagi nyampe."


Entah untuk berapa waktu, Keyla setia di posisinya padahal Aurel sudah keluar dari dapur dan berpindah ke ruang keluarga. Dan tak lama terdengar suara mesin mobil, Keyla bergegas keluar dari persembunyiannya. Cahaya yang temaram memudahkan Keyla untuk bersembunyi di balik tembok. Mengintip Vito dan Aurel yang berjalan masuk seraya memapah seseorang.


"Langsung bawa ke kamar tamu aja deh," saran Vito.


Dengan susah payah, keduanya membawa tubuh setengah sadar Arya ke dalam kamar. Tidak tinggal diam, Keyla mengikuti keduanya diam-diam. Kembali bersembunyi di balik tembok, kepalanya menjulur ke dalam mengintip keadaan Arya. Kali ini Keyla bisa melihat dengan jelas kondisi Arya yang mengenaskan. Pakaian yang dikenakannya sudah tidak selengkap tadi sore. Jas coklat yang dikenakannya sudah hilang, kausnya pun sudah keluar semua dari celana.


"Ya ampun kak Arya." Aurel berdecak. "Luka kemaren aja belom hilang sempurna, sekarang malah berantem lagi."


Vito menghela napas, mungkin sama lelahnya dengan sang istri. "Kamu sekarang mending ambil air hangat sama handuk," titahnya.


Keyla yang mendengar itu, bergegas sembunyi di balik lemari kecil di depan kamar. Jantungnya berpacu dengan cepat, dalam benaknya terdapat tanda tanya besar. Apakah Arya memang sering seperti ini? Tidak berapa lama Aurel kembali dengan baskom kecil di tangannya. Keyla kembali mengintip seperti sebelumnya.


"Key." Suara lirih terdengar dari bibir Arya.


"Kak Arya kenapa bisa jadi gini sih?" Tanya Aurel heran sekaligus prihatin.


"Keyla." Racauan nama Keyla kembali terdengar.


"Sebenernya kakak ada masalah apa sih kak, sampai kakak begini?" Lagi Aurel bertanya, tapi tak mendapat jawaban.


Di sisi ranjang Vito terdiam, matanya memandang lurus pada sang sahabat. "Kenapa harus mabuk segala, kenapa juga harus berantem?" Tanya Aurel beruntun, suaranya bergetar karna tak kuasa menahan tangis. Sungguh melihat kondisi Arya yang seperti ini membuatnya tak tega.


Vito menghela napas. "Sedari dulu Arya selalu melampiaskan kesakitannya dengan begini. Dia lebih suka memendam apa yang dirasakannya dibanding berbagi sama aku. Setiap ada masalah kadang kakak harus mencari tahunya sendiri. Karna Arya nggam pernah mau berbagi, bukan tak percaya tapi Arya terbiasa mengatasi segala sendiri. Hidupnya penuh kesendirian, banyak orang yang tertipu olehnya selama ini. Dia yang terkenal jahil nyatanya hanya sosok rapuh."


Aurel terisak, bukan tanpa alasan ia menangis. Tapi sungguh jika kalian mengenal Arya kalian akan tau seberapa tidak menyangkanya dirinya. Aurel kembali membersihkan wajah Arya dengan penuh hati-hati. Pakaian Arya juga sudah diganti oleh Vito.


"Kasih aku kesempatan Key..." lirih Arya, "aku mohon." Sambungnya seraya tersedu-sedu hingga membuat orang yang mendengar seolah merasakan sakit yang dipendamnya.


"Keyla, aku minta maaf, aku tau salahku banyak sama kamu tapi plis kamu jangan sama dia. Aku gak yakin hidupku akan baik-baik saja tanpamu. Keyla aku mohon, beri aku kesempatan." Arya mulai meracau tak jelas, air mata mengalir dari matanya.


"Jangan pergi, Key. Aku gak yakin semua akan baik-baik saja tanpa kamu di hidupku. Karna kamu bahagiaku." Arya mulai terisak dalam tidurnya.


Suasana malam yang sunyi membuat suara Arya jadi terdengar begitu jelas bahkan sampai ke tempat Keyla. Mencoba menopang tubuhnya yang mendadak lemas, Keyla menggigit bibirnya, menahan isakan yang hendak keluar. Tidak tau kenapa, dadanya begitu sesak saat ini. Kenapa melihat Arya yang seperti itu membuatnya sakit.


Keyla tidak kuat lagi, dengan pelan-pelan Keyla berjalan menuju kamarnya. Tanpa menimbulkan suara sedikitpun, Keyla menutup pintu. Tanpa diduga tubuhnya merosot begitu saja, Keyla memeluk lututnya, lalu menelupkupkan kepalanya di antara kedua kakinya. Dan tangisnya pecah, tanpa suara Keyla mengeluarkan segala kesakitannya.


...***...


Pantulan cermin menjadi pemandangan yang begitu menarik di mata Keyla. Wajah yang sudah dipoles seperti biasa itu nampak datar, tanpa ada ekspresi yang berarti, seolah kejadian semalam bukanlah hal yang perlu dipikirkan. Tapi isi hati orang tidak ada yang tau bukan?


"Udah cantik kok." Suara Aurel terdengar, disusul dengan sosoknya yang terlihat dari pantulan cermin. Keyla berbalik, melemparkan seulas senyum tipis.


"Gue ngerasa beda aja," sahut Keyla.


Aurel mengangguk mengerti. "Iya tau kok, style gue kan beda sama lo, gue udah jadi emak-emak kan."


Keyla berdecak. "Lo tau maksud gue bukan itu Rel."


Aurel terkekeh, dia paham Keyla yang sekarang adalah seorang wanita dewasa yang selalu menjunjung penampilan. Dan menjadi elegan adalah ciri khasnya. Sedangkan blouse dan rok dengan motif bunga lavender miliknya sangat jauh dari kesan Keyla yang biasanya.


...


...


"Iya-iya. Lo mau pake apapun juga tetep cantik kok Key. Sampe pria ngantri di luaran sana," ujar Aurel.


Keyla berdesis. "Lo muji apa ngejek, jelas tau temennya jomblo juga." Keduanya berjalan keluar kamar.


"Lo mau sarapan apa?" Tanya Aurel mengabaikan perkataan Keyla sebelumnya.


"Kayaknya gue gak ikut sarapan, sori yah. Kerjaan gue lagi banyak banget soalnya," ujar Keyla tak enak hati. Padahal niat sesungguhnya adalah Keyla ingin menghindari dia.


"Yaudah deh, tapi gue siapin bekel buat lo yah. Buat di jalan." Tanpa menunggu Keyla yang pasti akan protes Aurel bergerak cepat menyiapkan bekal Keyla, nasi goreng seafood yang sebenarnya adalah makanan kesukaannya Arya. Yah Aurel memang berniat membuat suasana hati pria itu lebih baik.


"Nih!" Aurel menyerahkan kotak bekal bewarna biru, yang langsung Keyla terima. Baru saja Keyla ingin beranjak namun urung akan panggilan Aurel.


"Gue gak tau apa yang terjadi antara kalian, tapi saran gue apapun masalahnya coba selesaikan dengan kepala dingin. Mencari jalan keluar tanpa saling menyakiti dan bersikap dewasa. Jangan terus menghindar, itu tidak menyelesaikan, hanya mengundur hingga masalah kian runyam."


Tanpa menjawab, Keyla hanya bisa tersenyum tipis jelas sekali perkataan Aurel begitu tersirat. Karena sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, Keyla pamit undur diri dengan hati yang gundah kembali.


Darahnya berdesir saat telinganya menangkap suara serak seseorang yang baru bangun tidur. Lekas saja laju kakinya kian cepat, hingga menimbulkan ketukan heels yang nyaring.


"Keyla!" Seruannya tidak Keyla hiraukan, samar telinganya menangkap keberadaannya yang hendak mengejarnya namun dihalangi oleh Vito.


"Itu tadi beneran Keyla kan?" Tanya Arya, setelah Keyla hilang dari pandangan.


Vito mengangguk sebagai jawaban. "Kenapa lo cegah gue hah?! Gue perlu ngomong sama dia?!" Bentak Arya tak terima. Tiba-tiba saja dia tersulut emosi.


"Lo mau nemuin dia dengan kondisi lo yang mengenaskan ini? Dengan kepala yang masih pengar dan mulut masih bau alkohol? Yakin dia gak akan jijik?!" Balas Vito dengan suara keras.


Arya terdiam. "Tapi gue takut kehilangan dia kalo gak gerak cepat," lirih Arya.


Nata Perkasa dengan kedisiplinannya yang tinggi membuat para karyawannya sudah berdatangan dipukul setengah tujuh ini. Keyla berjalan menuju meja resepsionis berencana menyapa Metta terlebih dahulu sebelum kehadiran seseorang mengurungkan niatnya.


Entah perasaannya saja, orang itu menatap tajam padanya, Keyla memperlambat langkahnya. Meski heran dengan kehadirannya sepagi ini, Keyla tetap berusaha tampil profesional. Walau benaknya bertanya kenapa setelah Dewi kemarin yang datang kini malah giliran wanita itu.


"Selamat pagi, Bu Mela--"


"Oh jadi kamu, Orang ketiga itu."


...***...