
Kamu tau, hal yang paling aku benci dari diriku? Yaitu saat aku kembali jatuh dalam pesona dan perhatianmu
***
Tak tahu malu. Sepertinya ungkapan itu cocok Keyla sematkan pada Kyla. Bagaimana tidak, dengan kurang ajarnya adiknya itu mengeluh lapar dan meminta Arya untuk berhenti sejenak guna mengisi perutnya. "Kak Ar, Kyla laper. Nyari makan dulu yah, tenaga Kyla abis gara-gara berantem," bujuk Kyla dengan suara super duper lemah lembut sampai membuat Keyla mengernyit jijik mendengarnya. Apalagi saat melihat tampang Kyla, yang tersenyum seraya mengedipkan matanya, genit.
"Dih! cacingan lo," komentar Keyla sarkas.
"Sirik aja lo manusia!" Balas Kyla tak mau kalah.
Beruntung saja Arya sigap menengahi, menghentikan segala aksi anarkis kedua kakak beradik itu. Dan dengan kemurahan hatinya Arya menuruti kemauan Kyla untuk makan.
Tapi memang dasarnya Kyla, dikasih hati malah minta ampela. Dia malah ngelunjak memesan banyak makanan, sampai membuat penuh satu meja. Keyla rasanya ingin pinjam tongkat pinpinpomnya upin ipin untuk menghilangkan diri.
Yang bisa Keyla lakukan saat ini hanya pasrah. Mencoba mengumpukan puing-puing kesabarannya, dan ia berjanji akan mengganti uang Arya nanti.
"Duduk Key," tegur Arya, mengalihkah Keyla dari keterpanaannya. Sejenak netranya bertemu tatap dengan mata coklat Arya, yang lekas ia alihkan pada Kyla yang sudah makan lebih dulu tanpa diperintah.
Keyla menghembuskan napas, rasanya dia sudah tak punya muka lagi, terlalu akan kelakuan Kyla. Hingga tanpa sadar dirinya berjalan menuju sisi Arya dan saat akan duduk Keyla baru sadar bahwa Arya memilih tempat lesehan. Kalo begini macam mana Keyla mau duduk, secara ia menggunakan blazer dress diatas lutut? Shit kenapa juga Arya harus makan di tempat makan sunda?
Ah andai saja dia tadi tidak melarikan diri ke toilet--guna menenangkan hatinya--pasti kejadian salah tempat ini tidak akan terjadi. Meski canggung, Keyla mencoba duduk sebaik mungkin, mengambil jarak sejauh yang ia bisa dari Arya yang tidak mengalihkan tatapan darinya.
"Ekhem!" Keyla berdeham, niatnya sih menegur Arya agar berhenti menatapnya. Eh kodenya malah salah ditangkap Arya.
"Kenapa? Duduknya gak nyaman yah?" Terdengar nada cemas dalam suaranya. Sungguh saat ini Arya merasa tak enak hati, niatnya sih ingin duduk leluasa tapi dia lupa kondisi baju Keyla.
"Nggak kok." Keyla mencoba tersenyum meski terkesan dipaksakan.
"Makanya pake baju tuh yang bener, jangan suka umbar-umbar aurat," sindir Kyla, dongkol sebab kehidmatan acara makannya terganggu dengan hal unfaedah antara kakaknya dan Arya. Alarm bahaya dalam kepala Arya berbunyi, pria itu lekas memegang tangan Keyla menghentikan pergerakan wanita itu yang ingin melempar kotak tisu di atas meja. Bisa gawat kalo keduanya tidak segera dihentikan.
"Udah yah," bujuk Arya lembut. "Mending kamu makan, kan kamu belum makan siang." Ujarnya disertai senyum yang berhasil menenangkan Keyla. Emosi yang semula menggebu, kini mulai mereda. Wanita itu menghela napas mencoba meredakan gejolak rasa di dadanya.
Napas Keyla tertahan seiring merasakan usapan dipunggung tangannya. Arya benar-benar pandai membuat dia diam tak berkutik. Dengan diliputi perasaan tak nyaman Keyla mencoba mengambil nasi dari bakul, belum sempat nasi mendarat di piringnya. Lagi Keyla dibuat mematung akan sikap Arya.
Dalam jarak sedekat ini, Keyla bisa mencium wangi parfume Arya. Wangi yang sama seperti lima tahun lalu, wangi yang sama yang membuat Keyla sesak akan bau yang menusuk lembut penciumannya. Keyla menggigit bibir bawahnya, menahan napas sekian dekit menunggu sampai Arya selesai dengan aksinya, yang kini sedang menutup kedua kaki Keyla yang terbuka dengan jasnya.
Arya memundurkan kepalanya sejajar dengan wajah Keyla, matanya menatap wajah Keyla yang gugup. Seutas senyum terukir di wajahnya, melihat Keyla membuang muka, enggan menatapnya. "Kalo gini kan enak, kamu sama aku sama-sama nyaman. Jadi mata aku gak jelalatan terus." Arya berbisik, dengan sengaja ia menghembuskan napasnya di leher Keyla yang terekspos, membuat wanita itu merinding hingga bulu kuduknya berdiri.
Masih diposisi menoleh ke samping, menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti memerah. Keyla menggeram dalam hati, memejamkan matanya erat. Aryasatya sialan, kampret, terkutuk. Batin Keyla menjerit kesal. Dia hanya berharap semoga Kyla tidak melihat aksi baru saja. Meski kemungkinan itu sangat kecil.
***
Siatuasi aman terkendali. Sejauh ini Keyla belum merasakan tanda-tanda Kyla akan berbuat ulah dengannya. Mungkin Keyla hanya terlalu takut kejadian tempo hari diketahui Kyla dan akan menjadi senjata bagi adiknya. Keyla hanya berjaga sebab ia tau seberapa licik otak adiknya itu yang turunan Ambar sekali. Kyla bisa memanfaatkan segala celah untuk menyerang musuhnya.
Ngomong-ngomong musuh, sampai detik ini kedua orang tuanya belum mengetahui tentang aksi heroik anak bungsunya itu. Berhubung kedua orang tua Keyla sedang mengunjungi sanak saudara di Bogor selama seminggu jadi Kyla aman dari amukan sang macan betina--Ambarwati. Sudah bisa Keyla banyangkan akan seganas apa ibunya menghukum Kyla, sayang sekali adiknya memiliki nasib baik.
Bukk
Keyla memejamkan matanya, berusaha tidak terpancing emosi akan tingkah kurang ajar Kyla yang melempar bantal sofa ke wajahnya. "Eh sorry. Gue tadi mau ngelempar kecoa jadi malah ke elo," ujar Kyla seraya tertawa tak berdosa.
Sedangkan Keyla mendelik, dikira dia bocah apa yang mudah percaya begitu saja. Mana mungkin ada kecoa, jelas sekali ibunya sangat menjaga kebersihan sekecil apapun. Jadi kecil kemungkinana adanya kecoa.
"Pliss deh ya, gue lagi males ribut. Jadi jangan ganggu gue sebelum tuh muka lo gue bikin tambah memar," ujar Keyla penuh ancaman yang sayangnya tidak mempan sama sekali. Mana pernah sih Kyla takut padanya. Bocah itu mana ada takutnya, ikut tawuran aja dia gak takut.
Kyla tersenyum mengejek. "Gak takut."
Oke, jika begini jalan satu-satunya yang bisa Keyla lakukan hanya diam, dan mencoba tak mengacuhkan keberadaan Kyla yang sialannya punya seribu satu cara untuk memancing emosinya.
"Apalagi sih?!" Sentak Keyla kesal sebab Kyla melempar kaleng soda dan mengenai keningnya. Memang dasar kurang ajar punya adik satu. Kalo begini Keyla jadi menyesal dulu pernah merengek ingin adik pada kedua orang tuanya. Sekarang Keyla ingin sekali memasukan Kyla ke rahim ibunya dan gak usah lahir sekalian. Biar jadi anak tunggal dan gak ada yang merecokinya.
"Lapar," ujar Kyla mengelus perutnya yang berisi lemak. Bibirnya mengerucut, dengan puppy eyes yang sayangnya tidak mempan sama sekali pada Keyla. Di matanya Kyla yang seperti itu mengingatkannya pada si setan cilik di masa kecil yang sekarang bertransformasi menjadi rubah licik.
"Kalo laper ya makan, jangan curhat," balasnya tak acuh berusaha fokus pada drama korea yang disambungkan ke televisi.
Kyla mendengkus. "Mau makan apaan? Orang bahan makanan aja nggak ada."
Sungguh derita bagi kedua kakak adik ini. Ditinggalkan ditanggal tua disaat persedian makanan sedang menipis. Memang dasar ratu Tega nyonya Ambarwati itu, masih mending kalo mereka ditinggalkan uang untuk satu minggu ini malah tidak sama sekali. Nasib punya ibu kandung rasa ibu tiri.
"Yaudah makan mie instan ajalah, banyak noh di pantri," usul Keyla, malas diganggu lebih lanjut.
Suara decakan terdengar, sudah pasti Kyla pelakunya. "Lo lupa? Gua kan gak suka mie instan." Ah iya Keyla lupa fakta itu. Disaat semua orang sangat menggilai mie instan, Kyla justru tak menyukainya. Kejadiannya hampir sepuluh tahun lalu, Kyla si bocah yang selalu ingin tau tak sengaja mencicipi mie milik Ambar dan berakhir diare parah. Hingga membuatnya membenci makanan satu itu.
"Delivery order aja kalo gitu," saran Keyla makin tak ingin diganggu karena sedang menonton bagian terseru.
"Nggak mau, bosen makanannya gitu-gitu aja," sahutnya enteng seraya mematikan televisi dan berhasil membuat Keyla sepenuhnya menatap Kyla yang duduk berselonjor di atas sofa. Keyla menghela napas, menghadapi Kyla yang sedang mode rewel on.
"Trus lo maunya gimana?" Tanya Keyla mencoba bersabar.
Seolah menunggu pertanyaan itu diutarakan, Kyla tersenyum cerah. Membuat Keyla diliputi perasaan was-was. "Keluar aja yok, kita nyari makan yang aneh!" Serunya semangat.
"OGAH!" Tolak Keyla langsung. Malas sekali harus keluar malam-malam begini. Meski jam baru menunjukan pukul sembilan malam.
***
Dan meskipun enggan, Keyla pada akhirnya kalah akan segala bujuk rayuan Kyla. Apalagi saat Kyla mengancam akan membongkar kejadian tempo hari--yang sialnya Kyla foto--pada kedua orang tuanya. Dengan ogah-ogahan Keyla berjalan membuntuti Kyla yang berjalan penuh semangat di depannya, mata adiknya berbinar menatap pedagang kaki lima yang memenuhi jalanan kota Bandung.
Semula Kyla bilang akan mencari makan yang tak jauh dari tempat tinggal mereka, namun pada realisasinya mereka malah terdampar jauh hingga memakan waktu tiga puluh menit ke tempat ini. Tempat yang sedang ramai dipenuhi muda-mudi yang sedang di mabuk asmara, sialan sekali kenapa Keyla harus terdsmpar diantara banyaknya pasangan yang sedang malam mingguan. "Buruan elah milih mau makan apa, abis itu balik makan di rumah aja," ujar Keyla mulai tak sabaran.
Nasib jomblo.
"Elah gak asik lo, makan di sini aja kenapa sih. Jarang-jarang bisa ngelayap kan," ujar Kyla. Benar juga sih, sebagai anak baik mereka didik memiliki jam malam dan tidak sembarang bisa keluar rumah.
"Yaudah buruan."
Kyla misah misuh, kesal pada sang kakak yang mengacaukan moodnya. Dengan kaki menghentak Kyla berjalan ke arah penjual sate, sedari tadi sebenarnya Kyla memang ingin sate tapi dasar matanya tak bisa melihat makanan langsung saja berninar-binar layaknya melihat harta karun.
Cukup banyak orang yang mengantri, tempat duduknya juga penuh, alhasil selagi menunggu Kyla, Keyla memilih duduk di dekat penjual nasi goreng yang bersebalah dengan penjual sate. Keyla duduk di kursi plastik asik menscroll layar handphonenya, membuka ruang percakapan dengan sahabat-sahabatnya. Terlalu asik, Keyla tak menyadari sosok yang berdiri di depannya kini.
"Keyla!"
Suarnya berat khas laki-laki, namun entah kenapa seperti tak asing di telinganya. Keyla mendongak, "Ya?"
Mata Keyla mengerjap. Kenapa dia lagi Tuhan? Batinnya menjerit tak terima akan takdir yang mempertemukannya dengan Arya. Sementara itu, Arya tersenyum melihat respon Keyla.
"Kamu ngapain?" Arya buka suara setelah hening beberapa saat diantara keduanya.
"Oh anu...itu aku lagi nyari makan.
Kamu sendiri?" Tanya Keyla balik, mencoba basa basi biar gak awkard gitukan yah.
"Sama," balas Arya mengangkat kresek hitam di tangan kanannya. Keyla mangut-mangut, kemudian matanya mengedar mencari sosok yang mungkin bersama Arya.
"Kamu nyari siapa? Kyla?" Tanya Arya heran.
Keyla menggeleng. Sebab ia tau adiknya itu sekarang masih mengantri dan sedang cekcok dengan salah seorang pembeli, dan Keyla tau hal itu pasti gara-gara ibu-ibu itu menyerobot. Adiknya paling benci dengan orang yang tidak membudayakan mengantri meski orang tua sekalipun. Kecuali bila ada alasan tertentu. "Bukan, aku nyari tungangan kamu. Dia mana?" Jujur saja, tenggorokannya terasa tercekat saat mengatakan itu.
Lama tak ada jawaban, hanya senyum tipis yang Arya berikan, mambuat Keyla mengernyit keheranan. "Aku sendiri," lirihnya.
Entah kenapa Keyla merasa lega, mungkin Keyla takut kejadian lalu terulang lagi. Dia yang kepergok berudaan. Yah mungkin karna itu, dirinya meyakinkan. Keyla tak lagi bertanya tak mau ambil pusing juga. Jadi dia memilih diam, dan mencoba mengalihkan matanya dengan menatap sekitar.
Kegiatan itu tak bertahan lama, sebab Keyla merasa Arya menatapnya dan saat menengok ternyata benar. "Kenapa? Kok ngeliatinnya gitu banget." Keyla meraba wajahnya takut-takut ada yang aneh dengan wajahnya, ada belek misal karna dia sudah mulai mengantuk.
Bukan jawaban yang Keyla dapat, justru pergerakan tak terduga dari Arya. Keyla diam saat tangan besar Arya meraba keningnya. "Kamu sakit? Muka kamu pucet, mata kamu juga sayu." Arya bertanya, suaranya terdengar akan kecemasan. Keyla hampir saja terhanyut jika tidak ingat akan sesuatu.
Dodol ini bukan sakit, tapi muka gue emang lagi gak pake make up jadi kucel gini.
"Gak sakit, ini mukanya lagi gak pake make up jadi jelek," sahut Keyla menepis pelan tangan Arya, sebeb risih.
Arya mengangguk mengerti. Dia baru tau make up bisa sejahat itu mengubah wajah seseorang. Dia menunduk, otaknya sedang bingung. Inginnya mengobrol lebih lama dengan Keyla tapi bingung hendak membahas apa. Pekerjaan? Jelas bukan hal yg menarik, Masa lalu? Hanya ada luka. Pria itu menarik napas, akhirnya hanya memperhatikan penampilan Keyla dan baru menyadari tulisan di kaus Keyla.
Senyum geli muncul di wajah tampannya. "Korban gamo, dari siapa?"
"Apa?" Tanya Keyla tak fokus.
"Itu baju kamu." Tunjuknya dengan dagu.
Keyla mengikuti arah yang Arya tunjuk. Seketika wajahnya memerah. "Bukan dari siapa-siapa." Jawabnya cepat terkesan takut. "Lagian ini bajunya Kyla." Lanjutnya tanpa diminta.
Kepala Arya mengangguk paham, meski senyuman belum menghilang dari wajahnya. "Trus kalo sendal itu?"
"Hah?" Keyla tak mengerti, lantas matanya mengikuti arah pandangan Arya. Seketika wajahnya memerah lagi. apalagi mendengar ucapan Arya selanjutnya. "Aku kira sendal itu udah kamu buang." Tanpa melihatpun, Keyla tau Arya sedang tersenyum menggoda. Membuatnya tidak berani mendongakan kepalanya.
Ini sendal buluk kenapa bisa nyangkut di kaki gue?! Batin Keyla berteriak histeris.
Ya Gusti, buruk segala nasibnya malam ini. Kenapa harus bertemu Arya coba. Dia malu sekali sekarang. Salahkan sendal buluk ini kenapa membuatnya nyaman. Ya mau gimana lagi meski buluk juga kalo nyaman ya susah. Dan sialnya kenapa dia harus memakai sendal sw*llow pemberian Arya.
***
Semalan itu, sungguh mimpi buruk. Yang sialamnya sudah sering Keyla alami. Dan seharusnya, Keyla sudah terbiasa dan tak perlu repot memikirkannya sampe tidak bisa tidur kan? Tetapi, lagi hati tidak bisa dibohongi, entah kenapa Keyla dibuat cemas. Akan pikiran Arya tentangnya, yang jika ditelaah bukanlah perkara serius. Lagi pula apa hubungannya dengan Arya?
"Udah deh gak usah uring-uringan gitu!" Seru Kyla, keki dengan kelakuan Keyla yang terus berguling di atas kasurnya.
"Malu banget gue sumpah," ujar Keyla, suaranya teredam karena dia sedang terngkurap.
Kyla memutar bola matanya bosan. "Lebay amat sih lo," komentarnya pedas.
Mendengar itu, Keyla lekas bangkit, matanya menyorot tajam pada Kyla yang duduk di meja belajarnya. "Lo gak tau gimana rasanya jadi gue!" Bentaknya marah, napasnya memburu. "Cinta sama orang ya--
"Ya trus lo maunya gimana?!" Potong Kyla balas membentak, jujur saja seberapapun menyebalkan dirinya Kyla paling tidak suka jika Keyla kembali teringat masa lalunya. Karna itu benar-benar menyakitkannya. "Kenapa gak lo buang aja tuh sendal waktu itu?! Ah tapi itu gak mungkin banget secara semua barang pemberian dia aja masih lo simpen sampai sekarang."
Keyla diam tak berusaha menyangkal, kenyataan itu membuatnya sadar satu hal. Bahwa untuk membuang barang pemberian Arya saja sulit apalagi untung membuang perasaannya pada pria itu. Perempuan itu menghela napas gusar, kenapa sih dia harus seperti ini. Sungguh terjebak rasa di masa lalu benar-benar hal yang...menyakitkan.
"Sorry kalo perkataan gue nyakitin lo. Tapi gue cuma mau bilang, stop memikirkan hal yang udah kejadian. Toh gak ada gunanya kan. Gak merubah apapun, gak merubah status mantan pacar jadi pacar lagi. Engga Key, gak merubah Arya jadi laki-laki single yang bebas didekati. Harus lo inget dia udah punya tunangan, lo gak berniat buat jadi orang ketiga kan?"
"Siapa yang orang ketiga?!"
Suara penuh aura kemarahan tiba-tiba terdengar mengalihkan keduanya ke ambang pintu. Tempat seseorang berdiri seraya berkacak pinggang.
******
***