
Saya ada urusan mendesak ke luar kota selama tiga hari, tolong kamu handle pekerjaan saya selama saya tidak ada.
Keyla bergeming, menatap layar ponselnya nyalang. Pesan dari pengirim ******** gila itu ia baca lamat-lamat. Tak lama helaan napas lolos dari bibirnya, entah kenapa Keyla dilanda kesal setelahnya.
Sebal, Keyla melempar ponselnya, beruntung benda persegi--hasil merayu bapak Kamandanu--itu tidak jatuh. Bisa digorok Nyonya Ambarwati Keyla, jika sampai ceroboh menjaga barang.
Keyla menopang dagu di atas lipatan tangannya. Bibir berlapis lipstik merah bata itu maju beberapa centi. Keyla menghembuskan napas berat, kenyataan jika Arya berbohong kenapa begitu mengusiknya. Ada bagian sisi hatinya yang memberontak tak terima.
Keyla ingat sekali, waktu pesan itu dikirim adalah malam hari. Di hari minggu menuju hari senin, tepat pukul sebelas lebih lima puluh lima menit. Dimana saat itu dia sudah berkelana ke alam mimpi sebab kelelahan setelah seharian menjadi babu di rumahnya sendiri. Dan pesan itu baru sempat dia buka saat pukul delapan lebih tiga puluh pagi hari. Saat dia sadar bahwa tidak melihat jejak si mantan dari ruangannya.
Pagi itu, Keyla datang dengan semangat membara menyambut hari baru dan berharap menemukan tambatan hati baru. Mengabaikan godaan Rara yang semakin getol menjodohkannya dengan Arya.
Naasnya semangat itu langsung surut begitu saja saat Keyla membaca pesan itu. Jangan tanya kenapa, sebab Keyla juga tidak paham kenapa moodnya bisa berubah drastis. Senyuman yang sepagian dia pamerkan, lenyap terganti dengan senyum paksa yang terlihat menyedihkan.
Rara bahkan langsung mentertawakannya habis-habisan. Wanita itu bilang, Keyla seperti pasangan pengantin yang ditinggal mempelai prianya. Dari segala hal yang Rara ucapkan ada satu kalimat yang begitu menyentilnya.
"Kalo lo suka Pak Arya, ya bilang jangan hanya memendam perasaan yang akan berujung luka," ujar Rara kala itu.
"Walaupun dia udah punya tunangan?" tanya Keyla lirih memandang lurus Rara.
"Kenapa enggak? Mengungkapkan rasa bukan hal yang salah. Sebab rasa gak akan bisa ditolak keberadaanya, seberapa keraspun usaha yang lo lakukan."
Semenjak itu, Keyla mulai bertanya-tanya, mencoba menyelami hati mencari rasa yang dulu begitu mengembara akan sosok Arya. Menjadikan budak cinta yang jika ia pikirkan lagi, begitu menjijikan dan juga menyedihkan.
Hari-hari berikutnya, Keyla mencoba menjalani kehidupannya dengan normal. Mengenyahkan segala hal berbau Arya yang selalu mengusikmya, berusaha fokus pada pekerjaan yang jelas tidak mudah dirinya lakukan. Bekerja di Nata Perkasa saja belum genap satu bulan, Tidak heran jika Keyla sampai keteteran.
Jadwal Arya yang sudah dia atur harus Keyla atur ulang kembali. Keyla meyakinkan dirinya bahwa ini hanya sementara, badai pasti berlalu. Tiga hari berselang Arya tidak kunjung kembali, entah dimana rimbanya pria itu. Tidak ada kabar sama sekali, Keyla mulai diliputi rasa yang tak menenangkan hati.
Hingga kini sudah nyaris seminggu Arya juga belum kembali. Prasangka buruk mulai menghampiri Keyla, dugaan tentang Arya yang sedang menjauhinya, sebab tidak nyaman akan keberadaannya dan juga perasaannya yang masih mengambang atau entahlah. Keyla tak suka dengan dirinya yang tidak tahu diri. menempatkan dirinya seolah orang penting hingga harus pria itu hubungi tiap saat.
"Pantesan gak nongol-nongol. Lagi ngegalau ternyata." Keyla tersentak menoleh ke arah datangnya suara. Wanita itu menegakkan tubuhnya menunggu Rara dan Metta menghampirinya. Ah! Keyla lupa bahwa dia ada janji pergi ke salon dengan kedua wanita itu. Dan sekarang sudah setengah jam berlalu dari jam pulang.
"Liatin pintu ruangannya gak akan bikin dia langsung muncul depan lo Key," sindir Metta, menarik kursi di depan Keyla dan duduk di sana sedang Rara setia berdiri dengan mata menyorot penuh pada Keyla.
Ketahuan sedang menatap ruangan Arya jelas bukan hal yang membanggakan. Terlihat sekali Keyla seperti jajaran wanita yang begitu mendambakan Arya. Kendati itu memang dia rasakan, dulu.
"Jadi berapa lama lagi kita harus nunggu lo Key? Sepuluh menit? Dua puluh? Atau gak usah jadi aja?" tanya Rara penuh sindiran.
Keyla meringis, ini tidak bisa dibiarkan dia harus segera menyelesaikan ini. Sebelum Rara dan Metta semakin memojokannya. Ya Tuhan kenapa pula Keyla harus merasakan hal ini sih?
"Kayaknya si Keyla lagi diserang malarindu. Bakalan lama ini mah ceritanya Ra," sahut Metta ikut mengompori.
Raut wajah Keyla yang bertekuk masam menjadi hiburan tersendiri untuk kedua wanita itu. Keyla itu seperti lingerie, tipis dan menerawang hingga mudah sekali di lihat dalamnya. Orang bijak pernah berkata meski mulut berkata dusta tapi mata selalu mengatakan sebaliknya.
Dan mata jeli Rara tau, ada rasa yang terpancar dari mata Keyla kala melihat Arya. Ada rasa penasaran yang terpancar tiap kali Rara membicarakan Arya, meski Keyla berusaha tak acuh tapi Rara yang suka mempertikan gerak-gerik seseorang jelas mengetahuinya.
"Apasih!" ketus Keyla, tangannya bergerak cepat membereskan meja kerjanya. Memasukan ponsel dan juga buku agendanya.
Tanpa menunggu keduanya, Keyla langsung beranjak pergi. "Dih ngambek dia," ujar Metta. Keyla mempercepat langkah kakinya, kala suara tawa terdengar gendang telinganya. Kaki panjang berbalut stilleto hitam itu menghentak kesal.
***
Waktu berlalu begitu cepat, tetapi kenapa hati ini masih menetap di satu tempat?
Helaan napas berat Keyla menarik perhatian ketiga wanita di depannya. Ketiganya sontak saling melirik, bertanya lewat mata, kenapa si jomblo gagal move on itu malam ini.
"Kenapa lo?" Tanya Tasya, berhenti sejenak dari kegiatannya menyalakan laptop untuk menonton film. Malam ini keempat sahabat itu menginap di rumah Tasya dalam rangka pesta lajanh sebelum esok malam dia bertunangan.
Sejauh kerja hatinya masih berjalan ditempat, sepertinya pendengarannya juga menjadi bekerja lambat. Sampai suara Tasya saja bagai angin lalu, wanita yang sedang menyandar di dipan ranjang itu justru fokus menatap lebih tepatnya melotot ke arah benda persegi di tangannya.
"Si ***** bonge," umpat Tasya sebal.
Penasaran, Maura yang berbaring telungkup dipinggir Keyla, lantas mendekat. Mengintip apa yang sedang Keyla lihat. Wanita itu berdecih, kala matanya menangkap akun IG Arya yang sedang Keyla lihat.
"***! Dia lagi galauin kak Arya ternyata," seru Maura, lebih untuk memberi tau kedua temannya yang lain.
Suara toa Maura menyentak Keyla dari khayalannya, membawanya pada kenyataan pahit yang selalu ia takuti. "Apa?" tanya Keyla polos, pura-pura tidak mendengar apa yang baru saja Maura katakan. Memangnya Keyla harus merespon bagaimana? Dia jelas tau bahwa ketiga temannya pasti akan mencerca, menceramahinya.
"Jadi..." Tasya menjeda ucapannya, "...lo masih belum move on?"
Demi Tuhan, Keyla tidak suka melihat senyum Tasya saat ini. Bibir yang suka berkata nyelekit itu tersenyum culas padanya. "Enggak kok," elak Keyla, "gue cuma kepo aja." tambahnya, berharap ketiganya percaya.
"Persahabatan kita udah terjalin cukup lama Key, kita tau kapan lo bohong dan jujur." Aurel angkat bicara, ibu dua anak itu merasa kesal sendiri dengan Keyla yang selalu mengelak jika membahas Arya. "Jangan suka memendam sakit sendiri, lo bisa cerita kapan aja sama kita."
Keyla bergeming, menekuri jari jarinya yang bertaut, perkataan Aurel membuatnya merasakan rasa bersalah. Kata-katanya seolah menyiratkan jika Keyla tidak percaya pada mereka.
Lama saling terdiam, Maura si biang kerok akhirnya bersuara. "Lagian lo aneh deh Key, perasaan belom lama lo putus dari si Fa...siapa sih nama mantan lo yang terakhir tuh?" tanya Maura.
"Itu mah merk make up!" sela Tasya sebal.
"Si Fandi," sahut Aurel mengoreksi.
"Nah itu, harusnya kan lo gagal move on dari si Fandi bukannya dari kak Arya."
Keyla berdecih. "Idih! Gak guna banget gamo dari dia, buang buang waktu, kaya gak ada laki lain aja. Udah gak tau diri, berengsek lagi." Keyla bergidik sendiri, mengingat kebodohannya yang mau-mau saja berhubungan gak jelas begitu. Heran deh, laki zaman sekarang muka pas-pasan aja sok-sokan selingkuh, gak sadar diri banget.
"Trus kalo kak Arya? Kenapa lo masih gamo, padahal dia juga berengsek kan?"
Skakmat. Keyla diam, tidak menduga Aurel akan melemparkan pertanyaan itu padanya. Kini otaknya berpikir keras, dia juga bertanya kenapa nama itu masih bertengger kokoh di hati dan otaknya seolah tidak pernah mau goyah sama sekali.
"Jelaslah orang dia kan cinta mati sama kak Arya!" sinis Tasya.
Keyla menekuk wajahnya masam, bagaimana dia bisa move on jika orang disekitarnya selalu mengingatkannya akan pria itu. Membicarakannya tanpa sadar bahwa mungkin saja Keyla terusik. Meski bukan salah mereka sih mungkin memang usahanya saja yang belum maksimal.
"Jangan-jangan selama ini, mantan-mantan lo itu cuma dijadiin pelampiasan doang sama lo Key," tuduh Tasya asal menduga.
"Enggaklah!!" jawab Keyla tegas, enak saja sesusah apapun dia melupakan Arya. Dia tidak sejahat itu, meski kenyataannya justru Keyla sendirilah yang malah kembali disakiti oleh mantan-mantannya itu.
Sebelum memutuskan menjalin hubungan lebih jauh dengan orang yang pendekatan dengannya, hal pertama yang Keyla lakukan adalah menumbuhkan rasa. Sebab dia tidak ingin pacaran tanpa cinta, baik dari pihaknya atau sebaliknya. Cinta sebelah pihak jelas akan sangat menyakitkan, dan dia pernah merasakannya. Tapi lagi-lagi Keyla sendirilah yang menjadi pihak yang tersakiti.
"Gue penasaran Key, apasih hal yang bikin lo susah move on dari kak Arya?"
Keyla mengedikan bahunya. "Nggak tau, gue aja bingung." Keyla jujur, dia memang tidak tau kenapa melupakan Arya begitu sulit karena setelah dipikir lagi selama ini sikap Arya padanya seakan biasa saja. Bahkan lebih terkesan terpaksa sepertinya, baik? Semua orang juga baik, ganteng? Meski Keyla menyukai pria tampan, tapi jelas tampan saja bukan patokannya.
"Orang bilang, obat mujarab move on ya jatuh cinta lagi. Meski gue sangsi akan itu, tapi apa lo mau coba Key?" saran Aurel tidak ada salahnya, hanya saja Keyla tidak yakin. Jika seperti itu bukankah dirinya bisa saja kembali tersakiti? Sebab hal itu tidak menjamin dirinya bisa melupakan Arya
"Orang bilang daripada mencintai lebih baik dicintai, kenapa lo gak mencoba dengan orang mencintai lo Key, dengan begitu lo gak akan tersakiti." Masalahnya, memangnya siapa di dunia ini yang mencintainya? Rata-rata selalu saja Keyla yang mencintai dan si pria entahlah Keyla tak tau karena pria zaman sekarang pintar sekali bersilat lidah, bukan dalam arti sesungguhnya.
Lagipula bukannya dengan begitu Keyla terkesan memanfaatkannya? Menjadikan si pria menjadi pelampiasaannya? Dan bagaimana jika Keyla tidak bisa membalas perasaannya? Sebab jika hati sudah menetapkan siapa yang dipilihnya, si pemilik hati tidak bisa berbuat apa-apa.
"Gue gak yakin, gue aja gak tau apa di dunia ini ada orang yang bener-bener cinta dan sayang tulus sama gue." Pesimis, jelas Keyla rasakan. Selama ini dia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tuhan pasti sudah menyiapkan seseorang itu untuknya. Tapi makin ke sini kepercayaan itu tekikis, seiring dengan seringnya ia bertemu pria berengsek alih alih baik hati seperti angannya.
"Pasti ada, lo jangan pesimis Key. Keyla yang gue kenal gak gampang menyerah." Keyla tersenyum miris menanggapi perkataan Aurel, justru Keyla merasa setelah ini mungkin ia akan menghentikan aksi pencarian belahan jiwanya. Sampai hati dan pikirannya bisa sinkron dan berhenti mengharapkan dan memikirkan Arya.
"Eh Rel partner in crime lo waktu SMA siapa sih namanya? Dia kan dulu ngejar-ngejar si Keyla." Dahi Aurel berkerut, mengingat siapa yang Tasya maksud. Seketika senyum cerah terbit di wajah cantiknya kala kenangan lama melintas di benaknya.
"Samsudin!" seru Aurel, tawa bahagia terdengar dari bibirnya, wanita itu seolah menemukan penyelesian dari masalah Keyla.
"***** jadi inget gue, dulu dia suka ngejar-ngejar si Keyla. Tiap kali si Keyla mau apel pasti tuh cowok bakal muncul tiba-tiba." Keyla tidak mengerti kenapa kedua wanita itu malah tertawa-tawa bahagia, memang apa yang lucu dari seorang Samsudin? Cowok pengganggu, nyebelin yang doyan ngintil kemanapun dia pergi. Tiap ada cowok pendekatan dengannya, pasti akan mundur teratur saat cowok si pemilik berat berlebih itu mengatakan Keyla pacarnya. Hell! Rasanya Keyla ingin sekali menyedot lemaknya.
Karena hal itulah, Keyla mematikan rasa simpatinya. Tak segan-segan dirinya berkata kasar jika Sam mulai berulah. Rasa gondok sudah memenuhi otak dan hatinya hingga membuatnya buta bahwa Sam memang tulus padanya. Jika dipikir lagi, Sam tidak jelek-jelek amat hanya postur tubuhnya saja yanh berlebih hingga membuatnya kurang diminati.
"By the way sekarang dimana dia? Gue udah lama banget gak denger kabarnya."
"Semenjak milih buat kuliah di Jakarta--katanya buat nyusulin bebep Keyla--gue udah gak ketemu sama dia lagi. Lost contact juga," sahut Aurel.
"Kok gue jadi kepikiran buat jodohin si Keyla sama di Sam yah. Tau gitu gue undang aja si Sam di acara pertunangan gue." Keyla mengernyit heran melihat Tasya yang begitu menyesal karena tidak bisa mendatangkan Sam.
"Belum tentu juga dia masih suka sama gue." Realistis saja, mana ada orang yang tahan jika harus menunggu lima tahun lebih padahal jelas-jelas sudah ditolak?
Aurel dan Tasya terdiam, yah mereka lupa akan itu. Setiap insan pasti ada masa lelahnya, mereka tidak bisa berharap banyak. Hanya mendoakan semoga kebahagiaan segera menghampiri Keyla.
Tanpa mereka sadari, Maura sejak tadi terdiam. Tidak ikut pembicaraan mereka, ekspresi wajahnya datar, ada sesuatu hal sedang ia pikirkan saat ini. Hal yang tidak diketahui oleh ketiganya.
***
Semilir angin malam berhembus, hingga terasa menusuk dalam kulit. Wanita itu merapatkan sweater maroon yang membalut tubuhnya. Meski cuacanya sangat dingin, tak menyurutkan keinginannya untuk melihat sang langit malam.
Keyla menghela napasnya, jika boleh dia meminta pada sang pencipta, Keyla ingin jatuh cinta pada jodohnya saja. Agar tak ada patah yang kembali dirasakan hatinya.
Ketiga temannya sudah menjelajah dalam alam mimpi, tapi dirinya memilih menyingkir dan menyendiri di balkon kamar Tasya. Entah apa yang merasukinya, kini ia sedang menstalking akun IG Sam. Tapi ia tidak menemukan hal yang spesial selain postingan liburan pria itu dan juga makanan. Keyla tidak tau jika Sam berubah menjadi seorang Vlogger makanan seperti itu. Lihat saja bahkan feeds instagramnya saja banyak begitu.
Disaat perang batin melandanya, tentang Sam yang mungkin menjadi pelabuhan terakhirnya. Ponsel di dalam genggaman bergetar.
Sejenak Keyla menahan napasnya membaca nama si pengirim yang sudah ia ganti. Dari ******** gila menjadi mantan gila. Keyla merutuki hatinya yang justru berdebar hebat hanya dengan membaca pesan Arya. Bagaimana Keyla bisa melupakan pria itu jika Arya malah bersikap begini?
Miss me?
And I miss you😄
***