PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 8



Darren mengangkat tubuh Carrisa dan meletakkan kepala Carrisa di pahanya.


“Ca, bangun Ca,” lirih Darren dan menepuk kasar pipi Carrisa. Dia meletakkan jemarinya di hidung Carrisa dan mengehembuskan nafas lega kala dia masih bisa merasakan hembusan nafas Carrisa.


Dia menelepon ambulan dan beberapa anak buahnya untuk membantu membawa orang-orang yang terluka.


Setelah beberapa lama, ambulans datang dengan suara sirine yang memekakkan telinga. Buru-buru Darren menggondong Carrisa dan memasukkannya ke dalam mobil. Sedangkan yang lainnya, dimasukkan kedalam ambulans.


Sesampainya di rumah sakit, dan beberapa jam setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh Dokter.


“Ca, ayolah bangun! Aku nggak bisa ngeliat kamu kaya gini,” isak Darren dan menatap seorang gadis yang tengah terkulai lesu di atas bangsal.


“Bangunlah, Carrisa ... aku akan menghukum siapapun orang yang telah melukaimu, dan tidak akan kuberi ampun orang itu sebelum dia merasakan apa yang kau rasakan.” Pancaran amarah telah meluap dari mata Darren.


Dia mengingat kejadian beberapa tahun silam yang sempat membuatnya terpuruk seperti ini. Seperti ketika Audy kecelakaan, dan Carrisa yang dilukai oleh seseorang.


Darren menggamit telapak tangan Carrisa dan menggenggamnya erat. Perlahan, air matanya menetes satu-persatu dan menjatuhi telapak Carrisa.


Semburat amarah telah mengelup tebal di otaknya. Pria itu tampak menggeram dengan mata yang sudah seperti elang yang siap menerkam.


Dengan langkah gontai, pria itu berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit itu.


“Audy? Audy dimana?” lirihnya dan mengingat-ingat kapan terakhir dia bertemu dengan Audy.


Dengan larian kecil, dia keluar dari rumah sakit itu dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir.


Dengan brutal, Darren menyetir mobilnya dan melaju tak tentu arah. Sesekali dia menghubungi Audy dengan menggunakan ponselnya, tapi sia-sia. Kontak Audy tak dapat dihubungi.


Hingga akhirnya dia menghentikan mobilnya dengan sembarangan. Dia mencoba lagi menghubungi Audy dan hasilnya tetap nihil.


“Ahk! Sial! Percayalah, orang misterius, aku akan mematahkan semua tulangmu dan tak akan kubiarkan ada yang tersisa!”


__________


“Audy, apa yang kau lakukan?” tanya Reyn ketika dia melihat Audy yang tengah menggosok sebuah pisau dapur.


Audy menoleh ke arah Reyn dan mencoba untuk terlihat biasa saja di depan Reyn.


“Kemana?” tanya Audy dan menatap Reyn datar.


“Ketempat masa lalu,” jawab Reyn antusias.


“Bucin!” tutur Audy dan berlalu sembari mengambil setoples keripik kentang dan membawanya keruang TV, dan diikuti oleh Reyn.


“Kamu selama ini kemana aja sih?” tanya Audy sembari melendotkan kepalanya di dada bidang Reyn.


“Nanti aku bakal ceritain semuanya ke kamu,” Audy beralih menatap Reyn yang juga tengah menatpnya.


“Kenapa sih kamu temuin aku lagi. Aku ngambek sama kamu, aku benci,” gumam Audy dan memukul-mukul paha Reyn brutal.


“Maafin aku. Sekarang kan aku udah kembali,” kata Reyn dan mengelus sayang kepala Audy.


“Kamu ... kuliah dimana?” tanya Audy seraya menyuapkan keripik kentang ke mulutnya.


“Di Belanda. Kenpa?”


“Nggak papa, kamu pergi nggak bilang-bilang dan dengan cara tiba-tiba kamu datang dan menggagalkan pernikahanku!” ketus Audy pelan.


“Aku ... punya urusan yang lebih penting selain meminta izin padamu untuk pergi.” Ucapan Reyn spontan mampu membuat Audy mengerucutkan bibirnya.


“Emang apa yang lebih penting dari aku?!” tanya Audy ketus. Tak ada jawaban dari pria itu. Nampaknya, dia memang tengah menyembunyikan sesuatu pada Audy.


“Kalo kita nikah gimana?” tanya Reyn tiba-tiba dan menatap Audy dengan harap.


“Nggak mau!” tolak Audy dan kembali fokus pada layar televisinya.


“Audy, ak masih cinta banget sama kamu,” ucap Reyn seraya menangkupkan tangannya di pipi Audy. Matanya kini sudah meluruh dan terlihat sayu.


__________*___________


~TO BE CONTINUE~~