PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 5



2 jam.


3 jam.


4 jam.


Hingga 4 jam kemudian, Audy belum juga sadar dari komanya. Sedari tadi, Darren terus saja menunggu Audy hingga dia tak makan ataupun minum.


Walau sedetikpun, dia tak mau mengalihkan pandangannya dari Audy. Dia kalut, panik, khawatir, serta sedih dan terpuruk melihat Audy yang sudah terkulai lemas tak berdaya.


Sedari tadi, dia berbicara pada raga Audy yang detak nafasnya tak beraturan. Menggengam tangan dan memberi kehangatan pada Audy.


Dengan sesekali isakan tangis, dan emosi hati yang sudah mulai menyeruak didalam dada.


“Ahkk ...!” Darren berteriak meluapkan segala ganjalan yang ada di dada. Nafasnya kini sudah tak beraturan lagi akibat emosi yang tak bisa teredam.


“Bangunlah, Audy aku ingin menghukummu!” bentak Darren pada Audy yang sudah tenggelam di alam mimpi.


1 jam 50 menit sudah sedari beberapa jam lalu. Artinya, jika Audy belum tersadar hingga 10 menit kedepan. Maka ... Darren harus menerima ini semua.


Menit permenit telah terlewati. Tapi belum ada tanda bahwa Audy akan membuka matanya. Darren semakin panik. Air mata tak berhenti berjatuhan dari pelupuk matanya. Wajah yang sudah tak ada lagi sisi kejam terpancar di sana. Sungguh rapuh Darren saat ini.


9 menit 40 detik.


Tik' tik'


Bunyi detakan jam dinding semakin terdengar hebat menyesakkan dada.


10.


9.


8.


7.


6.


5.


4.


3.


2.


1.


Alat monitor detak jantung Audy berbunyi nyaring. Tak ada tanda-tanda dokter memasuki ruangan.


“Oh, tidak! Kau akan kembali padaku, Audy.”


“Tidak! Kau tidak akan pergi!” Untuk berbicara saja sulit rasanya dilakukan Darren. Wajah damai Audy yang kian memucat semakin menyesakkan dan mematikan.


“Ayolah, buka matamu!” lirih Darren dan mengusap lembut wajah pucat Audy.


“Dokter!” teriak Darren dari dalam ruangan itu. Tak berapa lama, dokter datang dengan alat-alat medis yang tampak menyeramkan.


Mereka mulai sibuk demi menyelamatkan nyawa Audy.


Kini, Darren sudah berada di ambang kehancuran. Kakinya melemas dan merobohkan tubuh kekarnya yang sudah tak berdaya.


“Audy, ayolah ... buka matamu. Kau akan tetap bertahan untukku. Audy ayolah!” bentak Darren dengan suara pelan. Pelan sekali hingga hampir tak kentara.


Pria itu sudah benar-benar kehilangan oksigen hingga untuk bernapas pun terasa sulit dan mengenaskan.


Tak berapa lama, dokter keluar dari dalam ruangan dan menghampiri Darren yang sudah terduduk di lantai. Wajah pucat dan kusut serta mata yang sedikit membengkak, membuat para tenaga medis itu merasa iba pada Darren..


“Permisi!” sapa sang dokter dan berjongkok di hadapan Darren. Darren mendongak dan bertatap muka dengan dokter tampan itu.


Bukannya membalas sapaan dokter itu, Darren malah berlari menghampiri Audy yang ternyata masih belum sadarkan diri.


Wajah Audy yang sudah sama sekali tak ada pancaran cerahnya, mampu membuat Darren rapuh serta terpuruk. Dia menggenggam tangan Audy yang semakin mendingin bak air es yang baru saja keluar dari kulkas.


Semakin sesak ketika Audy benar-benar telah ....


Tiiiitt! Tit' tit'


Suara monitor ruangan detak jantung Audy kembali menyegarkan telinga. Darren menolehkan kepalanya ke arah monitor itu dengan binaran bola mata haru.


“He ... heuh ....” Suara sesakan nafas seseorang sontak mengalihkan perhatian Darren. Buru-buru dia memanggil dokter dan menyuruh dokter itu memeriksa Audy.


“Alhamdulillah, Audy bisa terselamatkan. Kami benar-benar tidak menyangka akan menyelesaikan masalah fatal seperti ini,” ucap dokter itu dan tersenyum sumringah.


Tampak segaris senyuman terbit di wajah tampan Darren. Dia menoleh ke arah Audy yang sudah kembali bernafas normal walau memggunakan bantuan oksigen.


“Saya permisi!” pamit sang dokter dan berlalu pergi.


__________________________


~TO BE CONTINUE~~