
“Paduka yang mulia, sudikah kiranya engkau memaafkan hamba?” tanya Darren di depan sebuah cermin yang berada di dalam kamarnya.
“Ck! Terlalu alayy!” sungutnya. Dia berjongkok dengan sebelah lutut sebagai tumpuannya dan mendongak singkat.
“Audy, bulanku … maukah kau memaafkanku?” Darren terdiam sejenak menghayati kata-katanya barusan. Lalu, dia bergidik geli kala mengingat kata 'bulanku'.
“Audy, kamu mau 'kan maafin aku? Aku nyesel udah sakitin kamu, udah salah paham sama kamu.”
“Aghh! Ribet banget 'sih!” kesalnya dan berpikir sejenak. Setelah beberapa saat, dia memetikkan jarinya.
“O Audy, maunya kau maafkan aku?!” Dengan suara lantang dia berbicara memakai logat batak yang kental. Kemdian, dia terdiam sejenak dan tertawa histeris di depan cermin besar itu.
Tuk!
“Awh! Woy siapa nih yang ngelempar! Rese banget!” kesalnya kala seseorang melempar kepalanya menggunakan botol minuman.
“Maafkan saya, Paduka. Saya berjanji tak akan mengulanginya lagi,” ucap seseorang yang tenyata orang yang sudah melempar botol itu pada Darren.
“O … jadi kamu, Dayang?” tanyanya seraya berkacak pinggang menatap Syaqila yang tengah menunduk dalam.
“Maafkan saya, yang mulia. Saya khilaf,” ucapnya dengan lirih.
“Sudah, tidak perlu meminta maaf, sekarang ikut saya,” ucap Darren dan menarik lengan Syaqila bak seorang raja yang menarik pengawalnya. Darren membawa Syaqila ke kolam berenang yang berada di belakang rumah Darren.
“Maaf, yang mulia, mau ngapain bawa saya ke kolam berenang? Mau main futsal?” Pertanyaan konyol Syaqilla sukses membuat Darren tertawa lepas.
“Kamu gila ya, ini kolam berenang, ya mau maen kriket lah,” celetus Darren kembali tertawa diiringi tawa Syaqila yang seperti kuntilanak.
“Sudah, hentikan. Sekarang kamu masuk ke dalam kolam dan berendam beberapa lama di situ!” perintah Darren dan mendorong pelan lengan Syaqila.
“Baik, yang mulia,” lirih Syaqilla dan tersenyum jahil seraya menunduk.
Byur!
Dia mendorong tubuh Darren, hingga pria itu hampir saja tenggelam di kolam itu, yang memang dalamnya mencapai 2.5 meter.
“Syaqilla!” teriak Darren, sementara Syaqilla sudah berlari kecil menjauhinya.
“Wlek! Kakak kan belom mandi, ya nggak papa kali berenang sambil mandi di situ!” teriak Syaqila dan semakin berjalan menjauhi Darren.
“Dasar lucnut tuh Syaqila, gua kan kedinginan, nggak biasa mandi pagi!” kesal Darren dan beranjak keluar dari kolam berenang itu. Bibirnya sudah memucat dan bergetar kedinginan.
“Audy? Kamu … udah pulang dari rumah sakit? Kok nggak bilang ke aku, biar aku jemput?” tanya Darren kala dia melihat Audy yang duduk di atas ranjangnya.
“Iya, aku nggak mau aja ngerepotin kamu,” jawab Audy dan tersenyum pada Darren.
“Au, maafin aku ya,” lirih Darren dan menggenggam kedua tangan Audy erat.
“Aku udah maafin kamu, karena aku nggak pinter berlarut-larut dalam kemarahan, ataupun kebencian. Aku nggak bisa ngelakuin itu. Semarahnya aku sama kamu, tapi tetep aja aku nggak bisa nggak maafin kamu, karena maaf itu bukan sembarang kata, dia mempunyai makna yang sangat-sangat besar nilainya.” Darren tersenyum tulus dan memeluk tubuh mungil Audy, lalu menciumi pucuk kepala wanita itu berkali-kali.
“Aku sayang sama kamu, Au,” ucap Darren dan melepaskan pelukan mereka, dan memandang wajah Audy yang masih penuh dengan luka-luka.
“Sekali lagi maafin aku,” sambungnya dan mentikkan satu butir air mata haru.
“Darren, dalam persahaban ataupun percintaan, tidak ada kata maaf ataupun terima kasih,” gumam Audy dan kembali memeluk Darren manja.
“Aku juga sayang sama kamu,” lirihnya di dalam dekapan pria itu.
“Kamu mau nikah sama aku?” tanya Darren lantang dan serius.
“Cieee, berati bentar lagi … aku bakal punya kakak ipar nih,” celetuk Syaqila dan mendekati Darren dan Audy yang sudah tak lagi berpelukan.
“Ekhem! Jadi … kapan nih makan-makannya, aku udah nggak sabar mau punya keponakan!” teriak Syaqila girang dan meninggalkan Audy dan Darren yang menatapnya cengo.
“Audy, aku udah ngambil kesucian kamu, sebelum kita nikah, dan itu adalah kesalahan terbesar aku. Maaf,” lirih Darren dan membelai lembut rambut panjang milik Audy.
“Huh, udah terlanjur, dan nggak akan bisa dibalikin lagi, mau nggak mau aku harus mau maafin kamu soal itu,” gumam Audy tak berani menatap Darren yang sudah terisak pelan.
“Aku nyesal!” Darren menundukkan wajahnya dan melendotkannya di bahu Audy. Kemudian, dia semakin memecahkan tangisnya tangan yang senantiasa menggenggam erat tangan Audy.
“Nggak ada yang perlu disesali Darren, semuanya udah terlambat,” lirih Audy dan mengelus-elus punggung Darren yang terlihat rapuh.
“Aku nggak akan sakiti kamu lagi, Audy aku janji,” ungkap Darren kemudian menatap manik mata Aidy yang terlihat redup tak ada lagi kecerahan di manik mata itu.
* * *
1 minggu kemudian….
Hari ini adalah hari dimana resepsi pernikahan Darren dan Audy dipangsungkan. Dengan dekorasi pesta yang bertemakan pantai, yang bernuansa putih, tampak jelas kemewahan di acara itu.
Wajah Audy kini sudah mulai membaik dan bekas luka-lukanya sudah memudar dan kembali mulus seperti sedia kala, karena Darren membelikan obat yang bermerk tinggi untuk menghilangkan bekas luka itu. Dalam waktu 5 hari, benar saja luka-luka itu sudah menghilang dari wajah Audy.
Audy berjalan perlahan menuruni anak tangga dengan Syaqila dan Asyifa di kedua sisinya. Dia tampak anggun sekali memakai gaun pengantin putih dan polesan make-up yang cocok disatukan dengan wajahnya, membuat dia semakin cantik dan terlihat bravo di mata Darren.
Tanpa basa-basi dan menunggu lama, acara pun dilangsungkan dengan lancar dan tak ada hambatan dalam acara maupun segala sesuatu yang telah mereka siapkan.
Cukup 1 menit bagi Darren untuk mengucapkan ijab, dan akhirnya dia telah sah menjadi suami seorang Audy Mahira, wanita yang sangat dicintainya sedari dulu.
Garis senyuman tak henti-hentinya hilang dari kedua wajah pasutri itu. Mereka tampak bahagia sekaligus terharu. Terharu karena orang tua tak ada di sisi saat mereka menikah dan tumbuh dewasa.
Sekilas Darren mengecup dahi Audy dan Audy mencium punggung tangan Darren, lalu memeluk pria sahnya itu.
* * *
Acara satu hari mereka, yang spontan membuat mereka lelah akhirnya berjalan dengan mulus.
Tak menyangka, pernikahan itu terjadi begitu saja, tanpa direncanakan ataupun diminta. Semua terjadi atas rencana Allah, dan bantuannya. Darren dan Audy hanya ikut menjalani dan merasakan nikmat Allah itu, hingga 2 bulan pernikahan mereka selalu dihiasi dengan canda tawa dan kebahagiaan yang tiada tara.
Tapi satu yang belum melengkapi kedua pasutri itu, yaitu seorang anak. Ya, memang mereka baru 2 bulan menikah, tapi ketidaksabaran membuat keduanya jengah menunggu.
“Sabar dong, namanya juga kita baru nikah, masa iya aku langsung hamil. Aku juga belum siap mau jadi mama, masih pengen jalanin hidup berdua baremg kamu,” ucap Audy yang tengah memijat tubuh Darren, akibat kelelahan dalam kerjanya.
“Iya, Sayang iya. Yang penting kapanpun kamu hamil aku bakalan terima,” balas Darren rada paksa. Sebenarnya, dia sudah tak sabar ingin nenimang sang buah hati. Ya, mungkin belum saatnya.
“Sebelah sini dong, Yang. Pegel-pegel semua badam aku nggak tau kenapa, padahal selama belum nikah, nggak pernah tuh kaya gini,” cicit Darren menatap istrinya yang dengan telaten mengurutnya.
“Dasar, emang kamunya aja yang manja!” tukas Audy dan mencubit lengan Darren, membuat pria itu membatalkan niatnya yang ingin memejamkan mata.
“Jangan bergerak!” Suara teriakan seseorang yang baru saja memasuki kamar Darren dan Audy membuat kedua orang itu tersentak kaget dan menganga.
__________*__________
TO BE CONTINUE~~
I waw, apa bakal ada masalah lagi?