PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 14



“Halo, apa kalian sudah menemukan Audy?” tanya Darren pada seseorang di seberang telepon.


“Apa? Adit? Hoh, mau cari masalah dia denganku. Tunggu di tempat, aku kesana sekarang,” ucap Darren lagi.


Tut'


Darren mematikan sambungan teleponnya dan tersenyum sinis.


“Kupastikan kali ini, kau tidak akan bisa lepas lagi dariku, Audy,” seringai Darren dan melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh abak buahnya.


Sepanjang perjalanan, Darren terus saja tersenyum kemenangan. Dengan diiringi oleh lagu horor, dia melajukan mobilnya dengan santai. Tak butuh waktu beberapa lama, sampailah dia disebuah rumah yang lumayan besar dan meletakkan mobilnya di jalan tak sampai depan rumah Audy.


“Apa dia ada di dalam?” tanya Darren pada salah satu anak buahnya yang sedari tadi berjaga-jaga.


“Iya, Bos. Mereka ada di dalam,” jawab anak buahnya dan mengikuti langkah horor Darren mendekati pintu rumah itu.


Brak!


Dengan satu tendangan kaki, Darren membuka kasar pintu itu dan melhat ke sekililingnya. Dia berjalan menyeringai menaiki sebuah tangga yang menuju kamar Audy.


“Sekap Aditia,” perintah Darren pada anak buahnya dan mendapatkan anggukan patuh.


Brak!


Lagi dan lagi, Darren menendang sebuah pintu dan benar saja. Audy ada di dalam kamar itu. Audy terperanjat kaget kala dia melihat sosok tubuh Darren yang sudah seperti ingin menerkam.


Debgan takut, Audy berdiri dari posisi duduknya dan menatap Darren takut.


“Audy, Audy. Aku udah bilang 'kan sama kamu, kamu nggak bisa lari dari aku,” ucap Darren dan mendekati Audy. Audy sudah bersiap-siap mengambil sebuah lampu tidur dan ingin memukul kepala Darren. Tapi Darren tak sebodoh itu. Dengan sigap dia membekap mulut Audy dengan sapu tangan dan tak butuh waktu lama, Audy sudah tak sadarkan diri.


“Darren! Jangan lagi sakiti Audy!” teriak Adit yang sudah di sekap dan diikat di sebuah kursi ruang tamu.


“Heh, tenang kawan. Aku tidak akan menyakitinya ataupun kau, walaupun kau telah memukulku semalam.” Darren tersenyum menang dan menggendong Audy memasuki mobilnya.


* * *


Sesampainya di rumah Darren. Dia menggendong kembali Audy memasuki rumahnya dan menjatuhkan tubuh wanita itu di atas ranjang.


“Kali ini, aku akan benar-benar sudah menang Audy. Aku menang!” teriaknya dan merobek pakaian Audy hingga wanita itu sudah benar-benar tak mengenakan pakaian sehelai pun kemudian, ia menutupi tubuh Audy dengan selimut.


Darre berjalan keluar dari kamar, dan tak lupa mengunci pintu serta mengikat Audy dari ujung ke ujung. Kemudian, dia mulai melajukan lagi mobilnya, kali ini dia mendatangi Carrisa yang besok sudah diperbolehkan pulang, begitupun juga dengan Alfa dan orang-orang yang sempat terluka. Beruntungnya tidak ada yang tewas.


“Kau sudah menemukan Audy?” tanya Carrisa dengan tangan yang senantiasa digenggam oleh Darren. Darren mengangguk dan tersenyum lembut.


“Darren, berjanjilah padaku. Kau tidak akan menyakiti ataupun melukai Audy,” gumam Carrisa lagi. Dan lagi-lagi, Darren membalasnya dengan anggukan.


‘Tidak mungkin aku tak menyakitinya, setelah apa yang diperbuatnya padaku, dan keluargaku!’ ucap Darren dalam hati. Tapi dia tetap tersenyum lembut pada Carrisa guna untuk menyembunyikan dendamnya.


* * *


Jam menunjukkan pukul 19.50, waktunya menjalankan misi. Darren pamit pada Carrisa, mengatakan bahwa dia akan mengajak Audy makan malam. Padahal, dia ingin menyiksa gadis itu lagi.


Kali ini, dia melajukan mobilnya dengan sangat kencang, akibat emosi yang meluap-luap. Sebentar lagi, dia akan melanpiaskan segala emosinya pada orang yang dicintai sekaligus dibencinya.


“Apa dia sudah bangun?” tanya Darren pada body gurd yang setia berdiri dan menjaga pintu rumahnya, karena memang identitas Darren benar-benar harus diprivasi.


Dia memasuki kamarnya yang dimana Audy sudah menangis sendu disana. Dengan senyuman khasnya, da melangkah mendekati Audy dengan pisau yang sudah sedikit tumpu, dan sebuah pistol.


Apakah dia akan membunuh Audy saat ini juga?


“Selamat datang kembali, Nona Audy Mahira!” seringai Darren dan tertawa jahat dengan menaiki tubuhnya di atas ranjang.


“Bagaimana kali ini? Apa kau sudah siap untuk mati?” tanya Darren seraya mendekatkan wajahnya pada Audy.


“No no no! Bukan sekarang. Tapi … setelah tubuhmu dipenuhi oleh luka-luka yan selama ini memasuki duniaku, dan DENDAMKU!” ucap Darren lagi dengan nada penekanan.


“Dendam?” tanya Audy dengan lirih, karena rasanya sangat sulit untuk hanya sekedar membuka mulutnya.


“Kau telah merenggut nyawa kedua orang tuaku, dan kau telah menuduhku membunuh orang tuamu. Kesalahanmu sangat-sangat berlipat ganda, Sayang!” bentaknya tepat di depan wajah Audy membuat wanita itu memejamkan matanya.


“Aku tidak melakukan itu. Bahkan aku belum pernah bertemu dengan orang tuamu. Dan masalah orang tauaku … aku tau bukan kau yang membunuhnya,” gumam Audy yang sudah menderaskan air matanya.


“Hahaha, kau pikir aku akan percaya? Mau yang mana duluan yang harus aku lukai Audy? Kaki, atau tangan? Atau tubuh yang menjijikkan ini?” tanya Darren dan menelusuri tubuh Audy dengan ujung pusaunya.


“Aku nggak tau apa-apa tentang itu, Darren.”


Srek!


Satu garisan luka telah terpancar di paha putih Audy. Gadis itu menringis kala Darren semakin memperdalam goresannya.


Srek! Srek! Srek! Srek! Srek!


“Ahkk! Pengecut!” teriak Audy dan memecahkan tangisnya.


“Ini baru permulaan, Sayang. Aku akan memenuh tubuhmu dengan luka dari pisau ini,” ucap Darren da beralih pada paha Audy yang sebelahnya lagi. Audy tak bisa meronta ataupun bergerak, disebabkan kali dan tabgannya sudah terikat dengan ujung ranjang itu.


Srek! Srek! Srek! Srek!


Darah segar sudah mulai menggenang di atas ranjang itu. Kemudian, dia menancapkan pisaunya di ranjang dan beralih memehang pistolnya.


“Belum, Audy. Aku belum ingin membunuhmu sekarang, aku hanya ingin mengambil isi kepalamu. Tak perduli jika kau mati atau tidak!”


Brak!


“Darren, jangan dulu!” teriak seseorang yang menghentikan aktivitas Darren yang ingin menembak kepala Audy.


Darren menoleh ke arah sumber suara dan mengernyitkan alisnya bingung.


“Siapa dia?” tanya Darren kala tatapannya terjatuh pada seorang wanita yang tak asing baginya.


__________*__________


TO BE CONTINUE~~~


Next part akan ada kejutan besar, yang membuat kalian berhenti bernapas😂😂 tunggu okeh✋🤧