
“Jangan bergerak!” Suara teriakan seseorang yang baru saja memasuki kamar Darren dan Audy membuat kedua orang itu tersentak kaget dan menganga.
Krik' krik' krik'
“Sumpah nggak lucu!” gumam Darren dan menatap orang yang berada di hadapannya itu dengan cengo.
“Yah, kok kalian nggak panik 'sih? Kan harusnya kalian kalang kabut gitu,” rengek Syaqila dan mendudukkan tubuhnya di atas ranjang bersama Darren dan Audy.
“Kamu nggak kuliah, ini udah jam berapa cobak?” Darren mendudukkan tubuhnya yang semula tertidur karena tengah diurut oleh Audy.
“Siangan, Kak. Bentar lagi. Kak Alfa juga belum jemput,” jawabnya dan menyisir rambutnya dengan tangannya. Ya, memang dia dan Alfa sudah berpacaran dari tiga minggu yang lalu.
“Eh, Kak. Kak Audy udah isi?” tanya Syaqila dan menatap Audy.
“Isi apa? Isi bensin?” celetuk Darren dan menoyor dahi adiknya itu.
“Cih! Yang ditanya siapa, yang jawab siapa!” kesal Syaqila membuang mukanya dari Darren.
“Hehehe, belum Sya. Doain aja dulu,” gumam Audy dan tersenyum dengan tangan yang masih mengurut kaki Darren.
“Siap, Kak. Aku selalu doain kakak semoga cepet hamil, aku juga nggak sabar mau punya ponakan,” ucap Syaqila.
“Iya makasih! Udah pergi sono lu! Ganggu aja!” kesal Darren mendorong pelan lengan Syaqila yang menatapnya tajam.
“Ih, galak banget 'sih! Iya-iya aku pergi, dan nggak mau balik lagi!” Syaqila beranjak dari ranjang itu dan memutar knopnya.
“O, mau nggak balik lu, biar gua sumpahin si orang gila itu nangkep lu lagi!” teriak Darren dari dalam kamar, dan mendapati cekikikan tawa dari Audy.
“Nyebelin banget sih jadi adek. Kamu kok malah ketawa?!” tanyanya kesal dan menatap Audy datar.
“Nangis!” celetus Audy datar. Kemudian, dia berjalan keluar dari kamar itu dan menuruni satu persatu anak tangga, dengan Darren yang mengiringi langkahnya.
“Sayang, aku pengen makan sop buntut ya,” ungkap Darren dan membuka lemari es untuk mencari bahan-bahan yang diperlukan.
“Hmm … kamu yang masak!” Darren membulatkan matanya menatap Audy dan mendekati tubuh istrinya itu.
“Kok aku? Ya kamulah! Aku bantu doang!” cicit Darren kesal.
“Ish, aku lagi males, lemes, pusing, and nggak selera ngapa-ngapain. Udah intinya kamu yang masak, aku mantau!”
“Ck! Ini mah namanya dunia terbalik, Au!” Walaupun dengan dumelan yang unfedah, tapi dia kerjakan juga masakan itu dengan telaten.
“Hm. Nanti aku cariin,” balas Darren singkat dan kembali fokus pada masakannya. Memang, setelah kejadian Reyn yang telah mencelakai seluruh maid Darren, semua maidnya dihentikan bekerja oleh Darren, hingga saat ini hanya ada dua orang maid yang berada di dalam rumah megah itu. Tentu saja mereka mempunyai tugas masing-masing, selain memasak.
Setelah 40 menit, akhirnya sop buntut ala Tuan Darren pun selesai, dan menyerbakkan bau yang sangat menggugah selera.
“Ih, wangi banget, aku jadi laper,” gumam Audy dan mendapat tatapan datar dari Darren.
“Masaknya nggak mau! Giliran makan nomor satu! Hum!” Audy tersenyum manis pada Darren dan mencubit paha suaminya itu.
“Ya 'kan aku lagi badmood, sekali-kali kek kamu masak 'kan nggak papa!” tukas Audy dan mulai meyendokkan nasi ke dalam mulutnya.
“Kak, gawat kak gawat!” teriak Syaqila yang baru saja keluar dari kamarnya. Darren dan Audy kompak menoleh ke arah Syaqila dan menatapnya menunggu ucapan Syaqila selanjutnya.
“Kenapa 'sih! Gawat kenapa?” tanya Darren tak sabar dan mendirikan tubuhnya, kemudian mendekati Syaqila yang terlihat panik.
“Ahk! Aku nggak mau!” teriak Syaqila dan memelu Darren manja.
“Kenapa 'sih kamu, buat panik aja?!” tanya Darren membelai pelam rambut adiknya itu.
“Berat badan aku naik, a … nggak mau.”
Krik' krik' krik krik'
“Gara-gara itu doang?” tanya Darren menatap adiknya itu tak percaya.
“Heem, nanti kalo kak Alfa nggak mau sama aku gimana?” tanyanya merengek menatap Darren dengan masam.
“Nggak kok Sya. Aku tetap cinta sama kamu, walaupun kamu makin gendut!” timpal Alfa yang baru saja memasuki rumah itu.
“Yaudah sana kalian berangkat gih!” perintah Darren. Syaqila dan Alfa menyalami punggung tangan Darren dan Audy, setelah itu mereka keluar dari rumah itu.
“Awh … kepala aku sakit banget, Ren,” rintih Audy seraya memegang kepalanya.
Buk!
Tiba-tiba, Audy terjatuh dan langsung tak sadarkan diri. Dengan panik Darren mendekati tubuh Audy yang berada di lantai. Kemudian, Darren langsung menggendong Audy dan memasukkan Audy ke dalam mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit.
TO BE CONTINUE~~~