
* * *
“Kamu nggak ngantor?” tanya Audy pada Darren yang tengah bermanja padanya.
“Nggak, untuk hari ini. Aku mau jagain kamu aja,” jawab Darren dengan mata yang tak teralihkan dari ponselnya.
“Nanti kalo ada sesuatu yang penting di kantor gimana?” tanya Audy lagi sembari mengelus-elus rambut hitam Darren yang sedikit berantakan.
“Itu mah gampang. Aku lagi males banget ini,” jawab Darren dan mendudukkan tubuhnya menatap istrinya itu.
“Ngapain liatin aku kaya gitu?” tanya Audy dan mebatap Darren cengo. Pasalnya, suaminya itu menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk ditebak. Memicingkin matanya dengan raut muka kesal plus sendu.
“Hoek … hoek … hoek!” Suara tangisan bayi terdengar nyaring di sekitar ruangan inap Audy. Sejenak meteka terdiam dan menajamkan indra pendengaran mereka, demi memastikan apakah memang benar itu suara tangisan bayi?
“Yang, coba deh kamu liat di samping, kayanya suaranya dari situ,” ucap Audy setengah berbisik.
“Oke, bentar. Kamu jangan kemana-mana, di sini aja,” pinta Darren dan menuruni brankar tempat ia dan Audy duduk dan mendekati sumber suara.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.00. Itu artinya, sebentar lagi akan tiba waktunya adzan Maghrib. Dengan langkah ragu, Darren mendekati dan mendekati sumber suara itu secara perlahan.
“Hoek … hoek … hoek …!” Suara itu terdengar semakin menghunjam hati, dan semakin terdengar kuat kala Darren melihat seorang bayi yang diletakkan di atas bangku taman belakang rumah sakit itu, hanya dengan dilapisi sebuah kain yang tipis.
Darren mendekati bayi itu dan menggendongnya dengan hati-hati, karena baru kali ini dia menggendong seorang bayi.
“Cup, cup. Kasian banget kamu, kok bisa di sini? Ibu kamu mana?” tanya Darren mengajak bicara bayi itu yang sudah berhenti dari tangisnya.
“Kamu ikut sama, Om ya, ganteng,” ucapnya lagi dan membawa bayi itu ke dalam ruangan Audy.
Cklek!
“Au,” panggilnya. Kemudian dia berdiri tepat di hadapan Audy, sembari tersenyum manis.
“Kamu curi anak siapa?” tuduh Audy dan menatap curiga pada Darren.
“Ish, kamu apaan, sih? Ini bayi yang nangis-nangis tadi, Au. Aku nggak sengaja nemu dia di atas bangku taman. Kasian banget 'kan?” Darren menyodorkan bayi itu pada Audy, dan Audy menerimanya dengan senang hati.
“Kita ambil bayi ini ya,” usul Audy menatap harap pada Darren. Darren mengangguk menyetujui, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Audy.
“Tapi nanti kalo ada yang ngaku-ngaku Ibu dari bayi ini gimana?” tanya Aidy lagi menoleh ke arah Darren yang juga tengah menatapnya.
“Ya kita kasih bayi ini, ke Ibunya dong,” jawab Darren enteng.
“Ish, kamu mah gampang bilang kaya gitu. Terus gimana dengan kita yang udah ngerawat bayi ini?” tuding Audy lagi menatap Darren cengo.
“Au, walau gimanapun, Ibunya lebih berhak daripada kita,” gumam Darren sembari mengleus rambut panjang Audy yang diikat setengah.
Di sisi lain, seorang wanita yang sedikit menua tengah mengintai di salah satu pondasi rumah sakit dekat dengan taman belakangnya.
“Untung aja ada yang ngambil. Kalo enggak, cih! Aku nggak mau ngurus bayi itu!” decaknya dan kemudian melangkah menjauhi taman itu.
* * *
“Hoek … hoek … hoek …!” Audy dan Darren dengan jengah mencoba mendiamkan bayi baru mereka itu. Pasalnya, sedari tadi bayi itu terus menangis kencang.
“Apa jangan-jangan dia haus ya?” terka Audy menatap Darren yang mencoba mendiamkan bayi itu.
“Mungkin juga, sih. Yaudah ni kamu pegang dulu, aku mau beli susunya.” Darren memberikan bayi itu pada Audy, dan berlari kecil keluar dari ruangan itu.
“Assalaamualakum, Kak. Loh, ini bayi siapa?” Syaqila yang baru saja datang dengan Alfa, dibuat keheranan, akibat hadirnya seorang bayi di keluarga kecil kakaknya.
“Nanti, Kakak ceritain. Ceritanya panjang dan agak sedikit ruwet,” balas Audy seraya menggoyangkan tubuhnya mendiamkan bayi itu.
“Kok nangis aja, sih, Baby? Haus?” tanya Syaqila membuat bayi itu terdiam sejenak dari tangisnya.
Cklek!
Audy dengan ragu membuat susu itu, akibat baru pertama kalinya dia mengurus seorang bayi. Setelah selesai, dia mendekati Darren dan menyodorkan botol susu itu, supaya Darren menyuapi bayinya.
“Tuh 'kan, dia haus,” ucap Darren dan memandangi bayi itu yang dengan gemasnya mengemut dot—nya.
“Eh, BTW … siapa nih, nama babynya?” tanya Syaqila yang sedari tadi tak mau melepaskan nmgenggaman tangannya pada tangan bayi mungil itu, dengan gemas.
“Oh, iya kita belum kasih nama. Ah, nanti aja itu kita pikirin, sekalian mau buat acara syukuran di rumah,” ucap Darren dan masih fokus memberikan bayi itu susu. Tak lama kemudian, bayi itu pun terlelap damai, dan membuat Darren menghembuskan nafas lega.
“Huft … akhirnya, aku udah mulai terbiasa ngurus bayi,” ucapnya.
“Tidurin di brankar aja. Di sini 'kan nggak ada box bayi,” usul Audy. Darren meletakkan perlahan nayi mungil itu di atas brankar dan mencium gemas pipi chubynya.
“Ganteng banget, mirip aku,” ujarnya PD, dan tesenyum menoleh pada Audy.
“Ge-er!” tukas Audy pelan.
“Kok kamu baru jam segini pulangnya?” tanya Darren menatap adiknya itu dengan cengo, dan beralih menatap Alfa yang sedari tadi hanya diam, dengan kepala yang dilendotkan di bahu Syaqila, sembari memainkan gawainya.
“Iya, Kak. Itu tadi aku banyak banget tugas, dan harus diselesaikan saat itu juga, makanya aku agak lama deh. Sumpah, aku pusing banget abis ngerjain tugasnya!” geram Syaqila dan memijat pelipisnya kasar. Darren terkekeh pelan, kemudian mencubit pipi adiknya itu gemas.
Cklek!
“Permisi, Pak Darren. Ada yang mau bertemu,” ucap seorang suster. Darren menolehkan kepalanya dan menatap dua orang yang berada di hadapannya, yang ternyata adalah anak buahnya.
“Ada apa?” tanya Darren memulai percakapan.
“I–i–itu, Pak. Anu ….” Anak buahnya itu berbicara dengan ragu, membuat Darren menggeram kecil, dan menatap mereka kesal.
“Anu apa?” tanya Darren yang mulai kesal.
“Anu, Pak. Itu … perusahaan disita oleh pihak Bank.”
“Apa? Disita? Why?” tanya Darren, yang terlihat shock akibat kabar buruk itu.
“Nggak tau, Pak. Tapi katanya, perusahaan sudah terlilit hutang yang sangat besar nilainya,” jawab anak buahnya itu lagi dengan ragu.
“Terlilit hutang? Perasaan aku nggak pernah ngutang di Bank. Kok bisa ada hutang?” tanya Darren tak percaya dan kebigungan mencari ponselnya.
“Rumah juga disita?” tanyanya menatap anak buahnya itu satu per satu.
“Rumah enggak, Pak. Yang disita cuman perusahaan beserta aset-asetnya, tanpa ada yang tertinggal.”
Darren dengan lesu mendudukkan bobot tubihnya di atas brankar kembali dan menelepon manajernya, untuk memastikan keterangan akan kejadian ini.
“Kok, nomor Aldi nggak aktif? Perasaan tadi malam baru telfon, masa bisa nggak aktif, sih?”
“Jangan panik, Ren. Coba lagi,” ujar Audy menenangkan suaminya yang terlihat emosi, gusar, panik, yang bercampur menjadi satu.
Beberapa kali Darren mencoba menghubingi Manajernya itu, tapi nihil. Nomornya tak dapat dihubungi. Firasat-firasat buruk pun telah menggerayangi pikirannya.
“Apa jangan-jangan ini ulahnya?” terkanya berburuk sangka pada Aldi.
“Hus! Kamu nggak boleh kaya gitu. Kita harus dapat bukti sebelum memberi kesimpulan pada orang lain.” Audy mengelus punggung Darren, menenagkan suaminya itu. Darren mengangguk ragu dan memeluk Audy erat.
“Halo.” Suara Alfa tiba-tiba menghentikan mereka dari aktivitas masing-masing.
[….]
“A–a–apa?”
To be continue~
Hayo, Guys. Apaan tuh? Eh, kasih saran dong buat nama babynya Darren Audy. Nama cowok terus di belakangnya pake marga 'J' ya.😁