PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 15



“Siapa dia?” tanya Darren kala tatapannya terjatuh pada seorang wanita yang tak asing baginya.


“Darren, ini dia … yang sudah membunuh orang tauamu, dan Audy,” ucap wanita yang membawa pembunuh itu.


Darren melepaskan pistolnya hingga pistol itu terjatuh di paha Audy.


“Asyifa, kamu bohong 'kan?” tanya Darren dengan parau. Rasanya saat ini dia sulit sekali untuk bernapas. Sedangkan, orang yang dibawa Asyifa itu tersenyum miring seraya bersedekap dada.


“Aku tidak bercanda, Darren. Itulah kenyataanya. Wanita ini yang telah mebunuh orang tuamu, bukan Audy.” Penjelasan dari mulut Asyifa ternyata ampuh membuat Darren terkulai lemas. Dia menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasar dan menatap Audy seraya menangis haru.


“Aku nggak ngelakuin itu 'kan?” tanya Audy pelan yang sedari tadi hanya menangis mendengar pengakuan dari Asyifa.


“Heh, miris sekali nasibmu, Audy. Sudah banyak dilukai oleh Darren,” ucap wanita itu dengan sinis.


“Audy, maafkan aku, aku benar-benar tak menyangka dengan semua ini,” ucapnya dan memeluk tubuh Audy yang dipenuhi dengan darah. Sementara Audy terus menangis seraya menatap wanita itu yang menatapnya dengan sinis.


“Asyifa, bawa wanita itu dan ikat di dalam gudang. Aku tidak ingin menyakitinya sekarang!” perintah Darren pada Asyifa. Asyifa mengangguk dan menarik lengan wanita itu keluar dari kamar Darren.


“Audy, maafkan aku,” lirihnya lagi.


Audy menggeleng kecil seraya berkata, “Bisakah kau mengembalikan tubuhku seperti semula dalam detik ini juga? Bisakah kau mengembalikan jariku yang sudah kau tanggalkan dari tempatnya? Bisakah kau nengembalikan darah yang setiap detik kau tumpahkan dari tubuhku? Bisakah Darren? Bisakah?!” teriak Audy dan meronta di dalam dekapan Darren.


“Aku tidak bisa mengembalikan semuanya. Ambillah semua jariku dengan syarat kau mau meaafkanku,” ujar Darren dan masih saja menangis.


“Biarkan aku pergi, dan aku akan memaafkanmu,” ucap Audy dan mengusap kasar air matanya.


Darren melepaskan pelukannya dan menatap Audy dengan sendu. Dia menangkupkan tangannya di wajah Audy yang sudah basah akan air mata.


“Enggak! Aku nggak mau kamu pergi lagi, Audy. Kali ini, aku nggak bakal biarin kamu pergi,” gumam Darren kemudian, menciumi seluruh wajah Audy dengan sayang.


“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Darren dan diangguki oleh Audy.


Darren menggendong Audy memasuki mobilnya. Setelah itu, dia melajukan mobilnya menuju sebuah rumah sakit.


Sesamlainya di rumah sakit, Darren kembali menggendong Audy dan menaikkan Audy ke atas brankar yang baru saja melintas dengan dua orang perawat. Mereka membawa Audy masuk ke dalam sebuah ruangan dan langsung memangani luka Audy yang tampak menyayat hati.


Dengan lesu, Darren mendudukkan bobot tubuhnya di atas kursi tunggu dan memijat perlahan pelipisnya yang terasa sakit, akibat banyaknya menangis.


Darren melendotkan tubuhnya di punggung kursi yang ia duduki. Perlahan demi perlahan. Setetes demi setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


Dia bingung mau melakukan apa? Menyesal! Itulah yang dirasakannya saat ini. Ketika dia telah banyak menumpahkam darah wanitanya itu, dengan seenak jidat dia meminta maaf, dan jelas saja! Tidak semudah itu Audy akan memaafkannya.


“Haruskah aku menghilangkan semua jariku untuk membuatmu memaafkanku?” lirihnya dengan air mata yang sedari tadi melirih tak terbendung.


Dia berjalan perlahan dan mendekati pintu ruangan itu yang sedikit bahannya terbuat dari kaca. Dia memejamkan matanya melihat satu persatu goresan luka di paha Audy.


Derasnya darah yang keluar dari tubuh wanita itu, begitu juga derasnya air mata Darren yang keluar dari pelupuk matanya yang mulai sembab.


Dia menjatuhkan bobot tubuhnya di lantai rumah sakit itu dan terisak hebat. Tak kuat dan tak tega melihat sosok Audy yang keadaannya menyesakkan dada.


“Haah … sudikah mau memaafkan aku yang sangat menjijikkan ini, Audy? Sudikah?” lirihnya di tengah isakan tangis yang entah kenapa memang tak mau berhenti.


Jleb!


Gelap. Hingga perlahan demi perlahan sebuah cahaya datang menyinari gelapnya tempat dimana dia berada. Dia bersimpuh di atas lantai yang tak tau entan terbuat dari apa. Yang pasti, lantai itu terasa empuk dan nyaman.


Darren merasakan sebuah tangan lembut menyentuh kedua bahunya. Perlahan dia menoleh dan mendapati sosok yang sangat dia rindukan.


“M–m–mama?” Tanpa aba-aba, dia langsung menghamburkan diri ke pelukan wanita bersayap itu.


“Kenapa kau menyakitinya, Sayang?” tanya wanita itu dengan lembit dan mengelus rambut Darren yang sudah acak-acakan.


“Bukankah kau dulu pernah berjanji pada Mama untuk menyayanginya? Bukannya kau telah mengatakan pada Mama bahwa kau sangat mencintainya? Kenapa kau menyangkal semua perkataanmu itu?” tanya wanita itu beruntun dan membuat Darren semakin terisak. Buih-buih penyesalan yang tak ada putus-putusnya telah membuat dia rapuh, serapuh ranting yang sudah lama terjatuh dari pohonnya, dan mengering.


“Maaf, Ma. Hatiku rasanya sangat sulit untuk menerima semua ini! Aku mebenci diriku sendiri! Aku jijik pada diriku sendiri.” Dia mengeratkan pelukannya pada wanita tak perduli sekarang dia tengah berada dimana.


“Darren,” panggil seseorang lagi dengan suara halusnya. Dia kembali menoleh dan lagi-lagi mendapati seorang wanita paruh baya disana, yang seumuran dengan mamanya. Wanita itu tersenyum lembut, tapi dengan air mata yang perlahan meluruh. Dia menoleh pada Mamanya yang sudah menghilang terbawa awan.


“Tidak! Aku mohon jangan! Aku akan menebus semua kesalahanku padanya, tapi tolong … jangan ambil dia dariku,” pinta Darren yang semakin memecahkan tangisnya.


“Kau melukainya,” ucap wanita itu seraya memaksakan senyumnya yang seketika sirna akibat tangisan kekecewaan pada pria rapuh itu.


“Maafkan aku … aku menyesali perbuatanku dan akan membalas semuanya dengan membuatnya bahagia,” gumam Darren yang kini air mata yang sedari tadi meluruh telah mengering akibat terpaan angin yang sangat menyejukkan.


“Kesinilah, Nak. Akan Papa ajarkan padamu bagaimana caranya untuk meminta maaf, dan membuatnya memaafkanmu.” Darren menolehkan lagi kepalanya kala seseorang menyentuh lembut pundaknya.


“Papa. Om Bima.” Darren memeluk tubuh kekar papanya yang kini terasa hangat dan menyejukkan hatinya.


“Kesinilah. Papa dan om Bima akan mengajarimu,” ucap papanya dan diangguki oleh Bima yang sedari tadi hanya tersenyum lembut.


“Jangan pernah menuruti kata hatimu, jika hatimu itu memintamu untuk melukainya. Pikirkan rasa cintamu terlebih dulu, hingga apa yang kau lakukan tidak akan berbuah penyesalan seperti ini. Papa tau, rasa cintamu lebih besar dari rasa bencimu padanya. Hei dengar! Dia tidak bersalah, Nak. Kau tak patut untuk membencinya. Jangan datang pada Papa jika suatu saat nanti dia tak memaafkanmu.”


Hus!


Dalam sekejap mata, kedua pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah itu menghilang entah kemana.


Darren memejamkan matanya dan mulai mulai berdiri lalu melangkahkan kakinya entah kemana. Dia berjalan dan terus berjalan tapi tak ada perubah di tempat itu. Semua terlihat sama, putih dan tak ada apa-apa.


“Audy, apa kamu juga ada di sini?” tanyanya entah pada siapa. Semakin dia berjalan, semakin dia merasakan sakit dan sesak, serta takut akan kehilangan. Seakan-akan, ketika dia berjalan, dia semakin menjauh dari Audy.


“Darren.” Suara mungil seseorang menghentikan langkahnya dan menyisir pandangannya ke sekeliling berharap menemukan wanita yang dicarinya.


“Berhentilah di situ. Jangan melangkah lagi, atau kau tidak akan pernah bertemu denganku lagi,” ucap wanita itu. Darren memejamkan matanya dan menjatuhkan sisa-sisa air mata yang masih tergenang di tempatnya.


“Audy, apa itu kamu?” tanyanya.


“Iya, ini aku. Lihatlah ke belakang!” perintah wanita itu dan Darren sontak berbalik kebelakang dan tersenyum manis, kala wanita itu menatapnya hangat.


Dia berjalan mendekati wanita itu dan memeluknya erat saat sudah berada di hadapannya. Tidak ada yang berbicara. Hanya tangisanlah yang menjadi percakapan antara keduanya.


Sejenak Darren melepaskan pelukannya dan menatap wajah wanitanya itu yang tampak bersinar dan menyejukkan mata. Hingga perlahan, pandangannya kabur dan kembali jernih, akibat air mata yang menggenang lalu terjatuh.


“Sudahkah kamu memaafkanku, Audy?” tanyanya dan mencium lembut pipi mulus Audy yang juga sudah basah akan air mata.


Tak ada jawaban dari wanita itu. Dia hanya tersenyum tanpa mengangguk ataupun menggeleng. Dengan gerakan slowmotion dia melangkah mundur menjauhi tubuh Darren yang membutuhkan sebuah tumpuan untuk berdiri tegak.


“Audy, jawab aku! Jangan pergi, jawab aku dulu! Audy!” teriaknya dan sontak membuatnya sesak.


Dia membuka matanya dan memegang dadanya yang terasa sulit untuk bernapas. Dia menoleh ke arah samping kanan dan kirinya dan menyocokkan netra matanya pada sinar cahaya yang sudah berbeda dari sebelumnya. Dia baru menyadari bahwa saat ini, dia sudah tergeletak di atas brankar dan sudah terdapat sebuah selang infus yang menusuk punggung tangannya.


“Audy? Dimana Audy? Bagaimana keadaannya sekarang? Aku harus menemuinya!” Darren menuruni brankar itu dan mencabut kasar selang infus lalu berjalan dengan timpang keluar dari dalam ruangan yang entah ruangan apa.


Dia melangkahkan kakinya dengan susah payah menuju ruangan Audy yang terlihat gelap. Lalu, dengan nekat dia memasuki ruangan itu dan menghidupkan saklar lampunya kala ruangan itu terlihat kosong dan acak-acakan.


Dengan keringat yang terus bercucuran dari dahinya, dia berjalan tak tentu arah demi bisa menemukan siapapun yang tau keberadaan Audy.


Tak lama kemudian, dia bertemu dengan seorang dokter yang sebelumnya sempat menangani Audy.


“Dok, dimana Audy?” tanyanya pada dokter itu.


“Loh, bukannya Audy sudah meninggal dunia?”


Deg!


Apa ini? Apa dokter ini sedang berdusta?


__________*__________


TO BE CONTINUE~~~


Audy meninggal🤧