
“Sumpah, garing,” gumam Darren menatap Audy datar. Benar-benar lelucon yang tak berfaedah dan membuang-buang waktu. Audy terus saja tertawa menyebalkan, membuat Darren terdiam sejenak menatapnya cengo.
“Kenapa, sih? Kok tegang gitu? Aku kan ngelakuin ini biar kamu nggak kaku, dan terlalu kepikiran sama masalah yang nimpa kamu,” ucap Audy lembut dan mengelus-elus rambut Darren. Darren memutar bola matanya jengah, dan menghembuskan nafasnya lelah.
“Bukannya menghibur, aku malah tambah pusing, Yang,” balas Darren menjatuhkan kepalanya di stiur mobil itu.
“Ya, sorry. Aku mau pulang sekarang,” ucap Audy menatap Darren, berharap suaminya itu akan menyetujui kemauannya. Darren tampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk tanda setuju.
“Tapi, kamu udah bilang sama dokter 'kan?” tanya Audy memastikan bahwa mereka pergi atas sepengetahuan dokter. Lagi-lagi Darren mengangguk, dan tersenyum singkat. Kemudian, dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit itu.
“Kita ke mall dulu, ya,” pinta Audy dan memain-mainkan tangan mungil Rendy, yang baru saja terbangun dari tidurnya. Ternyata, bayi itu sudah sangat nyaman dan serasi berada di tengah-tengah keluarga kecil nan bahagia itu.
* * *
Sepulangnya mereka dari mall, Darren langusung melajukan kembali mobilnya menuju ke kediamannya. Tadi, Audy sudah membeli perlengkapan bayi untuk Rendy. Dengan antusias dan semnagat 45, dia memilih barang-barang lucu untuk Rendy yang akan dibelinya. Semua perlengkapan untuk Rendy, dia beli yang seunik mungkin
Mulai dari alat mandi, bedak, colagent, dan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk merawat diri, beserta pakaian-pakaian yang berharga waw. Bahkan, dia sudah memesan box bayi ketika masih di rumah sakit. Begitu sayangnya dia pada Rendy. Ya, siapa sih yang nggak sayang sama anak bayi?
Tak butuh waktu beberapa lama, Darren sudah memarkirkan mobilnya rapi di halaman rumah. Kemudian, dia menuruni mobilnya dan membawa sebagian barang-barang perlengkapan baby Rendy, dan sebagian lagi dibawakan oleh anak buah Darren yang senantiasa berdiri tegak di dekat gerbang tinggi itu.
Darren dan Audy berjalan berdampingan memasuki rumah mereka. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Audy saat ini. Semua itu bisa terjawab hanya dengan menatap wajah cantiknya yang sedari tadi memancarkan senyuman indahnya pada apa pun yang ia lintasi.
“Well come baby Rendy!” Suara riuh dari dalam rumah itu sontak menghentikan Darren dan Audy dari langkahan kakinya. Mereka tersenyum simpul pada beberapa orang yang telah ber-antusias menyambut kedatangan Rendy. Tentu saja ini adalah ide cerdik dari Syaqila.
Darren dan Audy mendekati semua orang yang tengah tersenyum bahagia itu. Tentu saja mereka tak kalah bahagianya, atas apa yang nereka dapat.
Drt' drt'
Darren berdecak kesal kala suara getaran ponselnya telah mengganggu momen bahagianya yang mungkin tidak akan terulang lagi. Mungkin.
“Halo,” sapanya memulai percakapan.
[Bos, kami telah menemukan pelaku atas semua masalah ini. Dan ternyata benar dugaan kita bahwa Aldi 'lah dalang dari semua ini]
“B*ng*at!” geram Darren mengepalkan kuat tangannya, dan mata yang sudah menyala-nyala memerah siap menerkam mangsa.
[Kami akan mengirim file yang berisi semua bukti-bukti itu, Bos. Silahkan cek!]
Tut'
“A*j*ng, munafik!” geram Darren lagi. Dia meremas ponselnya dan menimbulkan suaar getaran, yang ternyata adalah sebuab panggilan masuk. Kemudian, dia mengangkat sambungan telepon itu.
“Siapkan semua rencana!” bentak Darren tanpa melihat siapa yang menelepon
[Halo, Pak Darren. Ini saya dokter Revan]
Seketika Darren mengatupkan mulutnya malu.
“Ada apa ya, Dok?” tanya Darren perlahan menutupi rasa gugupnya.
[Saya hanya ingin memberitahukan kabar gembira untuk Bapak, dan juga bu Audy]
“Apa itu, Dok?”
[Jadi, menurut hasil pemeriksaan, bu Audy dinyatakan positif hamil. Saya naru saja mengambil hasil tesnya tadi]
“Serius, Dok? Istri saya hamil?”
[Iya, Pak. Selamat, ya]
“Terima kasih, Dok.”
[Tolong dijaga kesehatannya ya, Pak. Sekali lagi selamat. Assalamualaikum]
“Waalaikumsalam.”
Tut'
Darren mematikan sambungan teleponnya dan menatap haru pada Audy. Dia mendekati Audy dan menangkupkan tangannya di wajah cantik istrinya itu.
“Sayang, kamu hamil,” ucapnya hati-hati. Seketika Aidy terdiam menatap manik mata Darren dengan intens, berusaha mencari celah kebohongan di sana. Tapi nihil. Darren tidak sedang berbohong. Dia serius dan benar-benar serius akan ucapannya.
“Aku hamil?” tanya Audy masih tak percaya. Semua orang yang berada di sana juga ijut tegang menunggu jawaban Darren. Darren mengangguk dan menarik Audy masuk ke dalam dekapannya. Sungguh, kebahagiaan yang tiada tara.
“Alhamdulillah!” kompak semua orang tersenyum senang. Mereka mengucapkan selamat pada Darren dan Audy yang sudah menangis haru. Kebahagiaan yang sederhana.
To be continue~