
POV Darren *
Aku sempat shock dan sedikit tak percaya atas perkataan Carrisa yang mengaku-ngaku sebagai adikku. Apa memang benar adalah adikku yang hilang itu. Mungkin saja, tapi hatiku sulit untuk mempercayainya.
“Carrisa, benarkah itu? Apa kau memang adikku?” tanyaku pada Carrisa yang sedari tadi menatapku.
Carrisa mengangguk dan tersenyum ke arahku. Kemudian, kami berpelukan ria melepaskan kerinduan yang padahal aku sendiri sudah melupakan kerinduan itu. Sungguh, aku tak pernah berharap untuk bertemu dengannya lagi.
“Ayo, ceritain ke kakak gimana kamu bisa lepas dari orang gila itu,” pintaku oada Carrisa, dan Carrisa langsung mengangguk menyetujui.
“Jadi, waktu hari dimana Carrisa mau dinikahin sama Ervan, Carrisa berhasil kabur dari rumahnya. Mungkin, sampe sekarang ini, anak buah Ervan masih nyari-nyari Carrisa,” jelas Carrisa membuatku tercenung sejenak.
“Kau mencintai Ervan?” tanyaku dan menangkup wajahnya, lalu menatap manik matanya yang memang serupa dengan manik mataku.
“Tidak!” jawabnya dan menggeleng kecil. “Kalo aku cinta sama Ervan, ya otomatis aku mau lah nikah sama dia, gimana sih!” ketus Carrisa dan mendapatkan tatapan tajam dariku.
Beberapa tahun lalu, Carrisa sempat hilang dari rumah. Dan banyak yang mengatakan bahwa Carrisa dibawa oleh Ervan, pscopath gila yang memang teman SMA Carrisa juga. Semenjak hilangnya Carrisa, disitulah aku berubah menjadi orang yang kejam dan tak berprikemanusiaan, bak psycopath.
Kejadian itu terjadi tepat 1 tahun sebelum Mama dan Papa meninggal dunia akibat pembunuhan itu. Tepat dimana saat itu aku sudah tak ingin hidup lagi, mengingat tak ada orang yang berada di sisiku, termasuk Syaqilla(Carrisa). Entah kenapa namanya berubah menjadi Carrisa. Mengherankan dan menyebalkan!
Saat ini, Syaqilla seharusnya menduduki masa SMA kelas 3–nya. Tapi, akibat Ervan yang menculik dan ingin menikahinya, Syaqilla jadi memutuskan pendidikannya.
“Rasanya kakak ingin sekali bertemu dengan Ervan itu. Menyebalkan sekali dia!” geramku dan menatap daun pintu dengan tajam.
“Udahlah, Kak. Kan intinya adikmu yang cantik ini udah balik lagi,” ucapnya antusias dan memelukku erat.
“O iya, kak Audy gimana? Dia mau ketemu sama kakak?” tanyanya lagi dan terkekeh meremehkanku. “Huh, makanya kalo mau nuduh seseorang itu pake bukti. Nah, kalo kaya gini 'kan kakak jadi nyesel sendiri! Mana jari Kak Audy udah hilang lagi. Kapok tuh harus kakak ganti!” cicitnya, dan semakin membuatku geram dan rasa bersalah itu muncul kembali di dadaku.
“Audy bukannya nggak mau ketemu sama kakak, tapi emang dokter ngelarang siapapun menjenguk Aidy untuk sementara waktu!” ketusku tanpa memandang lawan bicaraku yang menyebalkan ini.
Dia memicingkan matanya sejenak dan berkata, “Dasar konyol! Dokter itu udah kerja sama, sama aku dan kak Audy. Kak Audy nggak mau ketemu sama kakak!” teriaknya pelan tepat di telingaku.
“Ck!” Aku berdecak kesal dan menjambak pelan rambutnya. Sungguh, aku sangat merindukan wanita manja ini.
“Tunggu! Tapi … kenapa kau ingin menikah denganku kalau kau adalah adikku?” tanyaku mentapnya heran.
“Hehehe, karena aku mencintaimu.”
Cup!
Setelah dia mencium pipiku, dia langsung melarikan diri entah kemana. Adik lucnut!
“Nggak waras!” teriakku ketika dia masih berada di ambang pintu.
“Wlek!” teriaknya seraya menjulurkan lidahnya ke arahku. Aku berdecak kesal dan menyusuri pandanganku ke sekeliling ruangan ini, berharap ada yang bisa kulakukan.
Aku berjalan keluar dari dalam ruangan itu dan menuju ruangan Audy yang tertutup rapat.
“Di sini rupanya Syaqilla. Menyebalkan! Gimana nanti aku mau cium Audy?” Aku menatap kedua orang yang tengah bersenda gurau itu dengan buah yang berada di tangan mereka.
Refleks, aku langsung membuka pintu ruangan itu dan melangkahkan kakiku mendekati Audy. Setelah aku mendekatinya dan Syaqilla, aku menoleh ke arah Syaqilla dan menutup kedua matanya dengan tanganku. Kemudian, tatapanku beralih pada Audy dan ….
* * *
Author POV*
Cup!
Darren mendaratkan bibir merahya di bibir Audy, kemudian m*l*m*t bibir itu dengan lembut. Tidak! Audy tidak menolaknya. Dia hanya terdiam dan tercenung beberapa saat menikmati ciuman itu dengan pejaman mata.
“Aw! Aw! Heyy! Hello! Bisa nggak kalian ngelakuin itu di kamar mandi aja sana!” teriak Syaqilla tepat di hadapan Darren dan Carrisa yang masih dalam posisi sebelumnya.
Bruak!
“Keluar sana!” ketus Darren dan mendorong tubub Syaqiil, hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Dia membulatkan matanya sempurna, dan dengan kesal keluar dari dalam ruangan itu.
“Dasar, Darren lucnut!” teriaknya dan dengan kasar membanting pintu ruangan itu.
Setelah kepergian Syaqilla.
Darren menatap Audy dengan manja dan kembali mendekatkan tubuhnya pada tubuh Audy. Dia menyentuh wajah Audy dengan satu tangannya dan ….
Plak!
“Resek lo! Keluar nggak! KELUAR!” teriak Audy dan mendorong tubuh Darren menjauhinya.
“Aku kan mau kasih pelajaran buat kamu,” rengek Darren kala dia sudah mundur beberapa langkah, akibat dorongan dari Audy.
“Keluar!” bentak Audy tanpa memandang objek bentakannya itu. Dengan lesu, Darren melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, dan mengambil kaosnya yang sebelumnya ia tanggalkan di dekat Audy.
Cup!
“I Love You!”
“Darren!” teriaknya. Sedangkan Darren sudah kabur entah kemana.
____________________
TO BE CONTINUE~~