
Dengan paksa, Darren menarik Audy masuk ke dalam mobilnya. Kemudian, dengan brutal dia melajukan mobbilnya hingga tak jarang Audy memejamkan matanya karena takut.
Setelah beberapa lama mereka melaju, Darren membeehentikan mobilnya di pinggir jalan yang sunyi.
Kemudian, dengan kasar Darren menarik lengan Audy hingga tak jarang menyeret gadis itu kala Audy terjerembab ke tanah. Darren membawa Audy ke sebuah gudang tua dan lusuh yang membuat Audy bergidik ngeri.
“Kenapa kamu bawa aku ke sini?” tanya Audy sendu dan mencoba melepaskan cekalan Darren yang terlihat hanya memegang padahal dia mencengkram kasar lengan Audy.
“Heh, untuk apa? Aku akan menjelaskannya setelah kita berada di dalam Audy!” ucap Darren horor dan menyeret Audy yang sudah terduduk di tanah.
Di dalam gudang itu, terdapat tulang belulang dan darah yang berceceran dimana-mana. Dengan isakan tangis Audy menatap wajah Darren yang sudah memerah akibat emosi yang menyulut hatinya.
Dengan kasar, Darren mencampakkan tubuh Audy hingga gadis itu menatap dinding gudang tua yang sudah mulai menghitam.
Dengan sayu, Audy mendudukkan tubuhnya seraya memeluk lututnya ketakutan. Dia tak berani menatap wajah murka Darren yang sangat-sangat mengerikan.
Dengan kasar, Darren mendongakkan wajah Audy hingga gadis itu menatap memohon padanya. Darren mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya dan ….
Srek …!
Satu goresan luka yang sangat panjang terpancar jelas di wajah putih Audy. Luka itu menghiasi pelipis hingga dagu lancipnya.
Srek!
Kali ini dengan kasar Darren menggoreskan sebuah luka lagi, dan dengan menancapkan ujung pisau itu lalu menggoreskannya di lengan Audy.
“Ah … sa–kit,” rintih Audy yang membuat Darren tersenyum miring.
“Rasa sakit yang terdapat di tubuhmu itu, tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku, Audy Mahira. Dan saat ini, aku akan membuat tubuhmu terpotong-potong seperti korban sebelum kamu!” ucap Darren dengan seringai menakutkan.
Audy meneteskan berbulir-bulir air matanya dan kini, wajahnya telah dipenuhi dengan darah segar. Hingga tak jarang, darah itu masuk ke dalam mulutnya karena terus mengalir seperti air matanya.
“Kau bertanya apa salahmu? Ha? Pertanyaan macam apa itu bodoh! Dasar p*la*ur!” bentak Darren dan menarik rambut Audy mendongakkan kepala gadis itu.
“Dengarlah Audy, kau tak akan bisa lepas dari seorang Darren. Kali ini, aku akan menjadi psycopath sungguhan yang tak akan membiarkanmu hidup bahagia,” ucap Darren dan memoleskan darah Audy di wajah gadis itu.
“Kenapa nggak kamu bunuh aja aku sekalian, Darren. Kenapa?!” tanya Audy seraya berteriak keras.
“Ouch … ada saatnya, Sayang. Tapi bukan sekarang! Sekarang ini amwaktunya aku mengambil satu persatu anggota tubuhmu yang tak penting. Seperti jari tangan dan kaki,” ucap Darren dan mulai menempelkan pisaunya di jari-jari kaki Audy.
Audy memecahkan tangisnya kala satu jari kelingking telah terputus dari kakinya.
“Ahk …!” teriaknya dan menendang tubuh Darren hingga pria itu tersungkur. Tetapi, dia tak dapat kabur karena sedari tadi, tangannya sudah diikat oleh Darren.
“Dasar gila!” bentak Audy dan menatap benci pa da Darren.
“Aku membencimu, Darren!” teriaknya. Dengan keringat yang terus bercucuran serta darah yang sudah keluar dari kakinya akibat jari kelingking yang sudah terlepas.
Darren bangkit berdiri dan menatap Audy dengan tajam dan devil. “Hahahaha! Aku yang seharusnya membencimu, Audy! Aku yang seharusnya membencim—”
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat di punggung Darren hingga pria itu tersungkur dan tak sadarkan diri.
__________*__________
~TO BE CONTINUE~~
Guys, kira-kira siapa ya orang mukul Darren? Kasih tau Author dong😊🤧