PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 25



(Darren Audy last moment)


Darren menatap devil Aldi yang sudah dibawa oleh pihak kepolisian, untuk bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Dia tersenyum miring kala Aldi menatapnya dengan horor, dan mengikuti polisi menggiring Aldi masun ke dalam jeruji besi.


Cklek!


Pintu jeruji itu dikunci dengan Aldi yang sudah berada di dalamnya. Ya, selama tiga tahun kedepan, Aldi akan menempati ruangan sempit itu sebagai balasan atas perlakuannya.


“Malang sekali nasibmu, biadab,” seringai Darren setengah berbisik. Aldi membuangkan mukanya dari arah Darren dan mengepalkan tangannya kuat.


“Aku udah baik lo sama kamu. Seharusnya kamu lima tahun menempati istanamu ini, tapi atas kebaikanku, dan rendahnya hatiku, jadi aku mengurangi hukumanmu,” ucap Darren tertawa jahat.


“B*ng*at!” umpat Aldi hampir tak kentara. Dia menatap Darren dengan horor, siap untuk menerkam pria itu.


“Eit! Siapa yang b*ng*at? Hello, seharusnya kata-kata itu ditujukan padamu, bukan untukku. Selamat bersenang-senang,” ujar Darren dan sekali lagi dengan senyum kemenanga, seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Aldy yang sudah menggerutu hebat.


“Terima kasih, Pak Darren. Berkat bantuan bapak juga, kami berhasil menangkap Aldi yang sudah lama kami intai,” ucap salah satu polisi itu dan tersenyum pada Darren.


“Saya juga berterima kasih pada Bapak. Kalau begitu … saya permisi, Pak. Selamat siang!” pamit Darren.


“Oh, silahkan, Pak. Selamat siang,” balas polisi itu ramah. Darren melangkahkan kakinya mendekati mobilnya yang sudah terparkir di halaman luas kantor polisi itu. Dia memasuki mobil itu, dan melaju meninggalkan pelataran kantor polisi yang baru saja dia injak.


Drt' drt'


Bunyi getaran ponsel yang secara tiba-tiba terdengar. Darren mengambil ponselnya itu dan melihat name contact yang tertera di layarnya.


“Hallo, Momyy,” sapanya alay dan terkekeh seketika.


[Ish, apaan, sih. Kamu kok lama banget? Lagi di mana?]


“Masih di jalan, Sayang. Sabar ya, bentar lagi aku sampek kok.”


[Ya udah, aku cuma mau bilang nanti kamu singgah ke supermarket ya, Sayang. Beli susu aky sama Rendy]


“Assyiaap. Iya kamu tunggu aja. Bye muach.”


Tut'


Setelah sambungan terputus, Darren langsung melajukan mobilnya mengarah ke sebuah pusat perbelanjaan yang biasanya dia kunjungi. Tak butuh waktu beberapa lama, akhirnya sampailah dia ke supermarket itu dan langsung melangkahkan kakinya masuk.


Sesampainya di dalam, dia mengunjungi rak-rak khusus tempat berbagai macam susu terletak. Dia menyusuri satu persatu jenis-jenis susu itu mulai dari susu untuk bayi, hingga susu untuk ibu hamil.


Setelah dia mendapatkan apa yang dia cari, Darren pun mengunjungi kasir dan membayar belnjaanya. Kemudian, dia memasuki kembali mobilnya dan meninggalkan halaman supermarket itu.


* * *


Sesampainya dia di istana persinggahannya itu. Dengan larian kecil, dia mendekati pintu utama rumah megah itu dan langsung masuk ke dalam.


“Assalamualaikum,” sapanya. Pertama kalia dia melihat pembantunya yang tengah membersihkan beberapa barang-barang yang berada di ruang tamu.


“Audy ada di kamar, Bik?” tanyanya pada pembantu itu.


“Ada, Pak. Ibuk ada di kamar kok, tadi sih lagi niduran den Rendy,” jawab pembantu itu ramah. Darren mengangguk sungkat dan menaiki anak tangga dengan kantong plastik yang masih berada di tangannya.


Cklek!


Dia memutar knop pintu kamar itu dan menoleh ke arah samping dimana terdapat Audy yang tengah menidurkan Rendy yang berada di dalam box bayi. Kemudian, Darren berjalan mendekati Audy, dan menoleh ke arah Rendy yang mulai memejamkan matanya.


“Shutt!” Audy menahan tangan Darren dan menempelkan jari telunjuknya di bibir kala Darren berniat untuk memegang pipi Rendy yang sudah terlelap.


“Kenapa? Aku kan cuma mau megang bentar doang,” dumel Darren merajuk.


“Nanti Rendy bangun lagi, emang kamu mau nidurkan Rendy?”


“Serah. Ni susunnya. Ongkirnya 20. 000 aja,” canda Darren seraya menyodorkan bungkusan plastik yang berisi satu kaleng susu bayi dan sekotak susu bumil. Audy menerima bungkusan itu dan menatap Darren aneh.


“Yah … eneng nggak punya duit, Bang,” balasnya menyenggol paha Darren.


“Yaudah, kalo eneng nggak punya duit, bayarnya pake cium aja, ya,” tawar Darren menggoda.


“Nggak usah dah, Bang. Kagak usah jadi kalo nggak ikhlas mah!” ucap Audy yang mulai bete.


“Ya udah, iya ikhlas.”


Cup!


Darren mengecup sekilas bibir istrinya itu, dan mendapatkan tatapan mematikan darinya.


“Udah kamu mandi sana, gih! Bau!” Darren menatap kesal pada Audy dan beranjak menuju kamar mandi dengan berat hati.


Cup!


“Darren!” teriaknya sekali lagi kala Darren menyosor mencuim dahinya singkat. Darren yang belum memasuki kamar mandi itu hanya terkekeh pelan, kala dia berhasil mengerjai istrinya.


“Bonus!” teriaknya seraya menutup pintu kamar mandi itu.


* * *


Saat ini, Audy tengah mengalami masa-masa awal kehamilannya yang menurutnya sedikit menyiksa. Tapi, semua itu tak dirasakannya lagi kala dia membayangkan bagaimana nanti dia jika melakukan proses persalinan dan menyusui seorang bayi. Tak sabar rasanya jika harus menunggu.


Kandungan yang sudah menginjak usia ke lima bulan itu pun semakin membuat perut Audy membesar. Tak beda halnya dengan baby Rendy yang kian hari semakin pintar mengoceh, dengan usianya yang masih muda.


Terkadang Audy sampa dibawa ke rumah sakit karena sering muntah secara berlebihan dan demam yang menyerang tubuhnya. Ya, semua itu wajar. Wajar dialami oleh seorang wanita pada kehamilan pertamanya.


Darren yang mulai possesive pada sang istri pun tsk jarang melarang Audy untuk bergerak sedikitpun dari tepat tidur. Semua itu mereka lakukan semata-mata karena benar-benar ingin menjaga calon buah hati, yang mereka nantikan kehadirannya.


“Huek! Huek! Huek!” Akhir-akhir ini, Audy kembali mabuk dan panas badan yang sebenarnya tidak terlalu tinggi.


Darren mengusulkan untuk dibawa kerumah sakit saja, tapi Audy menolak dengan dalih ia tak mau merepotkan suaminya. Darren yang sempat kesal kembali tenang kala pembantunya mengatakan itu adalah hal yang wajar, dan tidak perlu dibawa ke rumah sakit. Ya, begitulah Darren.


* * *


Darren sempat mengusulkan untuk menunggu di rumah sakit saja, tapi lagi-lagi Audy menolaknya. Padahal kan usulan Darren juga baik, biar nanti kalau terjadi kontraksi langsung ditangani oleh dokter.


Setiap hari, tontonan mereka adalah baby Rendy yang mulai bisa berjalan walaupun sedikit oleng. Ya, wajarlah ya masih sepuluh bulan. Benar saja, lama-lama baby Darren sangat mirip dengan Darren. Sifatnya yang sedikit keras kepala menuruni sifat mama dan tantenya.


Bisa dibayangkan, semakin hari, keluarga kecil itu semakin tampak samawanya, dan kebahagiaan yang selalu menghampiri mereka. Hingga tak jarang, mereka mengundang beberapa anak panti untuk acara makan malam bersama, demi ucapan rasa syukur mereka pada Tuhan—Nya, yaitu Allah SWT.


* * *


“Awh … Sayang sakit,” rintih Audy yang tengah berada di dalam ruangan persalinan. Dia meremas kemeja Darren, hingga kusut dan tak jarang mencakar lengan Darren, membuat pria itu meringis pelan.


“Tahan ya, Sayang. Kamu yang kuat. Tapi jangan cakar-cakar aku juga dong,” pinta Darren mengajak istrinya itu berbicara.


“Pak, Darren sebaiknya Bapak keluar sebentar, karena kami akan melakukan proses persalinan,” ucap seorang dokter yang akan membantu Audy bersalin.


“Baik, Dok. Tolong selamatkan istri dan anak saya,” pinta Darren memelas dan menatap bergantian Audy dan dokter itu.


“Kami akan berusaha, dan memang itu tugas kami,” jawab dokter itu.


“Sayang, kamu yang kuat, ya. Demi anak kita,” ucap Darren dan mengecup sekilas dahi istrinya yang sudah basah akan keringat yang terus bercucuran dengan derasnya. Kemudian dia melepaskan genggaman tangannya pada Audy dengan berat hati, dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


“Kita mulai, ya, Buk. Tarik nafas ….” Audy mencoba menuruti instruksi dari dokter itu, demi mengeluarkan sang buah hati dari tempat bersemayamnya selama sembilan bulan terakhir.


Darren yang menunggu di luar ruangan itu dengan gusar berbolak-balik tanpa berniat menenangkan dirinya. Ya, memang dia hanya sendiri menunggu Audy, saat Alfa dan Syaqila pulang dengan membawa Rendy yang terus-terusan menangis.Tak berapa lama.


“Hoek … hoek … hoek ….” Suara tangisan bayi membuyarkannya dari lamunan. Sejenak dia terpaku dan segaris senyuman terbit di wajah tampannya.


“Alhamdulillah,” lirihnya dan mengangkupkan tangannya di wajah.


Cklek!


“Bagaimana dengan anak dan istri saya, Dok?” tuding Darren cepat kala seoarng dokter baru saja keluar dari ruangan persalinan itu.


“Alhamdulillah, anak dan istri Bapak sehat wal afiat. Anak Bapak laki-laki, selamat ya, Pak,” ucap dokter itu menjabat tangan Darren. Darren membalas jabatan tangan dokter itu seraya tersenyum haru.


“Alhamdulillah,” lirih Darren.


“Saya permisi!” pamit dokter itu dan berlalu pergi dari hadapan Darren. Darren melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu dan tersenyum pada Audy yang juga tengah tersenyum padanya.


Kemudian, dia berjalan mendekati brankar Audy, dan menggemnggam tangan istrinya itu yang sempat mendingin. Lalu, ia mengusap lembut dahi Audy mengelap keeingat yang belum menering, dan mengecup sekilas bibir ranum Audy.


“Anak kita laki-laki, Sayang,” gumam Darren tersenyum hangat. Audy mengangguk singkat dan tak kalah bahagianya dengan Darren.


“Iya. Dan semoga … dia nggak kaya kamu,” bisik Audy, karena suaranya hampir saja menghilang.


“Kenapa? Kan anak aku. Ya, bagus dong kalo dia mirip aku,” balas Darren, dan membuat istrinya itu tertawa singkat.


“Pak, Buk. Ini bayinya. Silahkan diadzani dulu, Pak.” Suster itu menyodorkan bayi mungil Audy, dan Darren menerimanya, kemudian langsung men-adzankan bayinya itu.


“Siniin dede bayinya,” pinta Audy dan menepuk pelan samping brankar yang masih kosong. Dengan hati-hati, Darren meletakkan bayi itu di samping Audy, dan dia mendudukkan bobot tubuhnya di salah satu kursi.


“Niko Alifiandra Anderson J. Itu namanya,” ucap Darren dan tersenyum manis. Audy mengangguk setuju, karena nama itu nama yang bagus untuk baby tampan mereka.


Bayi yang mirip sekali dengan Darren. Tampak mukanya yang sedikit cengo, berbeda dengan Rendy yang sempat tersenyum ketika mereka baru menemukannya.


“Sayang, semoga kita kaya gini selalu, ya. Jadi keluarga kecil yang samawa,” ucap Darren mengelus sayang pipi Audy.


“Aamiin,” ucap Audy dan balas tersenyum hangat. Darren mengecup kedua pipi Niko yang masih terlelap damai.


* * *


Hari ini, Audy sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Selama empat hari dia sudah berada di rumah sakit ini, akhirnya dia sudah dapat pulang kembali ke rumahnya yang sangat ia rindukan.


Cklek!


“Selamat datang, baby Niko!” kompak semua orang menyambut kedatangan anggota keluarga baru, yang akan bergabung dengan mereka.


“Ih, lucu banget. Sini sini, sama tante.” Syaqila mengambil Niko dari gendongan Audy dan menimangnya dengan sayang. Sedangkan Darren, dia langsung memeluk dan menggendong Rendy yang suda empat hari tak dia temui.


Baby Niko yang memang sangat menggemaskan itu pun menjadi bahan operan sana dan sini, hingga Audy sedikit kesal dengan mereka.


“Semoga, baby Niko jadi cowok idaman para cewek, kaya papanya,” ucap Syaqila mengecup seluruh wajah Niko yang hanya diam dengan muka datarnya.


“Aamiin!” kompak semua orang, kecuali Audy dan Darren.


“Nggak, nggak! Aku nggak mau baby Niko kaya Darren. Nggak punya perasaan. Tuh kelingking aku belum dibalikin!” tukas Audy membuat semua orang tertawa bahagia.


Darren cengengesan tak jelas dan medekati Audy lalu mengecupi wajah Audy sayang. Kemudian, dengan gemas dia mencubi pipi chuby Audy.


“Ih, nakal!” tukas Aidy menepiskan tangan kasar Darren.


“I love you,” ucap Darren mendekatkan wajahnya di wajah Audy.


“I love you too,” balas Audy dan mengecup bibir Darren yang semakin mendekati bibirnya.


To be continue~


***Pemeran utama 2 :


Niko Alifiandra Anderson J


Zahira Fathiya Salma


Rathan Alfarendy Anderson J.


Vika Auralia Nazira


Oke, ditunggu, Guys***.