PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 16



“A–a–apa, Dok? Meninggal? Dokter jangan bercanda deh, nggak lucu sama sekali,” ucap Darren dan tertawa renyah meyakinkan bahwa dokter itu memang tengah bercanda.


“Saya serius, dan tadi … Audy telah dibawa oleh Carrisa dan Alfa,” ujar Dokter itu dan berlalu pergi. Ya, memang Carrisa dan Alfa sudah sembuh total ketika Audy masuk dan mereka sudah diperbolehkan untuk pulang. Tapi seharusya besok.


Darren bergegas menuju mobilnya, dan melaju menuju rumahnya. Harap-harap, Carrisa dan Alfa membawa Audy ke sana.


Sesampainya dia di rumah. Tak ada tanda-tanda orang melayat ataupun bendera kuning di rumahnya. Padahal, mobil Alfa sudah terparkir rapi di halaman.


Dengan perlahan dia memasuki rumahnya, dan langsung disambut oleh Alfa dan Carrisa.


“Dimana Audy?” tanyanya menatap kedua orang yang masih bergeming menunduk tak berani menatapnya.


“Audy … sudah dibawa oleh Adit,” ucap Carrisa ragu dan masih tak berani menatap wajah Darren yang sudah memerah dengan rahang yang sudah mengeras.


“Apa?! Audy dibawa Adit, dan kalian diam saja?!” tanya Darren berteriak, hingga memekakkan gendang telinga siapapun yang mendengarnya.


“Maaf, tapi kami juga nggak tau kalo Audy dibawa Adit. Tiba-tiba Adit udah nelfon aku dan bilang kalo Audy ada sama dia,” balas Alfa dan mendongakkan kepalanya menatap Darren.


“B*ng*at!” teriak Darren dan menendang benda yang berada di hadapannya.


“Aku ingin menemui Audy, dan tidak akan ada yang menghalangku!” tegasnya dan berjalan dengan tergesa-gesa kembali memasuki mobilnya.


“Audy, jangan membuatku semakin merasa menyesal, aku mohon … temui aku untuk terakhir kalinya,” lirih Darren dengan mata yang fokus pada jalan yang dilintasinya.


Saat ini, tujuannya adalah rumah Adit. Dia melaju dengan kecepatan tinggi, dan sesekali melirik handphone—nya berharap ada notifikasi pesan dari siapapun yang dapat mempertemukannya dengan Audy.


“Audy nggak mungkin meninggal. Kalo dia meninggak nggak mungkin seenaknya Adit bawa Audy gitu aja. Aku yakin pasti Audy masih hidup, tapi disembunyikan oleh Adit dariku. Menyebalkan!” rutuknya dan memukul kasar stiur mobilnya.


“Nggak, Audy nggak! Aku nggak percaya kalo kamu meninggal dunia, aku nggak percaya!” Dengan emosi yang meluap-luap, Darren menatap tajam ke arah depannya dengan lajuan mobil yang kian melaju semakin cepat.


* * *


Sesampainya di rumah Adit.


Lagi-lagi Darren mengernyitkan alisnya karena rumah Adit juga terlihat sepi. Dengan tergesa-gesa dia berjalan memasuki rumah Adit, tanpa permisi.


“Darren? Mau apa kamu ke sini?” tanya Adit yang tengah terduduk santai di kursi makan seraya mengiris-iris buah apelnya menggunakan pisau kecil yang sudah pasti tajam.


“Dimana Audy?” tanyanya pada Adit yang tersenyum sinis padanya.


“Audy? Dia ya sudah dibawa oleh Reyn,” ucap Adit dengan santainya.


“Apa? Jenazah Audy kalian bawa kesana kemari? B*ng*at!” teriak Darren dan menendang daun pintu utama rumah Adit, kemudian dia melajukan mobilnya ke arah rumah Reyn.


“Siapa yang meninggal?” monolog Adit kala Darren sudah pergi dari rumahnya.


Sepanjang perjalanan, hanya ada luapan emosi dan tangis penyesalan yang mengiringinya. Tak ada waktu sedetikpun dia tak menangis, dan tak ada waktu semenitpun untuk tidak menyesali perbuatannya.


Sesampainya dia di rumah Reyn, dia langsung memasuki rumah Reyn dan terkejut, karena rumah Reyn begitu gelap, entah kenapa.


Dengan ragu dia menghidupkan saklar lampu itu dan langsung membelalakkan matanya kala melihat tubuh Audy yang sudah terpotong-poton menjadi beberapa bagian.


“Audy!” teriaknya dan seketika langsung terbangun dari mimpi buruknya.


“Hah … hah … oh, Tuhan … mimpi apa aku barusan?” monolognya dan mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Dia ingin beranjak dari brankar yang ia tiduri tapi suara seorang wanita menghentikan aktivitasnya.


“Kak, Daren. Jangan dulu beranjak! Kau masih sangat lemah saat ini,” ucap wanita itu.


“Carrisa? Kau … sudah sembuh?” tanya Darren seraya menatap Carrisa yang tersenyum hangat padanya.


“Mengatakan apa?” tanya Darren.


“Akan kuberitahu tapi nanti.” Darren seketika berdecak kesal dan menidurkan lagi tubuhnya di atas brankar itu. Tiba-tiba ingatan mimpi itu terus berputar-putar dalam otaknya.


“Audy? Carrisa, Audy! Dia dalam bahaya, aku harus menemuinya,” ucap Darren panik dan benar-benar sudah beranjak dari brankarnya.


Dia menuju ruangan Audy dengan selang infus yang masih tertusuk di punggung tangannya. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan itu dan menatap Darren dengan cengo.


“Bapak, tidak diizinkan masuk!” tegas doker itu dan berlalu pergi. Tapi Darren dengan tergesa-gesa mengikuti langkah dokter itu.


“Dokter, kenapa saya nggak boleh masuk? Saya suaminya!” ucap Darren dengan nafas yang ngos-ngosan. Dokter itu menghentikan langkahnya begitupun juga Darren.


“Karena saat ini, Audy tidak bolej dikunjungi dulu oleh siapapun. Itu akan berbahaya pada kesehatannya. Sabarlah dulu,” ujar dokter.


“Tapi sebentar saja, Dok. Saya ingin menemuinya. 5 menit, hanya 5 menit!” mohon Darren lagi pada dokter itu.


“Tidak bisa. Jangan temui Audy, atau kami tidak akan merawatnya lagi!” ancam doker itu dan berlalu pergi.


Darren menatap punggung dokter itu dan menghembuskan nafas berat. Dengan langkah gontai, dia kembali memasuki ruangannya yang sebumnya ia tinggalkan.


“Kenapa, Kak?” tanya Carrisa kala dia melihat raut muka Darren yang sungguh kecut.


“Tak apa,” jawab Darren dan mendudukkan tubuhnya di samping Carrisa. Carrisa menatap wajah Darrem yang terlihat lesu dan tak bergairah.


“Carrisa, kira-kira maukah Audy memaafkanku?” tanya Darren dan memeluk Carrisa dari samping.


“Nggak tau! Aku berharap Kak, Audy nggak maafin kakak!” jawab Carrisa dan tersenyum jahil pada Darren. Darren menatapnya seraya berdecak kesal


“Tapi … kenapa kau memanggilku dengan sebutan kakak?” tanya Darrren dan menatap manim mata Carrisa yang sudah terlihat segar.


“Karena kau adalah kakakku.”


Deg!


Ucapan Carrisa sontak membuat Darren terpaku. Apa iya? Bagaimana bisa? Apa Carrisa itu adalah


…?


* * *


Di dalam ruangan yang lain.


“Sukurin! Aku nggak akan mau ketemu lagi! Kamu pikir ni luka-luka bakalan sembuh dengan permintaan maaf kamu!” umpat seorang wanita yang tengah asik memakan buah apelnya.


“Kalo aku bisa, aku udah pergi aja dari sini, nggak perlu liat muka kamu lagi! SOK POLOS!” tekan wanita itu dan mengunyah buahnya. Ya, wanita itu adalah Audy. Dia telah bekerja sama dengan dokter itu supaya Darren tak dapat menemuinya sampai waktu yang ia inginkan.


“Tapi, apa emang bener ya, kalo Darren sama Carrisa itu kakak adik? Aku rasa nggak mungkin deh, nggak ada mirip-miripnya. Ahhh, bodo amatlah yang penting untuk 3 hari kedepan Darren nggak dateng je sini!” Audy sejenak menatap pahanya yabg sudah diperban, dan meringis perlahan.


“Dasar luka sialan! Kan badan aku jadi pedih-pedih semua! Mana jari kelingking udah nggak ada lagi!” kesalnya.


“Ih, Darren! Pokoknya kau nggak mau maafin kamu sampe luka aku sembuh!” ucapnya dan mengangkat pisaunya dengan geram.


__________*__________


TO BE CONTINUE~~~


Pantes aja Darren nggak ada rasa cinta sama Carrisa. Yang ada cuman rasa sayang dan kekhawatiran, ternyata adik kakak toh🤧😊