PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 20



Darren dengan gusar berbolak-balik di depan ruang pemeriksaan, menunggu kabar akan Audy. Sesekali dia melirik para tenaga medis itu yang tengah fokus pada alatnya.


Drt' drt'


Bunyi getaran ponsel yang berada di dalam saku celana, langsung membuyarkan Darren dari kegusarannya. Dia mengambil gawai itu dan mengklik ikon yang berwarna hijau.


“Halo,” sapa Darren memulai percakapan.


[Halo, Kak. Kakak di mana?] Syaqilla. Syaqilla yang menelepon.


“Lagi, di rumah sakit. Emang kenapa?” tanya Darren.


[Di rumah sakit? Emang siapa yang sakit?]


“Nggak tau, tadi tiba-tiba kak Audy pingsan, terus kakak bawa ke sini deh.”


[Yaudah deh, nanti aku pulang ngampus langsung ke sana ya.]


“Hm.”


Tutt'


Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Darren kembali berbolak-balik tak jelas, dan akhirnya akibat kelelahan, dia mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu.


Cklek!


Pintu ruangan itu terbuka lebar dan menampilkan sosok pria paruh baya yang memakai jaket putih khas dokter.


“Pak, Darren. Bisa ikut saya sebentar?” Darren mengangguk dan mengikuti langakah dokter itu menuju ruangan pribadinya.


“Silahkan duduk, Pak,” ucap dokter itu, dan lagi-lagi Darren hanya mengangguk dan menurut.


“Apa yang terjadi sama istri saya, Dok?” tanya Darren menatap dokter yang masih menulis resep obat.


“Buk, Audy baik-baik saja, tidak ada yang serius dalam kesehatannya. Tapi ….”


“Tapi apa, Dok?” tanya Darren memotong kalimat dokter itu yang menggantung.


“Buk, Audy harus banyak istirahat dan jagakan pola makannya ya, Pak,” jelas dokter itu.


“Tidak. Mungkin dia hanya kelelahan saja. Dan untuk hasil tespeknya, kami belum bisa pastikan kalo pasien tengah hamil. Nanti akan kami konfirmasi lebih lanjut. Ini resep obatnya, Pak.” Dokter itu menyodorkan secarik kertas yang berisikan resep obat yang harus dibelinya.


“Baik, Dok. Saya permisi!” Darren beranjak dari kurisnya setelah mendapatkan anggukan dari sang dokter.


“Pak, ruangan buk Audy, ada di sana ya,” ucap salah satu suster pada Darren dan menunjuk ke arah sebuah ruangan VVIP. Darren hanya membalasnya dengan anggukan singkat, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ruangan yang sudah diberitahukan suster barusan.


Cklek!


Dia memutar knop pintu itu dan menoleh ke arah sebuah brankar dimana terdapat Audy di di sana. Dia melihat Audy yang tengah bermain ponselnya dengan posisi tubuh yang terlentang.


“Sayang,” panggilnya dan mendekati Audy. Audy menoleh ke sumber suara dan meletakkan gawainya di atas nakas.


“Eh, kamu dari mana?” tanya Audy dan mendudukkan tubuhnya.


“Dari ruangan dokter,” jawab Darren dan ikut mendudukkan tubuhnya di samping istrinya.


“Terus dokter bilang apa?” tanya Audy dan menggenggam erat tangan Darren.


“Dia bilang kamu cuma butuh istirahat doang,” jawab Darren lesu dan mengelus-elus puncak kepala istrinya. Audy menunduk lesu dan tersenyum kecut.


“Maaf,” lirihnya dan mencoba menatap wajah Darren.


“Kamu nggak perlu minta maaf. Buat apa? Toh juga ini bukan salah kamu 'kan?” Darren memeluk pinggang Audy dan melendotkan kepala istrinya utu di dada bidangnya.


“Aku yakin pasti suatu hari nanti kamu bakalan hamil kok. Nggak ada salahnya 'kan kalo kita nungu,” ucap Darren menenangkan Audy yang sudah terisak pelan.


Cup!


Satu kecupan hangat mendarat sempurna di pipi mulus Audy. Dia tersenyum ke arah suaminya dan menghapus air matanya yang tersendat berhenti meluruh.


“Ekhem! Nggak ada salahnya juga 'kan kita buat setiap malam? Siapa tau manjur,” goda Darren, dan mencolek-colek pipi chuby Audy.


“Ish! Apaan sih!” kesal Audy pelan dan mencubit perut Darren pelan.


TO BE CONTINUE~~


Masih adakah yang mau baca novel yang sakit mata ini?