
Beberapa minggu kemudian, Audy sudah diizinkan oleh dokter untuk pulang. Dengan dijemput oleh Carrisa dan Alfa, mereka melajukan mobilnya menuju rumah Darren.
“Ren,” panggil Carrisa menepuk bahu Darren yang fokus menyetir.
“Hem.” Darren berdehem dan masih fokus lada jalan yang dilintasinya.
“Kita singgah ke toko bunya yuk!” ajak Carrisa antusias.
“Mau beliin bunga buat kalian dong, kan kalian besok mau nikah,” ucap Carrisa membujuk.
“Yaudah deh ayok,” ucap Darren dan memutar arah mobilnya. Memang, beberapa hari lalu, Darren sudah mengatakan pada Alfa dan Carrisa bahwa dialah yang akan menikahi Audy.
Ada rasa sedikit kecewa pada Alfa pada Darren. Tapi apa boleh buat, mungkin memang Audy tak ditakdirkan untuknya.
Sesampainya di salah satu toko bunga.
“Dy, kamu suka bunga yang kaya gimana?” tanya Alfa dan menoleh ke arah Audy yang sedang menyisir pandangannya ke sekeliling.
“Mm ... aku?” tanya Audy menunjuk dirinya sendiri.
“Iya,” balas Alfa seraya mengangguk kecil.
“Aku ... suka mawar putih,” ucap Audy dan menghampiri deretan-deretan bunga mawar putih yang disusun rapi.
“Oke, aku beli mawar putih,” ucap Alfa dan mengambil dua tangkai mawar putih yang indah serta harum.
“Kenapa ambil 2?” tanya Audy dan mengernyitkan alisnya bingung.
“Ini, buat kamu yang akan pergi. Dan ini, buat seseorang yang akan datang,” ucap Alfa dan tersenyum manis.
“Buat aku?” tanya Audy tak percaya dan mengambil sebuqet bunga itu dari tangan Alfa.
“Siapapun dia orangnya, aku harap dia benar-benar datang tepat di saat waktu yang kusukai.” Alfa menarik lengan Audy menghampiri Darren dan Carrisa yang tengah sibuk memilih bunga, untuk dekorasi pesta.
“Kalian dari mana?” tanya Darren yang sedang sibuk memilih bunga yang dia inginkan.
“Beli bunga,” jawab Audy dan berjongkok di samping Darren. Dia membantu Darren membersihkan bunga yang akan dibeli.
“Oke selesai. Yuk balik!” ajak Darren dan bangkut berdiri dari posisi jongkoknya sedari tadi.
“Kita nggak makan dulu?” tanya Alfa dan merapatkan kedua belah jaketnya. Angin sejuk malam ini, sangat menusuk dan membuat siapapun kedinginan akan ini.
“Nggak usah! Kita makan di rumah aja nanti,” ucap Darren dan melangkahkan kakinya memasuki mobilnya. Audy, Carrisa, dan Alfa mengikuti dan mereka pun melaju membelah jalanan ibukota yang sangat ramai.
Sesampainya di rumah Darren.
Sudah terlihat banyak orang yang berlalu lalang menyiapkan dekorasi pesta. Dekorasi yang bernuansa putih abu-abu cerah itu pun terlihat sangat mewah dan cocok bila disandingkan dengan Darren.
Audy dan Darren berjalan berdampingan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar mereka yang juga sudah dihias dengan rapi.
“Aku mau mandi dulu ya?” pamit Darren dan mengelus singkat puncak kepala Audy. Audy mengangguk dan memalingkan wajahnya ke arah TV jumbo yang berada di hadapanya.
Brak!
Suara dobrakan pintu kamar tampak menggema dan menakutkan. Audy sontak menoleh dan mendapati seorang pria misterius yang menyeramkan.
Kemudian ....
________________________
.
.
.
(Tpi boong🤣🙏)
Pria misterius itu berjalan dengan langkah horor mendekati Audy yang sudah menahan ketakutannya. Dia mencengkram kasur dengan ketakutan yang semakin merajalela.
Dengan sigap, pria itu langsung mengunci tubuh Audy dan menyeret Audy kasar keluar dari kamar itu. Dia berusaha berteriak memanggil Darren yang berada di dalam kamar mandi, tapi tenggorokannya terasa sakit untuk berbicara.
Pria itu menyeret Audy menuruni satu-persatu anak tangga, hingga tak jarang, Audy merasakan sakit dikedua kakinya.
Sesampainya di bawah, begitu terkejutnya Audy bahwa semua orang yang sebelumnya tengah mendekor acara pesta, tumbang tak berdaya dengan darah yang terus mengalir dari tubuh mereka
Audy menatap panik pada pria itu. Pria itu tampak seperti psycopath. Dia memakai masker berwarna hitam, dan pakaian yang serba hitam. Pria itu lebih pantas disebut dengan Vampire, karena memakai jas yang begitu panjang.
Ketika dengan kasar Audy dimasukkan ke dalam sebuah mobil yang berwarna hitam, begitu terkejutnya dia bahwa orany yang telah membuat kerusuhan di dalam rumah Darren adalah ....
“Reyn?” Audy menatap pria itu dengan sendu bercampur takut. Sedangkan, pria yang bernama Reyn itu sudah tersenyum licik bak setan yang berhasil mengelabui musuhnya.
Dengan kecepatan tinggi, mobil itu melaju membelah jalanan ibukota yang terlihat sunyi. Sepanjang perjalanan, Audy hanya diam dan tak berkutik. Dia bingung, di satu sisi, dia senang karena tidak jadi menikah dengan Darren. Di sisi lain, dia sedih meninggalkan Darren yang sudah berharap lebih padanya.
“Sayang, kamu kok mau 'sih nikah sama CEO kamu itu?” tanya Reyn memecah keheningan
“Dia jauh lebih baik daripada kamu!” Sontak Reyn menoleh dan menatap tajam Audy kala mendengar jawaban menyesekkan dari mulut Audy.
“Kok gitu? Bukannya kamu pernah bilang sama aku kalo kamu benci banget sama CEO kamu itu?” Ucapan Reyn ternyata mampu membuat Audy darah tinggi. Tapi dia berusaha tetap tenang dan santai.
“Dulu dan sekarang itu beda!” ucap Audy ketus.
“Nggak Audy, kamu nggak cinta sama CEO itu,” terka Reyn dan tersenyum miring.
“Aku cinta sama dia!” ucap Audy dengan nada yang sedikit meninggi.
“Heh, kamu pikir kamu bisa bohongin aku?”
“Ck!” Audy berdecak kesal dan melipat tangannya di dada. Kemudian, dia menyisir pandangannya ke luar jendela.
____________________
“Audy, kamu ....” Ucapan Darren terpotong kala dia tak melihat keberadaan Audy di dalam kamar.
“Pasti dia kebawah,” terka Darren dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Satu-persatu anak tangga berhasil dia pijak. Dan ketika dia melihat dekorasi pestanya yang sudah kacau balau, dan melihat orang-orang yang sudah berlumuran darah, sontak dia menatap dengan tatapan yang tak bisa ditebak.
Dia melihat satu-persatu orang yang pingsan dan membulatkan matanya sempurna kala Alfa dan Carrisa juga korban dalam kerusuhan ini.
“Ada apa ini! Siapa yang sudah mencari gara-gara denganku?!” teriak Darren dan berlari kecil mendekati tubuh Alfa dan Carrisa yang sudah terkulai lemas.
___________*___________
TO BE CONTINUE~~