
“Aku nggak terima, dan aku nggak percaya. Al, yok ikut aku! Kita selesaikan dan selidiki masalah ini!” ajak Darren pada Alfa. Alfa mengangguk dan keluar dari ruangan itu.
“Sayang, aku pergi dulu ya. Dede bayi, papa pergi dulu ya.”
Cup!
Darren mengecup sekilas dahi Audy dan melangkahkan kakinya mengikuti Alfa yang sudah melangkah.
“Terus gimana dong, Kak?” tanya Syaqila pada Audy yang masih menatap kepergian Darren.
“Huh! Semoga itu nggak akan terjadi, san cuma salah paham doang,” balas Audy dan tersenyum kecut pada Syaqila.
“Kak, aku punya nama yang cocok deh buat dede bayinya.” Tiba-tiba, Syaqila berbicara dan mendekati dede bayi yang masih terlelap dan terhanyut di alam mimpi.
“Siapa?” tanya Audy menatap Syaqila.
“Rendy,” jawab Syaqila antusias dan bertanya lewat mata. Baguskah nama itu?
“Rendy?” tanya Audy ragu.
“Iya Rendy. Rendy itu singkatan dari Darren dan Audy. Keren nggak?” tanya Syaqila meminta pendapat Audy.
“Bagus juga sih, Rendy. Hmm … boleh deh, kita pake Rendy. Tapi … kok kaya nama Reyn gitu, ya kalo manggil Rendy dengan sebutan 'Ren'.”
“Ya jangan dipanggil Ren dong, Kak. Pangilnya lengkap aja, Rendy gitu. Jangan Ren-Ren-an,” ucap Syaqila lagi.
“It's oke. Hmm … andai aja kalo ini anak kandung kami. Pasti kalo namanya Rendy cocok banget,” lirih Audy dan memandangi Rendy dengan intens.
“Ya Kakak anggap aja, Rendy itu anak kandung Kakak. Jangan pernah ingat kalo Rendy dapetnya di kursi taman belakang. Rasakan aja Rendy itu dari rahim Kakak sendiri,” ujar Syaqila lagi mencoba menenangkan Audy.
“Hoek … hoek …!” Rendy terbangun dari tidurnya dan seketika menangis pelan minta digendong. Audy menangkat Rendy dan menenangkan bayi tampan itu, kemudian memberikan dotnya ke mulut Rendy.
“Pasti ni lama-lama mukanya mirip Kak Darren. Liat aja nanti,” ungkap Syaqila dan menoel-noel pipi gembul Rendy.
Rendy tertawa menampakkan dua buah lesung pipi di kanan dan kirinya.
“Ihhh, gemesh banget liat lesungnya,” ucap Syaqila girang dan semakin mencubit pipi gembul Rendy yang terus saja tertawa.
“Lucu banget,” tambah Audy dan mencium sekilas pipi Rendy.
* * *
“Aku nggak percaya kalo perusahaan disita karena hutang. Aku nggak pernah berhutang di Bank. Bahkan, ke Bank saja enggan kalo bukan karena tranfer duit,” ujar Darren yang fokus menyetir menatap tajam siapapun yang melintas di hadapannya.
“Ini pasti ada yang nggak beres. Aku yakin, ini ulah Aldi. Kita bakal cari bukti itu seecpatnya. Jangan sampai masalah ini belum selesai dalam waktu satu minggu,” gumam Alfa mengajukan pendapat.
Alfa mengangguk dan mengambil ponselnya, dan mencari name contact Reyn untuk dihubungi. Tampak Alfa yang sudah mulai berbicara pada orang yang berada di seberang telfon. Entah apa yang dibicarakan, intinya Alfa meminta Reyn untuk ikut menyelidiki kasus ini.
“Gimana? Reyn mau?” tanya Darren. Alfa mengangguk dan menoleh ke arah Darren yang mulai bisa bernapas lega, karena Reyn mau membantunya. Ya, memang hubungan mereka semakin membaik semenjak Reyn mengikhlaskan Audy menikah dengan Darren.
“Kita ke kantor,” ucap Darren dan menambah laju mobilnya, tapi masih dalam batasan normal.
Sesampainya mereka di kantor Darren. Tampak ramai dengan karyawan-karyawan Darren yang tengah beradu mulut dengan pihak bank.
Darren dengan cepat mendekati kerusuhan itu dan dengan satu teriakan, semua terdiam memaku di tempat.
“Cukup! Masik adakah urat malu kalian?!” teriaknya dan berdiri di tengah keramaian itu.
“Dimana Aldi?!” bentak Darren pada Bayu—tangan kanannya.
“Itu dia, Pak. Kami sudah mencari Pak Aldi. Tapi Pak Aldi nggak ada di mana-mana. Bahkan kami sudah mendatangi rumahnya, tapi nihil. Tidak ada apa-apa di dalam rumahnya,” ucap Bayu seraya menunduk tak berani menatap Darren.
“Siapa yang berhutang pada kalian?!” bentak Darren lagi. Kali ini dia berbicara oleh salah satu pihak bank.
“Atas nama, Darren Anderson J. Apakah itu Bapak?” tanya pihak bank itu seraya membuka sebuab map, yang berisi surat-surat penting perhutangan.
“Apa? Saya tidak berhutang pada kalian! Kalian pikir saya orang miskin?!” Lagi-lagi, Darren membentak semua pihak bank itu. Kini, matanya sudah menyala-nyala menunjukkan semburat kemarahan yang tiada tara.
“Sekarang, kalian semua pergi dari sini!” perintah Darren pada pihak bank itu lagi.
“Maaf, Pak. Bapak dan karyawan Bapak yang harus pergi dari sini. Ini sudah menjadi milik kami,” bantah salah satu pihak bank wanita itu.
Bugh!
Tanpa diduga-duga, Darren membogem wanita itu, hingga wanita itu tersungkur di atas tanah.
“Saya bilang pergi!” Darren merebut map perjanjian perhutangan itu dan merobeknya di depan para pihak bank yang malah terpaku.
“Saya akan selesaikan! Kalian nggak berhak mengambil hak saya! Apa kalian masih punya fikiran?!” teriaknya.
“Sekarang kalian pergi dari sini!” Satu bentakan exstra kembali terdengar nyaring di telinga. Semua pihak bank itu pergi dengan menunduk malu.
Mereka meninggalkan Darren dan karyawan-karyawannya yang masih terpaku.
“Kalian kenapa diam? Sana! Kerjakan tugas kalian! Masalah dianggap selesai. Biar saya yang mengurus ini semua dengan Reyn. Kalian kerjakan tugas kalian!” tegas Darren pada seluruh karyawannya.
“Baik, Pak.” Mereka semua memasuki kembali kantor itu dan menduduki tempat mereka masing-masing dengan perasaan lega. Bagaimana tidak? Hampir saja mereka kehilangan pekerjaan yang sangat-sangat dibutuhkan oleh masing-masing karyawan. Apalagi, ada yang sudah berumah tangga. Pasti mereka sangat membutuhkan pekerjaan itu. Dan beruntungnya mereka mempunyai CEO seperti Darren. Bijaksana, dan tegas.
To be continue~