PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 10



Darren melajukan mobilnya dengan brutal dan menuju ke sebuah rumah sakit dimana Carrisa tengah dirawat.


“Audy! Bre*gsek! Aku membencimu!” teriaknya dan memukul setiur mobilnya kasar.


Dia memasuki rumah sakit itu dengan langkah besar sbari dengan raut wajah yang sudah memerah menahan emosi. Dia memasuki ruangan Carrisa dan menatap gadis itu sendu.


“Carrisa, apa kabarmu? Kenapa kau belum juga sadar dari tidur panjangmu?” tanya Darren dengan sendu seraya mengusap dahi Carrisa yang sudah mendingin.


Dia menumpahkan kembali air matanya dengan menyembunyikan wajahnya di lengannya yang diletakkan di bangsal Carrisa.


“Audy jahat, Ca! Audy jahat!” ucapnya dengan isakan tangis.


“Dia jahat! Dia jahat!” gumamnya lagi. Oh, sungguh Darren malang sekali nasibmu.


“Carrisa, ayolah bangun! Aku merindukanmu ... ayolah buka matamu!” lirihnya lagi. Dia mencoba mengangkat kepalanya yang terasa berat akibat pusing yang tiada mereda.


“Darren.” Darren sontak menoleh pada suara yang menyebut namanya. Dia mengenggam erat tangan Carrisa dan mulai tersenyum menyambut Carrisa yang entah dari alam mana.


“Dokter!” teriak Darren.


“Nggak usah panggil dokter, aku baik-baik aja,” gumam gadis itu dan mencoba untuk tersenyum. Kini, air mata yang sedari tumpah, dan sempat berhenti, malah kembali menggenang di pelupuk mata Darren kala ia melihat senyum simpul yang terbit dari wajah Carrisa.


Dia menatap Carrisa dengan air mata yang meluruh begitu terasnya membasahi pipinya. Carrisa mengernyitkan alisnya dan mencoba menyentuh wajah Darren.


“Kamu kenapa?” tanyanya dengan suara yang hampir tak terdengar di telinga Darren.


“Gimana pernikahan kamu sama Audy?” tanyanya lagi dan tersenyum manis pada Darren. Darren menggeleng kecil dan benar-benar sudah menangis.


“Why?” tanya Carrisa.


“Dia pergi ... dan di bawa oleh mantan pacarnya,” jawab Darren.


“Dia tidak mencintaiku,” sambungnya.


Perlahan Carrisa megusap air mata Darren yang semakin menderas dan menyesakkan dada.


“Dia akan mencintaimu,” lirih gadis itu mencoba memberi sedikit tumpuan oada Darren yang terlihat rapuh.


“Dia bahagia bersama pria itu.” Darren semakin mengeratkan genggamannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Carrisa yang mulai menghangat.


“Haruskah aku benar-benar menjadi psycopath untuk menghukumnya?” tanya Darren.


“Tidak perlu. Kau tidak perlu menghukumnya, dan tidak perlu menjadi psycopath. Cukup jadi dirimu sendiri.” Gadis yang berada di hadapannya ini memang sangatlah kuat. Dia rela memahan tangisannya demi memberi semangat dan tumpuan pada Darren. Walaupun sesekali, gadis utu kesulitan untuk menahan air matanya.


Darren mengangkat kepalanya dan menatap wajah Carrisa yang terlihat pucat. Dia megelus sayang dahi Carrisa dan mencoba untuk tersenyum walaupun terasa sulit.


“Ayolah Darren! Jangan menyerah untuk mendapatkannya. Aku yakin bahwa kau bisa membuatnya jatuh cinta padamu,” ujar Carrisa memberikan dukungan pada Darren.


Jangan kalian tanya perasaan Carrisa terhadap Darren. Jelas-jelas dia masih mencintai Darren. Bahkan masih sangat mencintai pria itu.


“Aku akan berubah menjadi psycopath untuk membuatnya derita. Selama ini, orang-orang mengatakanku psycopath, dan hari ini, aku akan menjadi psycopat sugguhan!” ucap Darren dengan antusias.


“Darren, kau tidak perlu menjadi psycopath, sudah kubilang!” tekan Carrisa dan menatap sendu pada Darren.


“Benarkah begitu? Apa aku tak boleh menghukumnya dengan membuatnya menderita?” Pertanyaan Darren sukses membuat Carrisa tercenung dan terdiam kaku.


“Tidak perlu, Darren. Aku tau kau sangat mencintainya. Dapatkan cintanya dan kembalilah ke sini dengan membawakan keponakan untukku,” ujar Carrisa dan terkekeh pelan.


“Pergilah, dan kembalilah jika kau sudah benar-benar memilikinya.” Tanpa sadar, gadis itu menangis dan membuat Darren menatapnya bingung.


“Kamu kenapa nangis?” tanya Darren dan mengusap pelan air mata Carrisa. Gadis itu mengerjapkan matanya dan memepiskan tangan Darren lalu mengusap air matanya.


“Aku nggak nangis!” bela gadis itu dengan suara parau.


“Aku tidak akan pernah menemuinya lagi, dan tidak akan berharap akan cintanya lagi,” ucap Darren dengan bola mata amarah.


“Aku pergi sebentar. Aku mau liat gimana keadaan Alfa sekarang!” pamit Darren dan mengecup sekilas dahi Carrisa.


“Kenapa kamu selalu bersikap manis padaky kalo kamu nggak bisa balas rasa cintaku?” monolog gadis itu dan menumpahkan air matanya.


* * * 1 jam kemudian.


Audy POV*


Saat ini, aku dan Reyn tengah berada di sebuah restorant mewah yang berada di sala satu pusat ibukota. Entah kenapa Reyn membawaku ke sini.


“Reyn, sebenarnya kamu mau ngapain 'sih bawa aku ke sini?” tanyaku dan menatap Reyn yang sedari tadi tak mau mengalihkan pandangannya hingga membuatku sedikit risih.


“I'ts oke.”


“Aku mau ke toilet dulu ya. Kamu tunggu di sini jangan kemana-mana,” peringat Reyn dan aku mengangguk.


Tak berapa lama, datanglag seorang pelayan dengan membawa sebuqet bunga mawar merah mendekat ke arahku.


“Permisi! Apa benar mbak ini yang bernama Audy Mahira?” tanya pelayan itu, dan hanya kubalas dengan anggukan kecil dan ernyitan alis.


“Ada titipan dari seseorang. Saya permisi!” Pelayan itu meletakkan buqet bunga itu di atas meja dan berlalu pergi.


Aku mengangkat bunga utu dan ternyata terdapat secarik kertas di sana. Aku membuka kertas itu dan membaca sepenggal kata di dalamnya.


Isi surat:


Hey kamu! Tahukah kamu bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Kemarilah! Akan kuberitahu nanti!


Aku mengernyitkan alis bingung dan membolak-balikkan kertas itu berusaha untuk mendapatkan nama pemberi buqet ini.


“Mbak, permisi! Ada titipan dari seseorang.” Orang itu meletakkan kotak coklat yang berbentuk love dengan ukuran yang lumayan besar. Lagi-lagi, terdapat secarik kertas di sana.


“Apa Reyn mau ngerjain aku?” monologku.


Isi surat:


Hey, kemarilah! Aku menunggumu di taman restorant ini!


“Ck, niat banget 'sih Reyn ngelakuin ini!” kesalku dan mulai mengangkut semua barang-barangku yang berada di atas meja. Termasuk jiga dengan sebuqet bunga dan coklat dari Reyn. Tak lupa, aku juga mengambil dompet dan handphone Reyn yang sengaja ditinggalkannya.


“Bilangnya mau ke kamar mandi! Nggak taunya malah mau ngerjain! Huh!” Dengan kesal, alu berjalan tergesa-gesa menuju taman restorant ini yang berada di halaman belakang.


Sesampainya aku di taman, aku menduduki sebuah bangku dan ternyata tak ada keberadaan Reyn di sana.


“Ck! Reyn kemana 'sih?!” sungutku kesal.


“Permisi, Mbak. Ada titipan dari seseorang,” ucap seorang pengangkut sampah yang baru saja selesai dengan pekerjaannya.


Dengan kesal, aku mencari-cari secarik kertas siapa tau aja ini seperti bunga dan coklat sebelumnya. Setelah lama aku membolak-balikkan boneka itu, tapi nihil. Tidak ada apa-apa di dalam boneka itu.


“Menyebalkan!”


Aku meremas-remas boneka itu dan langsung menjatuhkannya kala aku mendengar bahwa boneka itu bisa berbicara.


'Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu'


“Huh, dasar Reyn bucin!” kesalku.


Ting'


Satu notif pesan masuk ke ponselku. Buru-buru aku membukanya dan membaca pesan dari kontak yang tidak ku kenal.


Isi pesan:


Pergilah ke tempat parkir, aku ada di sana!


“Omg, apa lagi ini? Menyebalkan!


Tapi tunggu! Handphone Reyn ada sama aku. Terus Reyn pake handphone siapa?


“Alah, bodo amat!” Aku berjalan menuju parkiran dengan membawa barang-barang yang kuduga dari Reyn.


Sesampainya aku di parkiran, aku juga tak dapat menemukan Reyn.


“Ihh, dimana 'sih!”


“Cari siapa?” tanya seseorang yang membelakangi tubuhku.


“Permisi! Mas ada liat cowok ya—” Gelap. Aku sudah tak tau apa-apa lagi.


__________*__________


~TO BE CONTINUE~~~


Bagaiman part yang ini, guys?😄...