PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 6



“Audy,” panggil Darren dan menggenggam kedua tangan Audy yang masih terasa dingin.


Audy menatap lekat wajah Darren dan tanpa sadar, dia menitikkan satu bulir air mata hangat yang mengalir pelan di pipinya.


“Maafkan aku,” lirih Darren dan menjatuhkan kepalanya di sisi bangsal. Lagi-lagi, Audy masih bergeming dan sudah tak lagi menatap Darren.


Perlahan, dia memejamkan matanya dan menetralkan aturan nafasnya yang terasa sesak.


“Aku akan menjagamu mulai dari sekarang,” ucapnya lagi.


“Aku mau pulang,” rengek Audy memecahkan tangisnya.


“Aku nggak mau sama kamu,” sambungnya dengan tangis yang semakin tak mau mereda.


Darren menatap Audy sendu. Dia mengelus lembut kepala Audy dan menciumi dahinya. Satu tetes air mata terasa menjatuhi dahi Audy. Dia menatap lekat manik mata Darren yang terlihat sayu.


Ada sedikit rasa iba dan haru ketika melihat mata sayu itu, pancaran kekejaman Darren telah sirna hingga membuat Audy merasa serba salah untuk meninggalkan Darren.


“Kau akan menikah,” lirih Audy masih dengan isakan tangis. “Biarkan aku pergi,” sambungnya dan menggenggam erat telapak tangan Darren yang juga menggenggamnya.


“Sebentar lagi kau akan memiliki seorang istri untuk menemanimu. Kau tidak membutuhkanku lagi pasti.”


“Bagaimana jika aku akan menikahimu?” tanya Darren pelan berusaha tetap tegar dan tak terlihat lembek di depan Audy.


Audy sontak terdiam dan menatap Darren tak percaya. Ia tahu, bahwa Darren menikahinya hanya sekedar untuk membalas rasa bersalah karena telah berlaku semena-mena padanya.


Audy menggeleng seraya berkata, “Aku nggak mau kamu nikahin aku cuman karena kasihan dan rasa bersalah kamu ke aku. Aku nggak sama sekali nyalahin kamu. Apa yang udah kamu pilih, itulah tanggung jawabmu,” ujar Audy di tengah isakan tangisnya.


“Darren, Audy,” ucap seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu.


“Apa keadaanmu membaik?” tanya Alfa pada Audy dan mendekati bangsalnya sembari menatap Audy datar.


Audy mengangguk merespon pertanyaan Alfa yang menurutnya sama sekali tak penting.


“Darren, aku mau ngomong berdua sama Audy. Bisa 'kan?” Darren dengan ragu mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan meninggalkan Audy dan Alfa.


“Dy,” panggil Alfa dan menggenggam erat tangan Audy. Audy yang sedari tadi menatap Alfa pun mengerjapkan matanya menunggu kata-kata selanjutnya yang akan terlontar dari mulut Alfa.


“Aku mohon ... menikahlah denganku, aku janji akan mencintaimu dengan tulus. Sekarang, ataupun nanti,” ucap Alfa tulus.


“Tapi aku sama sekali tidak mencintaimu, Al. Bahkan mengenalmu saja itu sangat baru sekali,” balas Audy. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara. Ingin rasanya berteriak, tapi apalah daya, berbicara saja sulit.


“Aku akan menunggu!” tekan Alfa dan semakin mengeratkan genggamannya pada Audy.


“Aku akan menunggu sampai kau mencintaiku, Audy,” sambungnya parau.


“Keluar lo!” ketus Darren pada Alfa. Alfa menarik nafasnya jengah dan beranjak keluar dari ruangan.


“Alfa ngomong apa sama kamu?” tanya Daren yang sudah menatap dengan seringai menakutkan.


“Nggak penting,” ucap Audy.


“Kita akan menikah.” Satu kata yang terlontar dari mulut Darren membuat Audy terdiam lesu.


“Aku ....”


“Bukan kau dan Alfa. Melainkan kau dan aku!” ucap Darren tegas. Audy spontan menatap intens wajah Darren dan melongo mematung tak percaya.


“Lalu Carrisa?” tanya Audy parau. Tenggorokannya terasa tercekat akibat saliva yang sulit untuk ditelan.


“Aku mencintaimu, bukan Carrisa!” tekan Darren menatap Audy tajam.


“Lalu kenapa kau ingin menikahi Carrisa jika kau tidak mencintainya?” tanya Audy.


“Aku berharap kau mendapatkan pria yang benar-benar pantas untukmu. Dan Alfa 'lah orangnya. Dia yang pantas memilikimu, bukan aku. Aku menikahi Carrisa hanya demi bisa perlahan mengikhlaskanmu,” jelas Darren dengan sendu.


“Aku tak bisa membohongi perasaanku bahwa kaulah yang akan selamanya menjadi orang yang kucintai.” Kata-kata mutiara yang sedari tadi dilontarkan oleh Darren, justru dianggap hanyalah BULSHIT semata oleh Audy.


Sejujurnya, dia sangat membenci Darren, tapi dia tepiskan rasa benci itu mengingat bahwa benci dan cinta hanya berbeda tipis.


“Aku ngantuk,” ucap Audy dan memejamkan matanya.


“Audy, sebagai hukuman, kau akan menikah denganku. Jangan dipaksakan, ikhlaskan saja, bahwa akulah takdirmu.”


Audy membulatkan matanya kala Darren berucap demikian. Dia menatap Darren yang sudah tersenyum jahil padanya.


“Hukuman atas kesalahan apa?” tanya Audy membela diri.


“Hukuman karena kau sudah beraninya selama 10 jam tak membuka matamu dan membuatku khawatir,” jelas Darren yang membuat Audy menggeram marah.


Kemudian, dengan kesal dia menutup matanya dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa ingin remuk. Darren tersenyum tipis dan mencium dahi Audy.


“Have a nice dream, calon istri,” bisiknya di telinga Audy dan terkekeh pelan.


____________________________


~TO BE CONTINUE~~