
Darren membuka matanya perlahan dan celingukan seperti orang yang kebingungan. Dia berusaha menetralkan pandangannya yang sempat kabur akibat kepala yang terasa nyeri.
“Awh, aku dimana?” tanyanya entah pada siapa. Kemudian, dia beralih menatap botol-botol bir yang sudah berceceran di lantai.
“Audy,” lirihnya dan mengambil sebotol bir lalu meneguknya hingga tandas. Setelah puas, dua mencoba untuk bangkit berdiri.
Tapi tak semudah itu. Dengan sempoyongan dan langkah gontai, dia memasuki kamar mandi yang terasa aneh di matanya.
“Ahk! Sial! An*ing! Ba*g*at! Siapapun lo yang udah ambil Audy dari gue ... cukup tau aja, kalo lo nggak akan sepamat di tangan gue!” ucap Darren horor. Dia menatap taham cermin yang berada di hadapannya dan memukulnya dengan keras.
Buku-buku tanganya kini sudah terluka dengan darah yang terus berceceran di lantai kamar mandi itu. Dengan nafsu dan rakus, dia menghisap darah itu dan tersenyum bak Vampire.
“Aku akan mengambilmu kembali dari si br*ng*ek itu, Audy. Tenanglah dulu,” monolognya.
Kemudian, dai berdiri di bawah shower dengan nafas yang nai turun. Matanya sudah sangat memerah akibat emosinya yang tak mau mereda.
Setelah beberapa lama dia membersihkan diri, buru-buru dia mengenakan pakaiannya yang kali ini sangat berbeda dari sebelumnya.
Darren yang dulu selalu berpakaian kantor kemana pun dia pergi, kali ini terlihat berbeda. Dia mengenakan kaos berwarna hijau toska, celana jeans berwarna hitam, dan jaket hodiee yang berawarna senada dengan celananya.
Dia sangat tampan memakai pakaian seperti itu. Pakaian yang cocok dengan usinya yang memang masih 23 tahun.
Dengan tergesa-gesa, dia menuruni anak tangga dan mengambil kunci mobilnya yang sempat dia lempar asal di sofa ruamg tamu. Kala itu, dia masih dalam keadaan sadar.
Darren membuka garasi mobilny dan mulai mengemudikan mobilnya. Perlahan, dia mengeluarkan mobilnya dari pagar rumah dan kemudian menancap gas ketika sudah berada di jalan besar.
“Sabarlah, Audy. Aku akan menmukanmu dan tidak akan ada orang yang bisa membatalkan pernikahan kita.
“Carrisa? Gimana sekarang keadaan Carrisa? Enggak Darren. Kau harus menyelamatkan Audy dulu. Tapi ... bagaimana dengan Carrisa? Ah, sudahlah! Di sana banyak dokter yang menjaga Carrisa.”
“Sekarang, bagaimana caranya aku menemukam Audy,” monolognya lagi. Pria itu tampak khawatir sekali dan terlihat sangat kacau walaupun dengan stylenya yang rapi.
“Rumah Audy. Iya, aku akan mencari ke sana,” ucapnya antusias dan mulai melajukan lagi kecepetan mibilnya.
Setelah dia berada di kompleks perumahan Audy, dia langsung mengarahkan mobilnya menuju rumah Audy. Dan tak butuh waktu lama, dia sudah sampai di sebuah rumah yang terbilang besar, yang tak lain adalah rumah Audy.
Darren melangkahkan kakinya dan mendekati pintu utama rumah itu. Tak ada sahutan.
Tok' tok' tok'
Lagi-lagi, tak ada sahutan dari dalam. Darren mencoba mengintip dari kaca jendel dan mulai memanjat demi bisa masuk ke dalam.
“Maling! Maling!” Sontak Darren menegapkan tubuhnya kala dia mendengar orang mengatakannya maling.
“Maaf, Pak. Saya bukan maling,” bela Darren dengan panik.
“Alah, mana ada maling yang mau ngaku!” kukuh pria itu dan langsung mencekal pergelangan tangan Darren.
“Maaf, Pak. Tapi saya memang bukan maling. Bapak bisa lihat kartu nama saya,” ucap Darren dan mengeluarkan dompetnya dan kemudian, menarik sebuah kartu yang bertuliskan biodata Darren.
“Eh, tunggu, Pak!” cegah Darren. Dia berlari kecil mendekati bapak-bapak yang menoleh ke arahnya.
“Ada apa?” tanya bapak itu.
“Ini bener rumahnya Audy Mahira 'kan?” tanya Darren ragu.
“Iya, ini bener rumahnya Audy. Tapi sudah beberapa bulan ini, Audy tak pernah lagi ke sini. Dia pergi entah kemana,” jawab Bapak itu.
“Owh, gitu ya. Yaudah makasih atas infonya, saya permisi!” pamit Darren dan berjalan ke arah dimana mobilnya terparkir.
Dia kembali melajukan mobilnya kali ini tak tentu arah. Sebab, dia benar-benar bingung kemana dia akan mencari Audy.
Hingga akhirnya, dia berhenti di salah satu restorant bintang lima yang sering ia kunjungi jika ingin menenangkan diri.
Darren memasuki Resto itu dan mendudukkan tubuhnya disofa yang menurutnya nyaman untuk menenangkan fikirannya yang kalut.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.15. Artinya, hari sudah malam dan dia belum menemukan Audy. Dia menangkupkan tangannya di wajahnya tanda menyerah, hingga akhirnya suara seorang pelayan mengalihkan pikirannya.
“Mau pesan apa, Pak?” tanya pelayan itu.
“Hot Cappucino,” jawab Darren tanpa menatap pelayan itu.
Dia kembali fokus oada pikirannya dan masih mengingat-ngigat kemana kira-kira Audy pergi.
Pesanan datang. Darren mengambil segelas Cappucino itu dan meneguknya denga perlahan. Setidaknya, pusing di kepalanya sedikit berkurang.
Dengan rilkes, dia melendotkan punggungnya di kepal sofa itu dan mulai menyisir pandangannya ke sekeliling Resto yang terlihat ramai.
Hingga pandangannya terhenti pada satu titik pusat yang membuatnya mematung seketika. Dia melihat Audy yang tengah bergandeng mesra dengan seorang prai yang tak lain adalah Reyn.
Dengan perlahan, dia mengambil lagi segelas cappucinonya dan meminumnya hingga tandas. Senyum getir telah tergambar jelas di wajah Darren. Dengan nafas yang naik turun dan air mata yang sudah menggenang, dia berjalan perlahan keluar dari restoran itu setelah sebelumnya meletakkan selembar uang di atas meja.
Setelah dia berada di luar restorant tersebut, dia kembali menatap dua orang yang terlihat becanda ria dengan riangnya mereka tertawa.
Darren memasuki mobilnya dan mulai melajukannya dengan brutal. Di menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu menjatuhkan kepalanya di stiur mobil itu.
Terdengar isakan pelan yang menyayat hati siappun yang mendengarnya. Darren menangis, dengan nafas yang sulit terkontrol.
“Benarkah kau tidak mencintaiku, Audy,” lirihnya di tengah isakan tangisnya. Hingga bulir demi bulir air mata jatuh tanpa permisi.
“Ahk ...!” teriaknya dan meluapkan segala emosinya. Sudahlah, ikhlaskan saja Audy. Masih ada Carrisa yang membutuhkan cintamu.
__________*__________
~To be continue~~