PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 23



Darren menoleh ke arah Alfa yang sedari tadi hanya menatap pertengkaran utu dengan datar, karena toh dia tak berhak melakukan apa-apa selain membantu Darren menyelidiki otak dalam kasus ini.


Tin'


Tak berapa lama, sebuah mobil lamborgini abu mendekati keduanya dan berhenti rapi di halaman luas kantor itu. Seorang pria bertubuh kekar keluar dari dalam mobil itu dan berjalan menghampiri Darren dan Alfa.


“Apa yang terjadi?” tanya Reyn menatap bergantian Darren dan Alfa.


“Ceritanya panjang. Kita bicara di ruangan aku aja,” usul Darren dan melangkahkan kakinya memasuki kantor, kemudian menaiki lift, menuju ruangan kerjanya.


Dia mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya, sedangkan Alfa dan Reyn, menduduki dua buah kursi yang berhadapan dengan Darren.


Kemudian, Darren menceritakan semuanya sedetail mungkin, mulai dari dia mendapatkan infirmasi itu dari kedua anak buahnya, hingga dia mengusir para pihak bank dengan kasar.


“Oke, kita akan selidiki masalah inu se-detail-detailnya. Tapi ingat! Jangan menuduh Aldi dulu, sampai kita menemukan bukti yang kukuh untuk menjerumuskan Aldi ke dalam jeruji besi,” ucap Reyn menatap serius wajah Darren. Darren mengangguk setuju dan mencari dokumen-dokumen aset perusahan di dalam laci meka kerjanya.


“Ada?” tanya Alfa menatap Darren yang sedikit tercenung.


“Jelas aja nggak ada! Semua dokumen itu ada di pihak bank,” jawab Darren dan kembali emosional.


Dia memukul meja itu dengan punggung tangannya menimbulkan suara yang sangat memekakkan di indra pendengaran.


“Kita liat rekaman CCTV,” ucap Darren dan beranjak dari kursinya, berjalan menuju ruangan TU. Alfa dan Reyn mengikuti langkah lebarnya.


* * *


“Ish, Kak Alfa. Lama banget, sih. Aku udah ngantuk,” rengek Syaqila dan menjatuhkan kepalanya di atas brankar. Dia membiarkan rambutnya ditarik-tarik pelan oleh Rendy.


Tak lama kemudian ….


Cklek!


“Sya, yuk kita pulang,” ajak Alfa yang baru saja masuk bersama Darren. Dia membangunkan Syaqila yang ternyara sedang tertidur bersama dengan Audy dan Rendy.


“Eugh!” lenguh Syaqila dan mengangkat kepalanya menatap Alfa yang berdiri membangunkannya.


“Ayo, pulang!” ajak Alfa dan mengusap kepala Syaqila sekilas. Syaqila mengangguk dan dibantu Alfa berdiri.


“Kak, kami pulang dulu, ya. Rendy, tante pulang dulu,” pamit Syaqila dan menoel sekilas pipi Rendy yang juga ikut terbangun.


Alfa dan Syaqila pun pergi meninggalkan Darren dan Audy beserta dengan Rendy.


“Nama debaynya Rendy, Yang?” tanya Darren sembari mendudukkan tubuhnya di dekat Audy duduk.


“Iya. Syaqila yang kasih nama. Katanya Rendy itu singkatan dari Darren dan Audy,” jawab Audy.


“Iya juga, sih. Rendy doang?” tanya Darren seraya memainkan tangan mungil Rendy yang menggenggam jari telunjuknya.


“Aku belum pikirin nama panjangnya,” balas Audy dan melendotkan kepalanya di dada bidang Darren.


“Aku punya nama buat Rendy,” ucap Darre antusias. Audy menatap Darren seketika menunggu perkataan selanjutnya.


“Apa?” tanyanya.


“Rathan Alfarendy Anderson J.”


“Kok ada Alfanya?” tanya Audy mengerutkan alisnya.


“Ya, nggak papa dong. Nggak dipanggil Alfa juga 'kan? Dipanggilnya kan Rendy,” balas Darren. Audy mengangguk menyetujui dan tersenyum singkat.


“Semoga, dengan hadirnya Rendy, kamu bisa hamil ya, Sayang,” ucap Darren mengelus lembut rambut Audy yang sedikit berantakan.


“Iya, Aamiin.”


Seorang dokter baru saja memasuki ruangan Audy. Dia menyapa Darren dan Audy, kemudian menatap Rendy dengan bingung. Pasalnya, dia tidak tau bahwa Audy dan Darren sudah mempunyai anak.


“Ini … anak Bapak, ya?” tanya dokter itu, dan menatap Darren menunggu jawaban. Darren mengangguk mengiyakan pertanyaan dokter itu.


“Tapi bukan anak kandung,” balasnya.


Dokter itu tampak mengangguk-angguk dan mulai memastikan kembali akan kondisi Audy saat ini. Karena Audy sempat mengatakan bahwa dia tak tahan berlama-lama untuk menginap di rumah sakit. Maka dari itu, tadi Darren konsultasi oleh tim medis, untuk memeriksa kondisi Audy yang tampak jauh lebih baik dari sebelumnya.


“Besok, Buk Audy sudah boleh pulang, ya,” ucap dokter itu menatap Audy yang tersenyum senang mendengar penuturan sang dokter.


Setelah mengucapkan itu, dan memberikan secarik kertas yang berisikan nama vitamin untuk Audy, dan harus dibeli oleh Darren, dokter itu berlalu meninggalkan Audy dan Darren yang saling berpandangan sedari tadi.


“Ekhem! Sebentar ya, Sayang. Aku mau ke apotek dulu, mau ambil obatnya,” pamit Darren, dan diangguki oleh Audy.


Darren keluar dari ruangan itu dan berjalan menyusuri lorong-lorong koridor rumah sakit itu menuju ke sebuah apotek, yang sangat jauh dari ruangan Audy. Dengan secarik kertas yang ia genggam sedari tadi, dia terus berjalan dengan yakin, walaupun sedari tadi banyak orang yang menatapnya kagum.


Sesampainya dia di apotek itu, dia langsung memberikan secarik kertas yang ada di tangannya pada apoteker yang seketika menyapanya ramah. Tak butuh menunggu waktu lama, beberapa jenis vitamin sudah berada di dalam kantung plastik dan disodorkan oleh apoteker itu pada Darren.


Darren kembali berjuang melangkahkan kakinya meninggalkan apotek itu yang masih ramai akan pengunjung. Ya, tentunya sebelum dia pergi, dia sudah membayar obat itu.


“Au, kamu mau ke mana?” tanya Darren menatap Audy bingung. Pasalnya Audy tengah bersiap-siap menyusun pakaiannya ke dalam koper seraya menangis tersedu-sedu.


Audy hanya membalas pertanyaan Darren dengan gelengan, dan terus menangis. Apa yang terjadi? Tentu saja Darren bingung. Dia sama sekali tidak tau apa yang terjadi pada Audy.


Setelah wanita itu siap untuk berangkat, dia menggendong Rendy yang sebelumnya sudah terlelap, tapi terbangun kembali kala tanpa sadar, Audy menjatuhkan beberapa barang dengan emosional.


“Au, kamu mau pulang? Kok nggak nunggu aku, sih? Terus kamu kenapa namgis, ha?” Pertanyaan bertubi-tubi Darren ternyata semakin memperburuk suasana. Audy menatap tajam Darren dan mengusap air matanya kasar.


“Ih, aku jijik sama kamu Ren, sumpah,” lirih Audy di tengah isakan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.


Darre mengernyitkan alisnya bingung dan semakin pusing dengan apa yang terjadi saat ini. Audy mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Kebetulan memang Darren telah membayar semua biaya administrasi, sehingga Audy dengan mudahnya keluar dari rumah sakit itu.


Prak' prak' prak'


Suara derapan lengkah kaki dengan larian kecil sangat jelas terdengar di indra pendengaran. Audy menghentikan langkahnya kala satu buah teriakan memanggil namanya dengan lantang.


Darren mendekati istrinya itu dan mengambil alih tas yang dibawa olehnya. Kemudian, dia memasukkan tas itu ke dalam mobil bagian belakang dan menatap Audy menunggu jawaban.


“Kamu kenapa? Kalo ada masalah, kamu cerita sama aku, Sayang. Nggak perlu kaya gini,” ucap Darren lembut, seraya menangkupkan tangannya di wajah Audy yang telah basah akan air mata dan keringat yang bersatu.


“Kamu juga kenapa nangis? Kita bicara baik-baik bisa 'kan?” Darren menarik lengan Audy memasuki mobilnya. Kemudian dia mengitari mobil itu menuju ke sebelah kanan dan menduduki kursi pengemudi.


Dia menatap Audy yang masih diam dalam pemikirannya yang seakan hanyut dalam ucapan-ucapan wanita itu. Wanita yang mengambil paksa senyuman dan kebahagian yang baru saja menghampirinya.


“Kenapa? Sini kamu cerita dulu sama aku. Kalo kamu diam kaya gini, gimana masalahnya mau selesai? Memangnya aku ada salah?” tanya Darren lagi, dan menghapus wajah Audy yang masih basah akan air mata.


“Udah, kamu nggak usah pura-pura nggak tau. Kamu pikir aku bodoh?” tutur Audy yang masih terisak tak berkesudahan. Dia menatap suaminya itu sendu, membuat hati Darren perih dan sakit melihat wanitanya seperti itu.


“Salah aku apa? Kamu bilang dong, jangan kaya gini,” ucap Darren lagi dengan lembut. Dia menatap Audy yang kini sudah tak lagi menatapnya, melainakan ke seberang jalan yang ramai akan orang yang berlalu lalang.


“Kenapa kamu nikahin aku kalo kamu mau ngelakuin itu, ha?” tanya Audy lagi. Tenggorokannya tercekat hebat, membuat setiap kata-katanya menyamar, tak terdengar begitu jelas di telinga Darren.


“Ngelakuin apa? Kamu jelasin dong, salah aku apa, biar kita bisa nyelesaiin masalah ini pake cara baik-baik!” ucap Darren lagi, kali ini dengan nada yang sedikit meninggi, akibat kesal akan Audy yang seperti anak kecil.


“Mungkin ini kamu, dan semua orang yang tau, menganggap masalah ini sepele. Tapi kamu tau 'kan aku ini cengeng, dan lemah. Aku nggak bisa punya masalah, aku nggak bisa.” Saat ini, suara wanita itu benar-benar sudah seperti bisikan yang semakin menyayat hati.


“Makanya kamu bilang dulu, salah aku apa?” Tanya Darren sekali lagi, dan masih dengan mengelus lembut rambut istrinya itu.


“Jujur sama aku, kamu punya cewek lain 'kan?” Bukannya menjawab, Audy justru malah balik bertanya.


“kamu apaan, sih, ngomongnya kok kaya gitu?” Darren semakin memperdalam tatapannya pada Audy yang mulai meredakan tangisnya.


“Nggak usah pura-pura nggak tau. Jelas-jelas tadi dia udah nelpon kamu,” ucap Audy setengah sesenggukan.


“Sumpah, Au. Aku nggak yang kaya kamu kira!” tegas Darren dan melepaskan tangannya dari rambut Audy.


“Nggak usah alesan,” balas Audy lagi setengah berbisik.


“Au, aku nggak pernah ngelakuin itu ke kamu,” gumam Darren meyakinkan Audy akan sesuatu yang memang benar-benar tak diketahui olehnya. Dia menunduk dan membalikkan tubuhnya ke depan, dan berpikir sejenak.


Sedangkan Audy, dia sudah menyembunyikan tawanya yang siap memecah, melihat Darren yang begitu lugu. Dia menolehkan kepalanya ke samping jendela dan tertawa pelan di sana.


“Kok kamu malah ketawa?” tanya Darren kala tak sengaja ia menangkap suara tawa kecil seseorang, yang tak lain adalah istrinya.


“Hehe, nggak nggak nggak, ini cuman prank,” ucap Audy seraya tertawa menatap Darren yang sudah kesal pada Audy. Mrnurutnya, ini sama sekali tidak lucu dan sangat-sangat garing. Bisa saja Audy mem-prank-nya disaat seperti. Menyebalkan!


To be continue~


Oke, Guys. Jadi aku mau bilang kalo dua part lagi, cerita Darren dan Audy akan berakhir. Itu artinya chapter 25 itu adalah chapter terakhir dari kisah Darren dan Audy, dan akan digantikan dengan Rendy dan ….


Nggak usah dibocorin, ya. Kalian tunggu aja. See you next part All🤗😊