PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 13



“K–k–kak, Adit?” Audy membelalakkan matanya kala dia mendongak menatap pria yang telah memukul Darren.


“Audy, kamu nggak kenapa-kenapa 'kan? Mana yang sakit?” tanya Adit bertubi-tubi dan mendekati Audy yang sudah terlihat kacau.


“Nanti aja, Kak. Sekarang kita harus pergi dari sini dulu,” ujar Audy dan diangguki oleh Adit. Pria itu melepaskan tali yang mengikat tubuh Audy kemudian memapah Audy yang kelihat sulit untuk berjalan.


Mereka berjalan menyusuri semak-semak hingga sampailah mereka pada jalan lintas yang sudah banyak kendaraan berlalu lalang. Adit membawa Audy masuk ke dalam mobilnya, lalu melaju dengan santai.


“Kak, Adit kok bisa tau aku ada di hutan?” tanya Audy pada Adit dan menatap pria itu intens.


“Tadi Kakak nggak sengaja ngeliat anak buah Darren masuk ke dalam hutan, Kakak tau, kalo kamu sedang diculik Darren,” jelas Adit dan hanya dibalas anggukan kecil oleh Audy.


* * *


Sesampainya mereka di rumah Audy.


“Auh, aku kangen banget sama rumah aku, Ka,” ungkap Audy dan langsung berlari memasuki rumahnya dan diikuti oleh Adit.


Audy mendudukkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu sembari menunggu Adit yang tengah mengambil alat-alat medis ringan untuk membesrsihkan dan mengobati luka Audy.


Sekilas, Audy melihat ke arah bekas jari kelingkingnya yang sudah tanggal hingga darah tak berhenti keluar sehingga membuat lantai yang dipijaknya itu kotor.


“Sini biar aku obatin dulu luka kamu,” ucap Adit dan mendudukkan tubuhnya di samping gadis itu.


“Kak, Adit liat jari kelingking aku udah nggak ada,” adu Audy dan menatap manja pada Adit.


“Audy, kecantikan kamu nggak berkurang karena jari kelingking itu. Cuman … luka ini, yang buat kamu sedikit seram. Kaya kuntilanak!” ledek Adit dan membuat Audy merengut menatapnya. Kemudian, dia membersihkan luka Audy, lalu mengoleskan obat di luka itu, kemudian memplasternya.


“Kenapa kamu nggak ngelanjutin kuliah kamu?” tanya Adit kala dia sudah selesai dengan luka Audy. Sekarang, dia berjalan menuju dapur dan mengembalikan kotak P3K. Wanita itu melihat wajahnya dari handphone Adit dan menelusuri luka-luka yang mulai terasa pedih.


“Bener Kak, Adit muka aku kaya kuntilanak,” gumamnya pelan dan menyentuh luka itu yang sudah di plaster.


“Ini lagi tangan aku, serem banget, aku udah serasa kaya pemeran tokoh kuntilanak di film horor jadinya,” gumamnya lagi dan meringis pelan saat dia menyentuh perlahan luka itu.


“kamu belum jawab pertanyaan aku. Kenapa kamu nggak ngelanjutin kuliah kamu?” tanya Adit mengulang pertanyaan sebelumnya.


“Aku … udah kerja, Kak. Di perusahaannya Darren, tapi selama aku kerja di sana … aku nggak pernah sama sekali disuruh bekerja atau apapun. Malahan … aku disiksa dan mau dinikahin sama temennya. Dasar psycopath gila!” tutyr Audy dengan memelas.


Adit menangkupkan tangannya di wajah Audy dan berkata, “Audy, Darren itu bukan psycopath. Dia hanya seorang pria kejam, tidak lebih dari itu. Aku kenal netul dengan Darren,” ungkap Adit lirih.


“M–m–maksud Kakak?” Audy berusaha menetralkan kegugupan dan detakan jantungnya yang semakin menyepat kala bertatap muka dengan Adit dengan jarak yang sangat dekat.


“Darren itu bukan psycopath. Dia temenku waktu SMA. Makanya aku kenal betul sama dia,” jelas Adit membuat Audy tertegun.


“Kalo dia bukan psycopath, lantas kenapa dia dengan tega melukaiku?” tanya Audy yang kini air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.


“Kan aku udah bilang, dia memang kejam dan nggak punya hati. Tapi aku yakin, dia bukan seorang psycopath,” gumam Adit.


“Nggak mungkin dia bukan psycopath. Aku bisa liat dari matanya yang selalu terlihat emosional dan nggak punya rasa iba. Aku benci!” lirih Audy dan berdiri dari posisi duduknya, lalu dia berjalan menaiki anak tangga, dan menuju kamarnya.


“Ih, aku kok risih banget 'sih ngeliat kaki aku?” monolognya kala dia sudah terduduk di atas ranjangnya. Sejenak dia berpikir dan akhirnya mendapatkan pencerahan.


“O iya, aku kan punya sepatu kain, aku pake itu aja kali buat nutupin kaki aku.” Dia berjalan mendekati lemari bajunya dan mulai mencari benda yang dibutuhkannya. Setelah sekian lama dia mencari, akhirnya dia temukan juga barang itu.


“Selesai deh, tuh kali gini 'kan aku nggak malu sama Kak Adit,” gumamnya dan berniat kembali lagi ke ruang tamu.


“Ekhem!” Suara deheman seseorang dari daun pintu itu sontak mengagetkan Audy dan menampilkan sosok Adit di sana.


“Kamu nggak perlu malu sama aku,” ujar Adit dan mendekati Audy yang tengah mematung menahan malu. Kemudian, Adit menggandeng lengan Audy berjalan menuruni anak tangga.


* * *


“Aws … sial! Siapa 'sih yang mukul gua?!” tanya seorang pria yang sebelumnya tersungkur di lantai yang berdebu itu.


Dia meringis memegangi pundaknya yang terasa remuk. “Awas aja kalo aku temukan kau Audy, aku pastikan kau tak akan bisa lagi lari dariku!” seringai pria itu dan mencoba berdiri.


Dengan langkah sempoyongan, dia berjalan menyusuri semak-semak dan mendekati mobilnya yang sebelumnya sempat diparkir 'kan asal olehnya.


“Kali ini kau bisa selamat, Audy! Tapi tidak untuk selanjutnya!” Dia melajukan mobilnya dengan brutal menuju ke kediamannya untuk mengganti pakaian yang sudah terlihat awut-awutan. Setelah itu, dia melajukan kembali mobilnya menuju sebuah rumah sakit.


Dengan langkah besarnya, pria itu memasuki sebuah ruangan yang dimana terdapat seorang wanita yang terbaring lemah di atas brankar.


“Carrisa, gimana keadaan kamu sekarang?” tanyanya dengan sendu seraya membelai kepala Carrisa, dan menggenggan erat tangannya.


“Udah lebih baik dari sebelumnya,” jawab Carrisa seraya tersenyum pada Darren yang menatapnya memelas.


“Aku mau pergi lagi. Nanti malam, aku janji bakal ke sini lagi,” ucap Darren dan mencium sekilas dahi Carrisa dan beranjak pergi.


Dia melajukan mobilnya tak tentu arah seraya meminum alkohol yang sangat banyak terdapat di mobilnya. Dia sungguh benar-benar kehilangan akal. Tetapi, walaupun dia menyetir dengan kondisi setengah sadar, tetapi dia tetap dapat melajukan mobilnya dengan santai.


Dia melaju dan berhenti di sebuah hotel yang biasanya dia gunakan untuk meniduri j*l*ng. Dengan langkah berat, dia memasuki sebuah kamar dan benar saja. Sudah terdapat seorang gadis cantik terduduk cantik di atas kasur itu dengan pakaian yang sangat seksi.


Darren tersenyum miring dan mendekati wanita serta mulai melunakkan hati gadis itu. Dengan brula Darren menikmati tubuh gadis itu dan hampir semua tubuhnya terdapat tanda kepemilikan Darren di sana.


Setelah puas dan bosan dengan wanita itu, dia mulai mengambil pisaunya dan tersenyum menyeringai pada wanita j*l*ng itu dan ….


Srek! Srek! Srek!


Pisau yang tak tajam itu semakin membantu Darren untuk lebih melampiaskan kemarahannya. Sehingga dengan berkali-kali tusukan gadis itu belum juga mati. Dan pada akhirnya Darren menginjak tubuh wanita itu hingga tak berdaya dan tewas. Kemudian, dia menendang wanita yang sudah tewas itu hingga terjatuh dengan sadis dari ranjang.


Dan begitu seterusnya. Hingga dalam satu hari ini, Darren sudah meniduri dan membunuh 10 wanita dalam waktu yang singkat.


10 jenazah wanita yang di perutnya terdapat beberapa tusukan sudah terkumpul seperti ikan yang baru saja dijala. Dengan brutal, Darren menendang-nendang mayat itu seperti bola baginya. Mulai dari perut, paha, kaki, hingga tak jarang dia menendang kepala para jenazah j*l*ng itu.


Setelah selesai dengan pelampiasannya, Darren dengan tergesa-gesa menuruni satu persatu lift setelah sebelumnya menuyuruh anak buahnya untuk membuang 10 mayat yang dibunuh oleh Darren.


Darren kembali melajukan mobilnya. Setelah sebelumnya dia membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian yang rapi. Tujuannya saat ini adalah Audy.


“Aku pastikan, setelah ini kau, Audy. Kau yang akan menjadi korban ke sebelas dalam satu hariku!” seringainya sembari meminum alkohol yang tak ada habis-habisnya.


__________*__________


~TO BE CONTINUE~~


Aku butuh komen bawel kalian!🤧🤧