
Aku membuka mataku kala sinar mentari telah terbit dan sangat menyilaukan. Kepalaku terasa sakit sekali. Bukan, bukan cuma kepala, tapi seluruh badanku terasa sakit.
Aku menoleh ke arah seseorang yang tak asing dimataku. Dia masih tertidur lelap dengan tangan yang melingkar di perutku.
“Darren!” pekikku dan buru-buru menepiskan tangannya kasar lalu mencoba untuk mendudukkan tubuhku. Kulihat dia yang sudah melenguh dan menatapku dengan mata yang masih sangat-sangat menyipit.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.
“Hoaamm …!” Darren tampak menguap dan merentangkan tangannya untuk meregangkan otot-otot yang sebumnya kaku. Berkali-kali, dia mengerjapkan matanya dan memijat pelipisnya.
“Awss …,” ringisnya kala sekali lagi denyutan di pelipisnya terasa kembali.
“Aku tidak melakukan apa-apa,” ujarnya dan dengan kesadaran yang masih setengah.
“Darren, kenapa kau lakukan hal yang menjijikan seperti ini?!” tanyaku dengan bentakan yang membuatnya menatapku dengan horor.
POV Author*
Kini, Audy menangis histeris dengan menyembunyikan kepalanya di lututnya yang terasa kram.
“Aws … sakit … Darren jahat!” teriaknya dan memukul-mukul paha Darren. Darren menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk ditebak. Kemudian, dia mengunci tubuh Audy dan menindih tubuh gadis itu.
“Tidak ada yang bisa mengalahkan seorang Darren!” seringai Darren dan tersenyum sinis menatap wajah takut Audy.
“Kamu … keterlaluan dasar CEO gila!” teriak Audy dan meronta melepaskan tangannya dari cekalan Darren. Tapi, tenaganya yang hanya sekecil mukmin tak dapat mengalahkan tenaga Darren yang sedang menahan amarah.
Dengan bruta, Darren men*iu*i bibir ranum Audy hingga tak jarang wanita itu mencakar punggung kekar Darren dengan kukunya. Dengan rontaan kecil, akhirnya dia berhasil membuat Darren menghentikan aktivitasnya.
“Dar—”
Srek!
Satu garisan luka telah terpancar jelas di bibir Audy. Bibir yang sebelumnya merah segar alami, kini menjadi merah darah kental yang memedihkan.
* * *
“Aws … Darren … sakit,” ringis Audy kala Darren telah selesai dengan nafsunya. Darren tersenyum miring pada Audy dan memeluk tubub gadis utu dengan erat, sangat erat.
Plak!
Satu tamparan kecil tiba-tiba mendarat di pipi Darren. Kini, rahangnya sudah mengeras dan langsung mencengkram pergelangan tangan gadis yang sudah berani-beraninya menmparnya.
“Menjijikkan!” tukas Audy dengan menatap benci pada Darren yang menatap Audy tanpa rasa iba ataupun menyesal.
Keadaan tubuhnya yang kacau, membuat dia semakin membenci Darren dan mendaratkan satu lagi tamparan di pipi pria itu.
“Jadi kamu udah berani melawan saya, Nyonya Audy Mahira?!” tanya Darren dengan satu bentakan yang memekakkan telinga.
Audy menggelengkan kepalanya pelan dan berkata dengan lirih. “Aku nggak mau sama kamu, dan aky benci sama kamu!”
“Terserah, Audy. Saya sama sekali tidak perduli, kau mencintai saya atau tidak,” gumam Darren dan mendekatkan wajahnya ke wajah Audy.
“Lepaskan saya, Darren!” teriak Audy dan menepiskan tangannya untuk melepaskan cengkraman menyiksa dari Darren.
“Cih! Tidak usah sok jual mahal kamu! Berapapun yang kau minta, aku akan berikan dengan senang hati,” balas Darren dan tertawa sombong.
__________*___________
~**TO BE CONTINUE~~
gimana??masih seru gak??😄
Tetap semangat ya kalian😄💙**